“Permisi Mbak, Boleh sharing sofa ya?” suara seorang pria menyapanya saat Wana sedang terlena menikmati sampanye yang rasanya endul-surendul mantul.
Wana menoleh dan melihat seorang pria setengah baya, tampangnya khas om-om komplek dengan kumis tebal, rambut rapi, tubuh tak terawat sedikit gemuk di bagian perut.
Tapi outfit necis tersetrika rapi dengan jam rolex warna emas.
Entahlah KW atau asli.
Dilihat dari cincin safirnya yang bertengger di jari tengah gemuknya sih, dia orang kaya.
"Silahkan Pak," desis Wana ramah sambil menggeser duduknya agak ke pinggir.
"Sendirian Mbak?" si Om mencoba basa-basi.
"Sama teman, tapi saya lagi mau pisah aja, menikmati lantai 3," kata Wana.
"Di bawah terlalu berisik ya," tanya si Om itu.
"Iya Pak, telinga saya sampai sakit,"
Target Wana, sepertinya.
Setelah satu jam mengobrol mengenai kehidupan sehari-hari, di dapat info bahwa si Om Kumis adalah duda, anak empat, istri ia ceraikan karena dia anggap tidak becus mengurusi anak. Usia sekitar awal 50an, kerja di pemerintahan, dan bernama Willy.
Om Willy berada di pesta karena diundang Bu Dewi. Ia pernah mengurusi mengenai suatu perijinan acara yang diadakan artis kondang itu. Dengan kata lain pernah disogok Bu Dewi.
Setelah satu jam mengobrol, tampaknya Om Willy sangat terpukau dengan Wana dan kecerdasannya.
Padahal untuk mengimbangi si Om, jemari Wana sigap mengetik kata-kata yang ia tak mengerti lewat Mbah Google di ponselnya dan mengintip cotekan. Untung saja sinyal wifi di club kecepatannya luar binasa.
Sekitar beberapa menit kemudian Om Willy mulai berani merapatkan duduknya sampai paha mereka bersentuhan.
"Kamu punya pacar Wana?" tanya si Om.
"Menurut Om kelihatannya gimana?" dari sebutan "Pak" kini menjadi "Om".
"Pasti banyak pacarnya. Cantik begini," kata Om Willy.
"Hehe, belum punya Om, belum ada yang pas di hati," jawab Wana. Memangnya baju, dipas-pasin.
"Waaah, memang kriteria pacar kamu seperti apa?" tanya Om Willy.
"Saya lebih suka pria mapan yang lebih tua," jawaban jebakan dari Wana.
Om Willy mengibaskan jas putihnya dengan rasa percaya diri. "Kenapa kamu cari pria lebih tua? Bukankah akan ada gap mengenai selera?"
"Karena pria lebih tua biasanya sabar menghadapi kemanjaan saya," lagi-lagi jawaban jebakan dari Wana.
"Kamu manja ya ternyata, padahal anggun begini," Om Willy mulai berani membelai lengan kurus putih Wana. Wana membiarkannya demi melihat isi rekening si Om.
Dan akhirnya setelah beberapa kali gurauan manja ala mahasiswi dari Wana, dengan mudahnya Om Willy memperlihatkan rekening e-bankingnya yang berisi milyaran. Herannya, jemarinya sengaja ditutupi di kolom nama.
Wana tidak terlalu peduli sih sebenarnya.
Lalu si Om memperlihatkan foto kendaraan kesayangannya. Harley Davidson Tipe Street 750cc dengan mesin Revolution X yang modelnya memang pas untuk orang Asia karena tidak terlalu tinggi.
"Kita ke ruang VIP saja yuk? Di sana bisa karaoke sekalian makan, di sini terlalu ramai jadi nggak fokus ngobrol," rayu si Om Willy Kumis.
"Oke Om," desis Wana. Gadis itu memastikan kalau semprotan mericanya masih ada di tas dan memeriksa GPSnya aktif menunjukan lokasi keberadaannya.
Om Willy menyodorkan kepitan lengannya untuk digandeng Wana.
"Wah, kita cocok nih, double W," sahut Om Willy. Jokes bapack-bapack garing tapi Wana memaksakan tertawanya.
Saat mereka menyusuri koridor untuk menuju ruang VIP yang telah dibooking Om Willy, sikut si Om mulai berani menyenggol-nyenggol dada Wana.
Wana melonggarkan gandengannya agar bisa memberi jarak untuk sikut si om yang gatel.
"Kamu suka lagu apa Wana?" tanya Om Willy lembut sambil berjalan santai menyusuri koridor.
"Yang slow aja Om, biar enak dinyanyiin,"
"Wah kita lagi-lagi klop! Saya penggemar Pance Pondaag!"
Siapa tuh?! Pikir Wana.
Tapi ia lagi-lagi memaksakan tawanya. Padahal maksud Wana lagu slow macam Shawn Mendez atau Pamungkas.
Koridor menuju ke arah ruangan VIP disetel dengan lampu LED sehingga sangat terang.
"Duh, Wana, kamu ternyata cantik sekali ya kalau lampunya terang begini. Di remang-remang saja sudah terlihat bersinar! Saya jadi silau, meeen!" Om Willy berlagak menutupi kedua matanya dengan gaya khas 90an.
Astaga, rasanya mual menanggapi jokes garing.
"Makasih Om," gumam Wana sambil tersenyum semanis mungkin.
Baru saja akan menggesek kartu ruangan VIP, dari sebelah pintu terbuka. Keluarlah seorang pemuda yang tampannya bagai malaikat turun dari surga dari ruangan sebelah.
Pemuda itu tersenyum begitu lembut ke arah seorang wanita paruh baya yang bajunya lumayan seksi. Tapi terlihat perbedaan usia mereka yang begitu kentara.
Mereka berdua berpegangan tangan begitu mesra.
Si cowok muda berpapasan pandang dengan Wana.
Lalu mereka saling menilai, dari atas kepala sampai kaki. Dan berikutnya sama-sama tersenyum sinis.
Sudah pasti berondong karamel sewaan, Pikir Wana sarkas sambil menatap si cowok.
Sudah pasti gula-gula kemanisan , Pikir cowok itu sambil memicingkan mata menatap Wana.
Lalu sedetik kemudian terdengar seruan dari si wanita di sebelah si cowok.
"Wardi?!" teriak si tante.
"Loh? Sulis?!" seru Om Willy.
"Hah? Bukannya nama tante, Sarah?" tanya si Pemuda.
"Bukannya nama Om, Willy?" tanya Wana.
"Kamu!" si tante menunjuk Wana dengan marah, "Kamu pelakor suami saya yah!!"
"Hah?!" seru Wana kaget.
"Berani-berani kamu ya! Lancang kamu gandeng suami saya!!" jerit Tante Sulis sambil menyerang Wana.
Wana langsung lari bersembunyi di belakang Om Wil... Eh ,kita sebut saja sekarang Om Wardi. Tambahin 3 huruf jadi merk sarung.
"Tunggu!" Om Wardi menghalangi Tante Sulis yang ingin mencakar Wana, "Kamu sendiri ngapain di sini sama tuh bocah?!" Om Wardi menunjuk si cowok yang kini terkesima melihat Tante Sulis histeris, kayaknya dia juga sebenarnya ingin ketawa.
"Apa sih?! Nggak ngapa-ngapain kita cuma karaokean!" seru Tante Sulis.
"Karaokean kok pegangan tangan!" tuduh Om Wardi.
"Kamu salah lihat kali! Tapi kamu jelas-jelas gandengan sama pelakor!!" Tante Sulis menggapai Wana dan berhasil mencengkeram lengan gadis itu. "Sudah kuduga kamu punya simpenan di belakangku Wardi!!"
"Ini juga baru kenalan!"
"Oh jadi udah ada niat selingkuh ya!!"
"Aow!!" seru Wana karena cengkeraman si tante begitu kencang.
"Awas ya kamu! Mati kamu!!" jerit Tante Sulis ke Wana.
Om Wardi berusaha melepaskan cengkeraman Tante Sulis, dan menahannya.
Wana menggunakan kesempatan itu untuk berlari ke arah... Si Cowok ganteng.
"Sini kamu pelakooorrr!!!" jerit Tante Sulis. Ia pun mengambil pot bunga dari foyer terdekat, lalu melemparnya ke arah Wana.
Si cowok reflek menghadang lemparan pot bunga untuk melindungi Wana di belakang punggungnya.
Jedugg!!
Kena telak ke pelipisnya.
Si cowok jatuh ke lantai sambil memegangi dahinya yang berdarah.
"Astaga!! Kamu nggak papa?!" seru Wana sambil memeriksa keadaan si cowok.
"Wana cepat lari, saya tahan si Sulis!" seru Om Wardi.
Wana langsung menarik cowok itu menuju ke arah lift. Kabur secepat kilat.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 113 Episodes
Comments
Anonymous
Hadeeh beda generasi 😜😜😜
2024-12-22
0
Cut SNY@"GranyCUT"
sarung kita.. 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
2024-09-13
0
Khomsa Veblita
wadimor bukan sih nama tu merk saroong...si othor enak aja nyelipin huruf r di tengah...
2024-08-28
0