18

Candra langsung menuju kelas adiknya yang sudah disusun dengan sedemikian rupa untuk mengadakan rapat wali. Kebanyakan orang tua berumur dan sudah memiliki penampilan tua, tetapi tidak membuat kemungkinan bahwa ada orang yang terbilang masih muda, tentu yang paling muda adalah Candra yang belum berkeluarga

Semua wali yang berkumpul di persilakan duduk ditempat duduk anak mereka. Candra yang duduk di paling depan karena Adiknya yang duduk di depan karena huruf awalnya dari A. meja yang tertulis jelas bahwa itu bangku milik adiknya dengan nomor absen 4.

Perasaan gabut candra muncul dan mengecek kolong meja adiknya. Ketika dia melihat kolong meja adiknya terlihat tumpukan buku pelajaran yang ditinggalkan oleh adik nya. Adiknya orang yang menyimpan buku dibawah meja. Entah kenapa hal tersebut membuat Candra merasa tenang, pada dasarnya Candra juga melakukan itu.

“Selamat siang. Maaf tiba-tiba memanggil bapa dan ibu sekalian.”

Seorang guru muda terbilang tampan datang menuju kelas. Dia adalah wali kelas adik Candra, seorang Pria tampan yang masih belum menikah, tetapi sudah pada umurnya. Wajah yang manis dan memiliki aura seorang guru penuh potensi benar-benar ditunjukan dengan kacamata ringan yang jauh berbeda dengan kacamata ilmuwan yang terbilang lebih tebal.

Semua wali Siswa terlihat sangat mengagumi wali kelas tersebut. Beberapa wali murid pun terdengar membahas apakah dia sudah menikah, dan jika belum mereka ingin menjodohkan dia dengan putri mereka, hal tersebut ramai apalagi di golongan ibu-ibu belakang.untuk Wali pria atau bapa-bapa mereka membahas apakah dia bisa direkrut kerja di kantor mereka.

Ketika proyektor dinyalakan semua orang langsung pada melihat pada slide yang dimunculkan. Disana tertulis tentang judul apa yang mereka akan bahas, sebuah pembahasan yang cukup biasa bagi Candra yang selalu datang ke acara wali. Dia langsung fokus terhadap Handphone, karena dia tahu betul akan kemana dibahas.

Pada awalnya semua masih sangat ramai dan penuh pembahasan. Entah ketika pertengahan semua terasa sepi, Candra yang merasa begitu sepi berpikir ini merupakan kesempatan untuk menggunakan Earphone karena ingin segera pergi dari sekolah ini, tapi dia harus memenuhi kebutuhan adiknya.

Candra yang fokus terhadap Handphone mulai sadar bahwa ada hal aneh terjadi di kelas ini. Semua orang orang tua siswa begitu tenang, dan bahkan mereka sangat fokus menatap layar proyektor. Nafas mereka benar-benar satu irama, perasaan dingin terasa mengalir pada kulit Candra, kemudian dia bertanya menggunakan HP pada salah satu kenalannya yang merupakan orang tua dari murid di kelas yang sama.

“Kenapa begitu sepi?”

“Tidak tahu, saya ketiduran.”

Balasan singkat dari pesan Candra.

Tentu karena penasaran dia mulai melihat orang disekitarnya. Ketika hendak bertanya, Candra merasa ada yang aneh dengan tatapan orang disampinya. Tatapan kosong yang hanya menatap proyektor. Pada mata orang tersebut hanya ada kekosongan, dan tidak terlihat bahwa dia memiliki pikiran dan jiwa. Wajah tersebut membuat Candra tidak enak, dan memutuskan untuk kembali bertanya.

“Ada yang aneh dengan para orang tua.”

“Benarkah?”

“kau gak lihat sekitar mu?"

“Saya pulang duluan.”

“Ehh.”

“Bagaimana kabar disana? Mau ikut makan gak?”

Satu-satunya harapan untuk bertanya ternyata sudah pulang meninggalkan tempat. Tetapi sekarang satu-satunya kesempatan untuk pulang dan berpamitan dengan adiknya.

Kabar baik tersebut langsung dilaksanakan, tetapi pasti ada kabar buruk.

Ketika sebuah tepukan dari Wali kelas tersebut, membuat semua para orang tua dan wali terlihat kembali normal. Tetapi keanehan terjadi ketika wali kelas mengatakan sebuah kalimat yang tidak cocok untuk diucapkan oleh guru.

“Kenapa tidak tuangkan kemarahan, pada superhero yang gagal melindungi keluarga kita.”

Semua orang disana langsung sangat marah, dan tidak terkendali. Candra yang berada di paling depan dengan wajah kebingungan langsung ditatap tajam oleh wali kelas tersebut.

“Kau. Tidak terpengaruh dengan cuci otakku.”

“Cuci otak?"

Semua maksud langsung dikatakan oleh wali kelas tersebut. Wajah tampan tersebut langsung terlukis menjadi wajah seorang yang siap membunuh, tatapan tajam menusuk layaknya pisau, senyuman lebar yang penuh kesombongan membuat Candra merasa khawatir akan keadaan adiknya.

“Lihatlah, semua disini ada seorang pahlawan.”

Semua orang tua langsung menatap Candra yang duduk paling depan. Ketika para murid memiliki kekuatan supernatural, berarti para orang tua juga ada yang memiliki kekuatan supernatural layaknya sihir, dan esper.

“Tangkap dia?”

Candra yang memiliki fisik lebih kuat dibanding manusia biasa langsung menghindar, tetapi orang yang dia lawan adalah puluhan orang tua siswa dan mereka semua benar-benar orang berpengalaman.

Kaki Candra langsung di ikat dengan benang energi sihir dan seluruh tubuh ditahan akan tali petir yang bisa menyetrum jika memaksa keluar. Candra sudah berusaha, tetapi dia tidak bisa melawan karena kekuatan dia bukan tandingan para orang tua wali yang penuh pengalaman.

Semua tali tersebut memaksa Candra melihat Proyektor yang sedang memperlihatkan sebuah grafik secara normal. Tetapi ketika pindah slider terlihat ada suatu yang menusuk mata Candra hal tersebut membuat pikiran Candra terasa ada yang hilang.

“Hei. sebelum dilanjutkan. Boleh bertanya?”

“Tentu. Sebelum kau kehilangan pikiranmu.”

Candra berusaha menggunakan HP tetapi hanya usaha percuma. Sekarang dia hanya bisa menjatuhkan HP dan berharap bantuan segera datang. Satu-satunya harapan ada Ilmuwan, tetapi apakah dia bisa melawan mereka semua, ketika dia berpikir seperti itu, sudah pasti Ilmuwan kalah ketika melihat kekuatan fisiknya.

“Apa kau yakin kalau diriku akan berguna?”

“Tentu saja tidak, tetapi menghilangkan jejak adalah tindakan harus.”

Seketika suara dering HP terdengar dari saku tangan Candra.

“Telepon terakhir kah? Jangan diangkat.”

Candra yang merasa mendapatkan harapan seketika sirna karena tidak bisa berhubungan dengan siapa-siapa lagi.

Ketika nada dering mati, slide langsung digerakkan kembali. Tetapi sial bagi sang Wali kelas karena bunyi HP Candra langsung kembali karena dipanggil oleh seseorang. Ketika melihat kontak tersebut, itu berasal dari Ilmuwan. Tetapi hal tersebut percuma karena tidak bisa diangkat.

“Sudah selesai. Sepertinya tidak ada telepon lagi.”

Tetapi alur cerita tidak berpihak pada Sang Wali kelas. Seseorang dari pintu kelas langsung mendobrak masuk. Dua orang gadis dengan wajah yang tidak asing langsung muncul, wajah pertama adalah Ilmuwan, dan kedua adalah Si Putih yang sedang meminum susu kotak.

“White Meet, tidak mari sebut saja SI Putih.” Ucap Wali kelas yang menatap Si Putih dengan tatapan menjijikan.

“Yo. bagaimana kabarmu pak Aditya. Atau diriku harus menyebutmu Sinful Wrath.”

“Kau tidak akan bisa melawan diriku. Lihatlah berapa banyak budak yang telah aku buat.”

Semua wali Murid langsung menatap pada Si Putih. Si Putih tahu bahwa setiap wali murid adalah orang tua dari sang murid. Dia juga tahu setiap pekerjaan mereka, ada seorang ahli bela diri, ada ahli sihir, ada penemu, ada seorang superheroes, bahkan ada seorang pemilik perusahaan besar.

“Baiklah. Mari taruhan, menurutmu apa aku mampu melawan mereka semua?” Si Putih langsung memprovokasi Wali kelas yang mengeluarkan wajah marah.

“Tentu.”

Si Putih langsung menatap tajam pada Wali kelas tersebut. Angin dingin langsung keluar dari dalam tubuh Si Putih. Perasaan kematian terasa sampai kedalam jiwa setiap orang yang ada disana. Tatapan yang bahkan akan bisa membunuh seseorang jika bertatap langsung, tentu jika mereka itu lemah.

Wali kelas tersebut langsung memegang jantungnya karena merasa ada suatu yang menusuknya. Tetapi hal tersebut hanya perasaan buruk yang dikeluarkan dari Si Putih.

“Semua tangkap mereka.”

“Mohon maaf, bapak dan Ibu salah satu dari pekerja kami membuat kalian masalah, mohon sebesar-besarnya.”

Entah mengapa Si Putih mengucapkan maaf pada orang yang siap membunuh mereka. Pedang energi terlihat sudah berada di ujung leher. Bola energi sudah menempel pada perut Si Putih, tangan kanan sudah hilang karena ditatap oleh mata jahat, tangan kiri sudah membeku karena Es, kaki kanan sudah mati rasa karena petir, kaki kanan sudah lumpuh karena racun paling mematikan, tetapi wajah si Putih tetap putih bersih layaknya kertas.

“Saya akan menerima segala serangan bapak dan ibu sekalian dengan senang hati.”

Semua tubuh Si putih langsung musnah, tidak ada bekas apapun. Ledakan besar pun sampai membuat Ilmuwan terlontar ke belakang. Melihat dari dampak tidak terlihat sedikitpun daging mentah milik si Putih. Sekarang hanya ada debu dari tembok bangunan kelas.

“Wahahahaha. Lihatlah jika kau bermain-main dengan kami.”

“Mereka dalam keadaan dikendalikan mana bisa mengeluarkan kekuatan penuhnya.” Bisikan seseorang tepat di telinga wali kelas tersebut.

“White Meet kau masih hidup? Sialan dimana kau ini?”

Wali kelas berusaha mencari keberadaan SI Putih. Dia tidak akan suatu yang sangat besar, dan bahkan sangat terlihat jelas di mata Candra yang sedang di ikat .

“Dimana yah.”

Candra melihat jelas bahwa Si Putih sedang duduk di meja tepat di samping Wali kelas tersebut. Dia duduk melihat ke arahku dan memberi isyarat untuk tunggu, nanti kami menyelamatkanmu.

“Kalian semua bunuh si Putih.”

Mayoritas dari mereka tidak ada yang bergerak. Tetapi ada 3 wali murid bergerak dan menyadari bawah Si Putih sedang duduk di meja yang merupakan bangku untuk guru. Dia langsung mengarahkan serangan, Api, semacam sinar laser dan bahkan pedang yang diarahkan pada Si Putih.

“Mari akhiri dengan cepat.”

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!