...🍀🍀🍀...
Arsen mengantar Liliana masuk ke dalam rumah, bahkan mengantarnya sampai ke depan kamar. Liliana berterimakasih pada Arsen karena sudah mau mengantarnya. Dua orang itu tak lepas dari tatapan tajam dari Adara.
"Terimakasih ya Arsen,"
"Tidak usah berterimakasih, kita kan keluarga. Jangan lupa minum obat dan pakai pakaian hangat ya," Arsen memberikan perhatian pada Liliana.
Dasar buaya darat! Saat dulu aku sedang sakit demam, kau bahkan tidak memberikan perhatian seperti ini padaku. Lalu kenapa sekarang kau seperti ini pada Liliana? Apa karena dia cantik?
"Aku akan selalu mengingat nasehatmu. Tapi Arsen, kurasa sebaiknya kau berbaikan dengan nona Adara. Kau tidak boleh marah terlalu lama padanya, kasihan dia. Dia begitu karena terlalu mencintaimu." ucap Liliana mengingatkan dengan bijak.
"Baik, setelah ini aku akan mencoba untuk memaafkannya," ucap Arsen dengan senyuman tampan di wajahnya.
Gadis itu masuk ke dalam kamar, dia tersenyum puas mengingat wajah pucat Adara dan tangisan Adara ketika melihat dia bersama suaminya. "Benar Lily, tidak baik bagi mereka untuk bertengkar sekarang. Nikmati dulu kebahagiaan baru lah menderita, itu yang harus kalian rasakan!"
Arsen menuruti saran Liliana, dia kembali ke kamarnya dan melihat Adara sudah menyiapkan kejutan untuknya. Kamar mereka dihiasi bunga-bunga dan lilin yang bercahaya. Adara juga sudah bersiap memakai pakaian tipisnya.
Wanita itu menghampiri suaminya, tangan cantiknya membuka kancing baju sang suami perlahan-lahan. Arsen dibuat takjub oleh tingkah Adara.
"Adara.." lirihnya gugup.
Bibir merah Adara mendarat pada dada bidang itu dan meninggalkan tanda merah disana. Tangannya membelai sang suami dengan lembut seraya menggoda. Saliva pria itu naik turun, dia mulai tergoda dengan sentuhan istrinya.
"Sayang, aku minta maaf ya. Aku sudah marah marah padamu disaat kamu sedang lelah. Seharusnya sebagai istri, aku melayani dengan baik." Adara memeluk suaminya dengan erat, seraya memohon maaf dengan suara lembut.
Arsen pasti akan luluh padaku.
"Apa sekarang kau percaya pada suamimu?" tanya Arsen sambil membalas pelukan Adara.
"Aku selalu percaya padamu, hanya saja aku sedang terbutakan oleh cemburu. Maafkan aku ya sayang, sudah marah padamu. Aku janji tidak akan marah padamu lagi," Adara mendongak melihat ke arah suaminya.
Arsen tersenyum, dia menarik baju Adara yang tipis hingga terlepas ke bawah. Adara terkejut, ketika Arsen menggendongnya keatas ranjang dengan tiba-tiba.
"Adara, kau tau alasanku bersikap baik pada Lily? Itu karena dia sudah menjadi bagian dari keluarga kita. Kau tau betapa aku mencintaimu? Aku bahkan menyingkirkan si gendut jelek itu demi siapa?" Arsen memainkan rambut Adara dan mencium rambut itu dengan lembut penuh kasih sayang.
Arsen masih menatapku penuh cinta.
"Iya, kau benar. Kau bahkan menyingkirkan kakak ku si tompel yang bodoh itu hanya demi aku,"
Adara sangat bahagia dengan tatapan Arsen kepadanya. Dia mencium Arsen, hingga mereka melakukan hubungan suami istri pada malam itu dengan mesranya. Arsen dan Adara juga membicarakan masalah Adaire yang sudah tiada, bahwa Adara yang meracuni Adaire agar dia tidak bisa kurus meski sudah diet.
Tanpa mereka sadari, Liliana mendengar pembicaraan mereka dan apa yang mereka lakukan di dalam kamar itu. Liliana sakit hatinya mendengar pembicaraan pasangan suami-istri yang sudah membunuhnya itu.
Tanpa sadar mata Liliana mengeluarkan air mata, "Hiks.. hiks.. tidak Liliana, jangan menangis..jangan menangis, kau tidak boleh menangis lagi karena mereka," Gadis itu berusaha sekuat tenaga untuk menahan suara dari tangisnya. Hatinya menjerit ingin membuat kedua orang biadab itu musnah, tapi dia sadar kalau dia harus tetap kuat.
Liliana sakit hati dengan pengkhianatan yang dilakukan oleh dua orang yang sangat dicintainya. Karena itulah dia menangis.
...****...
Keesokan harinya, pada pagi itu. Daisy mengantarkan sebuah undangan pesta perayaan putra mahkota dari istana kerajaan Istvan untuk Liliana.
"Aku juga diundang? Benarkah itu Daisy?" Gadis itu tak percaya karena namanya belum dikenal, tapi sudah ada anggota kerajaan yang mengundangnya ke pesta.
"Iya nona, pengirimnya adalah kstaria pribadi putra mahkota sendiri," bisik Daisy sambil tersenyum cerah.
"Eh? Benarkah?" Liliana semakin heran, dia sama sekali tidak dekat atau bahkan mengenal keluarga kerajaan. Kecuali satu orang, seorang anak laki-laki dengan pakaian lusuh yang pernah bertemu dengannya di istana.
Perhiasan Liliana kurang bagus untuk dipakai ke pesta itu, akhirnya dia dan Daisy memutuskan untuk berbelanja kembali ke kota. Setelah selesai berbelanja, Liliana dan Daisy heran karena mereka melewati jalan yang sepi seperti bukan jalan kembali ke mansion Geraldine.
"Nona, sepertinya ini bukan jalan kembali?' Daisy melihat-lihat jalanan dari kaca jendela kereta, terlihat banyak pepohonan rimbun.
"Ya benar, kita berada di jalan yang salah. Daisy, apa kusir keretanya masih sama?" tanya Liliana dengan wajah yang waspada.
Adara? Apa ini rencana jahat mu?
Daisy melihat ke arah kusir kereta, dia yakin kalau kusir kereta itu berbeda dengan kusir yang sebelumnya mengantar mereka. Pengawal yang tadi mengawal Liliana juga tidak ada. Liliana semakin yakin bahwa ini adalah rencana Adara.
BRAK!
"Keluar dari kereta!" Bentak seorang pria dengan topeng hitam membuka pintu itu dengan paksa.
Tidak hanya satu atau dua orang, mereka ada 5 orang. Pria bertubuh kekar dan besar-besar itu memberhentikan kereta yang ditumpangi Liliana dan Daisy.
Liliana dan Daisy diseret paksa oleh pria-pria itu dengan kasar. "Kalian mau apa? Kalian mau uang? Kalian mau kereta ini? Silahkan ambil yang kalian mau, lalu pergilah dari sini!" Ujar Liliana dengan wajah yang tenang.
Jumlah mereka terlalu banyak, kemampuan ku yang tidak seberapa ini, tidak akan bisa melawan mereka.
"Hahaha.. kami mau semuanya, termasuk tubuhmu!" salah satu pria itu memegang dagu Liliana dan membelai pipinya.
Liliana langsung meludah ke arah pria yang memegangnya itu. Pria itu marah dan menampar Liliana. "Nona!" Teriak Daisy panik melihat nonanya di pukul.
"Kurang ajar kau! Apa kau cari mati, hah?" Pria berambut ikal itu memegang tangan Liliana dengan erat.
"Bawa mereka berdua!" Ujar seorang pria memberikan perintah.
Jelas, ini pasti direncanakan oleh seseorang. Adara kau benar-benar licik!
Liliana yang mulai bisa bela diri, mulai melancarkan serangannya pada orang-orang itu dan membuat Daisy bisa kabur. Namun sayang dia kalah jumlah. Pria-pria itu membawa Liliana ke sebuah gudang kosong, pakaiannya di robek-robek dan tangannya dikunci secara paksa.
"Lepaskan aku dasar bajing*n!" Teriak Liliana mencoba melepaskan dirinya dari tali yang mengikat erat tubuhnya.
"Hahaha! Sekarang kau tidak berkutik kan? Aku ingin lihat bagaimana kau masih bisa sombong setelah aku menindih tubuh cantikmu!"Pria itu membuka bajunya, menatap Liliana dengan nanar dan senyum mesum di wajahnya.
Tidak, tidak boleh! Aku tidak boleh kalah begitu saja, aku belum balas dendam!
Liliana mulai ketakutan, tubuhnya semakin melemah ketika salah satu pria itu memasukkan sesuatu ke dalam mulutnya dengan paksa.
Tidak, aku akan kehilangan kesadaran.
BRUGH!
"Kalian sentuh dia sedikit saja! Maka kalian akan mati!" Max datang dan menyelamatkan Liliana tepat pada waktunya. Dia menghabisi 5 pria itu dengan tangannya sendiri. Eugene ada disana dan terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Max.
"Yang mulia, anda tidak seharusnya membunuh mereka!" Eugene melihat 5 orang pria itu sudah menjadi mayat.
"Sudahlah bereskan saja, aku kan tidak sengaja!" Max melepaskan tali yang mengikat tubuh Liliana.
Gadis itu melihat Max samar-samar, tubuhnya terasa panas dan lemas. "Si gila.."
"Aku sudah mengingatkanmu, jangan terlalu kejam! Lihatlah apa yang terjadi padamu sekarang?" Max menangkup tubuh Liliana, dia menatap wanita itu dengan cemas.
"Teri..makasih.." Liliana jatuh tidak sadarkan diri.
...---***---...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 229 Episodes
Comments
Narimah Ahmad
untung masih sempat di selamatkan 😔
2022-12-08
0
senopati arya mada
ya ampun lily,untung ada si "gila"
lain kali lily harus lebih waspada
2022-08-02
0
senja
padahal Max juga sama, kejam salah gak terlalu kejam salah
2022-04-07
0