"Ini kuitansinya ya Bu, Pak," desis petugas administrasi sambil menyerahkan rangkaian lembaran dari mesin printer.
Tak lupa si kasir melirik Kevin dengan pandangan menggoda.
Wana menerimanya sambil cemberut. Ih, dua juta kan harusnya bisa buat sewa dua kali set gaun, sepatu dan tas branded! Pikir Wana sebal.
Tapi kalau Kevin tidak menghalangi, sudah dipastikan dahi Wana yang akan terbelah. Vas yang dilempar Tante Sulis kelihatannya lumayan berat.
"Sudah loh, hutang gue lunas," gumam Wana.
"Hem," gumam Kevin sambil berjalan santai menyusuri koridor. Dahinya mulai berasa nyeri.
"Kevin," panggil Wana.
"Apa?"
"Lo operasi plastik nggak?"
"Keliatannya gimana?"
"Kayaknya asli, lo ada blasteran?"
"Setengah londo,"
"Panteeees,"
"Pantes apa? Pantes gue ganteng banget, gitu?" Kevin menyeringai.
Wana mencibir.
"Becanda, Non. Percaya deh, jadi orang ganteng itu nggak terlalu enak,"
"Tapi kan lo dapet priviledge, urusan pasti diduluin,"
"Siapa bilang?"
"Loh bener dong?"
"Yang ada gue dapet pelecehan dan ejekan melulu. Udah gitu karena tampang gue menarik perhatian, kalo ada apa-apa pasti gue yang ditanya duluan. Belum soal ghosting-menghosting, gue nggak bisa sembarangan bersikap baek ke cewek, bisa-bisa mereka baper terus jadi fanatik cuma gara-gara gue ambilin dompet jatoh, atau ngasih jalan buat nyebrang,"
"Hooo... ." Wana mengangguk. "Gue pikir-pikir lagi sekarang, lo tanpa hidung mancung juga masih tetep ganteng sih,"
Kevin tertawa sinis.
"Dari tahun ke tahun, keluarga gue yang tampangnya kayak artis, punya kisah kelam kalau soal cinta. Jadi mendingan gue main-main aja, nggak usah cinta-cintaan,"
"Kenapa nggak jadi artis aja kalo gitu?"
"Persaingan ketat, dan kontroversi untuk pansosnya beneran bikin sakit hati. Beberapa sodara gue bunuh diri karena depresi, sisanya dibunuh karena persaingan kerja. Semua hanya karena kami cepat sekali melejit ke atas karena wajah kami. Semua iri, tapi dampaknya nggak bagus,"
"Gile, kenapa jadi suram begini?!"
"Sekarang tinggal gue dan nyokap gue, keluarga sudah habis. Jadi kita berupaya hidup low profile," Kevin menyeringai, namun binar matanya penuh kesedihan.
Wana tertegun.
Dalam hatinya ia berpikir, ternyata hidupnya lebih mudah dari orang lain. Saat ayahnya meninggal dan mereka sebatang kara, Wana pikir hidup mereka sudah yang paling sulit.
Beruntung Nirmala memiliki pendidikan yang baik, dia tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk kerja sambil kuliah saat Bapak masih sehat. Itu pun masih sempat memberikan Wana kehangatan seorang ibu.
Wana belajar menjadi seorang wanita dari kakaknya.
Lalu dalam hati, Wana menyesal. Kenapa ia berfoya-foya selama ini? Bisa jadi Nirmala memberikan uang 'kecantikan' untuk Wana dari hasil jerih payah yang sudah dilaluinya selama ini. Apalagi Nirmala juga harus membiayai hidup keluarganya.
Astaga! Ngapain sih aku selama ini? Seenaknya saja meminta jumlah sebesar itu dari kakak! Sudah begitu, untuk kegiatan unfaedah pula!
Dan aku memintanya sambil merengek! Hanya gara-gara mau pamer ke Stela!!
Batin Wana merinding.
"Kenapa lu jadi bengong?" tanya Kevin sambil menghentikan langkahnya dan menatapnya dengaan pandangan menyelidik.
"Hem... Rasanya semua berjalan nggak lancar buat gue," Gumam Wana.
Kevin tersenyum sinis, "Itu berarti rejeki lo bukan di bidang ini. Sana jadi mahasiswa biasa aja," kata cowok itu.
Wana merengut, "Kev?"
"Apa?"
"Menurut lo gue cantik nggak?"
"Ah! Pertanyaan menjebak,"
"Ini serius loh, gue jadi nggak percaya diri,"
"Hm, lo mau jawaban sejujurnya?"
"Iya,"
"Tapi jangan dendam ke gue,"
Wana semakin terpuruk. Kata-kata Kevin barusan sudah menyiratkan kalau ada yang tidak sesuai harapan Wana.
"Iya," gumam Wana lemas.
"Lo cantik," kata Kevin. "Tapi nggak menarik,"
"Hah?!" Mata Wana membulat. "Gimana? Gimana?" gadis itu bingung.
"Bisnis gula-gula macam ini, dibutuhkan seseorang yang tidak hanya cantik dan terawat, tapi juga memiliki s-e-x appeal. Lo nggak punya feromon penarik lebah. Terlalu... Hm, apa ya namanya. Terlalu kalem dan ada pagar kuat semacam harga diri tinggi di sekeliling lo," kata Kevin.
"Lah? Terus gimana?"
"Kurang seksi, lebih tepatnya. Banyak sugar baby yang tampangnya pas-pasan, tapi pas senyum dan menatap saja, kami kaum lelaki fantasinya langsung liar kemana-mana. Nah, itu yang lo nggak punya,"
"Gimana caranya biar punya?"
"Yaaa, lo harus ngerasain adegan anu dulu. Setelah kecanduan, keseksian itu akan muncul dengan sendirinya," Kevin menyeringai sambil melanjutkan langkahnya.
"Gue bukan jenis yang begitu,"
"Kalau begitu, lo nyerah aja. Setahu gue, nggak ada tuh Daddy yang rela cuma ngobrol dan ngasih miliaran buat jajan lo. Lebih baik mereka curhat sama psikiater, lebih murah. Kecuali lo jual keperawanan lo ke situs Cinderella,"
Wana pun menghela napas. Kevin benar dan apa adanya. Bisnis ini lumayan keras, dengan resiko yang tinggi. Modalnya pun besar.
Wana pun dengan langkah lesu mengikuti Kevin menuju ke pintu keluar.
Dan saat sampai di area IGD yang tadi, mereka menghentikan langkah.
Mengejutkan!
Setelah Wana menyelesaikan pembayaran, bahkan Om Silver masih di sana, di ruang tunggu yang tadi, duduk sambil menyilangkan kedua lengannya dan menatap Wana dengan sinis.
"Loh? Om nggak pulang?" tanya Wana sambil menghampiri Artha.
Artha tidak menjawab dan malah menatap Kevin yang berjalan di belakang Wana.
Kevin juga kebetulan sedang memperhatikannya. Tanpa senyum karena memang dahinya mulai clekit-clekit.
Apalagi barusan Wana bertanya yang aneh-aneh. Kepalanya malah jadi semakin pusing.
"Tiba-tiba ada urusan di sini," gumam Artha dengan masih menatap Kevin. "Kamu mau pulang bareng saya?"
Kevin terkekeh mendengarnya. Sebenarnya bukan bermaksud mengejek, tapi dia langsung tahu sebagai sesama laki-laki, bahwa Artha memiliki perasaan khusus pada Wana, namun sepertinya masih terkendala masalah percaya diri.
Kisah cinta beda usia, menarik. Batin Kevin.
Tapi Artha menangkap kekehan Kevin dengan cara berbeda. Ia menyangka Kevin sedang menghinanya secara sinis.
"Atau kamu mau pulang sama pacar kamu?" tanyanya ke Wana.
Wana mengangkat alisnya. Kevin melirik Wana.
Lalu tersenyum licik.
"Iya lah, Wana pulang sama saya. Semoga lain kali lebih beruntung, Om!"
"Hah?!" Seru Wana kaget. "Apa sih kunyuk!" Gumamnya protes saat Kevin menarik lengan Wana ke arah pintu keluar RS.
"Gue mau bikin daddy lo cemburu," bisik Kevin sambil memeluk bahu Wana.
"Siapa yang daddy gue, sih?!" keluh Wana sambil mencubit punggung tangan Kevin dan menepis pelukan cowok itu.
"Itu, yang nungguin lo di belakang, hehe," bisik Kevin sambil memeluk pinggang Wana.
"Aduh tangan lo nakal! Lepasin ih!" Protes Wana lagi.
"Udah nurut ajaaa, suatu saat lo bakalan terima kasih ke gue, heheheh," Kevin terkekeh penuh kelicikan.
"Maksud lo?!"
"Naik sini, pake helmnya!" Desis Kevin sambil duduk di atas CBR 250cc hitamnya.
"Dih, lo berhutang penjelasan ke gue!"
"Oh, lebih pilih pulang naik Lambo? Ya sana ngibrit,"
"Hem... Naik motor aja deh," Karena Wana merasa tampang Artha beneran angker sampai dia pun nggak berani mendekat.
Dan Wana pun naik ke bangku penumpang sambil memakai helmnya.
Kepergian mereka diiringi tatapan Artha yang penuh dendam.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 113 Episodes
Comments
ℑ𝔟𝔲𝔫𝔶𝔞 𝔞𝔫𝔞𝔨-𝔞𝔫𝔞💞
Lo berdua cari penyakit ...😔
2024-08-23
0
Emi Wash
om silver dah main hati nich...
2022-09-01
1
Emi Wash
nah kan jd salah paham
2022-09-01
0