"Kamu, buat apa kamu kesini?" tanya ku setelah melihat siapa yang datang ternyata Riko. Sejak kapan ia berhubungan dengan Mas Rahman atau benar kalau mas Rahman hanya pura-pura baik agar aku teperdaya dengan kelembutannya.
"Siapa, sayang?" tanya mas Rahman yang sudah berada di depan pintu.
"Kamu Rik, ayo masuk dulu?" kata Mas Rahman mempersembahkan Riko masuk ke dalam, aku hanya menatap bingung ke arahnya.
"Tidak usah, aku hanya mau memberikan ini pada Rahman. Kalau begitu aku pulang dulu?" ujar Riko memberikan amplop berwarna coklat, aku tahu pasti itu adalah uang. Sebaiknya aku tanyakan semua ini pada mas Rahman, aku tidak ingin selalu di Landa kekhawatiran.
"Sudah, kamu tidak perlu khawatir begitu. Uang ini karena aku sudah menolongnya waktu," kata Mas Rahman berjalan ke kamar lalu aku ikut mengekor di belakang.
Menolong Apa, kenapa banyak sekali teka teki. Sejak kapan mas Rahman mengenal Riko, apa Riko menghasut mas Rahman.
"Sejak kapan kamu mengenalnya, Mas,"
"Tempo hari, Mas tidak sengaja menabraknya dan saat itu mas mengenalnya, masalah uang itu dia pinjam kemarin katanya butuh," kata mas Rahman berjalan masuk ke kamar, aku berjalan mengambil tas karena jam semakin siang.
Aku mengambil Rania untuk aku titipkan di penitipan anak, sementara mas Rahman sudah siap mungkin ia juga berangkat ke kantor.
"Mas, boleh aku tanyakan sesuatu lagi?" tanya ku menatap ke arahnya berharap kali ini dia tidak lagi membohongiku.
"Siapa yang memberikan mas pekerjaan," tanya ku hati-hati takut ia akan curiga kalau aku tahu kalau kami satu kantor.
"Riko, ah bukan maksudnya pak Yanto," kata mas Rahman.
Apa, pak Yanto dan Riko, ada hubungan apa sebenarnya mas Rahman dengan mereka. Sebaiknya aku harus mengawasi mereka.
"Mas, aku tidak suka kalau kamu berteman sama mereka dan aku tidak ingin lagi dia kesini," kata ku marah berjalan keluar untuk segera berangkat ke kantor menggunakan taxi sementara mas Rahman ku tinggalkan begitu saja.
Tiba di kantor, aku masuk menuju meja kerja ku disana sudah ada Sinta sahabat aku yang paling baik.
"Ratih...!" Sinta menepuk bahu ku.
"Ada apa?" Tanya ku.
"Kamu tahu, pak Yanto di pecat karena apa?" Tanya sinta.
kenapa Sinta menanyakan padaku, apa aku ceritakan saja padanya tentang kemarin. sebaiknya jangan deh, nanti kalau ada apa-apa aku juga yang kena deh.
"Aku gak tahu, Sin."
Aku membuka laptop sembari mengecek data keuangan agar tidak ada lagi seperti kemarin, apa benar pak Yanto di pecat. kalau di pecat kok tidak akan yang tahu, cuma sinta saja, ah untuk apa aku memikirkan yang bukan tugas ku.
"Bu Ratih, di panggil pak Anggara ke ruangannya,"
Di panggil pak Anggara, buat apa? Apa ada masalah lagi dengan kejadian kemarin atau masalah pemecatan pak Yanto.
"Baiklah, sebentar lagi saya ke ruangannya!"
Aku menutup laptop lalu berjalan menuju ruangan pak Anggara, apa yang ingin di bicarakan lagi. Aku tidak mas Rahman salah paham jika melihat aku berada di ruangan pak Anggara.
ia iya Dg
"Tok...Tok...Tok...!"
"Bapak memanggil saya?" tanya aku setelah berada dalam ruangannya.
"Iya, silahkan duduk dulu!"
Aku duduk di sofa ruangannya, tak ada orang selain aku dan dia di ruangan ini. Apalagi aku takut jika mas Rahman melihat bisa salah paham.
"Tok..Tok..Tok..."
"Masuk..."
Terdengar suara ketukan pintu dari luar, Anggara pun menyuruhnya masuk. Ternyata office boy mengantarkan minuman, bukankah yang membawa minuman itu mas Rahman.
Aduh, bagaimana ini? apa mas Rahman akan marah di saat dia tahu aku bekerja satu kantor dengannya.
"Letakkan minumannya disana?" kata Anggara, entah ia tidak mengenali wajah mas Rahman atau tidak memperhatikannya.
"Ratih, kamu kerja di kantor ini juga!" tanya mas Rahman setelah melihat aku tepat berada di hadapannya.
"Iya, Aku bisa jelaskan semuanya nanti di rumah," kata ku takut ia akan memarahi aku di depan umum.
"Sudah, aku tidak akan marah. Lagian kamu disini untuk bekerja bukan untuk selingkuh kan, Saya baru tahu kalau pak Anggara adalah bos istri saya," kata Mas Rahman tersenyum.
Aku hanya diam, lidah ku kelu untuk berbicara. Dia benar-benar berubah dan tidak biasanya, aku terus menatap mas Rahman yang memakai seragam office boy.
"Kalau begitu saya permisi dulu Pak, Bu!" ucap Mas Rahman pergi meninggalkan ruangan direktur.
"Hahaha... Anggara tertawa lepas setelah kepergian mas Rahman, apa dia menertawakan aku karena mas Rahman menjadi office. keterlaluan sekali dia kalau memang ia menertawakan aku.
"Masak suami sendiri gak tahu istrinya bekerja di kantor yang sama," kata Anggara masih tertawa.
Aku hanya diam, merasa kesal pada Anggara karena ia telah mengejekku.
"Pak Anggara, klien kita sudah datang!" kata Yogi sekretaris Anggara.
"Oke, bawa mereka ke ruang rapat dan kamu Ratih juga ikut rapat dengan saya di ruangan,"
"Apa-apaan ini!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 145 Episodes
Comments
Weprina Rorah
like
2022-07-17
0
Weprina Rorah
mantap
2022-07-16
0
Weprina Rorah
like world
2022-07-16
0