...🍀🍀🍀...
Setelah wanita arogan dan pelayan nya pergi dari sana, perhatian semua orang tertuju pada Liliana dan pelayan gemuk itu.
"Apa nyonya baik-baik saja? Apa ada yang terluka?" Liliana bertanya sambil memperhatikan pelayan gemuk itu dari atas sampai ke bawah.
"Te-terimakasih dan ma-maafkan saya nona," ucap pelayan gemuk itu dengan berurai air mata. Dia tidak berani mengangkat wajahnya di depan Liliana.
Melihat pelayan gemuk itu benar-benar mengingatkan Liliana pada dirinya yang dulu. Dirinya yang selalu menunduk dan diam saja ketika ditindas, diejek oleh orang-orang di sekitarnya.
"Kumohon jangan bersedih, jangan menangis, angkat kepala nyonya dengan percaya diri," Liliana tersenyum, dia menyemangati pelayan di gc itu.
Liliana, pelayan gemuk dan pemilik restoran itu duduk di sebuah kursi. Mereka menenangkan si pelayan gemuk yang baru saja mengalami kejadian tidak menyenangkan.
"Terimakasih sudah membela anak saya ketika saya tidak ada," ucap Geordo berterimakasih pada Liliana karena sudah menolong anaknya.
"Ini sudah seharusnya dilakukan oleh manusia, tuan tidak perlu berterimakasih pada saya," ucap Liliana rendah hati.
"Nona sangat baik, terimakasih nona. Selain cantik, nona juga baik hati," Lizzy si gadis gemuk itu memuji Liliana dengan setulus hatinya.
"Kau juga sangat cantik dan baik hati. Terutama hatimu, sangatlah cantik dibandingkan wanita yang cantik luarnya saja tapi hatinya buruk," Liliana kesal mengingat wanita arogan yang tadi menghina Lizzy.
"Nona Lily, nona bisa pesan makanan dan minuman yang nona inginkan, saya akan membuatkannya!" Seru Geordo yang ingin mengucapkan rasa terimakasih nya pada Liliana.
"Tidak tuan Geordo, jika tuan ingin berterimakasih pada saya. Saya boleh meminta hal lain sebagai gantinya?" Liliana tersenyum.
"Nona ingin meminta apa? Ayah harus mengabulkan nya ya!" Lizzy berkata pada ayahnya itu untuk mengabulkan keinginan penyelamatnya.
"Pasti akan saya kabulakn. Nona ingin meminta apa?" tanya Geordo ramah.
"Izinkan saya bekerja disini tuan!" Jawab Liliana penuh keyakinan.
Geordo dan Lizzy tercengang mendengar permintaan Liliana. Tapi seperti janji Geordo, dia akan mengabulkan keinginan Liliana. Liliana akhirnya bekerja di restoran kecil di pedesaan terpencil itu, meski belum pernah bekerja berat sebelumnya, Liliana dapat melakukan pekerjaannya dengan baik dan mudah beradaptasi ditempat itu.
Demi mendapatkan uang yang cukup untuk pergi ke tempat tinggal nya dulu, dia harus bekerja keras. Geordo dan Lizzy juga senang dengan kehadiran Liliana disana, karena kehadiran gadis cantik itu membuat restoran ramai oleh pengunjung terutama pelanggan pria.
Siang itu pengunjung restoran sedang ramai-ramainya. Liliana dan Lizzy sibuk melayani pelanggan yang berdatangan dari berbagai penjuru.
"Nona, saya ingin pesan coklat panas nya!" ucap seorang pria pada Liliana.
"Tunggu sebentar tuan," Liliana sibuk mencatat pesanan pelanggan.
Setelah hari-hari melelahkan itu, 2 Minggu sudah berlalu sejak Liliana bekerja disana. Dia berhasil mengumpulkan uang yang cukup untuk pergi ke rumah nya, kediaman Geraldine. Tujuan nya adalah untuk menghancurkan Adara dan Arsen.
Liliana berpamitan pada Geordo dan Lizzy dengan berat hati. Dia berkata kalau ia akan merantau ke kota, juga mencari temannya yang bernama Adaire. Liliana membuat surat palsu yang ditulis oleh dirinya yang lain, alias Adaire.
Gadis cantik itu naik ke sebuah kapal laut dengan membawa surat palsu buatannya sendiri. "Adara pasti akan menentang keberadaan ku dan surat ini, setelah sampai disana aku harus meyakinkan mereka kalau aku ini adalah teman baik Adaire. Dan surat ini juga harus memiliki cap ku, agar tidak akan ada orang yang menentang keberadaan ku disana! Baiklah, balas dendam aku datang!" Liliana bergumam dengan senyuman liciknya.
Tanpa dia sadari seorang pria melihatnya dari kejauhan, dia tersenyum-senyum. Pria itu menggunakan topeng yang tidak asing, siapa lagi kalau bukan putra mahkota Maximilian.
****
Setelah perjalanan 2 hari lamanya, Liliana tiba di tempat kelahirannya. Sebuah kota yang dekat dengan istana kerajaan Istvan, kota dimana dia dibesarkan. Hatinya sedih melihat kota itu, dia teringat banyak kenangan menyakitkan disana. Kenangannya sebagai Adaire, gadis gemuk buruk rupa yang selalu ditindas orang-orang.
"Tenanglah Liliana, kau bukanlah Adaire yang malang lagi. Kau adalah Liliana yang akan membuat semua orang bertekuk lutut dihadapan mu!" Liliana menyeka air matanya, dia berjalan ke arah kota. Berusaha mencari kereta lewat yang akan membawanya ke kota.
Ketika sedang menunggu kereta, dia melihat seorang anak sedang berjalan ke tengah jalan untuk mengambil bola miliknya. Sebuah kereta kuda melaju kencang ke arahnya, Liliana melihat itu dan langsung berlari menghampiri si anak laki-laki ditengah jalan.
"Hey nak! Awas!" Teriak Liliana panik sambil menarik anak itu dengan sekuat tenaganya. Dia melindungi anak itu dengan pelukannya.
Kereta kuda itu membuat Liliana dan anak itu terjatuh ke jalan. Seseorang keluar dari kereta kuda itu dan menghampiri Liliana.
"Hey! Kalian mau ma-"Pria itu hendak memaki Liliana dan anak laki-laki yang berada di dalam pelukannya. Namun, dia terhenti saat melihat wajah Liliana. Pria itu adalah Arsen, Liliana terperangah melihat pembunuhnya tepat di depan mata.
Arsen, kebetulan sekali. Diam-diam wanita cantik itu menyembunyikan senyuman liciknya.
Cantik sekali. Bidadari dari mana?
"Nona, apa nona baik-baik saja?" tanya Arsen sambil memasang tampang lembut dan sok baik nya.
"Saya tidak apa-apa tuan," Liliana menunjukkan tampang memelas yang bisa membuat Arsen iba.
Arsen, apa kau suka tampang memelas ini? Lihat saja, aku akan membuatmu jatuh cinta padaku lalu aku akan meninggalkan mu dengan kejam.
Anak laki-laki yang ditolong oleh Liliana, kembali pada ibunya. Sang ibu berterima kasih pada Liliana yang sudah menyelamatkan putranya.
Arsen semakin mengagumi Liliana yang baik dan cantik. Dia pun mengajak wanita itu berkenalan dengan sopan, malah sampai mengajak nya mengobrol. Sampai obrolan itu membahas Adaire, sosok istrinya yang sudah tiada.
Arsen terkejut karena Liliana mengetahui tentang Adaire, dia bertanya siapa Liliana sebenarnya. "Saya adalah teman Adaire, saya disini untuk bertemu dengan Adaire," ucap Liliana.
"Teman Adaire?" Arsen terperangah mendengar nya.
Setahuku Adaire tidak punya teman.
"Saya dan Adaire adalah sahabat pena, kami sering bertukar surat. 2 Minggu kemarin dia mengirimkan surat kepada saya," ucap Liliana dengan mata berkaca-kaca.
"Su-surat?" tanya Arsen gugup.
Kenapa Arsen? Kenapa kau kaget mendengar namaku? Apa kau takut? Takutlah Arsen, karena aku ada disini sekarang.
Tanpa bertanya lebih baik, Arsen membawa Liliana ke rumah keluarga Geraldine. Disana Arsen disambut oleh Adara dengan hangat. Senyuman Adara menghilang ketika dia melihat sosok wanita yang turun dari kereta suaminya.
"Suamiku, kau sudah pulang?" Adara tersenyum menyambut suaminya yang baru saja turun dari kereta. Adara langsung kehilangan senyumnya begitu melihat suaminya mengulurkan tangan untuk membantu Liliana turun dari kereta.
Suamiku? Belum lama sejak kematian ku dan kalian sudah jadi suami istri?. Liliana menahan amarah, sakit hati dan dia berusaha tersenyum setenang mungkin di depan kedua musuhnya.
Arsen memperkenalkan Liliana sebagai teman Adaire. Adara tidak percaya begitu saja kalau Liliana adalah teman kakaknya, dia langsung mengusir Liliana dengan kasar.
"Kakak ku tidak punya teman pengemis seperti dirimu, pergi kau dari sini!" Adara mengusir Liliana, seolah gadis itu adalah ancaman.
Kenapa pengemis ini memiliki wajah yang cantik?
Arsen berusaha menenangkan istrinya, "Adara! Dia adalah teman Adaire, aku sudah mengkonfirmasi nya! Dia membawa surat dengan tulisan tangan Adaire!" Arsen berbisik pada sang istri.
Liliana masuk ke mansion Geraldine, rumahnya sendiri saat dia menjadi Adaire. Hatinya sedih bercampur rindu, sudah dua minggu lebih dia meninggalkan rumah itu. Dia melihat Daisy, pelayan setianya yang masih berada disana.
Daisy, ternyata kau masih ada disini? Kenapa kau diam saja disitu Daisy?
Liliana melihat Daisy sedang bersandar di depan pintu kamar Adaire dengan wajah sedih dan tatapan kosongnya. "Daisy! Bawa wanita ini ke ruang tamu, jangan biarkan dia pergi kemana-mana sebelum ayah ku datang!" Ujar Adara tegas kepada Daisy.
"Baik nona," jawab Daisy dengan membungkukkan setengah badannya di depan Adara. Dia terlihat tidak bersemangat.
Daisy mengantar Liliana ke ruang tamu. Liliana segera memutar otak untuk mengambil stempel Adaire tanpa ketahuan sebagai bukti keabsahan surat yang dia bawa itu. Liliana meminta Daisy untuk mengambilkan dia minuman, selagi Daisy mengambilkan minuman. Liliana pergi masuk ke dalam kamarnya, dia membuka tanah di pot bunga. Tempat dia menyembunyikan stempel itu. Liliana senang karena Adara tidak tau dimana dia menyimpan stempelnya.
Buru-buru ia mencap surat yang dia bawa dengan stempel Adaire, kemudian dia kembali ke ruang tamu. Tak lama setelah itu, Duke Geraldine datang menghampiri nya bersama Adara.
Ayah ini aku... ini aku Adaire. Liliana sedih di dalam hatinya, dia merindukan sang ayah.
"Kau bilang kau mengenal putriku? Aku tau selama ini putriku tidak mempunyai teman dekat," Duke Geraldine menatap wanita cantik di depannya itu dengan tajam.
"Saya sahabat pena nya tuan Duke, maafkan jika kedatangan saya membuat anda dan keluarga anda terganggu. Saya hanya ingin bertemu dengan Adaire dan memberikan dia selamat atas pernikahannya. Karena dari surat terakhir yang saya baca, nona Adaire sudah menikah, saya kemari untuk memberikan hadiah untuknya," jelas Liliana sambil membuka bingkisan di dalam kantong nya.
Duke Geraldine tiba-tiba menangis mendengar penjelasan Liliana tentang Adaire. Terlebih lagi saat dia melihat bingkisan yang dibawa Liliana. Sepasang sepatu tidur berukuran besar.
Ayah, aku ingin sepatu tidur!
Suara Adaire terngiang ditelinga ditelinga sang ayah. Buru-buru dia menyeka air matanya dan meminta Liliana menyerahkan surat itu. Duke Geraldine mengenal tulisan Adaire, dia menangis sedih membacanya.
"Daisy, mulai sekarang kau akan menjadi pelayan pribadi nona Liliana! Suruh pelayan lain untuk menyiapkan kamarnya!" Titah Duke pada Daisy.
"A-ayah? Apa yang ayah katakan? Mengapa pengemis ini mendapatkan pelayan pribadi? Apa dia akan tinggal disini?" tanya Adara tidak terima dengan keputusan ayahnya.
"Adara Brisia Geraldine, mulai sekarang Liliana adalah anggota keluarga kita! Jadi, dia berhak tinggal disini!" Seru Duke tegas kepada putri bungsu nya itu.
Syukurlah, ayah terimakasih sudah menerimaku.
"Tuan Duke, apa maksud tuan Duke? Kenapa saya harus tinggal disini?" tanya Liliana berpura-pura tak tahu.
"Mulai sekarang kamu adalah bagian dari keluarga ini, karena Adaire menginginkan nya," ucap Duke pada Liliana.
Jadi semua ini demi aku? Ayah terimakasih.. ternyata ayah sayang padaku.
Adara terlihat tidak senang dengan keputusan Duke, dia seperti merasa terancam dengan kehadiran Liliana. Terlebih lagi saat dia melihat Arsen menatap gadis cantik itu.
...---***---...
Hai Readers! Mohon dukungan nya untuk like, komen, gift dan vote nya ya buat karya author ❤️❤️🥰
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 229 Episodes
Comments
Salma Cheng
menarik ceritanya,, lanjut
2024-05-19
0
taetae🐯
satset ya Thor 🤧seru tp alurnya buat aku kecepatan
2022-12-07
0
Shakayla Mecca
Biasanya klo aq baca novel yg menceritakan tentang kehidupan kembali, klo ga dimasa lalu pasti masa depan, tp ini masih di masa yg sama, dan itu yg bikin menarik dan penasaran bagaimana kisah selanjutnya
2022-11-13
1