Plak
Satu tamparan mendarat di pipi ku, perih yang terasa membuat ku semakin membenci mas Rahman .bahkan, aku muak melihat sikapnya.
semenjak di PHK, mas Rahman malas bekerja dan tak lagi mencari pekerjaan, setiap hari keluyuran entah kemana.
" Kenapa mau tampar lagi, nih, tampar." Ucap ku menunjukkan pipi ku sebelah lagi, aku jengah dengan sikap mas Rahman yang semena-mena seperti ini.
"Kamu sudah keterlaluan, dia ini ibuku sama seperti ibumu juga tapi kenapa kamu tidak memberikan ibu uang," ucap mas Rahman.
"Dia ibumu bukan ibuku, Mas. Bukannya sudah aku berikan uang pada ibu."
Aku menatap tajam mas Rahman. Aku terpaksa menunda kekantor karena harus mengurus dua Ferguson di rumah ku.
"200 ribu mana cukup, berikan ibu uang 1 juta buat ibu pergi ke salon." Ucap mas Rahman, aku menatap ibu tersenyum kearah ku. Mungkin senang anaknya menampar ku.
"Hei, asal kamu tahu, ini uang ku bukan uang mu kalau uang mu silahkan kau berikan pada ibumu tapi ini uang ku," ucapku lantang, pada ibu dan mas Rahman dengan mata melotot mungkin tidak percaya mendengarkan suara ku dengan lantang.
Plak....
Kedua kalinya, mas Rahman menampar ku. Bagus, jadi aku mempunyai bukti untuk bercerai dari mas Rahman akan ku usir dia dari rumah ku ini.
Dengan hati yang penuh dendam dan pipi yang sangat perih, aku pergi ke kantor. Sementara Rania sudah ku suruh jaga pada baby sister. Sebelum ke kantor, aku berangkat ke rumah sakit untuk di visum agar aku punya bukti untuk menggugat lelaki brengsek itu.
"Kita ke rumah sakit ya ,pak," ucap ku pada sopir taxi pesanan ku dan aku melihat pipi ku merah juga sedikit bengkak akibat tamparan mas Rahman.
Kini keinginan ku sudah bulat untuk berpisah dengan mas Rahman. Namun sebelum bercerai aku akan menyimpan sertifikat rumahku agar tidak jatuh ke tangan mas Rahman dan ibunya itu.
Sekitar 30 menit, aku sampai di rumah sakit lalu mengambil no antrian. Selesai, aku bertemu dengan dokter untuk di visum baru aku pergi ke kantor dan hasil visum bisa di ambil 2 hari lagi .
****. **** ****
Di kantor , aku duduk di tempatku di samping Sinta yang hanya di halangi dinding kaca. Ku selesai beberapa berkas keuangan bulan belakang dan bulan ini lalu mengantarkan pada pak Angga.
Tok...tok ...tok...
Ku ketuk pintu ruangan pak Anggara tiga kali. Walaupun aku kenal dengannya tapi tetap aku panggil bapak karena aku harus profesional di kantor. Jangan sampai, aku di tendang di kantor ini sebelum aku bisa membalas dua benalu di rumah ku itu.
Terdengar suara menyuruh masuk, ku dorong pintu tersebut dan aku melihat seorang perempuan cantik yang kurang bahan sedang duduk di samping Anggara . Bahkan sangat lengket seperti perangko, kenapa aku yang cemburu ? Duh, aku harus bisa menetralisir hati ini.
"Ini berkas yang bapak minta tadi ?" Ucapku memberikan beberapa berkas tadi, masih berdiri tanpa di suruh duduk pegal cuy.
"Makasih, tih . Pipi kamu kenapa ?" tanya Anggara.
Tuh kan, kenapa harus perhatian sih. Bikin gr saja.
"Bukan apa-apa kok, pak. Kalau begitu saya permisi dulu," Aku dapat melihat perempuan itu menatap tajam kearah ku. Mungkin kekasih Anggara bukannya Anggara belum menikah kata Sinta.
Huff,,, kenapa hati ini berasa sakit. aku tidak boleh menyukai nya lagi. Aku punya suami," ucap ku membatin.
Aku membuang pikiran yang kini sedang berkecamuk dalam hati. Waktu istirahat kantor pun tiba, aku pergi ke cafe yang tak jauh dari kantor bersama Sinta dan menaiki mobilnya Sinta.
Sesampai di cafe, kami jalan beriringan masuk ke dalam kafe. Namun, tak sengaja ku lihat orang sangat familiar sedang bersama perempuan lain, dengan hati bergemuruh aku langsung menemui nya.
" Owhh....jadi begini kerjaan kamu setiap hari ?"
"Ra...tih, kok kamu ada disini?" tanya Mas Rahman, Aku lihat wajahnya yang mulai pucat. Mungkin terkejut karena aku memergokinya sedang berjalan dengan wanita lain.
"Kenapa, kaget kalau aku juga ada disini? Ternyata benar gosip yang beredar selama ini kalau kamu selingkuh, Mas," tanya dengan suara melengking. Pengunjung cafe melihat kearah kami, ada juga yang mulai berbisik-bisik sesama mereka.
"Semua itu tidak benar sayang, Mas tidak selingkuh," ucap suami tersayang ku dengan terbata-bata. Apa dia takut kalau aku tahu dia selingkuh.
Sayang pala, loe. Kalau sudah ketahuan istri baru sayang dulu kemana aja Ferguson. Aku berjalan mendekati wanita yang masih duduk, tidak ada sedikitpun rasa takut di wajahnya. Apa ia tidak malu menjalin hubungan dengan suami orang.
"Ehh, Mbak Ratih. Kenalkan aku Vania calon adik madu mbak, benarkan Mas?" ucap perempuan yang kurang bahan bergelayut manja di depan ku.
Mas Rahman terkejut dengan mata melotot hendak keluar. Mungkin, bingung mau jawab iya takut ku usir dari rumah ku.
"Apa benar yang di katakan perempuan ini, Mas," tanya ku menatap tajam kearahnya. Sinta menarik tanganku agar aku diam tapi aku tidak peduli. Aku bisa terima jika dia pelit pada istri tapi tidak jika ia berkhianat.
Karena berkhianat itu racun bagi rumah tangga dan aku tidak mau itu, dari pada di madu lebih baik bercerai. Aku wanita dan dia pun wanita tapi kenapa dia begitu tega menyakiti wanita lain.
"Bu..kan begitu, dia hanya teman satu kantor dengan Mas dulu. Jadi, Mas mau banyak ada lowongan gak di kantornya begitu," ucap Mas Rahman. Dapat ku lihat ia gugup, takut kali aku akan tahu hubungannya tapi aku bersedih. Toh, sebentar lagi aku akan menggugatnya.
Aku tak sanggup lagi bertahan dengan lelaki pelit dan tukang selingkuh lagi.
"Mas, kok kamu bohong. Kan tadi kamu bilang mau nikahin aku tapi kenapa kamu bohong," teriak wanita itu. .
Mas Rahman terbungkam, aku tahu wanita itu tidak mungkin berbohong. Ku pandang wajah suami yang sudah menikahi ku 2 tahun yang lalu. Berjanji memberikan kebahagiaan tapi yang ku rasa hanya penderitaan. Janji memberikan surga tapi yang di berikan neraka.
"Kita ketemu saja di pengadilan, Mas."
Ucapku berjalan meninggalkan cafe, rasa lapar dan haus hilang seketika karena melihat Mas Rahman yang tega mendua.
Mas Rahman berteriak berlari mengejar ku tapi aku sudah masuk ke dalam Taxi. Tak ku pedulikan lagi Mas Rahman yang terus mengejar ku, sementara Taxi terus berjalan. Aku mengambil gawai untuk menghubungi Sinta karena aku Inging pulang.
Lelah rasanya capek hati dan pikiran, melihat semua yang terjadi. Aku lupa meminta izin pada bos kalau aku pulang lebih awal. Takut Anggara akan marah, ku buka aplikasi yang berwarna hijau dan mengirim pesan pada Anggara.
[ Pak, aku izin pulang setengah hari ]
@Anggara
[ Kenapa, ada masalah ]
[ Tidak ada, Pak. Cuma ada sedikit masalah keluarga ] Aku kembali mengirim pesan pada Anggara dan memasukkan kembali gawai ke dalam tas, aku memijit pelipis yang sedikit nyeri. Hatiku nyeri dan tidak menyangka jika rumah tangga ku harus di ujung tanduk.
Dulu, sebelum mendapatkan aku. Mas Rahman begitu royal, apapun di belikan tanpa di minta tapi setelah apa yang di dapatkan, mulailah keluar sifat aslinya yang pelit. Dulu, aku mencoba bersabar berharap ia akan berubah tapi ternyata sifat itu tidak berubah malah semakin menjadi-jadi.
🌷🌷🌷
"Kita sudah sampai, Bu," ucap sopir taxi membuyarkan lamunan ku.
Karena melamun aku sampai tidak tahu kalau sudah sampai rumah, aku melihat seseorang perempuan dengan baju minim berdiri di depan rumah ku. Siapa wanita itu? Karena penasaran aku langsung turun setelah membayar ongkos taxi, aku langsung berjalan sampai ke depan pintu rumah.
"Anda siapa, ya?" tanya ku yang berdiri tepat di belakangnya. Ku lihat wanita itu berbalik berhadapan, tak lupa baju minim dan kaca mata bertengger di hidungnya. Ia tersenyum pada, tak lupa rambutnya yang di cat dan pipi yang sudah merah bagaikan ondel-ondel.
"Kenapa, Masak Ratih gak kenal sama aku lagi?" Ku dengar suara yang sangat familiar di telingaku tapi siapa, aku kembali mengingat siapa wanita yang di depan ku.
"Kamu Lisa, adiknya Mas Rahman. Ngapain kamu kesini?" tanya ku ketus.
Aku baru ingat kalau dia adalah adik Mas Rahman yang kuliah. Buat apa dia kesini, bukan kah selama ini dia tinggal di kontrakan dan lalu, apa ini. Bawa koper segala, apa dia mau numpang disini.
"Aku mau tinggal disini dong, Mbak. Kan ini rumah Mas Rahman juga, buka pintunya dong Mbak. Aku udah pegel dari tadi berdiri," ucap Lisa memerintahkan aku untuk membuka pintu.
Enak saja, ibu kemana sih? Kok dirumah tidak ada orang. Lalu, kemana Rania sama baby sitter itu. Aku mengambil gawai lalu menghubungi Mbak Siti sebagi baby sitter.
"Mbak dimana? Kok rumah ke kunci, lalu Rania dimana?" tanya ku setelah ponsel terhubung. Aku takut terjadi apa-apa pada Rania, apa ini kerjaan ibu.
"Aku dirumah Mbak Tini, Mbak. Tadi, di suruh keluar sama ibu Marni karena beliau pergi,"
Apa, ibu pergi keluar tapi kemana, aku mematikan ponsel lalu pergi ke rumah Mbak Tini untuk menjemput Rania. Setelah ibu pulang, aku akan tanya kemana ibu pergi. Enak saja, udah tinggal numpang di rumah tapi pergi seenaknya saja.
Aku berjalan kaki karena tidak jauh dari rumah, ku lihat Mbak Siti mendorong stroller. Aku terus berjalan dan mengendong Rania lalu mengajak mereka pulang.
"Tadi ibu bilang apa sebelum pergi?" tanya ku.
"Sa...ya tidak tahu, Bu,"
Aku melihat Mbak Siti ketakutan, raut wajahnya mulai gelisah. Apa dia menyembunyikan sesuatu dari ku, sebaiknya ku tanyakan saja pada Mbak Siti. Perasaan ku tidak tenang.'
"Mbak apa tahu sesuatu, Jangan bohong. Saya tahu Mbak menyembunyikan sesuatu dari saya," tanya ku menatap tajam ke arah Mbak Siti, ia menunduk sambil memegang stroller dengan bergetar. Pasti sudah terjadi sesuatu di rumah.
"Tadi saya lihat, ibu masuk ke kamar Mbak,"
"Apa...!!
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 145 Episodes
Comments
Weprina Rorah
like
2022-07-16
0
Uthie
Dikihhu.. keluarga gak tau malu dan tau diri emang itu, Ratih 😡😡😡
2022-06-13
0
Sukarmi Iskandar
nambah lagi benalunya
2022-05-13
1