Siang sudah berganti malam, jam sudah menunjukkan pukul 20.05 dan Rehan baru pulang kerja, karena hari ini ia mendapat shif sampai malam dari bos Andrew alias pemilik Resto tersebut. Dia juga orang yang telah menerima Rehan langsung bekerja disana.
Rehan sudah siap-siap akan menyetop taksi, namun harus terhambat oleh klakson dari sebuah mobil merah yang baru saja berhenti di hadapannya.
Rehan mengernyit dan sedikit kesal karena menghalangi nya.
Saat kaca jendela bagian depan mobil itu diturunkan, tampak seorang lelaki muda menoleh kearahnya sambil berbicara, “ayo naik, biar saya antarkan!”
Rehan tau siapa lelaki itu, dia adalah Andrew bosnya. Ia sedikit merasa tidak enak dengan ajakan itu.
“Gak usah pak, saya naik taksi aja” tolak Rehan dengan halus tapi terkesan datar.
“tidak apa-apa, sekalian ada yang ingin saya bicarakan dengan mu” Mendengar perkataan Andrew yang ingin berbicara dengan nya Rehan tak dapat menolak dan segera masuk.
Rehan duduk di kursi penumpang depan di sebelah Andrew yang duduk di kursi pengemudi. Setelah mobil tersebut jalan Rehan segara menoleh dan bertanya, “jadi bapak mau bicara apa?”
“Kau ini, sudah berapa kali ku bilang tidak usah panggil bapak, panggil nama saja” Ujar Andrew tak suka, karena dilihat dari postur dan wajah umur mereka hampir sepantaran.
Rehan menggeleng, mana mungkin dia berani Andrew kan tetap bosnya.
“Gak deh pak, saya merasa gak enak, bapak kan bos saya gak sopan dong!” sahut Rehan.
“aish...terserah kau sajalah, tapi ya lebih enak panggil nama saja” Rehan makin bingung, entah dia juga heran dengan sifat bosnya ini karena dari yang dengar Andrew itu orangnya dingin dan susah diajak bicara tapi kenapa saat dengan nya berbeda, aneh.
“Oke, jadi!” Rehan jadi kesal sendiri dari tadi orang ini tidak mengatakan apa yang ingin dibicarakan nya malah mempermasalahkan soal panggilan.
“Oh... sebenarnya saya cuman ingin lebih kenal dekat dengan mu saja, soalnya saya merasa nyaman aja ngobrol dengan mu!” Kata Andrew santai seraya melirik kearah Rehan dengan senyuman kecil di bibir nya.
Rehan hanya menggaruk kepala nya tak gatal, “gak jelas banget nih orang, gue kira ada yang penting di bicarain, malah sok care lagi!”
“Oiya... menurut penglihatan saya selama ini, kamu gak cocok kerja jadi pelayan” Mendengar itu Rehan yang awalnya menatap jendela mobil langsung menoleh kearah Andrew.
“Maksud bapak?” Apaan coba, jangan bilang ia mau dipecat, perasaan ia bekerja dengan baik kok.
“Sudah saya bilang panggil Andrew saja” deliknya tak suka.
Rehan hanya memutar bola matanya males, lama-lama orang ini menyebalkan juga.
“Baiklah, Andrew. Jadi maksudnya apa? Anda mau pecat saya!”
Andrew tersenyum, “nah gitu dong dari tadi. Eet...bukan gitu maksudnya!”
“Maksud saya itu kamu itu gak cocok jadi pelayan tapi lebih tinggi dari itu, kriteria seperti kamu ini sebenarnya cocok jadi bekerja dengan pangkat lebih tinggi”
“Dan juga, saya lihat kamu selalu memakai masker, apa kamu takut wajah kamu dilihat orang, saya lihat wajah kamu baik-baik saja”
Telinga Rehan jadi gatal, kenapa lama-lama bosnya ini mirip seperti Reza, kepo banget.
“cuman pengen aja!” jawab Rehan datar.
"jadi nyesel gue naik tadi!" batin Rehan kesal.
Sebenarnya Andrew masih ingin bertanya tapi saat melihat wajah tak enak dari Rehan, ia urungkan dan lebih melanjutkan obrolan lainnya.
🌼🌼
Lain hal yang terjadi di rumah Luna, terdengar keributan dalam rumah tersebut. Itu disebabkan oleh kedatangan bibi Luna alias adik dari ibunya bersama suami dan anak-anak mereka. Awalnya Luna cukup senang, karena sudah cukup lama tidak bertemu mereka. Tapi setelah mendengar maksud kedatangan mereka Luna marah.
“Maksud bibi apaan sih, aku gak mau di jodohin sama orang yang gak aku cintai!” tolak Luna lantang langsung berdiri dari duduknya tak percaya dengan ucapan bibinya bernama Santi itu.
“Ini demi kebaikan kamu juga Luna, bibi gak mau kamu hidup sendirian seperti ini lagi” sahut Santi dengan suara sedikit tinggi.
“Benar, apalagi perjodohan ini juga sudah sesuai dengan kesepakatan almarhum orang tua kamu, kamu gak bisa nolak Luna. Ini sudah sesuai perjanjian orang tua kamu dengan keluarga Wijaya!” Sandi, suami Santi ikut berbicara dengan sinis.
Luna menggeleng cepat, “gak, kalian gak bisa seenaknya mau jodohin aku, aku gak mau. Kalian pasti bohongkan, gak mungkin orang tua aku membuat perjanjian tanpa sepengetahuan aku, kalian pasti bohong!” Luna mulai menangis, dia tidak mau dijodohkan. Orang tuanya tidak mungkin melakukan itu.
“Cih, sok nolak. Lebih baik lo dijodohin sama cucu keluarga Wijaya itu, mereka orang kaya lho, gue jamin deh hidup Lo bakal lebih baik” Cibir Davin, putra pertama Sandi dan Santi.
“udah terima aja, ini juga kebaikan Lo kok, biar gak hidup susah lagi kayak almarhum orang tua Lo yang miskin itu!” Ejek Dona pedas, alias kembaran Davin. Dia memang dari dulu tak menyukai keberadaan Luna karena cowok yang ia sukai malah menyukai Luna makanya sampai sekarang ia selalu membenci Luna.
Luna semakin kesal dan marah, apa-apaan mereka ini terkesan memaksa dirinya untuk mengiyakan. Ia saja tak tau seperti apa cowok yang dijodohkan itu.
“Gak pokoknya Luna gak mau, lagian Luna masih sekolah, Luna belum ada niatan buat nikah. Luna gak mau!” Bantah Luna membentak.
Santi menatap garang pada Luna, berani sekali membentak nya.
“Sudah mulai kurang ajar kamu ya! Dasar tak tau diri, ini juga kesalahan orang tua kamu. Mereka sudah mendatangi rumah bibi untuk menepati perjanjian itu, jadi kamu gak bisa nolak lagi. Bibi gak mau keluarga bibi yang kena imbasnya dan dituntut!”
Luna semakin menggeleng, tangisnya semakin pecah. kedua anak dan bapak itu hanya menatap Luna sinis dan tanpa rasa kasihan.
“Mampus Lo, cewek kayak Lo emang cocok sama orang cacat itu, gue mah ogah amit-amit dah!” batin Dona penuh kemenangan dan ejekan pada Luna.
“Apa gak bisa dibatalkan bi, aku gak mau!” Luna menatap sang bibi penuh harap.
Santi terlihat berpikir dan melirik suami dan kedua anak-anak nya seperti minta saran.
Beberapa saat setelah itu, Santi kembali menoleh kearah Luna dan berkata, “um...bisa sih tapi menurut bibi kamu gak akan sanggup deh!” menatap Luna dengan remeh.
“Apa bi?” desak Luna tak sabaran.
“Oh...kamu hanya perlu mengganti rugi 50 juta”
“APA! SEBANYAK ITU, APA MEREKA GILA!” teriak Luna spontan karena terlalu kaget.
“Ck, gak usah teriak juga kali, kalo orang miskin mah kek gini nih, untung kagak mati saking kagetnya” cibir Dona semakin sinis.
“Gak usah kaget, itu sih sebenarnya nominal utang ayah kamu sama mereka ditambah kerugian karena pembatalan dari kamu!” ucap Santi santai dan tertawa dalam hati melihat ekspresi dan pucat Luna.
Luna frustrasi dibuatnya, bagaimana caranya ia mendapatkan uang sebanyak itu. Apa ucapan bibinya ini benaran dapat dipercaya, Apa bibinya ini tidak berbohong hanya demi kepentingan sendiri.
“GAK, AKU GAK PERCAYA KALIAN PASTI BOHONGKAN. AKU TAU BIBI SEPERTI APA? PASTI INI CUMAN AKAL-AKALAN BIBI KAN HANYA DEMI KEPENTINGAN BIBI SAMA SUAMI DAN ANAK-ANAK SIALAN BIBI KAN!!?”
Santi sangat marah karena dituduh yang tidak-tidak, apalagi Sandi dan si kembar mereka melototi Luna.
“ENAK AJA LO NUDUH KITA, KURANG AJAR BANGET MULUT LO MENFITNAH MAMA GUE! DASAR ORANG MISKIN GAK TAU DIRI!” Dona mendorong Luna dengan telunjuknya.
BRAK...
“ADA APA INI!!”
Semua langsung menoleh kearah suara itu.
BERSAMBUNG...
LIKE >> KOMEN >> VOTE >> FAVORIT
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 106 Episodes
Comments
fatin Rahman
😍🤗
2023-12-26
0
Antie
lanjut lagi
2022-05-09
2
Adi Rianto
serru
2022-05-01
0