...🍀🍀🍀...
"Saya mohon bantuannya nona Adara," Liliana tersenyum merendah, bantuan yang dia maksud disini adalah bantuan untuk mempersiapkan pesta.
"Tentu saja aku harus membantu mu, kau kan tidak punya pengalaman dengan pesta debut kelas atas karena kau bukan seorang bangsawan," Adara tersenyum merendahkan Liliana.
"Benar, saya memang berasal dari kalangan bawah," Liliana malah tersenyum ceria, dia tidak merasa di ejek sama sekali oleh Adara.
"Cih!" Adara memalingkan wajahnya dari Liliana dengan arogan. "Anya, ikut ke kamarku sekarang!" Ujar Adara pada pelayan setianya itu.
"Baik nona," jawab Anya patuh.
Adara dan pelayan setianya pergi ke ruangan lain, mereka membicarakan tentang persiapan pesta untuk Liliana.
Sementara itu, Liliana kekurangan baju untuk dipakainya dan Duke akan segera memperkenalkan anak angkatnya pada semua orang. Liliana bersama pelayan setia Adaire dan seorang pengawal, berniat pergi ke pasar kota untuk membeli baju dan perhiasan. Duke memberikan Liliana uang untuk berbelanja.
"Kau mau pergi kemana tanpa seizin ku? Dan kenapa kau membawa pengawal juga?" tanya Adara sinis.
"Saya akan pergi membeli pakaian dan perhiasan," jawab Liliana singkat.
"Aku tanya kenapa kau bawa pengawal juga? Apa kau benar-benar mengira dirimu ini bangsawan sungguhan?" tanya Adara mengejek lagi gadis itu. Adara melarang Liliana untuk pergi membawa kstaria karena Liliana bukanlah bangsawan melainkan rakyat biasa..
Seenaknya saja dia pergi membawa pengawal, apa dia pikir dirinya adalah bangsawan? Jika bukan karena ayahku, dia tidak akan pernah naik status.
"Baiklah kalau saya tidak bisa membawa pengawal, tidak apa-apa. Saya bisa pergi sendiri," ucap Liliana sambil melirik ke arah Arsen yang berdiri di belakang Adara.
"Kau juga tidak boleh memakai kereta!" Seru Adara tegas.
"Nona Liliana kebetulan aku akan berangkat bekerja, kau bisa ikut denganku dan aku akan mengantarmu," ucap Arsen sambil tersenyum ramah.
"Suamiku!" Adara terkejut dengan ucapan suaminya.
"Pusat kota kan searah dengan istana, jadi aku bisa sekalian mengantar nona Liliana."
"Sayang!"
"Kau tidak mau aku mengantarnya, tapi kau juga melarangnya untuk naik kereta juga membawa pengawal. Adara seperti nya kau lupa kalau nona Liliana sudah menjadi saudarimu, dia adalah anak angkat ayah dan itu artinya nona Liliana adalah bangsawan, saudari mu," jelas Arsen, pria itu mengatakan bahwa Liliana adalah anak angkat ayah mertuanya dan sudah menjadi bangsawan.
Adara yang dibutakan oleh rasa cemburu, akhirnya mengizinkan Liliana untuk membawa pelayan dan pengawal, juga pergi mengendarai kereta. Setelah melalui beberapa perdebatan Liliana pergi ke pasar kota bersama Daisy dan Nicholas, pengawal Adara yang ditugaskan untuk mengawal Liliana atau mungkin mengawasinya.
"Nona,"
"Ya ada apa Daisy?" tanya Liliana sambil menatap pelayan itu dengan ramah.
"Apa saya boleh mengatakan sesuatu pada nona?" tanya Daisy berhati-hati.
"Tentu saja Daisy," jawab Liliana ramah.
"Nona, nona sangat baik. Entah kenapa saya merasa sudah kenal lama dengan nona, maafkan saya sebelumnya karena berani bicara lancang. Saya merasa anda memiliki sedikit kemiripan dengan mendiang nona Adaire," Daisy menundukkan kepala, pelayan itu terlihat sedih ketika membahas tentang Adaire.
"Benarkah? Aku senang mendengarnya Daisy, karena kau terlihat menyayangi nona Adaire," Liliana berkaca-kaca, dia tersenyum pada pelayan itu.
Daisy, hanya kau satu-satunya yang tersisa dalam hidupku. Kau adalah satu-satunya orang yang menyayangiku selama aku menjadi Adaire. Ketika semua orang mengkhianati ku, hanya kau yang setia.
"Seandainya saja saat itu saya pergi bersama nona Adaire, mungkin saja nona Adaire tidak akan jatuh ke laut dan menghilang, saya.. hiks..kenapa orang baik seperti nona Adaire harus mengalami nasib seperti ini?" Daisy menangis, menumpahkan semua kesedihan dan kerinduan nya pada sosok Adaire.
Kumohon Daisy, jangan menangis.
Adaire yang selalu tersenyum ceria, meski di ejek orang-orang dia tetap ceria dan tegar. Daisy sangat menyayangi Adaire, sejak ibu Adaire meninggal hanya Daisy lah yang menghiburnya. Terlintas kenangan tentang Adaire pada diri Daisy, sakit hatinya karena dia kehilangan nona yang sangat dia sayangi. Bahkan mayatnya belum ditemukan.
Liliana memeluk Daisy yang sudah seperti orang tuanya sendiri, dia menghibur Daisy. "Ini bukan kesalahan Daisy, ini sudah takdir Tuhan. Kalau Adaire melihat Daisy menangis seperti ini dia akan sangat sedih, jadi jangan menangis ya Daisy. Adaire akan selalu bersama Daisy,"
Daisy terperangah mendengar ucapan Liliana, dia merasa familiar dengan ucapan itu.
#Flashback
10 tahun yang lalu..
Adaire kecil sedang mengalami sakit cacar dan Daisy yang mengurusnya. Adaire terbaring lemah diatas tempat tidur dengan wajah pucat. Ketika semua pelayan mansion itu tidak mau mengurusnya karena takut tertular, hanya Daisy yang setia bersama Adaire.
"Daisy jangan menangis ya," Adaire kecil mencoba menghibur Daisy yang menangis.
"Nona, anda harus segera sehat nona..hiks," Daisy duduk di kursi yang ada di dekat sudut ranjang itu. Dia menangis, tak tega melihat keadaan Adaire.
"Adaire akan segera sembuh, jangan menangis ya Daisy. Adaire akan selalu bersama Daisy," ucap Adaire sambil mengusap air mata Daisy, dia tersenyum tegar.
Daisy memeluk nona kecilnya itu dengan penuh kasih sayang. Dia tidak takut tertular sama sekali.
#End flashback
Daisy berhenti menangis, dia memegang tangan Liliana. "Mungkin ada alasan kenapa Tuhan mengirimkan nona Liliana ke dalam kehidupan kami, supaya mansion Geraldine kembali hidup. Dan supaya saya tidak terlalu sedih, nona maafkan atas kekurangan ajaran saya!"
"Tidak apa-apa Daisy, aku mengerti," Liliana menyeka air mata Daisy dengan tatapan lembut. "Daisy jangan sedih ya,"
"Iya nona, saya akan melayani nona dengan baik!" Seru Daisy sepenuh hatinya.
Setelah sampai di pasar pusat kota, Daisy dan Liliana turun dari kereta dibantu oleh Nicholas. Pengawal Adara itu terus menatap tajam ke arah Liliana dan memperhatikannya. Liliana sengaja bersikap ramah pada Nicholas walau pria itu terlihat tidak sopan.
Saat Liliana turun dari kereta, semua orang memandangi dengan terpana. Terpesona dengan kecantikan nya, apalagi rambut merah nya yang langka dan mencolok membuatnya menjadi pusat perhatian semua orang. Padahal dulu saat dia menjadi Adaire, tidak ada yang meliriknya seperti itu, hanya tatapan membunuh, tajam, jijik. Kini mereka melihat Liliana dengan tatapan terpesona.
"Cantik sekali nona itu ya," ucap seorang pria terpana.
"Wah iya benar-benar cantik!"
"Apa dia peri?"
Beberapa orang disana membicarakan kecantikan nya. Liliana semakin percaya diri dengan tubuh barunya itu.
Ya aku memang cantik sekarang. Tatapan kalian dulu padaku tidak begini, dulu kalian menatapku dengan jijik seolah aku adalah monster menyeramkan. Sekarang kalian terpesona padaku, memang ya kalian manusia yang melihat orang dari luarnya, Adaire kau sangat malang. Liliana meratapi nasibnya dulu.
"Nona kita mau kemana dulu?" tanya Nicholas.
"Kenapa kau yang bertanya? Aku kan akan pergi dengan Daisy,"
"Maafkan saya nona, tapi saya ditugaskan oleh Duke untuk-"
Liliana memangkas ucapan Nicholas dengan cepat, "Permisi tuan Nicholas, aku ralat ucapan mu itu! Bukan tuan Duke yang memerintahkan mu untuk mengawal ku, tapi nona Adara!"
Nicholas terdiam, dia kehilangan kata-kata. "Itu benar nona,"
"Kau tunggu saja di kereta, karena aku akan pergi bersama Daisy saja!" Titah Liliana pada kstaria bertubuh kekar itu.
"Nona kemanapun anda pergi, saya harus-"
"Aku akan pergi ke tempat pakaian d*l*m, apa kau mau ikut juga ke dalam?" Liliana menoleh ke arah Nicholas dengan tajam, untuk kedua kalinya dia memotong ucapan Nicholas.
Pria itu terperangah dan malu mendengar penjelasan Liliana. Daisy menahan tawa melihat wajah serius Nicholas berubah menjadi merah. Belum pernah Daisy dan Liliana melihat wajah Nicholas seperti itu, karena biasanya dia selalu serius.
"Ah! Ma-maafkan saya nona, saya akan tunggu disini!" Seru Nicholas patuh dan berdiri tegap.
"Bagus, tunggulah disini karena aku akan baik-baik saja. Kau jangan lupa, aku ini sudah terbiasa hidup dengan rakyat biasa," jelas Liliana sambil tersenyum pada Nicholas.
Tanpa dia sadari Max dan Eugene memperhatikan nya dari jauh, "Bagaimana bisa dia sembarangan tersenyum pada pria lain seperti itu dan hanya cuek padaku?" gerutu Max tidak terima karena Liliana cuek padanya tapi tersenyum pada pria lain.
"Yang mulia, pekerjaan anda sudah menumpuk di istana! Apa anda hanya akan berada disini untuk mengawasinya?" Eugene protes karena Max terus bermain-main di luar setelah menyelesaikan misinya.
Max acuh dan tidak peduli dengan ucapan kstaria nya itu. Eugene hanya menggelengkan kepalanya.
...---***---...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 229 Episodes
Comments
Novi Yantisuherman
SABAR ya bg Eugene wkwkwk
2022-09-27
1
Arista Wijaya
cerita nya menarik kak👍👍👍👍👍
2022-04-08
1
Ramadhani Kania
lanjuut
2022-03-18
2