15

Aroma lautan memberi kesegaran bagi mereka berdua yang saling bonceng motor. Lautan biru yang tepat berada di kanan mereka membuat sensasi hangat. Pemandangan yang indah laut membuat berkendara terasa begitu tenang. Pepohonan kelapa pada kiri mereka membuat udara segar menjadi lebih nyaman untuk dihirup.

Suara ombak yang menjadi musik untuk mereka. Irama dari ombak terasa sangat nyaman bahkan mereka pun hampir lupa dengan tujuan mereka kenapa pergi kesini.Ombak yang terasa begitu dekat membuat mereka ingin sekali pergi menuju pantai. Mata mereka melihat padang rumput yang begitu rendeng dengan pasir pantai, sekali lihat saja mereka yakin bahwa rumput tersebut akan terkena air laut ketika ombak pasang.

Jalanan aspal tua yang sudah harus diperbaiki membuat mereka merasakan goncangan kecil. Meski sudah tua jalan tersebut bisa dibilang masih nyaman untuk digunakan, tidak ada lubang, dan jalanan menonjol yang bisa menimbulkan kecelakaan.

“Nyamannya.” Wajah puas mereka benar sama persis.

Candra sang supir menikmati perjalan sembari melihat ke depan yang penuh dengan pemandangan lautan, dan pepohonan saling berdampingan. Beberapa pedagang bermotor juga terlihat melewati dari sisi lain. Sedikitnya orang yang datang pada jalan ini membuat dia bisa mengendarai dengan tenang sembari menikmati udara.

Ilmuwan yang duduk di belakang sangat puas menikmati pemandangan jadul membuat dia bisa mengenang jaman dulu. Dia juga terasa begitu tenang, tidak seperti asalnya yang selalu memikirkan alat apa yang ingin dia buat. Sekarang dia hanya tenang menikmati perjalan motor tersebut.

Rasa puas mereka begitu kompak membuat keadaan terasa nyaman, dan berharap keadaan tidak berlalu begitu cepat. Meskipun mereka berharap untuk segera sampai sekolah karena mereka memiliki tujuan masing-masing.

Candra yang harus pergi ke rapat orang tua dan Wali, dan Ilmuwan ingin melihat Si Putih itu orang seperti apa. Mereka memiliki tujuan berbeda, tapi mereka memiliki satu tempat yang dituju sama, kendaraan mereka untuk sampai sana juga merupakan kendaraan motor yang sama.

“Candra masih jauh kah?”

“Sebentar lagi kok.”

Candra seketika sadar akan sesuatu yang sangat penting. Dia tidak mengetahui nama Asli Ilmuwan, dia selalu memanggil Ilmuwan dengan nama Ilmuwan. Meskipun Candra masih kerja sekitar 1 minggu, cukup aneh tidak mengenal atasan mereka.

“Ilmuwan, apa kau punya nama?”

“Bodoh, tentu saja aku nama.”

“Boleh tahu namamu?”

Ilmuwan merasa apa harus memberi tahu nama aslinya. Tentu mereka cukup saling kenal karena sudah 1 minggu kerja di satu tempat kerja yang sama. Tetapi mereka Organisasi penjahat, penghianatan sangat mungkin terjadi apalagi Candra yang terlihat memiliki hati pahlawan dan bisa saja melawan balik TPL.

Meskipun dia memiliki rasa takut tersebut Ilmuwan merasa dia tidak akan berkhianat, selama dirinya tidak berkhianat. Candra orang yang bodoh, dan maniak superhero dia pasti akan pergi ke tempat superheroes karena dia sangat menyukai mereka. Tetapi karena dia seorang Fans superheroes atau pahlawan dia pasti bertindak layaknya pahlawan.

“Gimana yah? Apa kau bisa janji tidak akan beritahu siapapun.”

“Tidak, saya tidak bisa janji.”

Candra merusak suasana dengan mengatakan kalimat tersebut. Tetapi hal tersebut membuat Ilmuwan yakin bahwa Candra akan mengatakan nama dirinya pada seseorang. Dia merasa tahu siapa yang akan dia beri tahu nama tersebut.

“Woy. Oke, hanya pada saudari mu saja. Kemudian yang mengetahui namaku hanya beberapa orang saja. Di TPL hanya Leader dan Sekretaris.”

Ilmuwan tahu bahwa nama aslinya adalah keberadaan yang memiliki harga besar. Dia memutuskan untuk menghilang nama tersebut karena bisa saja seseorang berkhianat untuk mendapatkan dia.

“Baiklah. Saya berusaha tutup mulut, tapi tidak janji.”

“Oke, jika kau mengatakannya. Kau akan ku bunuh.”

“Memangnya kau bisa membunuhku.”

“Jangan pikir aku ini lemah.”

Mereka berbicara dengan penuh semangat karena perdebatan. Debat kecil mereka membuat keadaan mulai panas. Mentari juga mulai muncul menyinari mereka, mentari tersebut juga membawa hawa panas dan membuat perdebatan mereka tiada henti.

Ilmuwan yang membawa kalau Candra itu lemah tanpa alat tempur buatan dirinya. Tetapi Candra mengatakan bahwa Ilmuwan lemah karena hanya bisa membuat barang, walaupun ilmuwan bisa menggunakan sihir, bukan berarti dia bisa menjadi sangat kuat. Ilmuwan melawan bahwa dia bisa menggunakan sihir dengan sangat baik, tetapi Candra langsung angkat bicara kalau dia memiliki fisik luar biasa dan memiliki pengalaman bertarung lebih.

Perdebatan mereka tiada henti sampai Candra hampir lupa bahwa dia sedang mengendarai motor. Adu argumen mereka membuat motor tidak stabil, terkadang berbelok ke kanan terkadang berbelok ke kiri. Membuat mereka dalam keadaan bahaya.

Sebuah cahaya kecil di depan mereka mulai mendekat dengan kecepatan tinggi. Cahaya tersebut tidak disadari oleh Candra karena sedang berbalik ke belakang karena berdebat dengan Ilmuwan. Tetapi Ilmuwan yang dibelakang melihat ke depan untuk beradu argumen dengan Candra.

Teriakan dari mesin klakson cahaya tersebut membuat Candra sadar bahwa dia sedang mengendarai motor. Dia dengan segera menjauh dari cahaya lampu mendekat ke arah mereka dan bisa terjadi kecelakaan karena Candra tidak fokus mengendarai.

Benar-benar untung karena Candra langsung memiliki refleks yang sangat baik. Dia bisa membanting stang motor dengan kecepatan cahaya. Dia juga sadar bahwa berbahaya berdebat di tengah jalan, walaupun dalam keadaan jalanan yang sepi.

“Kita hentikan pembahasan tadi, bisa mati kita.”

“Benar. Kau lebih fokus nyetir sana.”

Mereka benar-benar merasa bersalah karena hampir saja mereka mati kecelakaan dan dikirim ke alam sana. Untuk sekarang mereka gencatan senjata karena bisa sangat bahaya bagi mereka berdua untuk terus beradu argumen.

Suasana sudah kembali tenang, Candra mulai fokus mengendarai motor yang tepat disampingnya lautan biru yang lepas. Pemandangan landscape yang sangat cocok dilukis pada sebuah kanvas putih menggunakan metode aquarel atau bahkan sangat cocok dengan Cat minyak.

“Jadi, bagaimana dengan namamu?” Candra yang masih penasaran apa dia akan memberi tahu nama aslinya.

“Benar juga.”

Ilmuwan mulai melihat lautan biru yang memantulkan langit biru. Dia mulai berpikir tentang apakah dia pantas untuk diberi tahu nama asli Ilmuwan. Meskipun dia ragu soal memberitahu, tapi dia sudah mengatakan akan mengatakan namanya sebelumnya, Candra juga sudah janji akan berusaha tutup mulut.

Pantulan dari sinar mentari membuat lautan begitu bercahaya. Lautan tersebut layaknya memiliki kelap-kelip indah yang bisa membuat semua orang senang. Sekali saja mereka melihat kilauan cahaya mentari di lautan biru membuat suasana menjadi satu.

“Merial Nalaya.”

Keputusan terakhir adalah memberi tahu tentang nama Aslinya. Dia juga mengatakan cukup keras membuat Candra bisa mendengar dengan sangat baik. Candra juga mendengar nama tersebut, raut wajah dia terasa agak kesal karena harus mendengar nama Ilmuwan karena dia harus menepati janji. Meskipun begitu dia puas karena bisa mengetahui nama Ilmuwan.

“Sudah kuberi tahu namaku, jadi janji kau harus tutup mulut.”

“Baiklah. Selama diriku tidak diculik dan disiksa aku akan tutup mulut.”

“Kalau begitu jangan sampai tertangkap.”

“Mana mungkin, aku ini hanya manusia biasa.”

“Gampang, aku akan buatkan armor tempur untukmu agar kau tidak tertangkap.”

“Ouhh kau baik juga.”

“Berbahagialah. Selama kau berjanji untuk tutup mulut. Kau akan ku buatkan armor tempur terkuat.”

Mereka akhirnya kembali memulai perdebatan hal sepele. Mereka sepakat akan satu hal, yaitu kalimat yang akan mereka katakan selanjutnya.

“Mari segera sampai Sekolah dengan cepat.”

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!