"Mau warna apa Kak?" tanya Hairstylist saat Wana ke salon pagi itu.
Gadis itu mengernyit sambil menatap wajahnya di kaca. Kulitnya belum terlalu putih, jadi agar terlihat lebih terang, sebaiknya warna yang tidak terlalu mencolok.
"Dark brown," sahut Wana yakin.
"Nggak Honey aja Kak? Biar kekinian," tawar Hairstylist sambil memperlihatkan kotak pewarna rambut dengan merk yang tidak dikenal Wana. Sebuah cat rambut berwarna terang hampir pirang.
Lalu Wana melirik ke arah hairstylistnya.
Kulit sawo matang, kurus kering, bibir hitam, rambut diwarnai gradasi abu dan ungu. Bukannya menawan jadi terlihat kayak cabe-cabean. Hairstylist apa bukan sih kok gayanya kampungan?!
Apa Wana salah masuk salon?
Ini kan salon Hairstylist terkenal se-Indonesia loh, pegawainya seharusnya ditraining dulu.
"Dark brown," ulang Wana tegas. "Dan jangan merk abal-abal. Pake yang paling bagus aja," desis Wana berusaha memimpin 'permainan'.
"Kakak rambutnya panjang, bisa habis 3 botol loh kak," desis Hairstylist. Sempat terlihat lirikan si hairstylist yang sinis melihat penampilan Wana yang biasa saja.
"Mau pake 4 juga nggak masalah," gumam Wana. Mungkin dikiranya Wana tak akan bisa membayar. Dan mungkin juga penanganan Wana saat ini diberikan ke anak training karena terlihat Wana tidak akan memberikan tips besar.
Sekitar satu jam kemudian, sudah ada banyak aluminium pembungkus rambut di kepalanya, ditambah manicure dan pedicure dengan cat kuku warna kalem.
Setelah ini, Wana akan ke klinik untuk suntik putih.
Rasanya semua rencana hari itu sempurna.
Sampai akhirnya, Wana pun kelaparan dan memutuskan untuk makan yang agak mewah. Restoran Chinesse food di dalam mall yang terkenal eksklusif.
Sendirian, tentunya.
Miris.
Padahal suasananya cucok meong buat pacaran atau melamar dengan cincin berlian tersembunyi di fortune cookie.
Beginilah jomblo kebanyakan jadwal belajar, untuk mengejar program beasiswa.
Mereka, Wana dan Nirmala, sudah yatim piatu dan Nirmala yang membiayai kuliah Wana, jadi gadis itu harus memanfaatkan waktu seefisien mungkin agar tidak membebani kakaknya. Untung saja Nirmala baru dipromosikan menjadi Kepala Bagian di kantor. Walaupun begitu, kakaknya itu juga memiliki keluarga sendiri, rasanya tidak pantas kalau Wana tetap meminta.
Saat suapan pertama, dari kejauhan, sudut mata Wana menangkap seseorang memasuki restoran.
Orang yang rasanya ia kenal.
Gadis itu memicingkan mata.
Sepertinya, tampang pria yang baru masuk ke dalam restoran di depannya itu terasa familiar, sosoknya tinggi besar khas pria-pria langganan gym.
Dan gayanya petantang-petenteng sangat Wana hapal.
Ya Ampun, itu kakak iparnya!
Dan... bersama seorang wanita yang tidak Wana kenal.
Seketika Wana menahan napasnya dan reflek duduk bergeser agak ke pinggir. Entah bagaimana tubuhnya merespon berbeda. Mungkin insting bahayanya langsung On.
Karena kalau dalam kondisi normal, Wana harusnya melambaikan tangan mengajak bergabung. Ini malah dia berusaha bersembunyi. Respon tubuhnya aneh!
Kan mungkin saja wanita yang bersama Jaka itu adalah kolega atau teman.
Mas Jaka tidak melihatku kan?
Sepertinya sih tidak.
Kenapa gerak gerik mereka tak wajar?
Bukan, itu bukan gelagat bersama teman, sentuhannya terasa mesra.
Siapa tu cewek?! Kenapa perutnya membesar?!
Dengan mengintip-ngintip, Wana mengamati kakak iparnya. Berharap Nirmala datang dan bergabung bersama dua sejoli di depannya, maka hal itu akan membuat firasat buruk Wana hilang.
Jadi Wana pun mengirimkan pesan singkat ke Nirmala.
Kakak dimana?
Pesan dari Nirmala tiba beberapa detik setelahnya.
Di kantor, masih meeting. Kenapa Na?
"Haisshh!!" Desis Wana semakin kuatir.
Dan gadis itu pun memicingkan mata untuk mempertajam penglihatannya ke arah kakak iparnya.
Berikut adalah gelagat tak wajar yang dimaksud Wana,
Sentuhan tangan Jaka di area bokong wanita itu.
Berpegangan tangan selama menunggu makanan datang.
Jaka mencium pipi si wanita.
Wanita itu menyuapi Jaka, juga disertai ekstra adegan saling bersandar di bahu sambil menatap penuh cinta. Bagaikan pengantin baru!
Dan akhirnya selesai makan mereka berciuman.
Perut Wana rasanya seperti diaduk!
Astaga... Ini perselingkuhan! Rumah tangga orang! Dan keluarga kakaknya sendiri pula!
Wana menyesali kenapa harus melihat semua dengan mata kepalanya sendiri.
Adegan per adegan Wana abadikan di ponselnya, namun ia butuh pertimbangan untuk mengirimkannya ke Nirmala.
Sampai akhirnya Jaka mencium perut besar si wanita. Sudah pasti wanita itu sedang mengandung anak kakak iparnya itu!
Sedangkan setahu Wana, Nirmala sampai saat ini belum memberikan keturunan untuk Jaka.
"Aduh, kakaaaaak!" gumam Wana sedih sambil menggenggam erat ponselnya.
Beberapa saat kemudian, pasangan itu pun beranjak. Wana bertekad untuk mengikutinya.
Namun, saat mengendap-endap melewati kasir, sekuriti menahan gerakannya.
"Ibu, silahkan melakukan pembayaran di kasir," sahut sekuriti tegas.
"Haduh! Buru-buru ini! Nih kartu kredit saya, gesek dah, nanti saya ambil lagi kesini," desis Wana sambil merogoh dompetnya dan meninggalkan kartu itu di atas konter.
"Tidak bisa ibu, mohon ke kasir. sebelum kami melanjutkan ke penindakan tegas,"
Sementara Jaka dan pelakornya sudah agak jauh di depan.
"Hih! Rese banget sih!" keluh Wana.
"Kamu bukannya yang kemarin ya?" suara tak asing terdengar di telinga Wana. Yang nada suaranya terkesan meremehkan dan penuh selidik.
Ya Ampun, Om-om silver tadi malam! Dan rambutnya ternyata gondrong. Macam orang Indian bawa panah aja! Nyentrik!
"Om!" seru Wana sambil mencengkeram lengan si Om, "Tolong bayarin dulu! Saya makannya nggak banyak kok! Besok saya ke kantor Om buat ganti duitnya, oke?! Tengkyu Om!" seru Wana sambil mengambil kembali kartu kreditnya, lalu terburu-buru berlari mengikuti Jaka yang mulai menghilang di kejauhan.
*
*
Akhirnya, jejak Jaka pun lenyap.
Wana duduk di pinggir air mancur di dalam mall dengan peluh membasahi dahinya. Bajunya juga basah oleh keringat.
AC mall yang dingin malah membuatnya masuk angin.
Wana terengah-engah kecapekan sambil terisak. Ia tidak tega ke Nirmala.
Perlukah ia memberitahukan semua ke kakaknya?
Wana membungkukkan tubuhnya dan menahan sikutnya ke paha, memijat kepalanya yang langsung pusing. Rasanya ingin dia memuntahkan semua isi perutnya, tapi mubazir soalnya Chinesse food yang tadi mahal.
"Hoi, rampok," gumam suara yang entah dari mana, tapi gadis itu merasa asal suaranya dari dekatnya.
"Hah?!" Wana mengangkat wajahnya.
Si Om-Om silver sudah ada di depannya. Melipat tangan di depan dadanya dan menatapnya sinis.
"Ergh! Lupa!" gumam Wana frustasi. "Om berapa nomer rekeningnya? Biar saya e-bankingin aja," gumam Wana sambil merogoh tasnya untuk mencari ponselnya. "Orang kaya perhitungan," omel gadis itu.
"Kurang ajar kamu, udah saya bantuin. Masih untung saya nggak biarin sekuriti nangkep kamu,"
"Ya udah ah! Saya lagi pusing Om! Pengintaian gatot, duh kenapa harus gue yang liat siiiih," dan Wana kembali menelungkupkan kepalanya di atas pahanya.
"Pengintaian?" tanya si Om Silver sambil mengernyit bingung.
Dan Wana pun mulai terisak.
Lalu isakannya semakin kencang, berubah jadi rintihan
Lalu dalam hitungan detik, dari rintihan berubah jadi raungan.
"Hey, malu-maluin nangis di sini! Nanti dikira saya penyebabnya!"
"Uuuuhhhh! Uhuk! Kasihan Kak Malaaaaaa huhuuuu," raung Wana frustasi.
"Tahan dulu tangis kamu, dasar cengeng! Ke mobil dulu biar nggak jadi tontonan!" si Om-om menarik lengan Wana dan menggiring Wana pergi dari sana.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 113 Episodes
Comments
another Aquarian
mokondo abis
2025-03-28
0
rindu wulandari
sambil nunggu Rascal, baca ini lagi ahh.... tp jeng sept, jawab Jujur yak... ganteng mana Oom Artha sama Mas Yan??? wkwkwkwk
2023-08-01
1
liari sandi
kasian nirmala
2023-04-02
0