16

Sebuah gerbang sekolah berukuran besar dengan gaya modern pada bagian kanan dan kiri memiliki desain kerajaan sihir. Pada sisi kanan yang modern terlihat memiliki tema warna Hitam Biru neon, dan untuk kiri yang merupakan tanda sihir adalah putih hitam ala negeri sihir.

Candra yang sudah sering kesini tidak begitu kaget, tetapi melihat wajah Ilmuwan yang sangat terpelongo melihat gerbang yang begitu megah membuat dirinya tidak bisa menutup mulutnya. Satu hal saja yang membuat Ilmuwan tenang dan merasa kembali ke negerinya, dia melihat sampai dengan seragam seperti biasa.

“Ku kira satpamnya bakal pake baju baja ala kerajaan.” Ilmuwan yang membayangkan satpamnya.

“Kau bicara apa?”

“Tidak cuma ngomong sendiri.”

Ilmuwan dibuat terkejut ketika melihat sekolah yang begitu luas. Saat pertama masuk sudah bisa melihat parkiran yang luas, dan di salah satu parkiran terlihat helikopter, ada juga mobil kelas atas. Kendaraan lain seperti motor yang merupakan rakitan seorang profesional benar-benar belajar dengan sangat indah.

“Tunggu bukannya aneh, ada mobil sebagus itu tetap bersih.”

Ilmuwan merasa bingung karena melihat mobil mewah yang sangat bersih. Meraka pada dasarnya memasuki daerah pelosok dan melewati jalan yang tidak cocok untuk mobil sedan yang memiliki grade tinggi.

“Kata adikku itu semacam hasil karya murid disini.”

“Tunggu, jangan bilang.”

“Bukan, semacam seseorang punya kekuatan membuat sesuatu. Jadi dia membuat mobil mewah.”

Ilmuwan langsung tersadar maksud Candra. Sekolah superpower berarti sekolah orang yang memiliki kekuatan tidak manusia. Semua orang disini berarti seorang yang memiliki kekuatan superpower.

“Candra kau sekolah disini?”

“Enggak kok. Saya SMA biasa.”

“Begitukah.”

Ilmuwan merasa tenang, karena dia juga berasal dari SMA biasa dan akan merasa kalah jika Candra berasal dari sekolah besar ini.

Mereka melanjutkan perjalanan dan melihat papan penunjuk arah. Pada dasarnya sekolah ini bukan SMA saja, terdapat SD, SMP, SMA, dan bahkan Universitas. Setiap penunjuk arah mengarahkan mereka menuju bangunan sekolah SMA. Terlihat asrama untuk para siswa, tetapi sebelum mereka datang, ada siswa datang dari gerbang.

Jarak yang cukup jauh mereka memutuskan untuk menggunakan motor kembali.

“Apa memang sejauh itu?”

“Nggak kok, cuma capek aja kalau jalan.”

“Jika kau capek, berarti untukku mati.”

Ilmuwan sadar bahwa fisik Candra yang tidak normal bagi manusia biasa. Stamina dia benar-benar harus dinilai lebih. Jika saja dia mengikuti cuma capek kata Candra, berarti jarak untuk ilmuwan adalah kematian karena Ilmuwan sadar akan stamina yang rendah.

“Itu. bukan capek untukku, tapi kau.”

“Ohhh. kau menganggap diriku lemah.”

Akhirnya mereka berdebat dan memutuskan untuk berjalan kaki. Candra yang percaya akan ucapan sendiri membuktikan bahwa Ilmuwan tidak akan sampai pada SMA karena jarak yang cukup jauh.

Tentu pada kenyataan Ilmuwan tidak bisa sampai SMA dengan jalan kaki. Dia langsung terkapar di Hoverboard yang dimunculkan menggunakan kekuatan Sihir miliknya. Dia sekarang hanya terkapar dan melihat langit biru dan melihat mentari tersenyum puas akan kekalahan Ilmuwan.

“Lihat.”

“Diam.” teriak penuh keputusasaan dari ilmuwan.

Dia masih saja menggunakan Jas lab, padahal keadaan tubuh sudah sangat panas. Untung saja Hoverboard memiliki fungsi pengatur suhu kaki, yang sekarang ubah fungsi sebagai pendingin badan.

“Nikmatnya.”

Ilmuwan terasa hidup kembali karena angin dingin menyentuh kulit mulusnya secara langsung. Benar-benar kenikmatan yang hakiki.

“Kita sudah sampai.”

Melihat gerbang SMA yang hampir sama dengan sekolah pertama yang dia lihat di depan. Sebuah gerbang yang menunjukan Sihir dan Sains yang dipersatukan oleh seseorang. Mereka berdua tahu siapa yang membuat sekolah tersebut, dia adalah si Putih.

“Kau bisa berdiri.”

“Tidak.”

Ilmuwan benar-benar pasrah dengan keadaan dia. Kekuatan fisik yang lemah, dan dia tidak bisa berjalan lagi.

“Kalau begitu ku berikan air.”

Candra pergi entah mencari kantin untuk membeli air untuk Ilmuwan. Dia meninggalkan ilmuwan sendiri yang dalam keadaan lemah dan tak berdaya. Tubuh dia juga sudah sangat terbuka karena harus mengeluarkan keringat agar tidak menyerap pada pakaian.

Suara langkah mendekat pada Ilmuwan, langkah kaki yang terdengar halus dan menunjukan yang mendekat seorang gadis SMA dan bukan seorang pria jahat. Langkah tersebut tidak memiliki maksud membunuh membuat Ilmuwan merasa tenang saja, dan sadar ketika gadis tersebut menyapa Ilmuwan.

“Kak, tidak apa-apa. Tubuh kakak keliatan lelah begitu?’

Seorang gadis dengan rambut putih memerah layaknya perak yang diciprati darah. Gadis yang sedikit lebih pendek dari Ilmuwan datang dan menunjukan rasa khawatir. Tidak terlihat dia seorang gadis yang jahat, tetapi wajah yang dia yang begitu anggun dan tajam membuat ilmuwan khawatir dia seorang anak dari orang penting.

“Tenang saja. Cuma kecapaian.”

Ilmuwan langsung berusaha berdiri dengan segala tenaga yang tersisa.

“Tetapi kulit kakak. Keliatan pias.”

“Jangan khawatir kayak gitu. Kulit adek juga pia..s”

Ilmuwan sadar bahwa kulit gadis tersebut benar-benar mati. Tidak terlihat ada darah yang mengalir. Putih layaknya kertas tisu yang lembut, mata yang merah terasa sangat mengeirkan, dengan keputihan tersebut. Mata tajam malah membuat Ilmuwan sadar bahwa Gadis ini bukan manusia. Dia adalah mahluk yang berbahaya.

Sesegera mungkin Ilmuwan mundur beberapa langkah dan siap mengambil posisi.

“Ada apa kak?”

Ilmuwan melihat seluruh tubuh gadis tersebut. Dia melihat bahwa gadis tersebut menggunakan seragam. Dia merupakan Siswa sekolah ini, tetapi ilmuwan melihat gadis itu adalah seorang monster yang mengerikan.

Sang gadis langsung melangkah mendekat. Satu langkah saja langsung membuat Ilmuwan mundur panik karena mata Ilmuwan sadar bahwa dia keberadaan bahaya yang tidak boleh diganggu gugat.

“Jangan mendekat.”

“Kenapa kak?”

Tatapan panik Ilmuwan makin tidak karuan setelah gadis tersebut mendekat satu langkah lagi. Tidak tanda kekuatan sedikitpun dari gadis tersebut, jika saja ada kekuatan alat milik Ilmuwan pasti mengatasinya tetapi hanya dengan melangkah Ilmuwan langsung panik.

Sang gadis yang terlihat normal masih terus mendekat sampai hanya tersisa satu langkah kaki untuk saling bersentuhan. Pada jarak tersebut tatapan ilmuwan makin tidak stabil, dengan stamina yang sudah terkuras, membuat tubuhnya tidak sadarkan diri.

“Ilmuwan ini airnya.”

Hanya dengan kalimat tersebut Ilmuwan langsung berbalik melihat Candra yang membawa minuman dengan tenang. Aura mengerikan juga seketika menghilang begitu saja.

Ketika dia melihat kembali gadis yang ingin dibantu Ilmuwan. Dan merasa bersalah karena sudah membentak gadis tersebut. Sekarang di mata Ilmuwan gadis tersebut hanya gadis biasa yang sedang berniat membantu dirinya.

“Kakaknya Ayla, mau ikut rapat wali bukan?”

“Jika tidak salah kamu kakak kelasnya Ayla.”

“Whaito Mitto.”

Ilmuwan merasa aneh dengan nama yang disebutkan oleh gadis tersebut. Nama yang sangat aneh untuk seorang biasa.

“Mitto, boleh tanya enggak. Kata teman saya kalau Si putih ada disini.”

“Ada kok.”

“Benarkah, bolehkah aku bertemu denganya.”

Ilmuwan langsung angkat suara karena tujuannya bisa langsung dikabulkan dengan segera.

“Kau Sudah bertemu denganya, Sekarang, disini.”

Gadis tersebut tanpa ragu mengatakan bahwa dirinya si Putih. Seorang gadis SMA yang merupakan kakak kelas adiknya Candra adalah Si putih yang memiliki umur setengah abad karena sudah menyentuh 50 tahun. Dia juga sekarang berdiri dengan wujud anak SMA berseragam putih.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!