"Becanda ya Om? Pagi-pagi udah mabok aja, sikat gigi kumur-kumur pake tuak yak?" desis Wana dengan wajah tanpa ekspresi.
"Ngapain juga saya pagi-pagi kesini cuma buat bercanda? Kurang kerjaan banget,"
"Coba ngomong lagi Om?"
"Mau jadi pacar saya?"
"Astaga! Bokapnya Stela nembak gue! Heboh dunia perBaby-an!!" jerit Wana panik.
"Jawab aja kenapa sih?" gerutu Artha jengkel. Masalahnya dia sampai nembak dua kali, satu kali aja sudah menjatuhkan harga dirinya, ini sampai dua kali.
"Tahu nggak sih Om alasan kenapa saya nggak minta Om jadi Daddy saya?!"
"Apa?"
"Karena pertama, Om itu judes tingkat tinggi! Kebayang nggak sih saya beli barang branded diomelin?! Kedua, Om bapaknya Stela! Bisa-bisa saya disantet sama Stela!"
"Jadi, mau apa enggak?!"
"MAU sih Om,"
"Ck, susah banget sih ngomong gitu doang!"
Wana memalingkan wajahnya dan menegak minumnya, "Kan saya kaget, Om," gumam Wana pelan.
"Sempet-sempatnya ngejelekin saya segala," gerutu Artha
"Eit! Pacar nggak boleh judes!"
"Ck,"
Begitulah pembaca, proses instant Wana resmi menjadi pacar Om Silver. Bukan Baby lagi, statusnya sudah PACAR. Jadi ya beberapa tingkat lebih bonafit lah.
Dengan demikian, maka novel ini,
TAMAT.
*
*
(Gimana jokes eike? Garing nggak?)
Lanjut, pemirsa.
"Jadi, hem... Om? Kira-kira status kita kan pacaran nih ya Om? Saya boleh dong minta ..."
"Nggak," jawab Artha cepat. Dia sudah tahu apa yang akan Wana minta.
“Beuh! Kenapa jadi lebih galak pas udah status pacaran,” gerutu Wana.
“Kamu boleh minta sesuatu yang sifatnya investasi. Tapi kalau untuk dihambur-hamburkan bergaya hedonisme, saya tidak akan kasih,”
“Ya Ampun, pacar pertama gue kenapa pelit banget begini?!” gumam Wana sambil memalingkan wajahnya.
Perkataan Wana membuat pria itu reflek menoleh ke samping.
“Pacar pertama?”
“Hem,” gumam Wana nggak jelas. Sepertinya gadis itu maish melanjutkan omelannya.
“Saya pacar pertama kamu?”
“Gitu, deh. Saya bahkan nggak tahu kalo pacaran harus ngapain aja,”
“Cewek seperti kamu baru kali ini pacaran?”
“Cewek seperti saya itu maksudnya apa?”
Cewek secantik dan semanis kamu, lanjut Artha dalam hati. Tapi dia malas memberitahukan secara gamblang ke Wana karena gadis itu gampang ke-GR-an.
“Astaga, selama ini kamu kemana aja?”
“Semedi di kubangan manajemen keuangan, alias kuliah dan melakukan hal-hal heboh,”
“Ya pantas kamu nggak dapat-dapat Daddy, kamunya aja nggak ada pengalaman pacaran,”
“Memang buat dapat Daddy harus pacaran dulu?”
“Ya setidaknya kamu ada pengalaman flirting atau memikat,”
“Saya takut pacaran Om, terus terang aja. Laki-laki tuh kalau ngeliatin saya pasti yang mereka sasar dada saya dulu, terus senyuman mereka langsung mesum!”
Pandangan Artha otomatis ke dada Wana, lalu terkekeh pelan.
Wana menunjuk wajah Artha, “Nah gitu pandangannya kayak Om Artha sekarang! Padahal saya pake kaos kedodoran,”
“Warnanya kaosnya putih, bra kamu yang pink polkadot aja kelihatan dari luar, kok,”
Wana ternganga, lalu menatap ke bawah. “Masa sih Om?!”
“Darimana saya tahu kamu pake bra polkadot?”
“Ya ampun!” gumam Wana langsung menutupi dadanya dengan kedua tangannya. “Tau gitu saya pake berenda, keliatan banget anak-anaknya,”
“Hey...” gumam Artha.
“Bercanda Om,”
“Nggak lucu, ngundang iya,”
“Ish... Masih pagi udah kemana-mana aja pikirannya,” Wana menubit lengan Artha. “Jadi, kalo pacaran tuh ngapain aja Om? Tujuannya apa ya?”
Artha menghela napas panjang.
*
*
Kevin Cakra, si tokoh pemeran pembantu kita di novel ini, namun disinyalir akan lebih mencolok daripada pemeran utama, dengan langkah ringan menuju tunggangan gagahnya, motor sport CBR 250cc, untuk pulang sekolah menuju rumah. Mulutnya komat-kamit menyanyikan lagu-lagu hits ala tik tok yang terdengar dari earphone di telinganya, tak lupa beberapa goyangan manuver yaitu berputar sok-sok’an keren (ya dia memang keren sih, sebenarnya. Mau gaya kayang pun sepertinya tetap saja memikat) ia praktekan di tengah parkiran motor.
Hari ini adalah hari terakhirnya bersekolah.
Usai sudah pendidikan wajibnya, kini tinggal memikirkan mau dibawa kemana hubungan kita? Maksudnya hubungannya dengan masa depan dalam rangka membahagiakan ibunya. Ia lolos SMBPTN, itu berarti dia dapat akses khusus ke Universitas Indonesia dan ITB sekaligus. Namun kedua-duanya berlokasi jauh dari rumah, sedangkan ia tak tega membiarkan ibunya tinggal sendirian.
Ditambah ia juga mendapatkan beasiswa dari beberapa perguruan tinggi swasta berbasis teknologi. Namun yang sedang ia incar adalah Universitas Bonafit baru bernama Amethys Tech University.
Masalahnya sulit mendapatkan program beasiswa dari sana, padahal keuangan keluarganya pas-pasan yang hanya dirancang untuk kebutuhan sehari-hari.
Itu nanti saja dipikirkan.
Kini, ada masalah selain dahinya yang masih diperban.
Dari kejauhan dia melihat ada seseorang selain tukang parkir yang sedang menunduk di samping motornya.
Kevin mengernyit.
Ia hapal sekali dengan postur tubuh tukang parkir sekolah karena si Cecep sering minta duit rokok padanya. Yang namanya jengkel pasti akan sering dia ingat.
Tapi orang di depannya ini terasa asing.
Dan apa yang orang itu bawa?
Kevin pun memiringkan kepalanya. Berusaha melihat lebih jelas.
“Eh, buset!” gumamnya kaget saat menyadari sesuatu. Obeng... Ia yakin sekali orang itu bawa obeng. Dan menurutnya, orang asing membawa benda itu dan berada di sekitar motornya adalah sesuatu yang menuju ke arah pengrusakan.
Jadi Kevin pun reflek berteriak : “Woy Kampret!! Siape lo!!” serunya sambil mengacungkan helmnya.
Orang asing di sebelah motornya kaget dan menoleh ke arah Kevin. Lalu lari.
“Njir...” gumam Kevin hanya bisa ternganga melihat si pelaku lari, karena memang larinya cepat dan Kevin berada sekitar 5 meter darinya. Sudah tidak keburu dikejar.
“Kenapa Bang?” si Cecep tukang parkir datang tergogpoh-gopoh.
“Itu ada orang lagi ngerjain pacar gue! Lo kemana sih?!”
“Gue kencing di pagar sana barusan,”
“Elah Cep! Lo bisa kencing di pager, seharusnya lo bisa kencing di pos jaga juga dong! Ngapain cari tempat jauh-jauh yang dipipisin malah pager-pager juga!” Omel Kevin sambil menghampiri CBRnya dengan panik.
Kabel Diodanya diputus...
“Astaganagabonarbawagolok...” keluh Kevin meratapi nasib. (Ini umpatan siapa yah? Ada di novel Author yang mana yah? Lupa!Hehe) “Mana bisa jalan motor gue kalo begini?! Mana banyak mekanik yang belum ngerti penanganan dioda pula! Gue harus ke bengkel resmi! Mahal gilak!” Omel Kevin.
“Bang Ke cari musuh sama siapa lagi sih, perasaan tiap hari hidup lo heboh melulu Bang,”
“Bisa nggak sih sebut nama gue yang lengkap gitu? Nggak usah setengah-setengah,”
“Kan cocok bang sama kelakuan lo, Bang Ke,”
“Gue minta tanggung jawab ke elo gimana? Lo kan harusnya ngejagain,”
“Ya kan motornya masih ada, nggak ilang. Duit parkir kan buat biar nggak ilang. Kalo rusak ya bayar asuransi lagi,” Cecep menyeringai.
“Untung gue dah lulus, besok nggak ketemu lo lagi,” Kevin mengernyit kesal.
“Selamat mendorong motor ya Baaaaaang!” seri Cecep sambil berlalu karena mengejar tukang somay.
Kevin pun berdiri berkacak pinggang sambil memandang ‘pacarnya’dengan sedih.
Siapa sih yang barusan menjahilinya? Mengesalkan sekali.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 113 Episodes
Comments
another Aquarian
sabar.. sabaaaarrrrrrr.... 😂😂😂😂
2025-03-28
0
another Aquarian
tapi bo'ong 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
2025-03-28
0
another Aquarian
🤣🤣😂😂🤣🤣🤣
2025-03-28
0