Astaga, capek banget! Pikir Wana sambil membanting tubuhnya ke ranjang. Ia sudah selesai mandi dan mengenakan oversized hoodienya.
Saat ini rencananya wana ingin menghabiskan waktu dengan nonton film seri di chanel berbayar favorit sampai ketiduran.
Sebenarnya ia ingin menghabiskkan waktu di kamar hotel mewah yang tadi, tapi ia ingat kalau tidak bawa baju ganti. Daripada besok terburu-buru ke kampus lebih baik pulang saja walaupun harus merepotkan Artha.
Si Om Silver juga harus balik lagi ke acara karena ia dibutuhkan untuk konferensi pers lanjutan. Belum acara puncak yang akan diadakan tengah malam. Tapi masih sempat-sempatnya mengurusi Wana.
Sudahlah, untuk selanjutnya Wana akan berhati-hati.
Baru saja memilih film apa yang akan ia tonton, sebuah pesan singkat masuk ke ponselnya.
"Wana, kakak boleh menginap di kosan kamu?"
Pesan dari Nirmala, kakaknya.
Wana langsung tegang. Untuk apa kakak menginap di kosan aku? Jangan-jangan masalah Mas Jaka?
Ah jangan sudzon dulu! Jawab saja pesan singkatnya.
"Boleh kak," ketik Wana.
"Kakak sudah hampir sampai gerbang kosan kamu nih," jawaban muncul beberapa detik kemudian.
Wana pun mengangkat alisnya. Cepat sekali datangnya!
Jadi sebenarnya dari tadi Nirmala sudah di jalan. Bagaimana kalau Wana memutuskan menginap di Hotel Opal, coba?! Untung saja ia segera pulang!
*
*
"Kak?" tanya Wana sambil membuka pintu kamarnya.
Nirmala tersenyum, namun wajahnya sembab.
"Kok kakak malam-malam kesini? Mau nginap segala, kenapa kak?"
"Hm, tidak ada yang membukakan pintu rumah," jawab Nirmala.
"Ha? Maksudnya kak?!"
"Kakak keasikan kerja sampai lembur, setelah sampai rumah, diketok-ketok, di bel-bel, di telepon-telepon, tidak ada respon. Kakak masukkan kunci pintu eh, ternyata pintunya di slot. Mungkin kakak terlalu malam pulangnya," sahut Nirmala sambil masuk ke dalam.
Wanita itu masih memakai setelan kerjanya.
"Kakak numpang mandi dan pinjam baju ya?" tanya Nirmala.
Masih dengan wajah shock, Wana mengangguk cepat.
Apa-apa'an sih Mas Jaka?! Pikir Wana marah.
Dipikirnya itu rumahnya sendiri, apa?! Bukankah selama ini Kak Mala yang mencicil angsuran rumah itu?! Lalu bukankah kedua mertua Kak Mala juga tinggal di sana? Masa dari sekian banyak orang tak ada yang membukakan pintu?! Lagipula Kak Mala kan kerja untuk membantu biaya rumah tangga!!
Tapi, perlukah Wana menyampaikan uneg-unegnya ke Nirmala? Dari wajahnya tampak Nirmala berusaha menutupi yang sebenarnya terjadi.
Apalagi, ini rumah tangga orang lain. Walaupun peran Wana sebagai adik kandung, tapi tetap saja itu privasi Nirmala.
Jadi, Wana mungkin akan merespon kalau diajak cerita. Tapi kalau tidak diajak cerita Wana akan diam saja.
Nirmala keluar dari kamar mandi dan mengenakan pakaian tidur yang sudah Wana sediakan.
Wana sedang menonton drama sambil menyantap sop buntut dari hotel yang tadi, dengan nasi hangat yang baru dia masak menggunakan rice cooker.
"Wah! Wangi!" desis Nirmala.
"Makan, kak! Tadi aku dikasih,"
"Sop buntut ya? Asik!" Nirmala mencoba ceria.
Sudahlah, pikir Wana. Ia tidak ingin merusak suasana. Biarlah mereka makan dulu.
*
*
Denting notifikasi di ponsel membangunkan Wana pagi itu. Wana mengerjabkan mata dan menatap jam. Pukul 4.15.
Adzan Subuh saja belum berkumandang, siapa sih?! Keluh Wana.
Lalu Wana membuka pesan singkatnya.
Dari Om Silver Judes.
"Kamu berangkat ke kampus jam berapa?"
"Jam 7," ketik Wana.
"Saya antar ya,"
"Buat apa antar saya Om? Nanti jadi bahan gosip!"
"Saya mau ketemu ketua yayasan kampus kamu, sekalian mau ketemu Stela,"
"Ya sudah jalan sendiri-sendiri saja Om, berlagak gak kenal saya,"
"Kan lebih enak kalau kamu di samping saya jadi Stela nggak bisa seenaknya bersikap sama kamu,"
"Biar saja Om, saya nggak mau semakin memperpanjang masalah. Bisa-bisa Risman malah ilfil sama saya!"
"Siapa Risman?"
Dan Wana pun ketiduran lagi.
*
*
"Eh, Pa-papa, kok Papa di sini?" Stela dengan takut-takut menghampiri Artha yang duduk di ruang meeting Universitas.
"Hem, Papa mau tahu kegiatan kamu di kampus,"
"Ya belajar lah Pa, apa lagi? Hehehe!" Stela melirik sang rektor yang ada di sebelah Artha, dimana si Rektor itu juga sedang melirik Stela dengan jengah.
"Ada laporan kamu di sini kerjanya cuma pamer dan nilai kamu pas-pasan," kata Artha.
"Siapa yang bilang Pa? IPKku diatas 3 kok!"
Iya, 3,02. Dikiiit diatas 3. Dan itu Semester 5, kebetulan nilai Stela terdongkrak karena ada presentasi di salah satu matkul, dan dia membayar seseorang untuk slideshow dan bahannya. Semester 6 kemarin Stela hanya meraih IPK 2,5.
"Yang semester berapa IPK diatas 3?" tanya Artha. Pertanyaan yang langsung menohok dada Stela.
Papanya ini, jarang bertemu dengannya. Mama bilang Stela harus bersikap sangat baik terhadap Artha karena merupakan sumber kekayaan. Pria itu bisa saja menghentikan semua subsidi ke rekening Stela dan Mamanya kalau tersinggung, atau pun bersikap otoriter terhadap Stela yang merupakan darah dagingnya kalau ia tidak berkenan akan tingkah laku Stela.
Sementara Artha sekarang sedang menelisik Stela sambil mengernyit, dari ujung kaki sampai ujung kepala. Bolak-balik seperti mesin fotokopi lagi scanning.
Stela berdiri dengan kikuk. Ia berusaha tersenyum semanis mungkin.
Lalu Artha pun menghela napas. Pantas saja Wana antipati terhadap anaknya ini. Pikir Artha.
Sepertinya ibunya Stela tidak merawat anakku dengan baik. Gaya pakaiannya hedon tapi tidak terasa cocok digunakan di tubuhnya. Juga, siapa itu dua orang di belakang yang mendampingi Stela? Yang mana yang namanya Risman? Kenapa tingkah Stela macam yakuza kampus?!
"Stela," ujar Artha.
"I-i-iya Papa!"
"Papa harap kamu menggunakan uang yang papa beri dengan bijak. Kalau sampai semester 7 sampai lulus kamu tidak meraih cum laude, Papa akan menghentikan semua subsidi untuk mama kamu, dan kamu akan tinggal dengan Papa. Tentunya sambil belajar bisnis,"
Sumpah serapah dalam hati Stela langsung melanda. Segala macam kata-kata kebun binatang langsung memenuhi lidahnya, dan berusaha ia tahan semaksimal mungkin untuk tidak terucap.
Juga, Stela semakin tak yakin kalau ia anak kandung Papanya itu, karena sikap Artha begitu galak padanya.
Padahal, sebenarnya kalau mau diajak berdiskusi Artha selalu bersedia, tapi Mama Stela keburu menanamkan sugesti ke anaknya bahwa Artha adalah seorang yang kejam dan otoriter.
Belajar bisnis bukan berarti mimpi buruk, banyak hal berguna yang bisa didapat dari sana. Selain bisa menghasilkan uang dari jerih payah sendiri, kita juga akan bisa menghargai benda-benda yang menempel di tubuh kita dan menggunakannya sesuai manfaat. Tujuan hidup bisa semakin berwarna.
Lagipula tadi Artha bilang, subsidi akan dihentikan untuk Mama Stela. Artha tidak bilang untuk Stela-nya.
*
*
"Siapa sih yang sesumbar tentang tingkah gue di kampus, Hah?!?" Jerit Stela frustasi di dalam mobil. Risman dan Feri hanya bisa diam sambil menyetir menuju mall terdekat.
"Kenapa Bokap sampai ada di kampus?! Mau apa dia di sini?!"Jerit Stela lagi.
Tidak ada yang tahu jawabannya.
Kecuali...
"Hish!! Ngapain sih Om di sini?!" desis Wana saat dia baru keluar dari ruang asistensi, ia baru saja selesai mengajar para mahasiswa junior.
Artha hanya berdiri santai sambil tersenyum, "Cara mengajar kamu enak ya, topiknya jadi mudah dimengerti,"
"Memangnya bisa kedengeran?"
"Ya bisa dong, kan saya tadi sempat masuk. Kamu saja yang terlalu serius mengajar," kata Artha.
Wana menggangguk. Ia semakin percaya diri dengan kemampuan mengajarnya. Setara Pesdir Opal Corp memujinya loh!
"Nirwana adalah mahasiswa kebanggaan kami, Pak. Ia berhasil mempertahankan beasiswanya, namun saat kami merekomendasikan utnuk mengikuti program pertukaran pelajar ke Finlandia, dia tidak ambil," kata Rektor.
"Iya Pak, habis yang dicover hanya kegiatan kampus. Saya kan juga butuh tempat tinggal, makan sehari-hari, belum persediaan baju musim dingin dan hal-hal tak terduga lain," Wana menjelaskan sambil menghitung jemarinya yang masih ditempeli kuku palsu warna pastel.
"Kalau begitu kita bisa diskusikkan mengenai subsidi uang saku mahasiswa pertukaran pelajar. Jangan sampai Mahasiswa dari sekolah kita disana malah menghabiskan waktu dengan bekerja untuk kebutuhan sehari-hari, dan program doktoralnya malah terlantar. Mereka bisa mencicil setengah angsurannya saat sudah bekerja. Hasil cicilan bisa kita berikan ke program doktoral mahasiswa berprestasi lainnya," kata Artha.
Rektor sih setuju-setuju saja asal ada donatur seperti Arthasewu Connor. Tinggal Wana yang mencibir.
"Makan yuk?" ajak Artha selanjutnya.
"Di kantin Fakultas Teknik ada ayam suwir enak Om!"
"Ya sekelas saya makan direstoran doooong,"
"Tapi sekelas saya makannya di kantin Oooom,"
"Kamu bawel deh, ikut aja kenapa sih?!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 113 Episodes
Comments
another Aquarian
bawel tapi ngangenin kaaannn om...
2025-03-28
0
another Aquarian
om silver mulai naksir...
2025-03-28
0
Naftali Hanania
sukaa bgt sama karakter wana...😍😚😚
2024-06-13
0