"Mas Rahman...!" Teriakku setelah melihat mas Rahman sudah tergeletak di depan pintu, aku melihat wajah mas Rahman yang sudah pucat. Aku berlari keluar mencari bantuan tetangga untuk membantu mengangkat mas Rahman.
"Pak tolong bantu saya, suami saya pingsan," kata ku pada tetangga samping rumah yang kebetulan lewat.
"Ayo, kita bantu," kata pak Mukhlis.
Kami berjalan lalu mengangkat mas Rahman untuk di bawa ke dalam kamar, ia terlihat tidak berdaya. Sebenarnya apa yang terjadi dengan kamu, apa yang kamu sembunyikan. Aku merasa khawatir dengan keadaan mas Rahman, aku mengambil minyak kayu putih lalu aku letakkan di dekat hidungnya agar dia bisa siuman.
Aku menggantikan baju mas Rahman dengan piyama pendek, dia juga belum sadarkan diri. Aku duduk di sampingnya mengharap ia akan sadar sebentar lagi. Aku berjalan keluar kamar hendak mengambil air minum untuknya jika sadar nanti.
Namun, langkah ku terhenti ketika aku melihat mas Rahman menggerakkan tangannya.
"Mas, kamu sudah sadar," tanya ku melihat mas Rahman memegang kepalanya.
Aku berjalan mendekatinya kembali.
"Mas tunggu disini aku ambil minuman dulu?"
"Tidak usah, kamu disini saja. Tolong jangan pergi," mas Rahman menggenggam tanganku dengan erat, seakan ia takut jika aku pergi padahal aku hanya ingin mengambil air minuman untuknya.
"Berbaringlah, aku ingin ada di sampingmu dan memeluk mu, bolehkan?
Aku pun berbaring di samping mas Rahman, membiarkannya memeluk ku. Ku rasakan deru nafas mas Rahman yang teratur menerpa wajahku, ku tatap wajahnya dengan lekat. Setitik embun jatuh dari mata mas Rahman, apa ia menangis.
"Mas kamu kenapa, kok nangis?" tanya ku mengusap air matanya yang jatuh.
"Tidak, aku hanya rindu seperti ini makanya aku terharu."
Cup... Mas Rahman mencium kening ku. Tidak pernah ku rasakan ia memperlakukan ku seperti ini, ia benar-benar berubah untuk menjadi lebih baik tapi aku tahu ada sesuatu yang di sembunyikan mas Rahman padaku yang tidak aku ketahui.
Ku biarkan tubuh ini lebih dekat dengannya, sentuhannya membuat hati dan jiwa ku tenang, aku mencoba untuk memejamkan mata sedangkan mas Rahman sudah ketiduran, biarlah seperti ini agar suatu saat akan menjadi kenangan terindah di sisa-sisa pernikahan kami.
🍁🍁🍁
Suara wajan berdentang terdengar ke dalam kamarku, aku melihat ke samping tidak ada lagi mas Rahman. Kemana dia, ku lihat jam sudah pukul 06.00 pagi, aku bergegas keluar dari kamar untuk menyiapkan sarapan untuk mas Rahman.
Namun, langkah ku terhenti saat melihat mas Rahman sedang memasak nasi goreng di dapur. Aku kembali melihat keanehan dalam diri mas Rahman, pagi ini kembali gembira walaupun wajahnya tampak pucat tapi ketampanan pada dirinya tidak hilang.
"Mas, kamu masak?" tanyaku.
"Selamat pagi, sayang?" Mas Rahman mencium keningku. Aku hanya bisa melongo, ia selalu membuat aku kejutan setiap kali aku bersamanya.
"Aku belum mandi loe, Mas?" Kata ku mencibirkan bibirku ke depan.
"Lalu apa kamu mau mas mandikan kalau mau tunggu mas masak dulu?" Senyum menggoda terlihat di bibirnya mas Rahman, pipi ku merona membayangkan tidak-tidak membuat aku jadi malu.
"Enak saja, aku mandi dulu ya!" Kata ku.
"Iya, setelah sarapan kita sarapan bareng,"
Aku hanya mengangguk lalu berjalan kembali ke kamar untuk mandi. Setelah selesai dengan rutinitas yang satu itu, aku memakai baju kantor tak lupa hijab pashmina berwarna hitam. Ku poles bedak tipis dan lipstik untuk mencerahkan bibir ini.
Saat hendak keluar, aku tak sengaja melihat koper mas Rahman yang masih tergeletak di sudut kamar lalu aku membukanya untuk memasukkan baju mas Rahman kembali ke dalam lemari.
Brukk....
Sesuatu jatuh di sela baju mas Rahman, ternyata obat tapi obat apa ini. Kenapa ada di dalam sela bajunya mas Rahman, kalau dia sakit pasti ia akan ceritakan padaku.
"Ratih, ngapain kamu disitu?" tanya mas Rahman.
"Aku temuin ini di sela baju-baju kamu," aku memperlihatkan obat tablet pada mas Rahman lalu mengambilnya dengan tergesa-gesa. Ia begitu terkejut melihat ke arah ku.
"Obat apa ini, Mas!"
"Oh itu cuma obat sakit kepala," kata Mas Rahman.
"Ayo kita sarapan dulu?" Mas Rahman menarik tanganku, aku hanya diam mengikutinya ke meja makan.
"Duduk saja biar mas siapkan semuanya,"
"Tidak, Mas. Biar aku yang siapkan, kamu kan sudah capek masak pagi ini dan ingat kamu semalam pingsan atau kita pagi ini kerumah sakit aja," tanya ku sambil mengambil nasi untuk mas Rahman.
"Mas, sudah sehat kok dan kamu berangkat saja duluan karena mas akan berangkat sedikit terlambat,"
Mas memasukkan nasi ke dalam mulutnya, aku hanya mengangguk sesekali menikmati masakan mas Rahman yang enak ini. Mas Rahman memang pandai memasak, jadi tidak heran jika masakannya enak seperti ini makanya dulu aku berniat untuk membuka warung tapi karena sikap pelit mas Rahman membuat aku mengurung niat itu.
Jam sudah menuju pukul 07:30 menit, aku langsung berangkat dan Rania akan di titipkan pada tempat pengasuhan anak untuk sementara. Aku tidak ingin mas Rahman merasa malu jika kami harus pergi bersama, lagian kan mas Rahman tidak tahu jika aku juga bekerja disana.
"Rahman...," seseorang berteriak dari luar, aku yang baru saja selesai makan langsung keluar untuk melihat siapa yang datang.
"Kamu...,"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 145 Episodes
Comments
Weprina Rorah
seru
2022-07-16
0
Rhu
kamu....kata" itu sllu adA diakhir bab
2022-07-02
1
Devinta ApriL
siapa lagi sih..
2022-04-27
0