Chapter 08. Mimpi Buruk

Malam sekitar pukul sebelas, Luna terbangun menoleh kearah samping terlihat Zoya sudah tertidur pulas. Ia bangun dan keluar pergi ke dapur karena merasa haus.

Selesai minum, ia berjalan ke arah depan karena samar-samar mendengar suara.

“Apa mungkin Rehan belum tidur” pikir nya. Sampai disana ternyata benar ia melihat televisi masih menyala dan terus berjalan ke arah sofa disana terlihat Rehan masih duduk santai dengan mata masih terbuka lebar menatap ke arah televisi.

“Astaga Han, jam segini Lo masih belum tidur!” Luna ikut duduk dengan sesekali mengusap matanya yang terasa lengket.

Rehan melirik Luna sebentar dan kembali beralih ke televisi, “gak bisa tidur!”

Hahh

Luna bingung, “kenapa? Apa kamarnya kurang nyaman! Tapi kan kemarin-kemarin Lo gak  bilang tuh” Luna jadi bingung apa ada sesuatu yang mengganggu kenyamanan Rehan.

Rehan menggeleng dengan menghela nafas ia berkata, “gue gak tau dari kemarin malam saat tidur gue sering mimpi buruk. Apalagi rasanya mimpi itu seperti kenyataan. Gue jadi gak nyaman lanjut tidur lebih baik begini lebih baik”

Raut wajah Rehan berubah-ubah saat menjelaskan, kadang terlihat seperti marah dan berubah menjadi ketakutan.

Luna cukup lama terdiam mencoba berpikir, ia merasa tidak sederhana itu. Ia mulai berpikir apa mungkin itu sepotong ingatan Rehan yang hilang dan berangsur-angsur kembali sedikit demi sedikit.

Tapi ia juga segera menepis nya bisa saja itu hanya sekedar bunga tidur.

“makanya baca doa sebelum tidur biar gak mimpi buruk lagi. Bukannya langsung tidur seperti kerbau saja” Ucap Luna sedikit mengejek.

Rehan mendegus, “udah kali tapi tetap aja” sedikit kesal dengan ejekan Luna.

Melihat kekesalan Rehan, Luna hanya tertawa garing.

“Hmm... sekarang coba Lo jelasan seperti apa mimpi Lo itu. Kalo menurut gue ya kayaknya itu bukan hanya sekedar mimpi bisa aja itu sepotong ingatan Lo yang hilang!” Luna menyampaikan pemikiran nya, ia juga penasaran seperti apa mimpi Rehan.

Rehan termenung, “lo yakin, tapi apa mungkin seperti itu” Rehan kurang yakin.

“Udah mending Lo cerita aja, soal benar atau tidak nya gue kurang tau. Semuanya tiang sama Lo jika Lo udah ingat semua pasti terjawab” Luna mengedikkan bahu acuh.

Rehan mengangguk, “oke gue cerita!” sembari menghadap kearah Luna dan kemudian menceritakan.

Dalam mimpi itu ia sendiri melihat seorang wanita di kepung segerombolan orang berpakaian hitam. Tidak jauh dari tempat wanita tersebut terlihat seorang bocah laki-laki berusaha berlari sekuat tenaga.

“Jangan berbalik nak, larilah sekuat tenaga menjauh dan minta bantuan!” terdengar suara wanita itu berteriak pada bocah laki-laki tersebut.

Segerombolan orang itu tampak tertawa melihat kepanikan dan ketakutan wanita apalagi melihat bocah itu. Lalu memerintahkan yang lain mengejar bocah itu.

Belum cukup jauh terdengar suara tangisan pilu dari wanita itu, bocah itu berbalik sambil menangis. Ia melihat wanita itu di perkosa dan disiksa begitu kejam.

“Tidak! Mama...” namun ia tidak memiliki tenaga untuk melawan dan menyelamatkan sang mama, yang bisa dilakukan hanya berlari ia harus segera keluar.

...

“Setelah itu gue gak tau apa yang terjadi selanjutnya!” ucap Rehan selesai menceritakan pada Luna. Entah kenapa ia juga merasa hal yang sama seperti yang dirasakan bocah dalam mimpi itu.

!!

Luna cukup kaget, entah kenapa ia ikut merasakan marah dan sedih. Memang bajingan tidak memiliki perasaan memperkosa bahkan menyiksa dengan kejam.

“Huhuhu...mimpi Lo benar-benar membekas di lubuk hati gue paling dalam!” Luna mengusap kedua mata yang hampir mengeluarkan air mata.

Rehan hanya geleng-geleng.

“Jadi karena itu Lo gak bisa tidur karena mimpi itu selalu muncul” tanya Luna lagi.

Rehan mengangguk, “benar. Gue seperti merasakan hal yang sama seperti bocah itu. Gue jadi ikutan gelisah, marah dan ketakutan membuat gue jadi gak nyaman buat tidur lagi!”

Pemikiran Luna semakin yakin, “gue yakin seperti nya memang ada hubungan nya dengan ingatan Rehan yang hilang”

“Lo perbanyak berdoa dan istighfar aja. Jangan terlalu dipikirkan, kalo Lo gak tidur yang ada mata menghitam kayak panda”

“Atau gini aja Lo tidur disini aja biar gue temanin. Gue jadi gak tega liat Lo!” saran Luna dan membuat ekspresi kasihan.

Rehan sedikit jengkel melihat ekspresi Luna, “ Lo sengaja ngeledek gue. Gak ikhlas banget!” Lalu kembali beralih menatap layar televisi.

“Ehehe... Sorry bercanda kok kakak ganteng!”

Rehan yang awal kesal entah kenapa tidak bisa untuk tidak tersenyum mendengar kata-kata terakhir Luna.

“ternyata Lo akui juga gue ganteng. Iya gue tau kok gue ganteng!” 

Bibir Luna berkedut, “ternyata anak ini narsis juga tau gini mending gak gue puji tadi. Jadi Nyesel gue!”  

Rehan tau Luna pasti sedang mencibir nya tapi ia hanya acuh.

“Ehem... katanya besok Lo udah mulai kerja. Kalo gue boleh tau Lo kerja dimana!” Luna sengaja mengalihkan pembicaraan karena tidak ingin melihat ke narsis Rehan lagi walaupun itu memang kenyataan.

“Owh...itu, Kafe” jawab Rehan singkat.

Luna termenung dan kembali mengajukan pertanyaan yang selalu berputar dikepala nya,

“Apa dia tidak meminta persyaratan lain, Lo aja gak punya kartu identitas. Apa semudah itu dia menerima Lo menjadi karyawan?!”  karena gak mungkin semudah itu menerima Rehan yang tidak memiliki bukti identitas seperti KTP atau bukti lainnya.

Dengan tenang Rehan menjawab, “karena dia sedang membutuhkan karyawan dengan cepat, dan soalnya yang Lo pikir kan gue bilang aja hilang dan memberikan alamat rumah Lo sebagai identitas gue!”

Luna mengangguk mengerti, mungkin ini yang nama keberuntungan Rehan tapi ia ikutan senang.

“Nah, jika gue udah gajian Lo gak perlu mikirin pekerjaan lagi. Lo fokus belajar dan sekolah, soal mencari uang biar gue yang urus” ujar Rehan dengan percaya diri.

Luna menggeleng, “lo gak usah pikirin gue. Gue masih bisa cari kerjaan” tolak Luna merasa tak enak.

“Lo tenang aja. Bukannya Lo anggap gue kakak Lo sendiri, jadi sebagai kakak gue harus bisa membiayai kebutuhan adik gue dan nyenangin adik gue”

Luna jadi terharu, “Rehan anjiiir pandai banget buat gue terhura!”

Setelah dipikir-pikir Luna setuju, “oke deh, sebagai adik baik gue nurut” sembari tersenyum kecil.

Rehan ikut senang mendengar nya.

Mereka terus berbincang-bincang santai sampai melupakan waktu.

🌼🌼

Di kamar, Zoya terbangun saat merasakan sinar matahari menembus gorden jendela.

“Hoaam... ternyata udah pagi!”

Sambil menguap Zoya bangun, lalu menoleh ke arah samping kanannya, “ternyata Luna sudah bangun? Kenapa gak bangunin gue sih” Zoya sedikit kesal karena Luna tidak membangunkan nya lebih awal.

Lalu memandang di sekitar kamar, “apa dia udah keluar!” Tanpa berkata lagi Ia mengambil handuk dan masuk ke kamar mandi.

Tak berselang lama, Zoya menyelesaikan ritual mandinya, lalu segera memakai seragam sekolah serta mengikat ekor kuda rambut hitam panjangnya.

“Tas dia masih disini!” saat melihat tas sekolah Luna masih tergantung di gantungan. Namun, Zoya tetap keluar dan memanggil Luna.

“Luna! Rehan” !” Zoya berjalan ke dapur, namun ia tidak menemukan mereka bahkan di atas meja makan masih kosong.

“Kemana mereka?” dengan bingung Luna mencari ke arah depan.

Di sana ia terus berjalan ke depan sofa, namun saat menoleh ia terkejut dan melotot saat melihat siapa disana.

!!

“Astaghfirullah! LUNAA...REHAN!”

 

BERSAMBUNG...

 

LIKE >> KOMEN >> VOTE >> FAVORIT 

Terpopuler

Comments

fatin Rahman

fatin Rahman

tidak sabar..lanjut lgi

2023-12-26

0

Sumaningsih nano

Sumaningsih nano

ehhhm

2022-10-10

2

Zulkarnain Rasyid

Zulkarnain Rasyid

hhhhhhhhhhhh

2022-05-08

0

lihat semua
Episodes
1 Chapter 01. Menolong Seorang Pemuda
2 Chapter 02. Lupa Ingatan
3 Chapter 03. Tinggal Seatap
4 Chapter 04. Kekesalan Zoya
5 Chapter 05. Berbohong
6 Chapter 06. Geli
7 Chapter 07. Pembullyan
8 Chapter 08. Mimpi Buruk
9 Chapter 09. Gugup
10 Chapter 10. Menangis
11 Chapter 11. Keluarga Albert
12 Chapter 12. Penolakan Luna
13 Chapter 13. Terpaksa Menikah
14 Chapter 14. Tak Peka
15 Chapter 15. Tidur seranjang
16 Chapter 16. Gara-gara tendangan
17 Chapter 17. Syok dan tak percaya
18 Chapter 18. Jadi Bos baru
19 Chapter 19. Murka Rehan
20 Special Visual Character
21 Chapter 20. Dasar Mesum
22 Chapter 21. Minta penjelasan
23 Chapter 22. minta jatah
24 Chapter 23. Bertemu Daddy Arya
25 Chapter 24. Maafin gue!
26 Chapter 25. Kedatangan bibi Sinta
27 Chapter 26. Ciuman
28 Chapter 27. Keluarga Georgio
29 Chapter 28. Bena-benar Istri durhaka
30 Chapter 29. Menyesal
31 Chapter 30. Fix, panggil kakak
32 Chapter 31. Dokter John
33 Chapter 32. Lingerie
34 Chapter 33. Akhirnya pulih kembali
35 Chapter 34. Rencana busuk Dona
36 Chapter 35. Calon Pelakor
37 Chapter 36. Menggoda Atha
38 Chapter 37. Ketakutan Jessica
39 Chapter 38. Ternyata Hamil
40 Chapter 39. Licik
41 Chapter 40. Adik Laknat!
42 Chapter 41. Max sakit hati
43 Chapter 42. Luna mau Seblak
44 Chapter 43. Kecelakaan
45 Chapter 44. Oh... Ternyata Dia!
46 Chapter 45. Nasib Friska
47 Chapter 46. Alfredo Georgio
48 Chapter 47. Luna Siuman
49 Chapter 48. Kekesalan Mona
50 Chapter 49. Rumah baru
51 Chapter 50. Kehebohan keluarga Wijaya
52 Chapter 51. Kemarahan Alfredo
53 Chapter 52. Merasa malu
54 Chapter 53. Pecat suami
55 Chapter 54. Penyusup
56 Chapter 55. Kekhawatiran Alfredo dan Jeon
57 Chapter 56. Benci
58 Chapter 57. ternyata hamil
59 Chapter 58. Kesalnya Monalisa
60 Chapter 59. Marah
61 Chapter 60. Sudah waktunya mengakhiri semuanya
62 Chapter 61. Keterkejutan Jeon
63 Chapter 62. Atha Merokok
64 Chapter 63. Hukuman Mati
65 Chapter 64. Pernikahan Max & Monalisa
66 Chapter 65. Gara-gara Ketoprak
67 Chapter 66. Malu-maluin
68 Chapter 67. Di jadiin pembantu
69 Chapter 68. Perdebatan ibu dan anak
70 Chapter 69. Anak durhaka
71 Chapter 70. Bodoh
72 Chapter 71. Tuan Muda Kusuma
73 Chapter 72. Tamparan Davin
74 Chapter 73. Kekesalan Atha
75 Chapter 74. Mendatangi kediaman Kusuma
76 Chapter 75. Kekecewaan Renaldy
77 Chapter 76. Manja nya si bayi besar
78 Chapter 77. Gak mau dimadu!
79 Chapter 78. Jangan harap malam ini tidur di kamar!
80 Chapter 79. Kesialan Tio
81 Chapter 80. Marah dan cemburu nya Zoya
82 Chapter 81. Dasar gadis cemburuan!
83 Chapter 82. Keadaan Tirta
84 Chapter 83. Pedas bukan manis
85 Chapter 84. Maafin aku sayang!
86 Chapter 85. Ternyata ada dua
87 Chapter 86. Baby Al & Baby Aurel
88 Chapter 87. Bangunnya Tirta
89 Chapter 88. Wisuda dulu baru nikah!
90 Chapter 89
91 Chapter 90
92 Chapter 91
93 Chapter 92
94 Chapter 93
95 Chapter 94
96 Chapter 95
97 Chapter 96
98 Chapter 97
99 Chapter 98
100 Chapter 99
101 Chapter 100
102 Chapter 101
103 Chapter 102
104 Chapter 103
105 Chapter 104
106 Chapter 105
Episodes

Updated 106 Episodes

1
Chapter 01. Menolong Seorang Pemuda
2
Chapter 02. Lupa Ingatan
3
Chapter 03. Tinggal Seatap
4
Chapter 04. Kekesalan Zoya
5
Chapter 05. Berbohong
6
Chapter 06. Geli
7
Chapter 07. Pembullyan
8
Chapter 08. Mimpi Buruk
9
Chapter 09. Gugup
10
Chapter 10. Menangis
11
Chapter 11. Keluarga Albert
12
Chapter 12. Penolakan Luna
13
Chapter 13. Terpaksa Menikah
14
Chapter 14. Tak Peka
15
Chapter 15. Tidur seranjang
16
Chapter 16. Gara-gara tendangan
17
Chapter 17. Syok dan tak percaya
18
Chapter 18. Jadi Bos baru
19
Chapter 19. Murka Rehan
20
Special Visual Character
21
Chapter 20. Dasar Mesum
22
Chapter 21. Minta penjelasan
23
Chapter 22. minta jatah
24
Chapter 23. Bertemu Daddy Arya
25
Chapter 24. Maafin gue!
26
Chapter 25. Kedatangan bibi Sinta
27
Chapter 26. Ciuman
28
Chapter 27. Keluarga Georgio
29
Chapter 28. Bena-benar Istri durhaka
30
Chapter 29. Menyesal
31
Chapter 30. Fix, panggil kakak
32
Chapter 31. Dokter John
33
Chapter 32. Lingerie
34
Chapter 33. Akhirnya pulih kembali
35
Chapter 34. Rencana busuk Dona
36
Chapter 35. Calon Pelakor
37
Chapter 36. Menggoda Atha
38
Chapter 37. Ketakutan Jessica
39
Chapter 38. Ternyata Hamil
40
Chapter 39. Licik
41
Chapter 40. Adik Laknat!
42
Chapter 41. Max sakit hati
43
Chapter 42. Luna mau Seblak
44
Chapter 43. Kecelakaan
45
Chapter 44. Oh... Ternyata Dia!
46
Chapter 45. Nasib Friska
47
Chapter 46. Alfredo Georgio
48
Chapter 47. Luna Siuman
49
Chapter 48. Kekesalan Mona
50
Chapter 49. Rumah baru
51
Chapter 50. Kehebohan keluarga Wijaya
52
Chapter 51. Kemarahan Alfredo
53
Chapter 52. Merasa malu
54
Chapter 53. Pecat suami
55
Chapter 54. Penyusup
56
Chapter 55. Kekhawatiran Alfredo dan Jeon
57
Chapter 56. Benci
58
Chapter 57. ternyata hamil
59
Chapter 58. Kesalnya Monalisa
60
Chapter 59. Marah
61
Chapter 60. Sudah waktunya mengakhiri semuanya
62
Chapter 61. Keterkejutan Jeon
63
Chapter 62. Atha Merokok
64
Chapter 63. Hukuman Mati
65
Chapter 64. Pernikahan Max & Monalisa
66
Chapter 65. Gara-gara Ketoprak
67
Chapter 66. Malu-maluin
68
Chapter 67. Di jadiin pembantu
69
Chapter 68. Perdebatan ibu dan anak
70
Chapter 69. Anak durhaka
71
Chapter 70. Bodoh
72
Chapter 71. Tuan Muda Kusuma
73
Chapter 72. Tamparan Davin
74
Chapter 73. Kekesalan Atha
75
Chapter 74. Mendatangi kediaman Kusuma
76
Chapter 75. Kekecewaan Renaldy
77
Chapter 76. Manja nya si bayi besar
78
Chapter 77. Gak mau dimadu!
79
Chapter 78. Jangan harap malam ini tidur di kamar!
80
Chapter 79. Kesialan Tio
81
Chapter 80. Marah dan cemburu nya Zoya
82
Chapter 81. Dasar gadis cemburuan!
83
Chapter 82. Keadaan Tirta
84
Chapter 83. Pedas bukan manis
85
Chapter 84. Maafin aku sayang!
86
Chapter 85. Ternyata ada dua
87
Chapter 86. Baby Al & Baby Aurel
88
Chapter 87. Bangunnya Tirta
89
Chapter 88. Wisuda dulu baru nikah!
90
Chapter 89
91
Chapter 90
92
Chapter 91
93
Chapter 92
94
Chapter 93
95
Chapter 94
96
Chapter 95
97
Chapter 96
98
Chapter 97
99
Chapter 98
100
Chapter 99
101
Chapter 100
102
Chapter 101
103
Chapter 102
104
Chapter 103
105
Chapter 104
106
Chapter 105

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!