Malam sekitar pukul sebelas, Luna terbangun menoleh kearah samping terlihat Zoya sudah tertidur pulas. Ia bangun dan keluar pergi ke dapur karena merasa haus.
Selesai minum, ia berjalan ke arah depan karena samar-samar mendengar suara.
“Apa mungkin Rehan belum tidur” pikir nya. Sampai disana ternyata benar ia melihat televisi masih menyala dan terus berjalan ke arah sofa disana terlihat Rehan masih duduk santai dengan mata masih terbuka lebar menatap ke arah televisi.
“Astaga Han, jam segini Lo masih belum tidur!” Luna ikut duduk dengan sesekali mengusap matanya yang terasa lengket.
Rehan melirik Luna sebentar dan kembali beralih ke televisi, “gak bisa tidur!”
Hahh
Luna bingung, “kenapa? Apa kamarnya kurang nyaman! Tapi kan kemarin-kemarin Lo gak bilang tuh” Luna jadi bingung apa ada sesuatu yang mengganggu kenyamanan Rehan.
Rehan menggeleng dengan menghela nafas ia berkata, “gue gak tau dari kemarin malam saat tidur gue sering mimpi buruk. Apalagi rasanya mimpi itu seperti kenyataan. Gue jadi gak nyaman lanjut tidur lebih baik begini lebih baik”
Raut wajah Rehan berubah-ubah saat menjelaskan, kadang terlihat seperti marah dan berubah menjadi ketakutan.
Luna cukup lama terdiam mencoba berpikir, ia merasa tidak sederhana itu. Ia mulai berpikir apa mungkin itu sepotong ingatan Rehan yang hilang dan berangsur-angsur kembali sedikit demi sedikit.
Tapi ia juga segera menepis nya bisa saja itu hanya sekedar bunga tidur.
“makanya baca doa sebelum tidur biar gak mimpi buruk lagi. Bukannya langsung tidur seperti kerbau saja” Ucap Luna sedikit mengejek.
Rehan mendegus, “udah kali tapi tetap aja” sedikit kesal dengan ejekan Luna.
Melihat kekesalan Rehan, Luna hanya tertawa garing.
“Hmm... sekarang coba Lo jelasan seperti apa mimpi Lo itu. Kalo menurut gue ya kayaknya itu bukan hanya sekedar mimpi bisa aja itu sepotong ingatan Lo yang hilang!” Luna menyampaikan pemikiran nya, ia juga penasaran seperti apa mimpi Rehan.
Rehan termenung, “lo yakin, tapi apa mungkin seperti itu” Rehan kurang yakin.
“Udah mending Lo cerita aja, soal benar atau tidak nya gue kurang tau. Semuanya tiang sama Lo jika Lo udah ingat semua pasti terjawab” Luna mengedikkan bahu acuh.
Rehan mengangguk, “oke gue cerita!” sembari menghadap kearah Luna dan kemudian menceritakan.
Dalam mimpi itu ia sendiri melihat seorang wanita di kepung segerombolan orang berpakaian hitam. Tidak jauh dari tempat wanita tersebut terlihat seorang bocah laki-laki berusaha berlari sekuat tenaga.
“Jangan berbalik nak, larilah sekuat tenaga menjauh dan minta bantuan!” terdengar suara wanita itu berteriak pada bocah laki-laki tersebut.
Segerombolan orang itu tampak tertawa melihat kepanikan dan ketakutan wanita apalagi melihat bocah itu. Lalu memerintahkan yang lain mengejar bocah itu.
Belum cukup jauh terdengar suara tangisan pilu dari wanita itu, bocah itu berbalik sambil menangis. Ia melihat wanita itu di perkosa dan disiksa begitu kejam.
“Tidak! Mama...” namun ia tidak memiliki tenaga untuk melawan dan menyelamatkan sang mama, yang bisa dilakukan hanya berlari ia harus segera keluar.
...
“Setelah itu gue gak tau apa yang terjadi selanjutnya!” ucap Rehan selesai menceritakan pada Luna. Entah kenapa ia juga merasa hal yang sama seperti yang dirasakan bocah dalam mimpi itu.
!!
Luna cukup kaget, entah kenapa ia ikut merasakan marah dan sedih. Memang bajingan tidak memiliki perasaan memperkosa bahkan menyiksa dengan kejam.
“Huhuhu...mimpi Lo benar-benar membekas di lubuk hati gue paling dalam!” Luna mengusap kedua mata yang hampir mengeluarkan air mata.
Rehan hanya geleng-geleng.
“Jadi karena itu Lo gak bisa tidur karena mimpi itu selalu muncul” tanya Luna lagi.
Rehan mengangguk, “benar. Gue seperti merasakan hal yang sama seperti bocah itu. Gue jadi ikutan gelisah, marah dan ketakutan membuat gue jadi gak nyaman buat tidur lagi!”
Pemikiran Luna semakin yakin, “gue yakin seperti nya memang ada hubungan nya dengan ingatan Rehan yang hilang”
“Lo perbanyak berdoa dan istighfar aja. Jangan terlalu dipikirkan, kalo Lo gak tidur yang ada mata menghitam kayak panda”
“Atau gini aja Lo tidur disini aja biar gue temanin. Gue jadi gak tega liat Lo!” saran Luna dan membuat ekspresi kasihan.
Rehan sedikit jengkel melihat ekspresi Luna, “ Lo sengaja ngeledek gue. Gak ikhlas banget!” Lalu kembali beralih menatap layar televisi.
“Ehehe... Sorry bercanda kok kakak ganteng!”
Rehan yang awal kesal entah kenapa tidak bisa untuk tidak tersenyum mendengar kata-kata terakhir Luna.
“ternyata Lo akui juga gue ganteng. Iya gue tau kok gue ganteng!”
Bibir Luna berkedut, “ternyata anak ini narsis juga tau gini mending gak gue puji tadi. Jadi Nyesel gue!”
Rehan tau Luna pasti sedang mencibir nya tapi ia hanya acuh.
“Ehem... katanya besok Lo udah mulai kerja. Kalo gue boleh tau Lo kerja dimana!” Luna sengaja mengalihkan pembicaraan karena tidak ingin melihat ke narsis Rehan lagi walaupun itu memang kenyataan.
“Owh...itu, Kafe” jawab Rehan singkat.
Luna termenung dan kembali mengajukan pertanyaan yang selalu berputar dikepala nya,
“Apa dia tidak meminta persyaratan lain, Lo aja gak punya kartu identitas. Apa semudah itu dia menerima Lo menjadi karyawan?!” karena gak mungkin semudah itu menerima Rehan yang tidak memiliki bukti identitas seperti KTP atau bukti lainnya.
Dengan tenang Rehan menjawab, “karena dia sedang membutuhkan karyawan dengan cepat, dan soalnya yang Lo pikir kan gue bilang aja hilang dan memberikan alamat rumah Lo sebagai identitas gue!”
Luna mengangguk mengerti, mungkin ini yang nama keberuntungan Rehan tapi ia ikutan senang.
“Nah, jika gue udah gajian Lo gak perlu mikirin pekerjaan lagi. Lo fokus belajar dan sekolah, soal mencari uang biar gue yang urus” ujar Rehan dengan percaya diri.
Luna menggeleng, “lo gak usah pikirin gue. Gue masih bisa cari kerjaan” tolak Luna merasa tak enak.
“Lo tenang aja. Bukannya Lo anggap gue kakak Lo sendiri, jadi sebagai kakak gue harus bisa membiayai kebutuhan adik gue dan nyenangin adik gue”
Luna jadi terharu, “Rehan anjiiir pandai banget buat gue terhura!”
Setelah dipikir-pikir Luna setuju, “oke deh, sebagai adik baik gue nurut” sembari tersenyum kecil.
Rehan ikut senang mendengar nya.
Mereka terus berbincang-bincang santai sampai melupakan waktu.
🌼🌼
Di kamar, Zoya terbangun saat merasakan sinar matahari menembus gorden jendela.
“Hoaam... ternyata udah pagi!”
Sambil menguap Zoya bangun, lalu menoleh ke arah samping kanannya, “ternyata Luna sudah bangun? Kenapa gak bangunin gue sih” Zoya sedikit kesal karena Luna tidak membangunkan nya lebih awal.
Lalu memandang di sekitar kamar, “apa dia udah keluar!” Tanpa berkata lagi Ia mengambil handuk dan masuk ke kamar mandi.
Tak berselang lama, Zoya menyelesaikan ritual mandinya, lalu segera memakai seragam sekolah serta mengikat ekor kuda rambut hitam panjangnya.
“Tas dia masih disini!” saat melihat tas sekolah Luna masih tergantung di gantungan. Namun, Zoya tetap keluar dan memanggil Luna.
“Luna! Rehan” !” Zoya berjalan ke dapur, namun ia tidak menemukan mereka bahkan di atas meja makan masih kosong.
“Kemana mereka?” dengan bingung Luna mencari ke arah depan.
Di sana ia terus berjalan ke depan sofa, namun saat menoleh ia terkejut dan melotot saat melihat siapa disana.
!!
“Astaghfirullah! LUNAA...REHAN!”
BERSAMBUNG...
LIKE >> KOMEN >> VOTE >> FAVORIT
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 106 Episodes
Comments
fatin Rahman
tidak sabar..lanjut lgi
2023-12-26
0
Sumaningsih nano
ehhhm
2022-10-10
2
Zulkarnain Rasyid
hhhhhhhhhhhh
2022-05-08
0