Sekarang mereka telah sampai didepan rumah, sebelumnya selesai berbicara dengan dokter Rehan diperbolehkan pulang.
Luna mengajak Rehan masuk,
"yuk masuk, mulai sekarang anggap aja rumah sendiri"
Rehan yang masih di sekitar hanya mengangguk dan mengucapkan terimakasih,
"makasih ya Lo udah bantuin gue, padahal identitas gue belum diketahui"
Rehan merasa sedikit tak enak, dirinya sangat merepotkan Luna.
Luna hanya tersenyum, "udah gak apa, lagian sesama manusia kita harus saling menolong. apalagi dengan keadaan lo begini"
"nanti kalo misalnya Lo udah ingat jangan lupain gue ya"
Rehan mengangguk, "aman, ya kali gue lupain penyelamat gue. gue bukan orang seperti itu!"
Luna mengangguk puas, sampai didalam ia berjalan membawa Rehan kearah kamar yang berada di sebelah kamarnya.
“Ini kamar Lo dan di sebelahnya kamar gue” jelas Luna. Rehan mengangguk dan segera masuk tapi sebelum itu langsung dihentikan oleh Luna.
“Eh, tunggu!”
“Kenapa?” Rehan berbalik.
“Gue lupa, pakaian Lo belum ada cuman yang di Lo pakai sekarang aja, Hm... untuk sementara Lo pakai milik almarhum ayah gue dulu ya” ucap Luna sambil tersenyum paksa, karena melupakan hal tersebut.
Rehan hanya menggeleng kepala, “iya gak apa, bisa tinggal disini aja gue bersyukur”
“Gitu ya, ya udah Lo istirahat aja, gue mau bersih-bersih” Luna berbalik memasuki kamarnya.
Di kamar Rehan,
Ia membuka lemari pakaian dan melihat beberapa pakaian tergantung dan terlipat rapi, Ia mengambil satu baju kaos abu-abu dan celana pendek.
“Ternyata selera ayah Luna anak muda juga” ukurannya juga tak terlalu besar di badannya. Lalu segera mandi karena badan terasa sedikit lengket.
Tak butuh waktu lama, Rehan menyelesaikan ritual mandi nya, selesai berpakaian ia keluar dari kamar.
Dan melihat Luna juga baru keluar melangkah ke arah dapur, dengan langkah pelan Rehan mengikuti.
Luna sendiri ia tau Rehan mengikuti nya tapi hanya acuh saja walaupun dalam hatinya sedikit canggung karena baru kali ini tinggal serumah dengan lelaki asing.
“Hm...Lo mau gue masakin apa?” Luna bertanya tanpa membalikkan badan.
“Terserah” jawab Rehan karena tidak tau juga mau apa, apalagi ia juga tidak ingin merepotkan Luna, jadi terserah Luna saja.
Luna mengangguk dan berbalik, “ya udah, mending Lo tunggu di ruangan tengah aja nanti kalo udah selesai gue panggil”
“Gak mau gue bantuin” tanya Rehan.
“Gak usah, biar gue sendiri aja”
Rehan mengangguk dan pergi ke ruang tengah, lalu duduk di salah satu sofa tak lupa menyalakan televisi untuk menghilangkan kebosanan nya.
“Hufff...apa benaran aman gue tinggal di sini, nanti jika tetangga Luna lihat gue apa gak terjadi kesalahpahaman?!” Rehan sedikit khawatir, karena menurut nya wajar jika seorang lelaki dan seorang gadis tinggal seatap tanpa ada hubungan saudara bisa terjadi kesalahpahaman membuat orang lain berpikir negatif.
Ia juga heran kenapa Luna sebaik ini padanya, padahal kata dia tak mengenal dirinya sama sekali.
“Lebih baik gue gak usah pikirkan sekarang” ucap Rehan pada akhirnya dan kembali fokus menatap layar televisi.
***
Tak berselang lama Luna menyelesaikan acara memasak nya dan segera memanggil Rehan.
“Yuk makan”
Rehan mengangguk dan duduk di meja makan yang telah disediakan.
Ting tong...
Ting tong...
Mendengar suara itu, mereka langsung menghentikan suapannya dengan saling menatap kaget.
“Lun!” bisik Rehan.
“Bentar gue buka dulu” Luna segera berjalan membuka pintu.
“Eh, Tante Rini!” Luna meringis dalam hati. Tante Rini adalah adik dari ayah Luna.
“Tumben malam-malam Tante datang?” tanya Luna tersenyum paksa.
Tante nya itu terheran, “memang kenapa? Tante gak boleh datang malam kesini” lalu langsung masuk melewati Luna.
Luna terbelalak, “aduh bagaimana ini? Jangan sampai Tante pergi ke dapur” dengan cepat ia menghentikan langkah tantenya.
“Lebih baik tante duduk aja biar Luna buatin minuman? Tante mau minum apa?”
Rini hanya mengangguk, “ya udah, kamu buatin teh hangat aja tapi jangan terlalu manis nanti kamu lupa lagi”
“siip Tante” setelah melihat Tante Rini duduk, Luna bergegas ke dapur, tujuan utamanya adalah Rehan.
Disana Rehan juga terlihat sudah menunggu waspada, saat melihat Luna dengan cepat ia bertanya,
“Bagaimana?” karena ia sempat mendengar percakapan Luna.
Luna menggeleng panik, “gawat, Tante gue datang. Gue yakin dia juga bakalan nginap disini”
“lo buruan sana masuk kamar” sambil mendorong Rehan ke arah kamar.
“Kamar yang mana?” karena yang lihat disini cuman ada dua kamar. satu yang ia tempati dan satunya lagi kamar Luna.
“Ngumpat di kamar gue aja dulu”
“Lo yakin?” Luna yang tak punya pilihan hanya mengangguk. Ia sendiri juga tak menyangka Tante Rini datang jauh-jauh malam ini, sangat jarang berkunjung.
Saat melihat Rehan telah pergi, Luna membereskan piring kotor habis Rehan makan, lalu baru membuatkan teh untuk tante Rini.
“Lunaaa... kenapa lama banget, kamu gak ketiduran kan!” terdengar teriakan Tante Rini dari depan membuat Luna berdecak pelan.
Dengan cepat Luna membawa tehnya kesana.
“maaf Tante Luna ke kamar mandi sebentar tadi, makanya sedikit lama!” alasan Luna berbohong dengan raut bersalah dibuat-buat.
“Tante pikir kamu ketiduran” canda Tante Rini yang tak terlalu serius.
“Ya enggak lah, Tante pikir aku udah tua!” dumel Luna sedikit kesal.
Rini yang telah meminum tehnya kembali berkata, “Oiya...tante cuman singgah sebentar soalnya suami tante sudah selesai dinas di daerah sini”
Luna langsung lega, ia pikir bakalan nginap disini, “syukur deh!”
Melihat reaksi Luna, Rini semakin bingung, “kamu kenapa Luna, kayak senang banget tante pergi”
Hahh
Luna heran, apa kelihatan banget begitu dengan cepat ia menggelengkan kepala, “enggak kok tante, aku cuman heran aja biasa tante pasti nginap disini”
“maaf ya, soalnya suami tante buru-buru, apalagi sekarang Dafa gak mau tinggal lama-lama!” jawab Rini merasa bersalah.
Luna hanya tersenyum biasa, “enggak apa-apa kok tante, gak usah di pikirin” karena ia memang lebih nyaman berjauhan dengan tante Rini maupun yang lain, jika ada mereka ia merasa sedikit terkekang.
Apalagi seperti sekarang ada Rehan dirumah bisa panjang urusan nya.
“Apa kamu benaran gak mau ikut tante! Disana lebih mewah dan lebih bagus dari rumah ini, kenapa kamu lebih memilih tinggal disini?”
Luna hanya tersenyum kecil, “maaf tante, walaupun gak sebagus rumah tante tapi Luna nyaman kok. Lagian dari kecil Luna tinggal disini, gak masalah kok” ucap Luna acuh, dan sebenarnya sedikit kesal karena selalu membandingkan rumah sederhana peninggalan orang tuanya dengan rumah dia. Mentang-mentang suaminya orang berada.
Rini tertawa pelan, “benar juga sih, tapi ya kalau kamu udah gak nyaman lagi datang kerumah tante aja pintu rumah tante selalu terbuka untuk kamu!”
Luna hanya mengiyakan saja.
Beberapa kemudian, terdengar suara klakson mobil dari luar, mendengar itu Rini cepat-cepat menghabiskan tehnya dan berdiri.
“Ya udah, Tante pergi dulu. Kamu baik-baik ya. Dan ini ada uang buat kamu” ucap Tante Rini sambil menyodorkan beberapa lembar uang seratus ribu pada Luna.
“Tapi tante...”
“Udah ambil aja, lagian tante jarang-jarang kesini. Ya udah tante pamit”
Luna menghantar tante Rini sampai luar, disana terlihat sebuah mobil sedan putih. Luna hanya menatap mobil tante Rini masuk dan akhirnya sampai mobil itu hilang dari pandangan nya.
“Hufff...” kemudian ia berbalik.
“Astaghfirullah!” Luna terperanjat melihat seseorang tiba-tiba saja telah berdiri dekat pintu.
BERSAMBUNG...
LIKE >> KOMEN >> VOTE >> FAVORIT
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 106 Episodes
Comments
fatin Rahman
suka dengan penulisannya..santai dan mudah difahami
2023-12-26
0
Sulaiman Efendy
CERITA INI AGAK SEDIKIT MIRIP DGN NOVEL YG BRJUDUL, TERNYATA SUAMIKU ATASANKU, SEQUEL NOVEL WANITA SIMPANAN, MNGISAHKN SEORANG PEMUDA CALON CEO ANAK DARI TOKOH NOVEL WANITA SIMPANAN YG DIKHIANATI SAHABAT DN KEKASIHNYA YG INGIN KUASAI PRUSAHAANNYA, DIA MAU DIHABISI, OLEH ORG2 BAYARAN SAHABAT & KKASIHNYA.. DIA DISELAMATKN OLEH OFFICE GIRL T4NYA BKERJA, SI PEMUDA JUGA AMNESIA.. MREKA DIGREBEK WARGA AKHIRNYA DINIKAHKN..
DI KISAH INI BEDANYA SI WANITA MSH SKOLAH..
2023-11-21
1
Erni Ernawati
serono tengo ini loo
2022-09-10
1