Adara vs Liliana
...🍀🍀🍀...
"Bubuk apa ini nona?" Anya melihat bubuk yang ada di tangannya pemberian Adara.
"Tidak perlu, biar aku saja yang lakukan! Tugasmu panggilkan saja si j*l*ng itu!" Seru Adara sambil mengambil plastik berisi bubuk itu kembali dari tangan Anya.
"Baiklah nona," jawab Anya patuh.
Apa yang akan nona Adara lakukan dengan bubuk itu? Apa dia ingin.. ah tidak mungkin. Anya geleng-geleng kepala.
Anya keluar dari kamar Adara, dia menuju ke kamar Liliana untuk memberitahukan kepada gadis itu tentang undangan minum teh dari Adara.
"Permisi nona Liliana," ucap Anya terlihat sopan di luar.
"Ada apa?" tanya Liliana yang sedang menyisir rambutnya dan bercermin.
Mau apa pelayan Adara kemari?
"Saya ingin menyampaikan kalau nona Adara mengajak nona Liliana untuk minum teh bersama dan nona Adara mengatakan kalau nona Adara ingin bicara dengan nona Liliana," jelas Anya pada gadis berambut merah itu.
"Baiklah," jawab Liliana, kemudian dia bertanya, "Dimana tempatnya?"
"Di ruang tamu, nona," jawab Anya.
"Baik, sampaikan pada nona Adara bahwa aku akan kesana sekitar 5 menit lagi." Liliana menitipkan pesan pada Anya untuk Adara. Daisy terlihat tidak senang melihat Anya ada disana.
"Baik nona, akan saya sampaikan!" Anya membungkukkan setengah badannya seraya memberi hormat. Kini Liliana adalah seorang bangsawan, tentu saja Anya harus menghormatinya.
Anya keluar dari kamar Liliana dan Daisy segera menutup pintu kamarnya. Daisy mencurahkan semua ketidaksukaannya pada pelayan setia Adara itu. Dia ingat benar bahwa Anya dan Adara selalu menindas Adaire diam-diam. Liliana mengerti apa maksud Daisy, dia berkata bahwa dia tidak akan lemah di depan Adara.
"Nona Adara pasti merencanakan sesuatu pada nona," Daisy cemas dengan undangan Adara untuk minum teh, dia pasti merencanakan hal buruk pada Liliana.
"Sepertinya begitu, tapi Daisy tenang saja ya. Aku bukan Adaire yang mudah ditindas oleh kasih sayangnya yang buta, aku adalah Liliana! Aku bisa melihat siapa yang baik dan jahat," Liliana meyakinkan Daisy bahwa dia akan baik-baik saja dan dia kuat menghadapi Adara.
Apapun yang dia rencanakan, itu tidak akan berhasil.
Setelah bersiap-siap, 5 menit kemudian Liliana sampai di ruang tamu dengan gaun sederhana yang selalu dipakainya. Mau apapun yang dipakai ditubuhnya, dia tetap terlihat cantik dengan tubuh ringan dan rambut panjang merah yang indah itu.
Adara menatapnya dengan iri, seakan ada yang menandingi kecantikannya.
Kenapa dia terlihat sangat cantik? Memakai baju seperti apapun kenapa dia terlihat begitu cantik? Hah, menyebalkan sekali! Tapi aku tetap lebih cantik.
"Silahkan duduk, Liliana," ucap Adara menyambut kedatangan Liliana dengan suara hangat dan sopan.
"Maafkan saya telah membuat nona Adara menunggu, saya perlu bersiap untuk membuat diri saya pantas terlihat oleh nona Adara," kata Liliana dengan nada suara yang sedikit sarkastik, tatapannya tajam mengarah pada Adara.
"Tidak apa-apa, sekarang kau adalah keluarga ku, tidak apa menunggu keluarga hanya untuk minum teh bersama," Adara tersenyum selembut mungkin. Di ruangan itu hanya ada 2 pelayan, yaitu Anya dan Daisy yang bertugas menjaga nona mereka.
Beraninya, kau membuat ku Adara Brisia Geraldine untuk menunggu! Setelah ini aku akan membuatmu menyesal dan kedok mu sebagai Liliana akan terbongkar.
Gadis berambut merah itu duduk tepat di depan Adara, dia terlihat elegan. Hal ini menambah kecurigaan Adara bahwa Liliana mungkin adalah kakaknya Adaire, tapi bagaimana mungkin?
Adara tersenyum dan menyeduh teh untuk Liliana dengan tangannya sendiri. Liliana heran karena dia merasakan keanehan ketika Adara tiba-tiba baik padanya dengan menyeduh teh untuknya dan berkata meminta maaf. "Anda tidak perlu melakukan ini nona Adara, kita bisa meminta pelayan untuk menyeduhnya,"
"Tidak apa-apa, anggaplah ini permintaan maaf ku karena ini aku selalu bersikap kasar padamu. Lily, aku minta maaf ya?" Adara tersenyum lembut.
Aku tau senyuman mu itu mengartikan sesuatu yang lain. Apa yang kau rencanakan Adara?. Liliana terkejut karena Adara bersikap baik padanya.
"Tidak perlu meminta maaf pada saya nona Adara. Kalau saya jadi anda, saya juga pasti akan marah karena ada orang asing yang tinggal di rumah ini, lalu orang asing itu tiba-tiba menjadi keluarga anda," ucap Liliana sambil memperhatikan gerak-gerik Adara sat menyeduh teh.
"Tetap saja saya harus minta maaf. Lily adalah teman baik kakak ku satu satunya, aku harus memperlakukan mu dengan baik. Bagaimana kalau mulai sekarang kita berteman?" Adara mengulurkan tangannya untuk berjabatan dengan Liliana.
Sekali lagi Liliana menatap Adara dengan menganalisis, dia mencoba melihat apa rencana Adara di balik matanya. Liliana menyembunyikan kecurigaannya dengan senyuman. "Saya sudah memaafkan nona, baiklah kita berteman ya nona," Liliana membalas jabatan tangan Adara.
"Ya sudah kalau begitu, mari minum teh dulu dan kita mengobrol soal kakakku. Aku ingin tau apa saja yang dia bicarakan pada teman baiknya ini, tidak apa kak Lily?" Adara mengambil cangkir berisi teh itu.
Liliana tersenyum cerah, "Baiklah, tidak apa nona Adara. Saya senang berbagi cerita tentang mendiang nona Adaire,"
Pasti ada sesuatu di dalam teh itu.
Liliana yang peka, dia tau pasti ada sesuatu di dalam teh nya. Dia mengambil cangkir teh itu dan mengendusnya diam-diam.
Serbuk kacang?
Gadis itu terkejut karena di dalam tehnya ada serbuk kacang. Adaire yang asli alergi dengan serbuk kacang.
Astaga! Apa dia sedang mencurigai ku sebagai Adaire? Sedalam itukah kecurigaannya padaku? Liliana, kau harus tenang.
Liliana meminum teh itu dengan sengaja dan was-was. Adara memperhatikan gadis itu dan menantikan, apa yang akan terjadi padanya. Dan tidak ada reaksi alergi pada Liliana seperti apa yang terjadi pada kakak nya.
Kenapa tidak terjadi apa-apa?
Gadis itu mengejek Adara di dalam hatinya, bahwa Adara sangat bodoh. Dia bukanlah Adaire yang dulu lagi, tapi dia adalah Liliana.
Dasar bodoh! Apa dia pikir aku adalah Adaire? Karena tubuh ini milik Liliana dan sepertinya Liliana tidak memiliki alergi serbuk kacang. Jadi aku tidak merasakan reaksi alergi itu. Adara bodoh.
Lagi-lagi Adara kalah oleh Liliana. Bahkan Arsen pun mulai perhatian padanya daripada pada istrinya sendiri. Sepulang suaminya dari istana, Adara segara membicarakan kecurigaannya pada Liliana.
"Sayang, apa kau berhalusinasi? Mana mungkin Liliana adalah Adaire? Kau tau kakakmu si jelek itu dia sudah mati dan kita melihatnya sendiri jatuh ke laut," ucap Arsen sambil menarik dasi di kemeja yang dia pakai. Arsen terlihat lelah setelah bekerja seharian di istana.
"Tapi jenazahnya belum ditemukan, kita tidak bisa yakin kalau dia belum mati!" Adara tetap bersikeras dengan kecurigaannya pada Liliana.
"Lalu apa kau berfikir kalau Liliana adalah Adaire? Adara apa itu mungkin? Jika Adaire masih hidup, dia tidak mungkin kembali dalam wujud cantik seperti itu," Arsen menepis semua kecurigaan istrinya.
"A-Apa? Kau bilang dia cantik?!" Adara marah ketika suaminya menyebut wanita lain cantik.
Mereka pun bertengkar hebat, hingga para pelayan mendengar keributan dari kamar mereka.
...---****---...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 229 Episodes
Comments
Wil Da
bagus Lilly buat mereka hancur😭😭
2023-05-16
0
luho uroe
ahahaaa...pelakor uda mulai ketar ketir dasar durjana....tunggu aja hasil taburx.....😁😁😁
2022-06-29
1
senja
ini kl di Korea udah oplas, tp yg datang beneran jiwa Kakanya tp raganya beda
2022-04-07
3