"Om," desis Wana sambil melirik bergantian antara kalung dan Artha, wajahnya tampak segan. "Ini aku dilamar ceritanya?"
Artha menaikkan alisnya.
"Lazimnya melamar itu pakai cincin, sih," kata pria itu.
Wana langsung menghela napas lega.
"Untunglah Om, aku belum siap jadi istri seseorang! Hahahaha!" Wana tertawa sebagai pelampiasan kegugupannya.
"Aku juga belum siap memperistri seseorang," kata Artha sambil mengambil kalung itu dari kotaknya.
Pria itu berdiri, lalu berjalan ke belakang Wana. Dengan lembut menyibakkan rambut kecoklatan gadis itu ke depan, dan mengaitkan kalung itu di leher Wana.
Wana menunduk untuk melihat kilauan mata kalungnya.
Berlebihan tidak ya? Aku yang biasanya polos tanpa perhiasan, sekarang mengenakan kalung berlian. Batin Wana.
"Jadi," kedua tangan besar Artha berada di lengan Wana. "Kamu sudah resmi jadi pacarku sekarang. Aku akan bersedia panggil kamu sayang, kalau kamu..."
Artha mendekatkan bibirnya ke dekat telinga Wana. "...kalau kamu cium pipiku sekarang," bisiknya. Senyuman licik menghiasi bibir Artha.
Pria itu sedang bertaruh, apakah Wana memiliki keberanian untuk melanggar aturan berkencannya sendiri.
Menurutnya sih, tidak. Terus terang saja, Artha malas menggunakan panggilan sayang. Memangnya dia abege.
Tapi kalau pun Wana berani mencium pipinya, ia memiliki kejutan lain yang akan membuat gadis itu bertekuk lutut terhadapnya.
Sesuai dugaannya, Wana menarik napas gugup.
"Heeeem, aku kayaknya belum siap," gumam Wana tegang.
"Ya sudah, terima nasib saja," kata Artha sambil terkekeh.
"Tapi aku kan pingin dipanggil sayang, seperti pasangan lain. Seumur hidup belum pernah ada yang manggil aku sayang kecuali Kak Mala," Wana cemberut karena kesal.
"Pilihan di tangan kamu," seringai Artha timbul. Rasanya senang juga menjahili pacar mudanya ini. Apalagi melihat bibir Wana yang merengut begitu.
"Bagaimana kalau cium pipinya saat kita menikah saja?" Tawar Wana.
"Kalau menikah ya cium bibir lah," kata Artha sambil beranjak menjauh.
"Bentar! Bentar! Aku berubah pikiran," desis Wana cepat sambil meraih tangan Artha, mencegah pria itu kembali ke tempatnya. Wana tampak menarik napas panjang, lalu menghembuskannya seperti atlet angkat beban mau memulai aksi.
Artha menatapnya sambil menahan tawanya, setengah geli melihat kegigihan Wana gara-gara ingin panggilan mesra.
"Sini deketin pipinya," sahut Wana.
"Serius?"
"Iya,"
"Kata kamu kencan pertama cium dahi dulu loh,"
"Demi panggilan 'sayang',"
"Apa sih untungnya?"
"Aku ingin merasakan hati yang berbunga-bunga seperti orang lain yang berpacaran. Pakai sebutan beb, ayang, cinta, ayah bunda, mami papi, honey,"
"Pas udah nikah paling dipanggilnya Mak'e atau si mbok, paling keren malah Bue, " sambung Artha sambil menyeringai. (Rider yang merasa punya nama ini, melapor ke Author. Hahaha)
"Dih, gitu," Wana cemberut lagi, "Katanya jatuh cinta, kerjanya sinis melulu,"
"Iya, iya, dasar bocah. Nih pipiku," Artha mendekatkan pipi berjambang panjangnya yang terpotong rapi ke dekat bibir Wana, menantangnya.
Dan,
Cup!
Wana mencium pipinya sekilas, itu pun pakai memejamkan mata. Ciuman ringan seperti yang sering ia hadiahkan untuk kakak kesayangannya.
Namun yang berbeda, bibirnya mendarat di jalinan rambut tebal berwarna putih.
Selanjutnya wajah gadis itu semerah lobster rebus. Dia tampak malu dan menutupi wajahnya, saat menyadari kalau ia telah mencium seorang pria dewasa.
Sementara Artha mencibir. Karena tidak menyangka kalau prediksinya melenceng. Wana memberanikan diri menciumnya. Memangnya sepenting itu ya panggilan mesra?! Apa sih gunanya?
Dan yang lebih penting, seorang Arthasewu Connor yang prediksinya tak pernah salah saat menghitung resiko saham di pasar bursa, dan kalkulasinya mengenai pergerakan ekonomi, dipatahkan oleh wanita muda!
Berkali-kali pula.
Wana lebih tak terduga dibandingkan inflasi.
Sial! Ni cewek harus dihukum! Pikir Artha jengkel.
"Apa itu barusan? Nggak terasa!" Protes Artha, dia lakukan untuk membuat Wana malu.
"Janggut kamu ketebelan, ya nggak terasa! Sepanjang itu bisa dijalin jadi masker!" sahut Wana sambil menutupi wajahnya. "Pokoknya sekarang panggil aku Sayang!"
"Hm... Bentar," gumam Artha.
"Apalagi?!"
"Buka dulu mukanya dong, aku mau ngomong," Artha menggenggam kedua pergelangan tangan Wana, dan membukanya perlahan.
Wajah Wana hampir membuatnya terbahak karena benar-benar merah.
Ternyata masih ada wanita yang malu-malu hanya karena ciuman di pipi. Yang model begini nekat mau jadi Sugar Baby?! Tak bisa dipercaya!
Kini wajah mereka hanya berjarak sejengkal, Artha rela berlutut di lantai untuk melihat wajah merona Wana lebih jelas. Mereka saling bertatapan.
"Kenapa?" Wana merengut dengan wajah masih kemerahan.
Duh! Cantiknya kamu, pikir Artha kemudian.
Aku bertemu dengan banyak tipe wanita dengan kecantikan unik yang memikat, tapi baru kali ini melihat kecantikan yang justru terpancar kuat dari dalam.
Wana saat dilihat dari luar, sekilas, kelebihannya hanya berkulit putih, dan dada yang besar.
Yah, penampilan begitu saja sudah mencolok sebenarnya, membuat para pria melirik dua-tiga kali. Namun sampai di situ saja, karena dinodai dengan tingkah Wana yang sering absurd.
Tapi setelah mengenal beberapa saat, mengobrol lebih jauh, dan berinteraksi secara intens, Wana ternyata sangat menarik!
Banyak hal lain yang tidak terpikirkan orang lain dan dia bergerak secara spontan.
Mata Artha bergerak menelusuri hidung Wana, lalu turun ke bibir. Merekah dengan lipgloss berwana lembut yang rasanya tampak lezat untuk dicicipi.
Dan saat itu, secara reflek, bibir Artha meraih bibir Wana.
Wana tidak sempat menghindar. Artha pun tidak sempat menahan diri.
Pria itu menyesap bibir Wana dengan erat, sedikit menghisapnya untuk menikmati lebih dalam. Sisa manis jus rasa mangga menghiasi sudut bibir wanita itu.
Dan saat melepaskan renggutannya, Artha menatap Wana dalam-dalam.
Wanita itu tampak kaget dan tertegun. Terpaku disana menatap Artha.
"Itu baru namanya ciuman, gimana rasanya?" ujar Artha.
Selanjutnya, yang Wana ingat hanya kegelapan.
"HUAHAHAHAHAHAH!!!" Kevin terbahak sejadi-jadinya saat ia menjenguk Wana di rumah sakit. "Cupuuuuuu!! Di cium bibir malah pingsan! Malu gue bisa kenal sama lo!"
"Diem lo kampret! Ngapain sih lo kesini kalo kerjaan lo cuma buat ngecengin gue?!" Seru Wana sambil melempar bantal ke muka Kevin. "Gue hubungin lo kan cuma minta digojekin bobba karena gopay gue habis! Lo nggak perlu sampe dateng!"
"Seru cuy! Lo itu makhluk langka, harus dilestarikan,"
"Mana bobba gue, dasar lebay! Gue kan cuma kaget! Itu ciuman pertama gue! Mana dia nggak nemenin gue di sini, malah pergi meeting!" Omel Wana.
"Diagnosa lo di sini apa'an?"
"Anemia,"
"Kebanyakan pemutih lo! Keracunan paling bener sih harusnya!"
"Emang lo dokter?! Anemia ya anemia,"
"Tapi nggak diinfus, beneran lo ternyata kena serangan shock ini sih," Kevin menyeruput bobbanya.
"Itu bobba gue, malah lo yang minum!" Wana merebut bobba di tangan Kevin. "Lo nggak sekolah?!"
"Baru pulang dari seminar di UI nih, tapi entahlah gue ambil program beasiswa apa enggak. Tergantung nyokap gue aja,"
"Kenapa sih fakboi kayak lo otaknya malah encer... Dunia ini kadang nggak adil!" gerutu Wana.
"Itu namanya takdir," Kevin berbaring di sebelah Wana. "Capek gue naik KRL, dipepet kanan kiri, pegel-pegel nih," desis Kevin.
"Lu nggak naik motor?"
"Ohiya," Kevin bangkit dan menghadap Wana dengan antusias, "Masa ada ngejahilin motor gue! Dia utak-utik terus kabelnya dia potong! Kayanya ada yang dendam sama gue!"
"Nggak heran, lu kan semprul orangnya. Dah gitu songong pula! Wajar kalo banyak musuh,"
"Siapa ya? Kalo kepergok beneran gue gebukin!" Kevin melipat kedua tangannya di dada sambil mengerutkan alisnya.
Lalu ponsel cowok itu berdering.
"Yah, gue harus kerja nih," gumam Kevin sambil memeriksa isi pesan di dalam ponselnya.
"Hiii!" Wana begidik mendengarnya.
"Nggak usah sok polos," ejek Kevin
"Habis itu periksa lab siapa tahu ada penyakit aneh!”
“Itu enaknya kalau ikut Mami, pengeluaran medical checkup dia yang bayar,” kata Kevin sambil menyeringai.
Wana menatap Kevin dengan serius, sungguh miris! Pikir gadis itu.
Mungkin memang Kevin dan dirinya hanya orang lain. Setiap insan memiliki permasalahan hidup yang berbeda-beda.
Mengenai Kevin ini, hubungan mereka cukup unik. Mereka bisa langsung akrab tanpa ada yang ditutup-tutupi. Mungkin berbeda kalau Wana mengenal Kevin dalam situasi yang berbeda. Mungkin juga di kehidupan sebenarnya, Kevin tidak seterbuka ini dengan orang lain. Mereka jadi akrab karena saling mengetahui Kartu As masing-masing.
Wana bagaikan memiliki adik laki-laki!
“Kevin, sini,” Wana melambaikan tangan ke arah cowok itu, “Sini deket sama mbakyu-mu ini,”
“Hah? Mbak Yu? Gue serasa tinggal di keraton...” Kevin cengangas-cengenges sambil mendekati Wana dan duduk di tepi ranjang. “Sejak kapan mengklaim diri lo jadi kakak?”
“Sejak detik ini,” Wana mencubit pipi Kevin.
“Mentang-mentang gue masih pake putih abu-abu bukan berarti gue otomatis lebih muda dari lo. Masalah usia memang gue kalah, tapi kalo ditanya pengalaman gue lebih banyak. Yang jelas gue nggak pingsan kalo dicium,”
“Nggak usah bahas itu, Kampret,” gumam Wana mencoba bersabar. “Gini loh, dek Kevin,”
Kevin mencibir mendengarnya.
Wana meneruskan akting kakak-kakak’annya, “Kamu itu masa depannya masih panjang, masih banyak jalan menuju Mall Kelapa Gading. Bisa lewat Sunter, bisa lewat Cempaka Putih, banyak Kev. Banyak pekerjaan yang lebih berfaedah, kurang-kurangilah kegiatan mesum daripada lo nyesel, daripada keburu nyokap lo tahu kalo udah ngegedein fakboi,”
“Ya lu enak udah dapet Daddy. Gue berhenti kalo Daddy lo kasih gue duit buat kuliah. Hehe,”
“Beuh! Nyindiiiiirrrr,”
“Lagian, gue nggak merasa terbebani sih dengan pekerjaan ini, kayak cewek-cewek yang terpaksa jadi Baby,”
“Ya iya lah, lo ganteng, gampang dapet tante-tante kaya, dibayar pula! Impian setiap cowok! Tapi ya tetep aja salah,”
“Iya gue tahu,”
“Tahu apa?”
“Tahu kalo gue ganteng,” Kevin menjulurkan lidahnya dan beranjak dengan cepat menyambar, lalu kabur dari kamar Wana.
“Sialan, dibilangin yang baek-baek malah ngibrit!” gerutu Wana sambil menyeruput bobbanya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 113 Episodes
Comments
Ei_AldeguerGhazali
Baru tahap awal dah pingsan kyk gitu wan gimana mau jd pro sugar baby🤣
2025-02-27
0
another Aquarian
cieee yang udah bestian...
2025-03-29
0
Naftali Hanania
wahahahahhaaa...bener kata si om artha ..model begitu mau jd baby...bener2 unik wana.....🤣🤣🤣✌️❤️❤️
2024-06-14
0