5

Setiap langkah yang dilakukan oleh mereka membuat para sandera tidak tenang. Rasa panik selalu muncul ketika tatapan mereka saling bertemu. Hati mereka pasti berdetak naik dikarenakan melihat penjahat terkenal yang muncul di berita tadi pagi.

“Misi kita selesai, mari pergi.”

Kerah baju Leader yang tidak bersalah ditarik dengan sangat kencang dan memaksa mereka untuk pergi ke lubang yang telah dibuat.

“Tunggu, Apa yang kau lakukan?”

“Diamlah.”

Seluruh tubuh Leader hampir tak bisa bergerak melawan, tenggorokan yang tercekik karena kerah baju, dan kekuatan wakil Leader yang merupakan Telekinesis Semakin dia berontak, semakin pula tubuh sang leader kehabisan nafas, pada akhirnya memutuskan untuk pasrah.

“Wakli Leader, boleh bawa dia?” Si Ilmuwan terlihat membesarkan mata untuk memohon pada wakil Leader.

“Tidak, dia bukan anggota.”

“Cih pelit.” Cairan ludah dia buang tepat pada lantai penuh debu.

“Baiklah, ambil tangannya robotnya saja.”

Suara berisik dari obeng dan tang sangat terdengar keras. Tidak diragukan lagi itu adalah proses pencabutan lengan robot dari perampok sebelumnya.

Candra terlihat kebingungan dengan keadaan sekitar. Tatapan dia benar-benar tidak bisa menatap satu tempat. Satu melihat pemandangan Leader dan Wakil Leader yang sangat tidak akur dan malah saling bertengkar.

Dia melihat si Ilmuwan yang sedang mencabut paksa tangan robotik, pencabutan paksa benar-benar tidak ramah. bahan debu bertebaran dimana-mana.

tentu paling buruk adalah pandangan para Sandera yang panik melihat TPL yang bisa saja membunuh mereka.

Dia memilih pemandangan ketiga. Dirinya yang melihat kepanikan dari setiap orang membuat merasa tidak enak, dan Candra tahu bahwa tujuan TPL bukan untuk membunuh atau melukai warga, melainkan menyelamatkan dirinya. Maka dari itu dia akan memberi semangat untuk para Sandera.

“Tenang, kami tidak ada maksud menyerang kalian.” lambaian tangan lembut yang terarah pada anak kecil yang ketakutan.

“Leader, sudah dicabut. Mari pulang.” Angkat Ilmuwan tangan ilmuwan yang tepat diatasnya terdapat tangan Robotik.

“Baik. Semua berkumpul.” Teriakan yang menggelegar pada setiap anggota TPL, tidak terkecuali Candra.

Sesegera mungkin mereka pergi menuju lubang yang dibuat saat pertama.

Setiap orang menatap langit dan memberi tanda akan keluar dari sana.

Setiap orang mengeluarkan tanda yang berbeda-beda.

Ilmuwan tersenyum lebar dan berdiri tegak pada papan Hoverboard yang dia bawa. Wakil Leader terlihat sangat tenang, hanya saja Leader yang panik histeris karena takut akan Wakilnya yang bisa terbang layaknya Jet. satu orang saja yang goblok yaitu Candra, dia hanya menatap bingung setiap orang.

“Kalian sedang menunggu kan?”

Wajah kaget Candra benar-benar terlukis jelas. Melihat teman-teman mereka yang melompat keluar menggunakan kekuatan masing-masing, bahkan para Kroco pun bisa melompat keluar menggunakan lubang di langit-langit.

Para Kroco melompat keluar tepat ketika tali baja tertembak pada ujung langit-langit. Tubuh mereka ditarik oleh mesin pada armor tempurnya. Mereka terlihat ember ditarik keatas. Candra hanya bisa menatap para Kroco yang tahu sudah tahu setiap alat yang ada di balik armor tempur.

Candra yang menggunakan Alat yang sama, tetapi dia pemula pasti berakhir tidak sesuai.

Paku penembak tidak mengarah pada langit-langit dan marah terbang menuju langit biru, untung saja mengenai Hoverboard si Ilmuwan.

“Yosh.” Candra dengan tanpa melihat, langsung mengaktifkan penarikan.

“Ehh. tunggu apa?” Mesin terbangnya seketika tidak terbang lebih tinggi.

Mesin Hoverboard tidak bisa lebih jauh terbang dan malah ditarik turun kebawah.

Mesin terus mengeluarkan asap menunjukkan usaha mesin tersebut agar tetap terbang ke langit, tetapi kekuatan tarikan semakin kuat, dan malah membuat mesin Hoverboard makin lemah karena berat tarikan layaknya membawa motor dirantai pada pohon.

“Seharusnya masih bagus sih.”

Sebuah benang mengikat mereka berdua, tetapi mereka tidak sadar akan benang tersebut. Mereka yang harusnya sadar akan hal tersebut malah semakin memaksa untuk melakukan urusan sendiri.

Candra yang terus menarik untuk naik keatas dengan berharap pada benangnya, tetapi Si Ilmuwan tidak sadar akan benang yang menempel di mesinnya membuat asap semakin tebal.

Asap tersebut membuat keadaan makin tidak stabil. Candra yang merasa ada yang janggal karena dia tidak naik dengan kecepatan normal. Langsung mengarahkan pandangan pada ujung mesin tersebut. Seketika dia melihat dan langsung panik, dan segera mencabutnya. Nasi sudah menjadi bubur, ujung yang menusuk hoverboard tidak bisa dicabut dengan mudah karena menembus Hoverboard. Satu-satunya cara lepas dari masalah yaitu minta pada ahlinya.

“Nyonya Ilmuwan. Berhenti!” Teriakan yang menggema sampai telinga Ilmuwan.

“Apa?” Dia berhenti memanaskan mesin, tapi itu bukan hal baik.

“UWAAA.”

“Ehhhh”

Kejadian tidak terduga langsung terjadi.

Mesin Hoverboard langsung kehilangan tenaga dan segera ditarik oleh Armor tempur Candra. Ilmuwan yang terjatuh tidak sempat berpikir, kejadian ini tidak pernah terbesit di kepalanya. Sekarang Si Ilmuwan hanya bisa Pasrah, dan berharap akan ada keajaiban.

Perasaan bersalah Candra muncul dan segera menangkap Si Ilmuwan dengan tangkapan yang tidak sangat terduga.

Tangan Candra benar-benar antara bodoh atau pintar. Dia langsung menangkap betis si Ilmuwan dan membuat kepala Ilmuwan mengarah pada Lantai, dengan segera Dia melakukan lemparan Cakram dengan segera ke langit.

“Woy, Bisa tidak lebih sopan, WAWAAWWWWW”

“Apa?!. Sopan saat seperti ini, Keselamatan nomor 1!”

“WWAAAAAAWWWWWW.”

Sebuah Cakram berputar ke langit… Uhmm Ilmuwan terbang berputar di langit membuat dirinya seperti sebuah bumerang yang akan kembali, tetapi tubuh dia tidak aerodinamis membuat tidak akan balik lagi.

“Kalian sedang apa sih?"

“Jatuh.” Kepanikan dan Histeris menjadi satu.

Tepat sebelum jatuh, Ilmuwan langsung sadar kepalanya tetap utuh dan tidak mengalami benjol sedikitpun. Kemudian Dia sadar bahwa dia sedang menjadi hantu, tidak menapak tanah, dan membuat dia berpikir.

“Mati, mati, Tunggu. jangan bilang aku sudah jadi Hantu.”

“Jangan bodoh. Ini kekuatanku, kau lupa?”

Tubuh Ilmuwan tidak menyentuh dan malah tepat sekitar 5 cm dari tanah dia melayang layaknya Hantu.

Rasa Bersyukur Ilmuwan terlihat dengan jelas, wajahnya sampai berlinang air mata, Tubuhnya sampai tidak bergerak karena bisa bernafas dengan tenang. Sekarang yang menjadi penyelamat Dirinya adalah Wakil Leader yang sangat gagah nan Elegan.

“Leader, anggota baru bagaimana?”

“Dia selamat. Aku membawa dia keatas.”

Candra yang jatuh kembali ke lantai membuat semua orang dibawah. Merasa panik kembali, tetapi kepanikan pecah ketika mendengar tawa dari anak kecil yang melihat tingkah Candra dan Ilmuwan yang hampir jatuh pada Komedi. Semua orang juga ikut tertawa melihat tingkah penjahat yang masuk Tv karena mengalahkan Driverman, mereka jatuh tenang akan tingkah Candra dan kawan-kawanya.

Ditambah Candra dan anggota TPL malah menyelamatkan mereka dari perampokan yang membunuh mereka semua. Tetapi kedatangan mereka bukan kabar buruk dan malah membawa tawa bagi para disana, entah kenapa mereka bisa melupakan kejadian buruk perampokan bank, dan malah mengingat tingkah konyol Candra dan Ilmuwan.

‘Woy. Tetap disana! Aku akan mengangkat mu.”

“Baik.”

Candra tetap diam di sana sembari melihat langit dan mentari yang sudah menuju tempat terpanas. Mentari menyinari mata Candra karena mentari tepat di lubang langit-langit yang menjadi jalan keluar. Meskipun memiliki fungsi untuk meredakan sinar, tetapi melihat sinar mentari dengan langsung, mustahil untuk untuk tidak tutup mata.

“Silahkan kau Mentari, baru bersinar sekarang.”

Candra terangkat oleh benda tak terlihat. Benda yang sangat keras layaknya kaca. Sinar mentari juga memperlihatkan benda yang diinjak Candra. Sebuah Kaca tembus pandang yang sangat tebal, bahkan Kaca tersebut memantulkan pelangi ke tembok bank. Dari pada disebut Kaca, akang sangat cocok disebut permata yang indah.

Semua orang yang melihat tindakan tersebut membuat mereka berpikir TPL adalah pahlawan atas nama penjahat. Malah dia sangat cocok untuk jadi Pahlawan karena memberi kehangatan sesudah kepanikan, mereka tetap tersenyum dan bertingkah ringan untuk tidak membuat semua orang panik. Bahkan anak-anak pun sangat senang dengan pelangi yang dibuat oleh kaca pelindung Leader.

“Terima Kasih Orang seragam hitam.”

Anak kecil berteriak untuk semua orang di bank untuk segala yang terjadi, dan menjadi orang yang mengucapkan untuk semua orang disana.

“Jangan Terima Kasih. Beri tahu pada Dunia TPL akan menguasai dunia ini.” Ucap Leader dengan bangga akan ucapan tersebut..

“Iya.”

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!