...🍀🍀🍀...
Ratu Freya mengikuti Max yang sedang berjalan di lorong bersama kedua orang kepercayaannya. Dibelakang Ratu Freya berdiri seorang dayang istana yang selalu menemaninya kemana-mana.
"Putra mahkota! Tunggu sebentar!" titah wanita cantik dengan mahkota ratu terpasang di kepalanya. Dia memanggil Max dengan suara yang meninggi.
Max berbalik dan menoleh ke arah Ratu Freya. Ratu Freya berjalan mendekati putra mahkota kerajaan Istvan itu dengan langkah yang elegan.
"Ada apa ibu memanggil saya?" tanya Max pada Ratu Freya dengan suara tegas dan raut wajah yang kurang menyenangkan.
Lagi-lagi Max menekankan panggilan ibu untuk ibu tirinya itu. Ratu Freya tersenyum menyeringai, "Aku tidak akan berbasa-basi, aku hanya ingin kau memilih salah satu wanita untuk menjadi putri mahkota negeri ini. Aku punya kenalan beberapa wanita yang cocok untukmu,"
"Masalah itu yang mulia Ratu tidak usah repot-repot, aku akan memilih calonku sendiri," Max tersenyum lebar.
"Benarkah? Apa kau yang selalu bermain-main dengan wanita di luar sana akan memilih pasangan mu sendiri? Aku hanya khawatir dengan ayahmu," Ratu Freya tersenyum menyeringai, dia tak percaya dengan ucapan Max.
"Benar, aku sedang mengamati gadis itu. Dan dia bukan gadis sembarangan yang dipilihkan oleh yang mulia Ratu untuk saya," Max tersenyum sambil memikirkan Liliana.
Dibelakang Max, Pierre dan Eugene berbisik-bisik membicarakan tentang siapa gadis yang dimaksud oleh Max.
"Hah, baiklah kalau begitu. Segera kenalkan dia padaku. Aku ingin tau seperti apa gadis itu," ucap Ratu Freya dengan senyuman sinis di bibirnya.
"Segera," ucap Max tegas.
Setelah pembicaraan itu, Ratu Freya pergi menuju ke kamarnya. Max juga melakukan hal yang sama, dia lelah ingin segera beristirahat.
"Yang mulia, apa anda yakin ingin mencari tau tentang mendiang nona Adaire dan nona Liliana?" tanya Pierre pada Max.
"Iya, kenapa?" Max menoleh ke arah Pierre dengan tatapan penuh pertanyaan.
"Apa saya boleh tau apa alasannya?" tanya Pierre berhati-hati, dia takut pertanyaan ini menyinggung Max.
"Kalau aku bilang aku tertarik pada gadis itu, apa kau akan percaya?" Max malah memberikan jawaban dengan pertanyaan.
Pierre terpana mendengar ucapan Max, dia tidak percaya melihat raut wajah Max yang serius ketika membicarakan seorang wanita. Padahal selama ini Max selalu bermain-main dengan wanita, tapi kali ini dia terlihat serius.
"Saya percaya yang mulia, saya akan menyelidiki identitas gadis itu baik-baik," Pierre tersenyum.
Benar, aku harus teliti! Karena ini adalah wanita yang pertama kali membuat yang mulia benar-benar tertarik, mungkin juga wanita ini kelak akan menjadi putri mahkota.
"Liliana dan Adaire Charise Geraldine, kau harus cari tau keduanya!" titah Max kepada pengawal setianya itu.
"Hamba mengerti," jawab Pierre patuh.
🍀🍀🍀
Keesokan harinya di taman belakang rumah keluarga Geraldine. Adara mengadakan pesta minum teh disana dan memiliki banyak teman di pergaulan kelas atas, walaupun dia terlahir dari seorang budak, namun karena kecantikan nya dia mempunyai banyak teman sosialita bangsawan kelas atas.
Liliana melihat Adara dari balik jendela kamarnya, Adara sedang tertawa dan mengobrol bersama teman-temannya, duduk santai di taman belakang sambil minum teh. "Kau tertawa, kau tersenyum? Disaat aku sudah tiada, bagaimana kau bisa bahagia seperti itu? Tidak Adara, selama aku ada disini aku akan menghantui kebahagiaan mu," gumam Liliana penuh kebencian pada Adara.
"Nona, nona Adara benar-benar keterlaluan! Bagaimana bisa nona Adara tidak mengundang anda kesana? Saya sudah tau kalau nona Adara itu hanya baik di luarnya saja, pada nona Adaire pun dulu dia bersikap begitu," tanpa sadar Daisy mengatakan curahan hatinya pada Liliana.
"Apa yang dulu dia lakukan pada Adaire, sahabatku? Aku selalu membaca di surat yang dia kirimkan kalau Adara adalah adiknya yang baik dan paling dia sayangi," berat hatinya saat dia mengatakan Adara adalah orang yang baik.
"Nona Adaire selalu saja mengalah pada nona Adara, dia selalu saja baik pada semua orang walaupun semua orang memperlakukannya dengan buruk. Dan sebenarnya saya tidak berfikir kalau nona Adara juga bersikap baik pada nona Adaire," Daisy teringat semua penderitaan yang dilalui Adaire semasa hidupnya. Matanya berkaca-kaca, wanita itu hampir menangis.
Liliana juga menahan air matanya, dia tidak ingin terlihat lemah. "Oh benarkah begitu? Aku pikir nona Adara sangat menyayangi Adaire,"
"Jika nona Adara menyayangi nona Adaire, tidak mungkin dia menikah dengan suami nona!" Daisy bersedih mengingat nonanya yang baik hati itu. Nonanya yang selalu membela Adara dan menyayangi semua orang.
Daisy, memang kaulah yang selalu setia bersama ku.
"Benar juga, Daisy siapkan aku gaun paling biasa yang aku miliki di dalam lemari!" Seru Liliana penuh tekad, menatap Adara dengan murka.
"Nona, apa yang akan nona lakukan?" tanya Daisy sambil menyeka air matanya.
"Aku akan menghadiri pesta teh itu," jawab Liliana.
"Tapi kan nona tidak diundang?" Daisy bingung.
"Kalau tidak diundang, aku hanya perlu datang saja. Daisy, apa kau ingin melihat wajah asli nona Adara?" tanya Liliana pada Daisy.
"Iya," jawab Daisy.
"Maka aku akan memperlihatkan seperti apa wajahnya di depan semua orang," Liliana tersenyum sambil menyeka air mata Daisy yang jatuh ke pipinya.
Entah kenapa aku merasa kalau nona Liliana memiliki sedikit kemiripan dengan nona Adaire, aku seperti sedang bersama nona ku sendiri. Daisy merasa kenyamanan saat dia dekat dengan wanita itu.
Liliana yang tidak diundang ke pesta itu, dia menghampiri para nona bangsawan dan Adara dengan baju yang paling sederhana. Rambutnya di kepang dengan ikatan kupu-kupu di depannya. Niatnya datang kesana sudah jelas ingin menghancurkan pesta minum teh itu.
"Maafkan saya, saya sedikit terlambat," ucap Liliana sambil menundukkan kepalanya dengan hormat di depan empat orang nona bangsawan. Tak lupa dia memasang senyuman manis dan hangatnya.
Kenapa dia datang? Aku bahkan tidak mengundangnya? Kurang ajar sekali dia!
Adara menatap tajam pada Liliana yang datang tanpa diundang olehnya. Melihat wajah Adara yang kesal, membuat Liliana semakin bahagia.
"Apa ini? Kenapa dia datang?" bisik seorang wanita bangsawan heran melihat Liliana ada disana.
"Bukankah kau bilang kalau nona Liliana sedang sakit?" tanya Annette pada Adara.
"Eh iya, dia sedang-" Adara bicara dengan gelagapan.
"Maafkan saya nona nona, tadi saya memang sedikit sakit perut. Tapi sekarang saya sudah baik-baik saja," Liliana tersenyum ramah.
Adara pun langsung berpura-pura baik di depan semua orang dan mengajak Liliana bergabung dengan mereka. Liliana duduk disamping Adara dan Annette seorang nona bangsawan sahabat dekat Adara yang pernah menghinanya saat dia masih menjadi Adaire di gemuk bertompel. Ketika sedang mengobrol dengan nona nona bangsawan, ada rasa sakit hati dihatinya. Mengingat masa lalu pahit, ketika dia masih menjadi Adaire dan dihina oleh mereka karena Adara mempermalukan nya.
Kali ini pun Adara berniat mempermalukan nya dengan meminta Liliana menyeduh teh untuk para nona disana. "Nona Liliana, sebagai tanda kau bergabung dengan kami semua, bagaimana kalau kau menyeduh teh untuk kami semua yang ada disini?" tanya Adara pada Liliana dengan senyuman sinis.
Rasakan, kau wanita tidak berpendidikan! Kau pasti tidak akan tau cara menyeduh teh yang baik.
Liliana menangkap maksud jahat Adara padanya, dia pun tersenyum lembut dan bersedia menyeduh teh itu untuk semua orang. Dengan elegan namun sedikit ceroboh, Liliana berhasil menyeduh teh itu. Empat nona bangsawan disana memuji keterampilan Liliana, sebagai seorang rakyat biasa yang akan naik status sebagai bangsawan. Liliana pantas mendapatkan pujian.
Niatnya mempermalukan Liliana berujung mempermalukan dirinya sendiri karena ada salah satu dari nona bangsawan itu yang berfikir Adara menindas Liliana dilihat dari baju yang dipakainya. Liliana memanfaatkan kesempatan itu untuk bermain kata seperti yang dilakukan Adara dimasa lalu kepadanya, dia membuat semua nona bangsawan itu marah pada Adara. Dia malah kena batunya dan malu sendiri di depan nona nona bangsawan itu.
Saatnya merendah.
"Maafkan saya, ini karena kehadiran saya disini. Saya tidak bermaksud untuk menganggu pesta minum teh, nona Adara maafkan saya,"
"Apa? Bahkan nona Liliana memanggilmu dengan panggilan nona? Bagaimana bisa kau memperlakukan sahabat Adaire seperti ini?"
"Adara, dia akan menjadi saudaramu. Mengapa kau memperlakukannya seperti pelayan?" ucap seorang wanita protes dan membela Liliana.
Adara kesal dan mulai menunjukkan sikap aslinya, dia menjambak rambut Liliana dan membuat gadis itu jatuh. Disaat itulah, Arsen datang dan membela Liliana. Dia juga terang-terangan memarahi istrinya di depan orang banyak demi gadis itu. Liliana tersenyum puas karena dia berhasil membuat hubungan suami istri itu retak.
...---***---...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 229 Episodes
Comments
delissaa
lili tak terkalahkan 😍
2022-03-26
0
Ramadhani Kania
semangt lily...✊✊tp ttp rus waspada....
2022-03-19
3
Diandra
Huh puas
2022-03-15
2