Hari Minggu sangat mendung, niat untuk membawa jalan-jalan Rania terpaksa ku urung. Aku membersihkan rumah karena hari Minggu ku bolehkan mbak Siti untuk ia berjalan-jalan. Sedangkan aku akan membersihkan perabotan yang sedikit berdebu, ku lihat Mbak Siti sudah siap-siap mau pergi.
Mau pergi kemana dia? sepertinya aku harus mengikuti kemana dia pergi hari ini. gerak geriknya begitu mencurigakan, Sementara Rania ku tinggal bersama tetangga sebentar.
"Mau kemana Mbak udah rapi saja?" tanya ku mengulum senyum, menatap Mbak Siti yang sedikit gelisah.
"Saya mau keluar sebentar, Mau jalan-jalan sama pacar saya," kata Mbak Siti tersenyum lalu menjinjing tas di tangannya, aku melongo melihat penampilan mbak Siti pagi ini yang tak biasa. Hari ini ia memakai celana Jeans dan baju di atas lutut, tak lupa rambut di gerai sebahu menambahkan kecantikan di saat umurnya sudah menginjak 31 tahun.
"Pantesan cantik banget hari ini, nanti di kenalin sama aku mbak ya?" ujar ku.
Wajah mbak Siti mendadak pias karena aku mintanya untuk memperkenalkan pacarnya padaku, Apa ada hal yang di sembunyikan oleh mbak Siti. Apa dia mau bertemu dengan orang di telpon tadi malam, bagaimana kalau ia sebaiknya aku ke kamar untuk menganti pakaian.
"Ahh, iya mbak. kalau begitu saya keluar dulu Mbak," kata Mbak Siti pamit. aku hanya mengangguk lalu berlalu ke kamar ku dan mengganti pakaian, tidak mungkin untuk menjadi detektif dengan daster rumahan bisa-bisa ia akan tahu kalau aku mengikutinya.
Setelah Menganti pakaian dan menitipkan Rania pada Pok Marni, Aku berjalan mengikuti Mbak Siti. Aku kehilangan jejaknya, kemana ia pergi kok cepat sekali menghilangkan. Aku melihat ke kiri ke kanan dan ke depan lalu mata ku tertuju pada seseorang wanita yang naik ojek. Ya, ternyata itu adalah mbak Siti aku harus mengikutinya.
Satu jam mengikuti Mbak Siti, akhirnya ia berjalan ke taman begitu juga dengan ku mengikutinya dari belakang. Aku mencari tempat yang paling aman agar tidak ketahuan oleh Mbak Siti.
Sepuluh menit menunggu, akhirnya seseorang laki-laki yang sangat familiar di mataku berjalan mendekati mbak Siti dan memeluknya, Apa-apaan pelukan seperti ini. Ada hubungan apa mereka, aku berjalan pelan-pelan dan duduk di kursi di belakang mereka.
"Bagaimana, apa kamu sudah berhasil,"
"Belum, Soalnya aku tidak berani Mas," Kata Mbak Siti bergelayut manja.
Ya, lelaki itu adalah Mas Rahman. lelaki yang sudah menikahi aku dua tahun yang lalu. ternyata Mas Rahman tidak pernah berubah, ia tetap berselingkuh di depanku. Aku mengambil ponsel lalu membuka video untuk merekam sehingga aku punya bukti untuk melaporkannya pada polisi dan menceraikannya.
"Ckk... kamu kenapa bodoh sekali, padahal kamu sendiri dirumah dan lebih leluasa untuk mengambil sertifikat rumah Ratih Sayang," kata Mas Rahman.
Kurang hajar sekali mereka, jadi Mas Rahman menyuruh Mbak Siti untuk mencuri sertifikat rumahku untung saja sudah ku simpan di tempat yang aman. Sejak kapan mereka berhubungan.
"Maaf, Besok aku janji akan mencari sertifikat rumah itu dengan begitu kita akan bisa menjualnya dan pergi jauh, kamu janjikan Mas untuk menikahi aku," kata Mbak Siti bergelayut manja di lengan suamiku.
Aku yang melihat mereka naik pitam, hatiku bergemuruh hebat dan aku tidak menyangka jika mbak Siti menusukku dari belakang padahal aku sudah baik terhadapnya, Sepertinya aku akan mengusir mbak Siti dari rumah, aku tidak mau tinggal satu atap dengan seorang penghianat dan aku akan mengajukan surat perceraian ke kantor pengadilan.
"Iya, Mas Janji. setelah kita berhasil mendapatkan sertifikat itu kita akan menikah dan pergi jauh," kata Mas Rahman.
Setelah merasa cukup merekam, aku menyimpannya dan memasukkan ponsel ku di didalam tas. Aku harus cepat-cepat pulang karena tadi meninggalkan Rania, aku menaiki taxi kebetulan lewat di sekitar taman.
Aku tidak pernah menyangka kalau mereka menusuk ku dari belakang, apalagi mas Rahman yang tidak bisa menjaga hati istrinya. bahkan kami belum bercerai tapi ia sudah menjalani hubungan dengan baby sitter anakku.
Aku memijit kening ku yang sedikit nyeri, belum lagi masalah yang tentang teror itu. Apa semua ini ulah Mas Rahman agar aku takut lalu menjual rumahku atau ada orang lain yang ingin mencelakai ku. Entahlah.
Taxi berhenti di jalan karena lampu berwarna merah, tak sengaja aku melihat pak Yanto dengan seorang laki-laki tepat berada di samping taxi ku. Apa dia orang yang bersama pak Yanto kemarin, sepertinya aku harus mengikuti mereka.
"Pak ikuti mobil yang di depan, Pak?" kata ku memberi instruksi pada taxi yang ku tumpangi.
Mobil terus berjalan mengikuti mobil pak Yanto, sehingga berhenti di sebuah rumah dan terlihat wanita cantik yang duduk di kursi tua, lelaki tersebut menyalami wanita itu sedangkan pak Yanto hanya berdiri saja lalu masuk ke dalam rumah minimalis.
Aku melihat ibu-ibu sedang membeli sayuran, aku pun turun untuk mengetahui siapa lelaki itu dan wanita yang duduk di kursi itu.
"Pak tunggu sebentar ya?" kata ku.
Aku langsung keluar lalu bergabung dengan ibu-ibu tersebut.
"Maaf, Bu. boleh saya bertanya," kata ku tersenyum.
"Boleh, mau tanya apa?" ucap ibu-ibu yang berbadan gempal.
"Apa ibu kenal dengan wanita yang duduk di kursi roda itu?" tanya ku menunjuk rumah yang di hampiri pak Yanto dan memang wanita itu terlihat duduk di luar.
"Ooh, Bu Sekar. dia itu perempuan yang di tinggal suaminya 25 tahun yang lalu dan beliau menjadi sedikit tidak waras sejak saat itu," kata ibu-ibu tadi.
"Memangnya ada apa, Neng?" tanya ibu-ibu yang satunya lagi. Aku menelan ludah, apa yang harus aku katakan pada ibu ini.
"Ahh, tidak apa-apa Bu? saya hanya tanya saja, kalau sekarang ini tadi tinggal sama siapa?" tanya ku lagi mencari informasi.
"Sekar di rawat sama anaknya bernama Riko dan Pak Yanto pamannya," kata ibu itu lagi.
Apa, Pak Yanto? jadi Bu Sekar itu adiknya Pak Yanto lalu apa hubungan dengan lelaki yang di temui pak Yanto tempo hari, apa hubungan dengan Anggara. Aku sungguh tidak mengerti, ada rahasia apa di balik ini semua? siapa sebenarnya pak Yanto. Setelah meminta izin, aku kembali ke taxi untuk pulang karena aku sudah terlalu jauh mengikuti pak Yanto dan mobil harus putar balik ke arah rumahku.
Aku berjalan ke arah taxi, besok aku akan kembali lagi kesini untuk mencari tahu siapa pak Yanto dan Riko sebenarnya, biar semua akan jelas. Aku membuka pintu mobil namun tiba-tiba seseorang dari belakang memanggil ku.
"Bu Ratih...?"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 145 Episodes
Comments
Martini Ayat
Aku suka ceritanya, tp maaf ya thor, judul sm isinya kurang nyambung.
Maaf ini menurut aku.
2022-10-12
1
Weprina Rorah
like loading
2022-07-16
0
Devinta ApriL
dag dig dug ser..waah siapa yang panggil ya
2022-04-27
1