"Om, kita kan udah jadian nih, jadi saya boleh balik ke kosan kan? Masih ngantuk nih!" kata Wana.
"Ha?" dengus Artha.
Wana menyeringai polos.
"Memangnya kamu nggak ada perasaan apa pun?" tanya Artha.
"Perasaan apa?"
"Yah, seperti malu-malu atau senang, atau bagaimana?"
"Hm, tapi ini kan baru pacaran Om,"
"Jadi kamu mengira pacaran itu seperti apa?"
"Jalan bareng, makan bareng, ngobrol santai saling mengenal seperti teman akrab. Itu kan sama saja dengan yang selama ini kita lakukan," kata Wana.
Artha bengong. "Entahlah saya bisa anggap kamu polos atau bego,"
"Ih, kalau saya nggak tahu ya dikasih tahu dong. Judes banget deh... Makanya, saya segan kalau dekat-dekat Om," gerutu Wana sambil merengut.
"Apa saya lamar kamu aja? Kalau pacaran kan tujuannya menikah, hanya kita dalam tahap berkomitmen untuk saling mengenal dan memiliki,"
"Lamar Om?!"
"Iya,"
"Memang melamar semudah itu ya?"
Pertanyaan Artha dikembalikan, dan jawabannya malah lebih sulit. Pria itu menatap ke arah depan dari jendela mobil.
Karena, menjadikan Wana sebagai pacarnya saja sudah merupakan suatu kontroversi. Sekarang malah membicarakan melamar. Padahal mereka baru jadian belum 10 menit lalu.
"Tidak semudah itu," gumam Artha mengakui.
"Saya juga tidak mengerti konsep berpacaran. Diikat dengan komitmen tapi belum tentu menikah. Maksudnya apa dan bagaimana? Bukankah itu hanya membuang-buang waktu? Sama saja saya jadi Baby, dong?" tanya Wana.
Gadis ini, berpikir secara logis dan sebenarnya Wana tidak bodoh. Malah terasa sangat cerdas. Rasanya seperti Artha berbuat curang dengan hanya menjadikannya pacar.
Kenapa hanya pacar?
"Saya belum siap untuk ke jenjang pernikahan. Saya harap kamu bisa menunggu beberapa saat. Hubungan saya dengan mantan tidak terlalu baik," kata Artha.
Wana mendeteksi adanya suatu rasa traumatis tinggi dalam diri Artha. Ia pun segera teringat pada Nirmala, kakaknya. Mungkin saja mereka berdua, Artha dan Nirmala, senasib. Bedanya, Nirmala terlanjur jatuh cinta dan menikah dengan orang yang salah.
Namun bagaimana dengan perasaan Artha?
"Om, terus terang saja, saya sebenarnya bingung dengan perasaan saya terhadap Om. Saya belum pernah begitu jatuh cinta dengan laki-laki. Palingan cuma suka gitu-gitu aja. Seperti dengan Risman yang setiap diliatin bikin saya salting. Tapi untuk jadi pacarnya juga belum kepikiran sih Om,"
"Saya suka sama kamu, sesimple itu,"
"Apa hanya dengan modal suka saja, Om bisa menjadikan saya pacar Om? Jadi pacar Om selain saya, banyak dong?"
"Ya bukan begitu, perasaan saya terhadap kamu lebih special dibanding wanita lainnya,"
"Bagaimana kalau saya belum ada perasaan suka, Om?"
"Kenapa kamu mau jadi pacar saya? Tadi kamu mengIYA-kan,"
"Saya nyaman saja dengan Om, seperti sudah kenal lama. Walaupun sering dijudesin," gumam Wana.
"Hanya itu?"
Wana mengangkat bahunya, tak yakin juga.
"Bukan karena saya kaya?"tanya Artha lagi.
Wana meringis karena tersinggung, "Om kalau ngomong suka nyakitin ya, saya penasaran seperti apa wanita lain menanggapi Om,"
"Hem, mungkin karena itu saya masih sendiri,"
"Iya kayaknya lebih baik Om nggak usah buka mulut," Wana cemberut. "Buat apa kekayaan Om kalau ditimbun aja, jadi pacar juga saya nggak bakalan dimanja kok, malah diomeli terus," gerutu Wana.
Artha tersenyum geli.
Wana wanita pertama yang tidak kabur menghadapi mulut pedasnya.
Karena gara-gara itu juga ia dan ibunya Stela tidak menikah. Setiap hari hanya ada perdebatan dan ketegangan tarik urat.
Artha memang kurang bisa akur dengan manusia.
Wana adalah yang pertama.
“Saya nggak ada figur seorang ayah, kalau kamu mau tahu,” kata Artha.
“Saya nggak tahu bagaimana sosok seorang ayah, karena ayah yang saya kenal selalu pergi pagi pulang malam, dan akhirnya meninggal di tempat kerja karena kelelahan. Orang tua saya cuma Kak Mala,”
Artha mengangguk sambil menatap Wana dengan perhatian. Karena sebenarnya menurutnya, Wana masih lebih beruntung dibanding anaknya sendiri, Stela. Setidaknya Wana benar-benar memiliki seorang ayah yang bekerja keras untuk hidup anak-anaknya sampai meninggal kelelahan, dibandingkan Stela yang memiliki orang tua tapi seakan yatim piatu.
“Wana,” Artha akhirnya menghadap ke arah Wana dengan tatapan serius. “Tujuan saya menjadikan kamu pacar, adalah agar kamu menjadi milik saya. Tujuan saya memang akan ke jenjang pernikahan, tapi saya pun tidak yakin bisa menjadi suami yang baik. Karena saya masih ragu, sementara dilain pihak saya menyukai kamu, ingin selalu dekat dengan kamu, bahkan saya kehilangan kamu kalau seharian tidak bertemu, jadi saya terpaksa untuk berdamai dengan keadaan,”
Wana menatapnya setengah tegang.
“Om, tapi saya manja loh Om,”
“Nggak peduli,”
“Saya juga egois dan seenaknya,”
“Saya juga tahu itu. Kamu ceroboh, grasa-grusu, mood sering berubah, cengeng pula,”
“Dih,” gerutu Wana.
“Tapi kamu wanita yang tegar, cerdas, pantang menyerah, dan selalu bersikap baik ke orang lain,” Artha menambahkan sambil tersenyum lembut. Mata sendu pria itu membuat jantung Wana langsung deg-degan.
“Jadi ... Saya ingin membuat peraturan saat pacaran,” gumam Wana sambil berbinar.
“Halah,” gumam Artha, nggak jadi menatap penuh cinta. "Nggak harus ada peraturan, lah. Repot!"
"Aku mau ada peraturan Oooom! Harus adaaaaaaa aku udah rencanain ini sejak lama seandainya aku punya pacar!" Wana merajuk.
Andalannya. Rajukan maut. Bahkan kakaknya kalah telak dan memberinya 100juta.
"Peraturannya jangan terlalu mengekang," akhirnya Artha menyerah.
Simak peraturan pacaran ala Nirwana :
Gandengan tangan sesering mungkin
Peluk sesering mungkin
Malam minggu kencan di luar, di mana aja boleh, nggak harus mahal
Kencan pertama cium dahi
Kencan kedua baru boleh cium pipi
Cium bibir di masa pacaran 3 bulan
Jangan coba-coba nyentuh dadaku.
Nggak protes kalo diminta beliin es kopi
Jangan minta video call pas malam, ngantuk!
Jangan posesif
Jangan ngelarang ini-itu
Artha menatap daftar peraturan Wana sambil mencibir.
Aku beneran pacaran sama anak kecil. Pikir pria itu.
"Oke, nanti malam kita kencan saya booking tempat makan. Kamu ingin makan apa?"
"AYCE," jawab Wana.
"Serius? AYCE di kencan pertama?!"
"Lagi pingin makan daging sepuasnya,"
"Wow, kamu beneran cewek unik!" Gumam Artha.
FYI,
Tips 8 : Apabila ditelisik, biasanya seorang Sugar Daddy memiliki istri sah yang hubungannya sudah tidak akur lagi. Seorang Pria sangat menyukai wanita cerdas sebagai lawan bicaranya, naamun diluar itu yang paling penting sebenarnya adalah PERHATIAN.
Rasa perhatian dan pengertian bisa membuat pria merasa di sayang dan sebagai balasannya, apa pun akan mereka berikan.
Sayangnya, mereka sangat haus dan tidak pernah puas akan hal itu, Perhatian dan Pengertian. Jadi (tidak semua pria, sih) mereka akan mencari wanita yang memberi perhatian paling banyak untuk mereka.
Bagaimana pun, perselingkuhan dengan alasan mencari rasa perhatian, tetap adalah hal yang SALAH.
Trik :
Kebanyakan Sugar Daddy menyukai lolita, itu fetish mereka. Kelainan? Sudah pasti. Karena si Baby memiliki usia sepantar dengan anak perempuan mereka atau bahkan lebih muda lagi. Dengan alasan apa? Kepuasan di atas ranjang, tentunya. Di pikiran mereka, usia muda lebih rapat.
Menjijikkan? Begitulah, itu realita kehidupan nyata.
Padahal usia tidak menentukan rapat atau tidaknya. Yang penting adalah perawatannya.
Mereka mencari Baby yang penampilannya tidak terlalu dewasa tapi juga tidak terlalu muda. Jadi, usahakan kamu berpenampilan seperti anak kuliahan. Muda dan segar, padahal semuanya The Power Of Makeup.
Ada Daddy yang berperilaku ekstrim. Tentu, mereka mengeluarkan uang banyak untuk si Baby, bahkan mungkin lebih banyak dari istri Sah mereka. Karena itu mereka berharap perlakuan si Baby benar-benar sebanding dengan uang yang mereka keluarkan. Tak jarang ada Baby yang mereka kurung seharian di rumah mereka, atau menjalani pelecehan seksual yang mind blowing.
Jadi, saat mendapat perlakuan kekerasan, jangan ragu untuk membela diri dan segera lapor pihak berwajib.
Uang tidak akan pernah sebanding dengan nyawa kalian.
*
*
Kevin Cakra baru saja selesai mandi di hotel saat itu, setelah selesai melakukan pekerjaan haramnya.
Ia masih dongkol dengan apa yang terjadi pada 'pacar' nya. Terpaksa lah si CBR 250cc hitamnya dia tinggal di bengkel hari ini. Tampaknya besok ia harus mengunjungi kampus pilihannya dengan KRL untuk seminar awal.
Jakarta - Depok naik KRL. Duh males banget... Pikirnya kesal.
Ia mungkin tidak akan masuk ke kampus di Depok itu, tapi ia butuh sertifikatnya untuk melamar pekerjaan. Apalagi predikat Siswa Berprestasi memiliki nilai plus untuk Curriculum Vitaenya.
Saat ia memerika ponselnya, terdapat 2 miskol dari nomor tak dikenal.
Kevin mengernyit.
Sapa ya? Perasaan gue ga punya hutang. Pikirnya penasaran.
Telepon berdering lagi saat ia hampir saja meletakkan ponselnya kembali.
"Halo?"
"Kevin! Gue ganggu ya? Penting nih!!" Suara wanita yang tampaknya sedang panik.
"Ini siapa?"
"Wana,"
Kevin memiringkan kepalanya mencari data di otaknya.
"Tante Wana yang booking saya pas hari apa ya?" tanyanya.
"Woy! Gue disangka Tante Rangrang! Gue yang bikin jidat lo benjut!"
"Astaga, Nyai Dasima, toh! Nggak usah telepon, nanti gue sial lagi!" keluh Kevin.
"Serius gue dicap biang sial?! Bocah kampret..." Gerutu Wana. "Gue butuh bantuan lo!"
"Minta bantu yang lain aja, bay!"
"Jangan ditutup atau gue kutuk pake jelangkung," ancam Wana.
"Serius lo pikir gue takut sama begituan?!"
"Oh, nggak takut ya?!"
"Takut, sih..." gumam Kevin sambil mengacak-acak rambut ikalnya sambil melihat kanan-kiri-depan-belakang. Bulu kuduknya meremang.
"Dasar cewek gila," keluh Kevin lagi, "Mau apa kali ini?!"
"Kalo kencan pertama ngapain aja ya pantasnya? Terus gue harus pake baju apa? Dandan kayak gimana? Bawa duit berapa? Terus ngobrolin apa aja?!" Wana bertanya bertubi-tubi.
"Hm, jadi lo ditembak siapa?! Om elit yang kemarin?!" Bibir seksi Kevin menyunggingkan senyum puas.
"Yaaaah, gitu deh,"
"Jadi pancingan gue berhasil? Jiah! Gue emang fakboi,"
"Jangan minta upeti,"
"Weh, harus laaah!"
"Ntar gue bawain cinderamata,"
Kevin menoleh ke samping. Si Tante masih tidur. Lalu kembali fokus ke teleponnya.
"Kalau cowok tuh di kencan pertama berharap si cewek..."
-bersambung aja lah-
Salam Damai.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 113 Episodes
Comments
Renesme
hmmm banyak ilmu perbabyan disini 😃😃
2024-12-12
0
Reni Ajja Dech
gila bener nih gaes🤣🤣🤣🤣😂
2024-12-19
0
ℑ𝔟𝔲𝔫𝔶𝔞 𝔞𝔫𝔞𝔨-𝔞𝔫𝔞💞
Wah bener tuh, buang² waktu terus bisa mengakibatkan berbuat maksiat...
mending langsung d halalin ajah🤣🤣
2024-08-23
0