Astaga
Acaranya super duper membosankan. Untung saja tak ada yang mengenalnya, ia bisa menikmati minuman manis dengan alkohol di pojokan ruangan dekat sound sistem.
Diadakan di ballroom, dengan lampu gemerlap dan pidato dari para pemegang saham yang durasinya panjang, serasa mau meninggoi.
Eh, jangan sampai meninggal juga sih.
Beberapa orang tersenyum padanya, karena terpikat kecantikannya, terutama belahan dadanya yang menantang.
Wana mengenalkan dirinya sebagai anak dari investor sesuai undangan karena orangtuanya tidak bisa hadir.
Setelah itu ia pamit dan kabur ke pojokan yang lain keburu ditanya hal aneh.
Apalagi waktu pidato, ia berkali-kali menahan kuap karena tidak mengerti sama sekali.
Mereka menyebutkan bahasa-bahasa trading yang bagaikan bahasa negara lain.
Apa itu IPO? Auto Reject Atas? Fluktuatif?
"Bagger? Pembawa Tas?!" tak sadar Wana bergumam sendiri.
"Bagger artinya keuntungan ratusan persen,"
Sebuah suara dalam dan rendah mengagetkan Wana.
Spontan Wana menoleh ke arah suara, ke samping belakangnya.
Sosok itu menggunakan jas hitam dan tinggi. Hana sampai mendongak untuk melihat wajahnya.
Janggut panjang putih dan rambut keperakan disisir rapi kebelakang.
Wajahnya memandang sendu ke arah Wana, namun terlihat dia meremehkan sekaligus penasaran dengan Wana.
Siapa? Wana membatin sambil mengernyit.
Gila, auranya kenapa berubah mencekam begini?! Pikir Wana kemudian.
"Kamu bukan investor," begitu tembak pria itu.
Yah, sudah pasti bukan.
"Saya mewakili orang tua saya menghadiri acara ini," sahut Wana sambil tetap tersenyum.
"Dengan pengetahuan secetek itu, apa bisa kamu melaporkan kembali isi acara ke orang tua kamu?"
"Sekarang kan ada teknologi video, Om,"
"Coba lihat rekamannya?"
Wana mencibir.
Ia tidak merekam apa pun karena sibuk bergerilya mencari Sugar Daddy.
"Apa tujuan kamu ke sini?" Pria itu menyelidik.
"Perlukah saya diusir keluar? Saya memegang undangan yang bisa dikonfirmasi ke pemiliknya," tantang Hana.
Pria itu memiringkan kepalanya sambil tersenyum licik.
Ia mengamati penampilan Wana.
Cantik,
Berlian di kegelapan,
Lekuk tubuh menggoda dan tampilan eksklusif.
"Kamu lebih cocok menjadi escort dibanding tamu undangan," sahut Pria itu.
Wana diam.
Escort itu apa?
Itu maksudnya pujian atau hinaan?
Duh, bahasanya tingkat tinggi!
Wana tampak berpikir.
"Pendamping kamu siapa?" tanya pria itu.
"Saya sendiri ke sini,"
"Tanpa pengetahuan apa pun?"
"Saya sedang belajar, juga sebagai motivasi diri," Wana mengangkat bahunya.
Pede saja,
Toh, mereka tidak saling kenal.
Batin Wana.
Tapi pandangan pria itu, menusuk. Wana sampai mengelus kedua lengannya karena merinding.
Tiba saatnya host memanggil suatu nama dan pria itu berjalan dengan percaya diri menuju ke podium.
Wana ternganga.
Ia baru saja berbicara dengan pemilik perusahaan besar.
Tapi kenapa nada suaranya terkesan menghina Wana ya, nyelekit dan membuat gadis itu kesal. Seharusnya pria itu tidak boleh bersikap seperti itu. Semua tamu yang datang ke acara ini adalah prospek bagi kelangsungan usahanya.
Dengan menghela napas kesal, Wana pun mundur untuk berjalan menuju kamar mandi.
*
*
Poles lipstik sekali, periksa bulu mata, periksa eyeliner.
Lalu penampilannya.
Belum terlalu sempurna, ia harus lebih berlekuk lagi, lebih kurus beberapa kilo lagi, agar dadanya terlihat membumbung.
Sepertinya harus perawatan rambut juga agar lebih lembut dan bersinar.
Tepat saat menaikkan posisi branya agar belahan dadanya bisa lebih menantang, seorang gadis masuk ke toilet sambil menelpon.
"Iya, dia siapa? Kelihatannya kaya, tapi gue nggak tau dia udah punya istri ato belom. Dia bilang kerja di Amethys, Direktur IT katanya. Namanya Frans, coba lo cari info," gumam gadis itu sambil menelpon.
Wana meliriknya, penasaran.
Lalu gadis di depannya itu mengibaskan rambutnya. Wangi semerbak parfum mahal langsung menggelitik hidung Wana. Dilihat dari penampilannya, tampaknya lebih muda dari Wana. Posturnya tidak terlalu tinggi, dan dadanya tidak besar. Tapi bagian bokongnya lumayan menonjol dan wajahnya khas penggoda. Tatapan mata sayunya yang tajam dan berkilat jelas menggambarkan kalau gadis di depan Wana adalah seorang profesional.
"Oh, dia baru bercerai? Sip! Tengkyu infonya," dan gadis itu menutup teleponnya dengan mata berbinar. Senyum riang tersungging di wajahnya.
Tapi senyumnya langsung menghilang saat melihat Wana sedang mengamatinya.
"Apa, Mbak? Ada yang salah?" tanyanya ke Wana dengan sedikit sewot.
"Eh?" Wana salah tingkah karena kepergok, "Ng-Nggak, nggak papa, cuma penasaran sama wangi parfum kamu,"
Gadis itu menatap Wana dari atas ke bawah, 2 kali.
"Oh, pemula ya," nada suaranya terkesan meremehkan Wana.
Wana mencibir. Segitunya terlihat kalau dia memang baru saja menjajaki 'perburuan' ini ya?!
"Kalau dengan penampilan begini, terlalu kaku, Nggak bakalan dapet apa-apa di sini, Mbak, malah dikiranya waitress," gadis itu langsung menembak Wana tepat di jantung.
"Eh? Benarkah?" Wana reflek menatap penampilannya dari atas ke bawah. Padahal ini gaun terseksi yang ia punya.
"Karena aku udah dapat target, jadi aku lagi senang. Nih aku kasih tau,"
Tips 2 :
Berpenampilan yang pantas, tapi jelas-jelas memberikan kode kalau sedang mencari pendamping kayaraya.
Trik :
Parfum Thierry Mugler yang botolnya bintang. Jangan cari yang KW, cari yang asli karena wanginya bisa sampai ke depan lobi.
Jangan pakai gaun berlengan.
Pakai highheels warna mencolok. Warna pastel hanya untuk wanita yang bersuami.
Rambut harus (wajib) panjang melebihi dada.
Pakai korset agar bagian bokong lebih bervolume. Kalau urusan dada, optional. Lebih flat lebih baik karena dikira masih daun muda.
Wana bengong mendengar penjelasan gadis di depannya ini. Extension rambut pun segera ia tambahkan ke daftar belanjanya.
"Makasih banyak, suhuuu," desis Wana menyerah kalah.
Gadis itu menyeringai senang, "Oh iya, namaku Marisa,"
"Aku Nirwana, panggil saja Wana. Kita bisa tetap keep in touch,"
"Oke, berapa nomor kamu?"
Ternyata jalan menuju ke arah kekayaan masih panjang.
*
*
Kembali ke acara, Wana mengamati Marisa yang dengan luwes menghampiri seorang pria yang tampaknya sudah berusia lanjut. Gaya Marisa tidak manja, tidak juga sok rame, tapi ramah dan fun.
Tidak heran walaupun Marisa tidak terlalu cantik, langsung jadi pusat perhatian. Caranya menatap juga langsung ke arah target. Fokus dan memikat.
Astaga, ilmu gue masih cetek! Umpat Wana. Tapi ia merasa bersemangat untuk memperbaiki yang belum sesuai.
Lalu ia duduk di salah satu kursi di bagian belakang sambil ngemil kue coklat dan menatap kosong ke ballroom yang sedang menampilkan live performance dari artis dalam negeri.
Bagaimana aku bisa menjadi Sugar Baby tanpa ada adegan seksual? Hanya jadi teman bicara, pendamping, teman hangout. Berarti harus bisa berpandangan luas dan bisa diajak berdiskusi, apapun topiknya. Nggak cuma modal cantik.
Kalau jenis Marisa mungkin sudah full paket.
Wana tidak ingin yang seperti itu. Ia harus lebih berkualitas, dan tidak menjual prostitusi.
"Gimana? Sudah menyerap ilmu sampai dimana? Mumet nggak?" pertanyaan bertubi-tubi datang dari arah sampingnya.
Pria silver itu lagi! Ish! Batin Wana merasa kesal. Ia tidak suka direndahkan seperti nada suara pria itu.
"Lumayan," desis Wana jutek. Ia sedang down, ia tidak ingin berbicara dengan siapa pun.
"Oh, ini sih sudah error," kekeh pria itu.
"Terserahlah," Wana beranjak, berencana mau pulang saja. "Yang jelas yang namanya saham itu tergantung ekonomi negara, jadi harus punya uang banyak. Kalau ekonomi pas-pasan seperti saya lebih baik investasi emas, lebih aman,"
Wana berjalan melewati pria itu.
Tapi langkahnya terhenti karena pria itu menahan lengannya.
Wana mengernyit.
"Jangan sentuh," Wana menarik lengannya.
"Sori," gumam pria itu. "Tadinya saya pikir kamu sugar baby yang berkeliaran mencari mangsa, seperti..." pandangan pria itu ke arah Marisa.
Ya memang iya, sih. Bedanya, Wana baru belajar.
"Saya pulang dulu, terlalu banyak informasi masuk otak saya, pusing," gumam Wana.
"Kamu bawa kendaraan?"
"Naik taksi online,"
"Saya antar saja bagaimana? Untuk permohonan maaf,"
Wana mengernyit curiga. "Saya tidak suka semobil dengan orang asing," Dan berjalan berlalu ke arah lobi.
Sambil menatap sosok Wana yang keluar melenggang, pria itu bergumam,
"Taksi online kan juga orang asing, gimana sih?!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 113 Episodes
Comments
Ei_AldeguerGhazali
Wana lagi down grgr insecure om 🤣
2025-02-27
0
Cut SNY@"GranyCUT"
investasi emas mah modelan investasinya emak2 dapat nyisipin gaji suami🤭
2024-09-13
0
ℑ𝔟𝔲𝔫𝔶𝔞 𝔞𝔫𝔞𝔨-𝔞𝔫𝔞💞
Bener juga ya,..
Tpi kamu bukan kang ojol kan yah😁😁😁
2024-08-22
0