Adara cemburu, sakit hati dan kesal pada Liliana yang secara terang-terangan mengibarkan bendera perang kepadanya. Adara masih diam ditempatnya, dia ingin melihat sikap Liliana pada Arsen. Dia tidak mau marah membabi buta di depan semua orang yang ada di mansion itu, terutama di depan Duke Geraldine, ayahnya.
"Nona Lily, apa kau yakin bisa melakukannya sendiri?" tanya Arsen sambil turun dari kuda dan membiarkan Liliana naik kuda sendiri.
Liliana mengangguk setuju, dia yakin bahwa dia bisa melakukannya. "Saya yakin saya bisa melakukannya, tuan Count kan sudah mengajarkan saya," jawab Liliana sambil tersenyum yakin.
Ya, aku harus bisa melakukannya. Agar aku bisa menggunakan kemampuan ku ini untuk membunuhmu, Arsen.
"Baiklah, jangan takut. Tetap fokuskan tatapan mu ke depan, tenanglah dirimu dan menyatu lah dengan kuda ini. Aku akan menemani mu dari belakang," ucap Arsen dengan suara lembutnya.
Dulu Adaire pernah tertipu dengan kelembutan mu ini Arsen, tapi aku Liliana! Aku tidak akan tertipu lagi pada wajah dan kelembutan palsu yang kau tunjukkan, kau tidak lebih dari seorang pembunuh, penipu, pengkhianat yang kejam.
"Terimakasih tuan Count," Liliana memasang senyum manis diwajahnya, seraya menggoda pria yang sudah beristri itu.
"Kau bisa memanggilku Arsen, kalau sedang tidak ada orang," ucap Arsen ramah.
"Bagaimana kalau nona Adara marah nanti kepada saya? Sebelumnya dia kan marah pada saya," Liliana memasang wajah memelas dan sedih.
"Maafkan istriku ya, dia memarahi bahkan memukulmu. Aku sudah bicara padanya, bahwa kita sudah menjadi keluarga dan karena itulah aku bersikap baik padamu," ucap Arsen ramah pada Liliana.
Di dalam hati ayah mertuaku hanya ada Adaire si gendut itu. Dia tidak terlihat menyayangi Adara seperti dia menyayangi si gendut jelek itu. Dan sekarang dia menyayangi Liliana, maka aku harus dekat dengannya juga untuk mengambil ayah mertuaku, gelar Duke harus di alihkan kepadaku. Menantu satu-satunya di keluarga Geraldine.
"Tetap saja saya merasa tidak enak," ucap Liliana cemberut.
"Jika dia melakukan sesuatu padamu, katakan saja padaku. Aku akan menegur istriku itu, ayo cepat tunggangi kudanya dan jalankan!" Seru Arsen pada Liliana.
"Ya, baiklah," jawab Liliana sambil tersenyum.
Adaire/ Liliana orangnya memang cepat belajar, sekali melihat dan sekali belajar dia akan cepat ingat. Berkuda saja bisa dia lakukan dengan mudah sesuai instruksi dari Arsen.
"Bagus, kau melakukannya dengan baik!" Seru Arsen memuji Liliana.
"Terimakasih tuan Count,"
"Eits.. Arsen saja." jawab Arsen meralat ucapan Liliana.
"Ya Arsen, terimakasih sudah mengajariku berkuda dan berpedang," ucap Liliana sambil berusaha turun dari kuda.
Arsen memegangi pinggul gadis itu untuk membantunya turun. Disinilah kemarahan Adara semakin memuncak. Dia tidak tahan lagi dan menghampiri suaminya juga Liliana.
"Suamiku," Adara menahan marahnya, dia tersenyum kemudian menggandeng tangan Arsen.
"Adara?" Arsen melirik ke arah sang istri.
"Kalian sedang apa disini?" tanya Adara sambil tersenyum, tapi matanya menatap Liliana dengan tajam.
"Nona Adara, maafkan saya karena saya berlatih kuda dengan tuan Count," ucap Liliana sambil menundukkan kepalanya.
Arsen memperjelas semuanya,"Tidak begitu sayang, jangan salah paham ya. Aku hanya mengajarkan nona Liliana untuk berkuda,"
"Oh begitu ya. Kalau kau memang mau berkuda, besok aku akan meminta pada ayah agar membawa seorang guru berkuda dan guru pedang untuk mengajarimu," Adara tersenyum palsu seperti biasanya.
"Terimakasih atas perhatian nona Adara, tapi itu tidak perlu. Saya akan bicara sendiri dengan tuan Duke perihal hal ini,"
Benar, aku tak butuh bantuan dan perhatian palsu mu itu Adara.
"Baiklah," jawab Adara dingin.
Kedua mata wanita itu bertatapan dan saling memancarkan aura tajam satu sama lain.
...***...
🍀Istana utama kerajaan Istvan🍀
Pria bermata merah itu membuka topengnya, ketika memasuki aula di istana kerajaan nya yang megah. Dia menghadap dengan hormat pada seorang pria tua yang duduk di kursi singgasana. Dia adalah Raja Istvan. Raja Istvan memanggil pria itu dengan panggilan putra mahkota. Bahkan dia memuji putra mahkota nya karena telah berhasil mengatasi pemberontakan dan penjarahan di bawah kepemimpinan nya dengan baik.
"Kau telah berhasil melaksanakan tugasmu dengan baik putra mahkota, aku sangat bangga kepadamu," ucap pria tua bermahkota kan raja itu pada Max. Dia adalah Raja Istvan, Alberto Pacerta Istvan, penguasa kerajaan Istvan.
"Ayahanda jangan melebih-lebihkan, saya hanya menjalankan tugas yang ayahanda raja berikan kepada saya," ucap Max masih dengan duduk berlutut di depan ayahnya.
"Berdirilah putraku! Angkat kepalamu, kau tidak usah sungkan kepadaku!" Ujar Raja Alberto kepada Max, calon penerus tahtanya.
"Benar, kau tidak perlu menunduk seperti itu. Kau adalah kebanggaan kerajaan ini putra mahkota Maximilian," ucap seorang wanita muda dan cantik berambut panjang disamping sang raja yang sudah tua itu.
"Ibu baik sekali, apa ibu bangga padaku juga?" tanya Max dengan mata tajamnya mengarah pada wanita cantik yang duduk disebelah ayahnya itu. Dia meninggikan intonasi suaranya saat memanggil nama ibu pada wanita itu.
Dia adalah Ratu kerajaan Istvan, Freya Seravinee Istvan. Ibu tiri Maximilian.
"Tentu saja ibu bangga padamu Max," ucap Ratu Freya dengan senyuman dingin dan tatapan tajam pada Max.
Raja Istvan berkata bahwa dia akan mengabulkan permintaan putranya, mau itu uang, emas, atau wanita yang dia inginkan sebagai hadiah untuk kerja kerasnya dalam melakukan tugas.
"Aku ada satu permintaan ayahanda," ucap Max sambil tersenyum.
"Katakanlah apa itu nak! Aku pasti akan mengabulkannya!" Seru Raja Alberto.
Dia pasti meminta wanita lagi. Tebak raja Alberto di dalam hatinya.
"Saya hanya ingin diadakan pesta di istana untuk merayakan keberhasilan saya,"
"Pesta? Kau yakin dengan hal itu? Bukannya wanita tapi kau ingin pesta?" tanya Raja Alberto tak percaya mendengar permintaan anaknya tentang pesta.
Dia tau sejak kecil bahwa anaknya itu benci dengan keramaian, lalu mengapa dia ingin mengadakan pesta? Dia sendiri tak pernah menghadiri pesta.
"Apa ayahanda merasa keberatan dengan permintaan ku?" tanya Max melihat ayahnya terperangah dan terdiam di singgasananya.
"Yang mulia pasti tidak akan keberatan dengan permintaan mu, putra mahkota. Hanya saja apakah kau benar-benar ingin mengadakan pesta?" tanya Ratu Freya meyakinkan Max sekali lagi tentang pesta itu.
Dia kan sangat tidak suka dengan keramaian, lalu mengapa dia ingin mengadakan pesta dimana semua orang datang dan dimana keramaian berada.
"Saya benar-benar yakin yang mulia Ratu," ucap Max sungguh-sungguh.
Raja tidak bisa menolak permintaan Max, dia mengabulkan pesta perayaan untuk Max dengan mengundang semua bangsawan di kerajaan Istvan.
Setelah pembicaraan nya dengan Raja, putra mahkota memerintahkan agar mencari informasi tentang Liliana dan Adaire yang belum tuntas.
...---***--...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 229 Episodes
Comments
karmila Nilam
sengaja nabung, eh udah jauh 🥺
2022-03-25
1
Inha
ketinggalan banyak, maaf jarang komen Thor 🙏
2022-03-21
2
Ramadhani Kania
wah ad maunya nie putra mahkota....😂😂
2022-03-19
1