"Apa?" tanya Om Artha saat menyadari perbedaan wajah Wana.
"Apa Om?" Wana masih dengan tampang kagetnya.
"Itu, Njirr itu apa maksudnya?"
"Eh,hemmm... Nggak nyangka aja Om sudah setua itu,"
"Tua, kata-kata paling menyebalkan dalam hidup saya,"
"Mapan," ralat Wana.
"Begitu lebih baik,"
"Hm," Wana mengangguk
"Hem," Om Artha mengangguk.
Lalu hening.
"Ada yang ingin kamu katakan pada saya?" tanya Om Artha kemudian.
"Nggak ada Om," sebenarnya lebih ke spechless, saking kagetnya.
Lalu hening lagi.
"Apa sih Wana?! Kamu bikin saya nggak sabar!" ketus Om Artha.
"Stela itu teman saya di kampus yang barusan saya juluki Ratu Sejagad!" Ujar Wana cepat karena kaget. Akhirnya Wana bilang juga, keceplosan karena takut.
"Hah?"
"Hehe,"
"Oh,"
"Hehehehehe," entahlah bakalan jadi apa perbincangan ini.
"Apa perlu saya kurangi ya uang bulanannya,"
"Hah? Kenapa Om?!"
"Ya sampai dia mempengaruhi kamu ke jalan yang sesat itu berarti uang yang saya berikan tidak dipergunakan dengan baik,"
"Memang berapa sih Om kasih setiap bukannya?!"
"Sekitar 1 milyar sebulan,"
"YAIYALAH SULTAAAAAANNNN!!" seru Wana gebrak meja. "Satu milyar itu bisa buat biaya hidup saya seumur hidup!!"
"Masa sih?"
"Ini Indonesia gitu loh! Bukan London!!"
"Ya bener sih!"
"Ya wajar kalo dia punya Birkin, malah mungkin dia punya kolam buayanya juga!!" seru Wana.
Om Artha mencibir.
"Jadi, SEMUANYA SALAH OM!" seru Wana sebal. "Gara-gara Om si Stela jadi songong, bilang Eiger kesayangan saya milik golongan sobat Misqueen! Saya pake tas itu udah dari SMA Om! Penuh kenangan! Disana ada slot buat nyembunyiin kertas ulangan jeblok, ada space buat laptop, ada kantong buat nyelipin cilok pula! Birkin mana ada! Sekarang dia harus dipensiunkan gara-gara Stela!!"
"Apa sih saya nggak ngerti," gumam Om Artha.
"Pokoknya Om, jangan manjain anak," desis Wana sok bijak.
Om Artha hanya mendengus sambil menyeringai. "Kamu tuh lucu ya," gumamnya dengan suara rendah.
"Apa om?"
"Nggak papa," Om Artha mengutak atik ponselnya dan memperlihatkan sebuah undangan. "Minggu depan saya mau grand opening hotel, kamu bisa datang dan keep undangan lewat barcode, kalau mau saya share undangannya,"
"Hah? Serius Om? Mauuuuu!" mata Wana langsung berbinar.
"Semoga kulit kamu sudah lebih putih saat itu," ada nada sindiran di kalimatnya tapi Wana tidak menyadari hal itu
"Hehe, kayaknya udah sih Om,"
"Hanya tamu undangan yang bisa datang, yang punya barcode ini. Jadi saya pastikan di dalam tidak ada baby tanpa tuan, kecuali kamu. Silahkan kalau mau hunting, kamu bisa mengaku sebagai kenalan saya,"
"Bapaknya Ratu Sejagad banget siiih," wajah Wana agak dibuat jenaka.
"Nggak usah bilang-bilang Stela kalau kamu kenal saya,"
"Siap Om!"
"Lalu... Kamu ada sepatu dan tas yang pantas nggak? Jangan sampai kamu datang kesana pakai ransel!"
"Nyindir ya Om?! Ya punya laaah. Pinjem Kak Mala,"
"Mau saya beliin nggak?"
"Nggak Om,"
"Hah?"
"Nggak Om, nanti saya nggak bisa bayarnya,"
"Saya traktir loh ini,"
"Nggak usah Om, dirimu kasih undangan itu aja saya udah senang," kata Wana.
Om Artha ternganga sambil menatap Wana. Terus terang saja ia belum bisa menebak maunya Wana. Mana ada wanita yang bisa menolak ajakan traktir? Apalagi dibelikan tas dan sepatu dengan limit tak terhitung. Kan bisa saja Wana meminta Birkinnya sekarang.
Tapi tatapan Wana yang seakan tanpa dosa menjawab semuanya. Bahwa gadis di depannya ini tanpa prasangka apa pun terhadap Om Artha.
Padahal maksud Wana hanya satu. Dia tidak ingin terlibat lebih jauh dengan hal-hal yang ada hubungannya dengan Stela. Apa jadinya kalau si Ratu Sejagad sampai tahu jika Wana mencela dirinya di depan bapaknya langsung.
"Mau saya antar pulang?" tanya Om Artha.
"Nggak usah Om, saya naik ojek online aja,"
"Kamu nolak saya terus,"
"Habisnya mobil sewaan Om mencolok, bisa-bisa saya diomongin macam-macam sama tetangga,"
Om Artha menarik napas panjang, lalu menghembuskannya lagi.
"Oke, nomor kamu berapa? Saya share undangannya,"
Wana menyeringai senang.
"Dan itu bukan mobil sewaan. Saya beli cash, saya sudah bayar pajaknya juga," desis Om Artha.
"Dasar sombong, nggak beda sama anaknya," gumam Wana sambil memalingkan wajahnya.
Om Artha menunduk sambil menghitung stok kesabarannya.
*
*
Seminggu berlalu, Wana mengamati dirinya di cermin.
Tips 4 : Jangan berhenti belajar tapi keluarkan kemampuan sedikit-sedikit. Ingat, pria suka wanita cerdas tapi benci wanita pintar.
Trik :
Saat pergi ke acara tertentu, setidaknya pelajari mengenai perusahaan terkait, siapa saja jajaran manajemennya, acara itu mengenai apa, dan hal penting lainnya biar nggak planga-plongo saat diajak mengobrol.
Bertindak cerdas dengan cara tidak menggurui. Hindari kata 'tahu tidak?' dan 'jangan salah'. Kata-kata itu sudah dikuasai kaum pria. Mereka tidak suka wanita yang lebih pintar dari mereka, tapi mereka suka wanita yang nyambung kalau diajak bicara.
Makan yang ukurannya lebih kecil dari mulut, biar kalau diajak ngobrol saat makan, remahannya nggak keluar-kleuar dari bibir. Tahan rasa lapar! Ingat korset disetel ukuran S. Sesak!
Kalau ketawa jangan ngakak. Simpan sikat gigi kecil di tas. Kalau perlu bawa siwak sekalian biar bisa sembunyi2 kalo ada yang nyelip.
Tertawa saja, jangan pake mukul manja sok akrab.
Jadi, tibalah hari Grand Launching pembukaan hotel Om Artha yang ternyata acaranya sedemikian mewah.
Saatnya perburuan.
Dari kejauhan Wana bisa melihat Om Artha keluar dari Hummer Limousine dengan gaya. Rambut perak panjangnya ia gelung ke belakang dan tuxedonya begitu berkelas. Beda sekali dengan gaun satin yang disewa Wana per jam.
Kali ini Wana memilih warna pink karena bisa menonjolkan warna kulitnya yang semakin cerah. Ia berdandan natural dan sedang berusaha tidak kedinginan. AC di lokasi benar-benar tidak berperikemanusiaan, Wana bahkan heran kenapa kebanyakan wanita di acara ini wajahnya kalem-kalem saja seakan sudah biasa berendam di air es.
Wana berdiri di pinggir ruangan di sebelah bar, dengan Champagne di tangan. Tidak ia minum, hanya pajangan saja.
Padahal ia tamu VIP karena barcode pemberian Om Artha, Wana bisa pesan minuman semabuknya. Tapi targetnya kali ini adalah terlihat berkelas, bukan menikmati kelas.
Hotelnya sangat mewah, sepertinya setelah acara Wana akan mencoba sauna di area kolam. Ia juga akan bertanya ke Om Artha apakah bisa menginap gratis semalam saja di sana. Karena terakhir Wana lihat daftar harga di resepsionis, harga permalamnya dipatok sekitar 2 jutaan.
Tapi melihat kualitas kamarnya, tampaknya Om Artha tidak main-main membangun hotel ini.
"Lumayan Sultan juga si Om, pantesan si Stela bergelimang buaya, eh harta," gumam Wana sambil memicingkan mata melihat ke arah Om Artha yang sedang menghadapi pers di depan sana.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 113 Episodes
Comments
another Aquarian
namanya juga lagi belajaran jadi sugar baby, mana masih ndeso pula 😂😭😭😭😭😭
2025-03-28
0
Anonymous
😂😂😂
2024-12-22
0
kalea rizuky
palingan stela. bukan anak nya
2024-10-19
0