"Eh, Kak Mala masih di sini?" Wana mengangkat alisnya mendapati Nirmala masih berada di dalam kamar kosannya.
Wanita itu kini duduk di meja belajar Wana sambil mengenakan kacamata dan sedang mengetik di Laptopnya.
Nirmala hanya tersenyum masam. "Iya Dek, kakak numpang beberapa hari ya?"
"Aku sih malah seneng ada temannya. Masih nggak dibukain pintu sama Mas Jaka? Kalau yang begituan, aku dengar istri Sah bisa menuntut lewat meja hijau loh kak,"
Nirmala mengernyit dan menghentikan ketikannya. Lalu menatap Adiknya.
"Istri Sah? Maksud kamu?"
Wana seketika menyadari kalau ia salah ucap. "Eh, hehe, lupakan saja kak, aku cuma salah ucap,"
Gadis itu bergegas ke arah kamar mandi.
"Tunggu," Nirmala menghentikan langkah Wana dengan menyambar pergelangan tangannya.
Duh! Me and My big Mouth, keluh Wana dalam hatinya.
"Wana, kamu sudah tahu sejauh apa dan dari mana?"
Dan Wana pun menghela napas panjang.
*
*
Pagi ini cerah, tapi rasanya Wana merasa sangat capek. Sepertinya ia mau bolos kuliah saja.
Kakaknya sudah berangkat kerja.
Semalaman Nirmala menangis setelah melihat foto-foto yang ada di ponsel Wana.
Tapi Wana tak berani mengganggu, jadi Wana diam saja. Setelah selesai pun Nirmala tidak mengucapkan sepatah kata pun, hanya meringkuk di balik selimut sambil sesekali isakannya terdengar.
Wana sangat sedih kakaknya harus melalui kejadian ini. Namun ia sudah memprediksinya saat ia memergoki kakak iparnya dengan wanita lain. Ia juga tahu perangai Nirmala yang tegar dan sabar. Jadi Nirmala pasti bisa melalui hal ini.
Mungkin, Wana akan mengembalikan uang Nirmala saja. Ia merasa sudah cukup bermain-main.
Sudah tak ada keinginan lagi untuk memiliki si Birkin. Kakaknya lebih butuh uang daripada dirinya.
Masa bodo dengan Stela, ia juga tak peduli dengan para daddy.
Sampai...
Ponselnya berdering. Nama 'Om Judes' tertera di layar ponselnya. Wana mengernyit.
Untuk apa Om Artha menelponku di pagi-pagi begini?! Apa ada urusan mendesak?
"Ya Om?" Wana mengangkatnya.
"Saya di depan kosan kamu," sebuah suara tegas dan dalam dari seberang telepon.
"Sebentar Om, saya keluar," sahut Wana.
Gadis itu menutup sambungan teleponnya dan menatap dirinya di cermin.
Ia sedang menimbang beberapa hal. Apakah harus mandi dulu? Cuci muka gosok gigi dulu?
Dandan dulu? Ganti baju dulu? Dia masih memakai kaos gombrong dan hotpants tidurnya.
"Gosok gigi aja lah," gumam Wana malas.
*
*
"Ya Om?" tanya Wana saat masuk ke dalam mobil Artha. Saat itu Artha memakai mobil perusahaan, jeep mewah namun tidak terlalu mencolok. Jadi Wana kalem saja masuk ke dalam mobil yang terparkir.
Artha tampak tertegun menatap Wana. Ia melihat Wana dari atas kepala, turun lagi sampai mata kaki, naik lagi ke kepala, begitu terus selama beberapa detik.
"Om?" tanya Wana menyadarkan Artha.
Artha tampak terhenyak sedikit lalu menarik napas panjang.
"Kamu nggak kuliah?"
"Lagi malas Om, rasanya capek,"
"Sudah sarapan?"
"Belum,"
"Mau makan apa?"
"Hm? Apa ya? Bubur aja kali ya?"
"Kita ke Pasar Baru aja ya, ada bubur enak disana,"
"Buat apa jauh-jauh ke Pasar Baru? Itu jarak 5 meter ada bubur abang-abang. Enak juga kok Om, Saya beliin dulu ya," Wana akan beranjak keluar mobil untuk membeli bubur, tapi Artha mencegahnya.
"Tunggu," tegas Artha, "Kamu mau beli bubur pakai baju seperti itu?!"
"Apa yang salah dengan baju ini?"
"Celana kamu terlalu pendek,"
Wana menatap antrian bubur di depan mereka, "Banyak kok mbak-mbak yang bajunya kayak saya,"
"Saya nggak peduli yang lain, kamu tunggu di dalam," desis Artha sambil beranjak keluar mobil dan menghampiri tukang bubur, disertai dengan tatapan bengong Wana.
Antriannya lumayan panjang, karena masih pagi dan di area ini memang banyak tempat kos mahasiswa.
Banyak orang menatap Artha yang mulai berdiri di antrian paling belakang. Beberapa cewek mencuri-curi pandang dan tersenyum menggoda.
Mungkin memang wajahnya yang bersahaja, atau outfitnya yang mahal tidak cocok mengantri bubur pinggir jalan. Apalagi banyak mahasiswi yang memang berprofesi sebagai 'Itu' jadi sosok Artha mudah jadi incaran.
Dan Artha pun risih.
Jadi pria itu pun berteriak ke tukang bubur, "Hoy Bang! Saya hargai satu mangkok seratus ribu, tapi saya diduluin," seru Artha.
Si abang tukang bubur langsung menoleh dengan pandangan mata berbinar. "Kasih jalan buat bapaknya! Kasih jalan!" Seru si tukang bubur kesenengan.
Buburnya semangkuk normalnya hanya 12ribu...
*
*
"Kok cepat, Om?!" Seru Wana takjud saat Artha menenteng dua mangkok bubur ke dalam mobil. "... dan tanpa sterofoam?" Sambung Wana.
Karena tukang bubur yang itu beneran femes di komplek ini, telat dikit udah bakal kehabisan. Tapi Artha bisa mendapatkannya dalam waktu lima menit saja.
"Katanya mangkoknya nggak usah dikembaliin," desis Artha.
"Buat saya aja kalo gitu, lumayan nambah gerabah dapur," desis Wana sambil mulai mengaduk buburnya.
Dan selanjutnya mereka hanya berdiam diri di dalam mobil sambil menikmati semangkuk bubur hangat khas komplek kosan.
Sebenarnya kalau dinilai bahannya satu persatu, rasanya ngga akan seenak buatan chef. Tapi kenapa terasa menenangkan begini ya?
Apa karena makannya bareng si bawel ini? Pikir Artha heran.
Ia melirik Wana yang sedang bersemangat makan sambil mengamati suasana sekitar mereka.
Dia begitu senang makan buburnya, apa kuberikan saja modal kerja untuk si tukang bubur biar bisa buka toko bubur di dekat sini dan memiliki karyawan?! Pikir Artha lagi.
"Ohiya, Om nggak kerja? Kok pagi-pagi ke sini? Nggak mungkin cuma mau ajak saya sarapan kan?" tanya Wana.
Artha menyerahkan botol air mineral yang masih tersegel ke Wana, gadis itu menerimanya sambil mencibir.
Ceile, air putih aja merknya Fiji? Apa kabar gue yang isi ulang galonan?! Pikir Wana.
Beneran botolnya harus gue simpen buat pamer hedon. Batinnya lagi.
"Pacar kamu nggak anterin ke kampus?" tanya Artha.
Wana mengangkat alisnya, "Pacar?"
"Itu yang semalem,"
"Kevin?"
Artha diam saja.
"Om kira dia pacar saya?"
"Jadi?"
"Yaaah, terserah Om saja kalau begitu," desis Wana sambil menaikkan bahunya. Lagi pula, Wana sedang berpikir walaupun Kevin pacarnya pun, hal itu tidak ada hubungannya dengan Artha. Keduanya bukan siapa-siapanya.
"Saya sudah selidiki, dia salah satu gig-olo milik Bu Dewi," kata Artha.
"Iya saya tahu profesinya. Tapi Bu Dewi? Dia bilang malah nggak kenal Bu Dewi loh Om, dia cuma bilang kesana karena disuruh Maminya,"
"Jadi kamu sudah tahu profesinya?!"
"Yaaa, tahu lah,"
"Dan kamu masih mendekatinya?!"
"Apa salahnya? Saya juga lagi cari Daddy,"
"Kamu suka sama dia?"
"Eh? Ya suka," desis Wana sambil mengernyit merasa aneh. Dia suka karena tidak benci.
"Walaupun dia berondong?"
"Dia baik sama saya, nolongin saya, kenapa saya harus benci?"
Artha menghela napas berat.
"Apa sih yang kamu cari dari dia, udah bocah, menang ganteng doang," gumam Artha.
"Om nggak boleh menghinanya, sok paling suci deh,"
"Kenapa kamu nggak cari pacar yang lain aja sih?"
"Lah, gimana mau cari pacar lain, orang saya aja belum punya pacar," gumam Wana.
Artha pun menoleh dengan cepat.
"Kamu bilang Kevin pacar kamu,"
"Nggak ada yang ngomong begitu," desis Wana. "Om yang ambil kesimpulan sendiri. Lagipula siapa pun pacar saya memang itu urusan Om?"
"Karena kemarin kamu lebih pilih diantar pulang dia dari pada saya,"
"Ya tampang Om serem begitu mana berani saya deket-deket?! Kevin itu nolongin saya dari amukan tante-tante nggak jelas yang cemburu gara-gara suaminya adalah target daddy saya! Makanya kita ke RS karena jidatnya luka dilempar Vas. Kalo ngga ada dia, yang bakalan robek malah jidat saya, kali!"
Artha pun tertegun, berusaha mencerna semuanya dan menghubungkan benang merah yang tadinya kusut.
"Terus kenapa kemarin Om masih di sana? Kan saya minta Om pulang saja," Omel Wana.
"Kamu mau jadi pacar saya?"
"Eh?"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 113 Episodes
Comments
Anonymous
Tah kitu om.. duit receh doang segitu mah😜
2024-12-22
0
another Aquarian
cieeeeee
2025-03-28
0
dah dah dah
udah gk perduli sama usia,
yg penting plisss, jaga saya selayaknya saya satu satunya di hidup kamu🤧, cintai aku ,sayangi aku
ngetreat aku gampang kok,
ku gk gampang nuntut
gk butuh skincare mahal cz aku cukup PD sama wajah dan fisik ku... yg penting kamu suka , toh apa yg ku butuhkan
2024-07-15
0