ketika istriku tak lagi meminta uang (4)

Plak

Satu tamparan mendarat di pipi ku, perih yang terasa membuat ku semakin membenci mas Rahman .bahkan, aku muak melihat sikapnya.

semenjak di PHK, mas Rahman malas bekerja dan tak lagi mencari pekerjaan, setiap hari keluyuran entah kemana.

" Kenapa mau tampar lagi, nih, tampar." Ucap ku menunjukkan pipi ku sebelah lagi, aku jengah dengan sikap mas Rahman yang semena-mena seperti ini.

"Kamu sudah keterlaluan, dia ini ibuku sama seperti ibumu juga tapi kenapa kamu tidak memberikan ibu uang," ucap mas Rahman.

"Dia ibumu bukan ibuku, Mas. Bukannya sudah aku berikan uang pada ibu."

Aku menatap tajam mas Rahman. Aku terpaksa menunda kekantor karena harus mengurus dua Ferguson di rumah ku.

"200 ribu mana cukup, berikan ibu uang 1 juta buat ibu pergi ke salon." Ucap mas Rahman, aku menatap ibu tersenyum kearah ku. Mungkin senang anaknya menampar ku.

"Hei, asal kamu tahu, ini uang ku bukan uang mu kalau uang mu silahkan kau berikan pada ibumu tapi ini uang ku," ucapku lantang, pada ibu dan mas Rahman dengan mata melotot mungkin tidak percaya mendengarkan suara ku dengan lantang.

Plak....

Kedua kalinya, mas Rahman menampar ku. Bagus, jadi aku mempunyai bukti untuk bercerai dari mas Rahman akan ku usir dia dari rumah ku ini.

Dengan hati yang penuh dendam dan pipi yang sangat perih, aku pergi ke kantor. Sementara Rania sudah ku suruh jaga pada baby sister. Sebelum ke kantor, aku berangkat ke rumah sakit untuk di visum agar aku punya bukti untuk menggugat lelaki brengsek itu.

"Kita ke rumah sakit ya ,pak," ucap ku pada sopir taxi pesanan ku dan aku melihat pipi ku merah juga sedikit bengkak akibat tamparan mas Rahman.

Kini keinginan ku sudah bulat untuk berpisah dengan mas Rahman. Namun sebelum bercerai aku akan menyimpan sertifikat rumahku agar tidak jatuh ke tangan mas Rahman dan ibunya itu.

Sekitar 30 menit, aku sampai di rumah sakit lalu mengambil no antrian. Selesai, aku bertemu dengan dokter untuk di visum baru aku pergi ke kantor dan hasil visum bisa di ambil 2 hari lagi .

****. **** ****

Di kantor , aku duduk di tempatku di samping Sinta yang hanya di halangi dinding kaca. Ku selesai beberapa berkas keuangan bulan belakang dan bulan ini lalu mengantarkan pada pak Angga.

Tok...tok ...tok...

Ku ketuk pintu ruangan pak Anggara tiga kali. Walaupun aku kenal dengannya tapi tetap aku panggil bapak karena aku harus profesional di kantor. Jangan sampai, aku di tendang di kantor ini sebelum aku bisa membalas dua benalu di rumah ku itu.

Terdengar suara menyuruh masuk, ku dorong pintu tersebut dan aku melihat seorang perempuan cantik yang kurang bahan sedang duduk di samping Anggara . Bahkan sangat lengket seperti perangko, kenapa aku yang cemburu ? Duh, aku harus bisa menetralisir hati ini.

"Ini berkas yang bapak minta tadi ?" Ucapku memberikan beberapa berkas tadi, masih berdiri tanpa di suruh duduk pegal cuy.

"Makasih, tih . Pipi kamu kenapa ?" tanya Anggara.

Tuh kan, kenapa harus perhatian sih. Bikin gr saja.

"Bukan apa-apa kok, pak. Kalau begitu saya permisi dulu," Aku dapat melihat perempuan itu menatap tajam kearah ku. Mungkin kekasih Anggara bukannya Anggara belum menikah kata Sinta.

Huff,,, kenapa hati ini berasa sakit. aku tidak boleh menyukai nya lagi. Aku punya suami," ucap ku membatin.

Aku membuang pikiran yang kini sedang berkecamuk dalam hati. Waktu istirahat kantor pun tiba, aku pergi ke cafe yang tak jauh dari kantor bersama Sinta dan menaiki mobilnya Sinta.

Sesampai di cafe, kami jalan beriringan masuk ke dalam kafe. Namun, tak sengaja ku lihat orang sangat familiar sedang bersama perempuan lain, dengan hati bergemuruh aku langsung menemui nya.

" Owhh....jadi begini kerjaan kamu setiap hari ?"

"Ra...tih, kok kamu ada disini?" tanya Mas Rahman, Aku lihat wajahnya yang mulai pucat. Mungkin terkejut karena aku memergokinya sedang berjalan dengan wanita lain.

"Kenapa, kaget kalau aku juga ada disini? Ternyata benar gosip yang beredar selama ini kalau kamu selingkuh, Mas," tanya dengan suara melengking. Pengunjung cafe melihat kearah kami, ada juga yang mulai berbisik-bisik sesama mereka.

"Semua itu tidak benar sayang, Mas tidak selingkuh," ucap suami tersayang ku dengan terbata-bata. Apa dia takut kalau aku tahu dia selingkuh.

Sayang pala, loe. Kalau sudah ketahuan istri baru sayang dulu kemana aja Ferguson. Aku berjalan mendekati wanita yang masih duduk, tidak ada sedikitpun rasa takut di wajahnya. Apa ia tidak malu menjalin hubungan dengan suami orang.

"Ehh, Mbak Ratih. Kenalkan aku Vania calon adik madu mbak, benarkan Mas?" ucap perempuan yang kurang bahan bergelayut manja di depan ku.

Mas Rahman terkejut dengan mata melotot hendak keluar. Mungkin, bingung mau jawab iya takut ku usir dari rumah ku.

"Apa benar yang di katakan perempuan ini, Mas," tanya ku menatap tajam kearahnya. Sinta menarik tanganku agar aku diam tapi aku tidak peduli. Aku bisa terima jika dia pelit pada istri tapi tidak jika ia berkhianat.

Karena berkhianat itu racun bagi rumah tangga dan aku tidak mau itu, dari pada di madu lebih baik bercerai. Aku wanita dan dia pun wanita tapi kenapa dia begitu tega menyakiti wanita lain.

"Bu..kan begitu, dia hanya teman satu kantor dengan Mas dulu. Jadi, Mas mau banyak ada lowongan gak di kantornya begitu," ucap Mas Rahman. Dapat ku lihat ia gugup, takut kali aku akan tahu hubungannya tapi aku bersedih. Toh, sebentar lagi aku akan menggugatnya.

Aku tak sanggup lagi bertahan dengan lelaki pelit dan tukang selingkuh lagi.

"Mas, kok kamu bohong. Kan tadi kamu bilang mau nikahin aku tapi kenapa kamu bohong," teriak wanita itu. .

Mas Rahman terbungkam, aku tahu wanita itu tidak mungkin berbohong. Ku pandang wajah suami yang sudah menikahi ku 2 tahun yang lalu. Berjanji memberikan kebahagiaan tapi yang ku rasa hanya penderitaan. Janji memberikan surga tapi yang di berikan neraka.

"Kita ketemu saja di pengadilan, Mas."

Ucapku berjalan meninggalkan cafe, rasa lapar dan haus hilang seketika karena melihat Mas Rahman yang tega mendua.

Mas Rahman berteriak berlari mengejar ku tapi aku sudah masuk ke dalam Taxi. Tak ku pedulikan lagi Mas Rahman yang terus mengejar ku, sementara Taxi terus berjalan. Aku mengambil gawai untuk menghubungi Sinta karena aku Inging pulang.

Lelah rasanya capek hati dan pikiran, melihat semua yang terjadi. Aku lupa meminta izin pada bos kalau aku pulang lebih awal. Takut Anggara akan marah, ku buka aplikasi yang berwarna hijau dan mengirim pesan pada Anggara.

[ Pak, aku izin pulang setengah hari ]

@Anggara

[ Kenapa, ada masalah ]

[ Tidak ada, Pak. Cuma ada sedikit masalah keluarga ] Aku kembali mengirim pesan pada Anggara dan memasukkan kembali gawai ke dalam tas, aku memijit pelipis yang sedikit nyeri. Hatiku nyeri dan tidak menyangka jika rumah tangga ku harus di ujung tanduk.

Dulu, sebelum mendapatkan aku. Mas Rahman begitu royal, apapun di belikan tanpa di minta tapi setelah apa yang di dapatkan, mulailah keluar sifat aslinya yang pelit. Dulu, aku mencoba bersabar berharap ia akan berubah tapi ternyata sifat itu tidak berubah malah semakin menjadi-jadi.

🌷🌷🌷

"Kita sudah sampai, Bu," ucap sopir taxi membuyarkan lamunan ku.

Karena melamun aku sampai tidak tahu kalau sudah sampai rumah, aku melihat seseorang perempuan dengan baju minim berdiri di depan rumah ku. Siapa wanita itu? Karena penasaran aku langsung turun setelah membayar ongkos taxi, aku langsung berjalan sampai ke depan pintu rumah.

"Anda siapa, ya?" tanya ku yang berdiri tepat di belakangnya. Ku lihat wanita itu berbalik berhadapan, tak lupa baju minim dan kaca mata bertengger di hidungnya. Ia tersenyum pada, tak lupa rambutnya yang di cat dan pipi yang sudah merah bagaikan ondel-ondel.

"Kenapa, Masak Ratih gak kenal sama aku lagi?" Ku dengar suara yang sangat familiar di telingaku tapi siapa, aku kembali mengingat siapa wanita yang di depan ku.

"Kamu Lisa, adiknya Mas Rahman. Ngapain kamu kesini?" tanya ku ketus.

Aku baru ingat kalau dia adalah adik Mas Rahman yang kuliah. Buat apa dia kesini, bukan kah selama ini dia tinggal di kontrakan dan lalu, apa ini. Bawa koper segala, apa dia mau numpang disini.

"Aku mau tinggal disini dong, Mbak. Kan ini rumah Mas Rahman juga, buka pintunya dong Mbak. Aku udah pegel dari tadi berdiri," ucap Lisa memerintahkan aku untuk membuka pintu.

Enak saja, ibu kemana sih? Kok dirumah tidak ada orang. Lalu, kemana Rania sama baby sitter itu. Aku mengambil gawai lalu menghubungi Mbak Siti sebagi baby sitter.

"Mbak dimana? Kok rumah ke kunci, lalu Rania dimana?" tanya ku setelah ponsel terhubung. Aku takut terjadi apa-apa pada Rania, apa ini kerjaan ibu.

"Aku dirumah Mbak Tini, Mbak. Tadi, di suruh keluar sama ibu Marni karena beliau pergi,"

Apa, ibu pergi keluar tapi kemana, aku mematikan ponsel lalu pergi ke rumah Mbak Tini untuk menjemput Rania. Setelah ibu pulang, aku akan tanya kemana ibu pergi. Enak saja, udah tinggal numpang di rumah tapi pergi seenaknya saja.

Aku berjalan kaki karena tidak jauh dari rumah, ku lihat Mbak Siti mendorong stroller. Aku terus berjalan dan mengendong Rania lalu mengajak mereka pulang.

"Tadi ibu bilang apa sebelum pergi?" tanya ku.

"Sa...ya tidak tahu, Bu,"

Aku melihat Mbak Siti ketakutan, raut wajahnya mulai gelisah. Apa dia menyembunyikan sesuatu dari ku, sebaiknya ku tanyakan saja pada Mbak Siti. Perasaan ku tidak tenang.'

"Mbak apa tahu sesuatu, Jangan bohong. Saya tahu Mbak menyembunyikan sesuatu dari saya," tanya ku menatap tajam ke arah Mbak Siti, ia menunduk sambil memegang stroller dengan bergetar. Pasti sudah terjadi sesuatu di rumah.

"Tadi saya lihat, ibu masuk ke kamar Mbak,"

"Apa...!!

Terpopuler

Comments

Weprina Rorah

Weprina Rorah

like

2022-07-16

0

Uthie

Uthie

Dikihhu.. keluarga gak tau malu dan tau diri emang itu, Ratih 😡😡😡

2022-06-13

0

Sukarmi Iskandar

Sukarmi Iskandar

nambah lagi benalunya

2022-05-13

1

lihat semua
Episodes
1 ketika istriku tak lagi meminta uang
2 ketika istriku tak lagi meminta uang (2)
3 ketika istriku tak lagi meminta uang (3)
4 ketika istriku tak lagi meminta uang (4)
5 ketika istriku tak lagi meminta uang (5)
6 ketika istriku tak lagi meminta uang (6)
7 ketika Istriku tak lagi meminta uang (7)
8 Ketika istriku tak lagi meminta uang (8)
9 Ketika istriku tak lagi meminta uang (9)
10 Ketika istriku tak lagi meminta uang 10
11 ketika istriku tak lagi meminta uang (11)
12 ketika istriku tak lagi meminta uang (12)
13 ketika istriku tak lagi meminta uang (13)
14 ketika istriku tak lagi meminta uang (14)
15 ketika istriku tak lagi meminta uang (15)
16 ketika Istriku tak lagi meminta uang (16)
17 ketika istriku tak lagi meminta uang (17 )
18 ketika istriku tak lagi meminta uang (18)
19 ketika istriku tak lagi meminta uang (19)
20 ketika istriku tak lagi meminta uang 20
21 ketika Istriku tak lagi meminta uang 21
22 ketika istriku tak lagi meminta uang 22
23 ketika istriku tak lagi meminta uang 23
24 ketika istriku tak lagi meminta uang 24
25 ketika istriku tak lagi meminta uang 25
26 ketika istriku tak lagi meminta uang 26
27 ketika istriku tak lagi meminta uang 27
28 ketika istriku tak lagi meminta uang 28
29 ketika istriku tak lagi meminta uang 29
30 ketika istriku tak lagi meminta uang 30
31 ketika istriku tak lagi meminta uang 31
32 ketika istriku tak lagi meminta uang 32
33 ketika istriku tak lagi meminta uang 33
34 ketika istriku tak lagi meminta uang 34
35 ketika istriku tak lagi meminta uang 35
36 Ketika istriku tak lagi meminta uang 36
37 ketika istriku tak lagi meminta uang 37
38 Ketika istriku tak lagi meminta uang 38
39 Ketika istriku tak lagi meminta uang 39
40 ketika istriku tak lagi meminta uang 40
41 ketika istriku tak lagi meminta uang 41
42 Ketika istriku tak lagi meminta uang 42
43 ketika istriku tak lagi meminta uang 43
44 Ketika istriku tak lagi meminta uang 44
45 Ketika istriku tak lagi meminta uang 45
46 ketika istriku tak lagi meminta uang 46
47 Ketika istriku tak lagi meminta uang 47
48 Ketika istriku tak lagi meminta uang 48
49 Ketika istriku tak lagi meminta uang 49
50 Ketika istriku tak lagi meminta uang 50
51 Ketika istriku tak lagi meminta uang 51
52 Ketika istriku tak lagi meminta uang 52
53 ketika istriku tak lagi meminta uang 53
54 ketika istriku tak lagi meminta uang 54
55 Ketika istriku tak lagi meminta uang 55
56 Ketika istriku tak lagi meminta uang 56
57 ketika istriku tak lagi meminta uang 57
58 ketika istriku tak lagi meminta uang 58
59 ketika istriku tak lagi meminta uang 59
60 ketika istriku tak lagi meminta uang 60
61 Ketika istriku tak lagi meminta uang 61
62 Ketika istriku tak lagi meminta uang 62
63 Ketika istriku tak lagi meminta uang 63
64 Ketika istriku tak lagi meminta uang 64
65 Ketika istriku tak lagi meminta uang 65
66 ketika istriku tak lagi meminta uang 66
67 Ketika istriku tak lagi meminta uang 67
68 Ketika istriku tak lagi meminta uang 68
69 Ketika istriku tak lagi meminta uang 69
70 Ketika istriku tak lagi meminta uang 70
71 Ketika istriku tak lagi meminta uang 71
72 Ketika istriku tak lagi meminta uang 72
73 Ketika istriku tak lagi meminta uang 73
74 ketika istriku tak lagi meminta uang 74
75 Ketika istriku tak lagi meminta uang 75
76 ketika istriku tak lagi meminta uang 76
77 Ketika istriku tak lagi meminta uang 77
78 Ketika istriku tak lagi meminta uang 78
79 Ketika istriku tak lagi meminta uang 79
80 Ketika istriku tak lagi meminta uang 80
81 Ketika istriku tak lagi meminta uang 81
82 Ketika istriku tak lagi meminta uang 82
83 Ketika istriku tak lagi meminta uang 83
84 Ketika istriku tak lagi meminta uang 84
85 Ketika istriku tak lagi meminta uang 85
86 Ketika istriku tak lagi meminta uang 86
87 Ketika istriku tak lagi meminta uang 87
88 Ketika istriku tak lagi meminta uang 88
89 Ketika istriku tak lagi meminta uang 89
90 Ketika istriku tak lagi meminta uang 90
91 Ketika istriku tak lagi meminta uang 91
92 Ketika istriku tak lagi meminta uang 92
93 Ketika istriku tak lagi meminta uang 93
94 Ketika istriku tak lagi meminta uang 94
95 Ketika istriku tak lagi meminta uang 95
96 Ketika istriku tak lagi meminta uang 96
97 Ketika istriku tak lagi meminta uang 97
98 Ketika istriku tak lagi meminta uang 98
99 Ketika istriku tak lagi meminta uang 99
100 Ketika istriku tak lagi meminta uang 100
101 Ketika istriku tak lagi meminta uang 101
102 Ketika istriku tak lagi meminta uang 102
103 Ketika istriku tak lagi meminta uang 103
104 Ketika istriku tak lagi meminta uang 104
105 Ketika istriku tak lagi meminta uang 105
106 Ketika istriku tak lagi meminta uang 106
107 Ketika istriku tak lagi meminta uang 107
108 Ketika istriku tak lagi meminta uang 108
109 ketika istriku tak lagi meminta uang 109
110 Ketika istriku tak lagi meminta uang 110
111 Ketika istriku tak lagi meminta uang 111
112 Ketika istriku tak lagi meminta 112
113 ketika istriku tak lagi meminta uang 113
114 Ketika istriku tak lagi meminta uang 114
115 Ketika istriku tak lagi meminta uang 115
116 ketika istriku tak lagi meminta uang 116
117 Ketika istriku tak lagi meminta uang 117
118 Ketika istriku tak lagi meminta uang 118
119 Ketika istriku tak lagi meminta uang 119
120 ketika istriku tak lagi meminta uang 120
121 Ketika istriku tak lagi meminta 121
122 ketika istriku tak lagi meminta uang 122
123 Ketika istriku tak lagi meminta uang 123
124 Ketika istriku tak lagi meminta uang 124
125 Ketika istriku tak lagi meminta 125
126 Ketika istriku tak lagi meminta uang 126
127 Ketika istriku tak lagi meminta 127
128 Ketika istriku tak lagi meminta uang 128
129 istriku tak lagi meminta uang 129
130 ketika istriku tak lagi meminta uang 130
131 Terkuaknya Rahasia
132 Ketika istriku tak lagi meminta uang 132
133 Ketika istriku tak lagi meminta uang 133
134 bab 134
135 Bu Sekar di tangkap
136 Bab 136
137 bab 137
138 Memadu kasih
139 Ada polisi
140 Innalilahi
141 bab 141
142 Kepulangan Aira
143 Rindu teman masa kecil
144 Jadi nyamuk
145 Dilon
Episodes

Updated 145 Episodes

1
ketika istriku tak lagi meminta uang
2
ketika istriku tak lagi meminta uang (2)
3
ketika istriku tak lagi meminta uang (3)
4
ketika istriku tak lagi meminta uang (4)
5
ketika istriku tak lagi meminta uang (5)
6
ketika istriku tak lagi meminta uang (6)
7
ketika Istriku tak lagi meminta uang (7)
8
Ketika istriku tak lagi meminta uang (8)
9
Ketika istriku tak lagi meminta uang (9)
10
Ketika istriku tak lagi meminta uang 10
11
ketika istriku tak lagi meminta uang (11)
12
ketika istriku tak lagi meminta uang (12)
13
ketika istriku tak lagi meminta uang (13)
14
ketika istriku tak lagi meminta uang (14)
15
ketika istriku tak lagi meminta uang (15)
16
ketika Istriku tak lagi meminta uang (16)
17
ketika istriku tak lagi meminta uang (17 )
18
ketika istriku tak lagi meminta uang (18)
19
ketika istriku tak lagi meminta uang (19)
20
ketika istriku tak lagi meminta uang 20
21
ketika Istriku tak lagi meminta uang 21
22
ketika istriku tak lagi meminta uang 22
23
ketika istriku tak lagi meminta uang 23
24
ketika istriku tak lagi meminta uang 24
25
ketika istriku tak lagi meminta uang 25
26
ketika istriku tak lagi meminta uang 26
27
ketika istriku tak lagi meminta uang 27
28
ketika istriku tak lagi meminta uang 28
29
ketika istriku tak lagi meminta uang 29
30
ketika istriku tak lagi meminta uang 30
31
ketika istriku tak lagi meminta uang 31
32
ketika istriku tak lagi meminta uang 32
33
ketika istriku tak lagi meminta uang 33
34
ketika istriku tak lagi meminta uang 34
35
ketika istriku tak lagi meminta uang 35
36
Ketika istriku tak lagi meminta uang 36
37
ketika istriku tak lagi meminta uang 37
38
Ketika istriku tak lagi meminta uang 38
39
Ketika istriku tak lagi meminta uang 39
40
ketika istriku tak lagi meminta uang 40
41
ketika istriku tak lagi meminta uang 41
42
Ketika istriku tak lagi meminta uang 42
43
ketika istriku tak lagi meminta uang 43
44
Ketika istriku tak lagi meminta uang 44
45
Ketika istriku tak lagi meminta uang 45
46
ketika istriku tak lagi meminta uang 46
47
Ketika istriku tak lagi meminta uang 47
48
Ketika istriku tak lagi meminta uang 48
49
Ketika istriku tak lagi meminta uang 49
50
Ketika istriku tak lagi meminta uang 50
51
Ketika istriku tak lagi meminta uang 51
52
Ketika istriku tak lagi meminta uang 52
53
ketika istriku tak lagi meminta uang 53
54
ketika istriku tak lagi meminta uang 54
55
Ketika istriku tak lagi meminta uang 55
56
Ketika istriku tak lagi meminta uang 56
57
ketika istriku tak lagi meminta uang 57
58
ketika istriku tak lagi meminta uang 58
59
ketika istriku tak lagi meminta uang 59
60
ketika istriku tak lagi meminta uang 60
61
Ketika istriku tak lagi meminta uang 61
62
Ketika istriku tak lagi meminta uang 62
63
Ketika istriku tak lagi meminta uang 63
64
Ketika istriku tak lagi meminta uang 64
65
Ketika istriku tak lagi meminta uang 65
66
ketika istriku tak lagi meminta uang 66
67
Ketika istriku tak lagi meminta uang 67
68
Ketika istriku tak lagi meminta uang 68
69
Ketika istriku tak lagi meminta uang 69
70
Ketika istriku tak lagi meminta uang 70
71
Ketika istriku tak lagi meminta uang 71
72
Ketika istriku tak lagi meminta uang 72
73
Ketika istriku tak lagi meminta uang 73
74
ketika istriku tak lagi meminta uang 74
75
Ketika istriku tak lagi meminta uang 75
76
ketika istriku tak lagi meminta uang 76
77
Ketika istriku tak lagi meminta uang 77
78
Ketika istriku tak lagi meminta uang 78
79
Ketika istriku tak lagi meminta uang 79
80
Ketika istriku tak lagi meminta uang 80
81
Ketika istriku tak lagi meminta uang 81
82
Ketika istriku tak lagi meminta uang 82
83
Ketika istriku tak lagi meminta uang 83
84
Ketika istriku tak lagi meminta uang 84
85
Ketika istriku tak lagi meminta uang 85
86
Ketika istriku tak lagi meminta uang 86
87
Ketika istriku tak lagi meminta uang 87
88
Ketika istriku tak lagi meminta uang 88
89
Ketika istriku tak lagi meminta uang 89
90
Ketika istriku tak lagi meminta uang 90
91
Ketika istriku tak lagi meminta uang 91
92
Ketika istriku tak lagi meminta uang 92
93
Ketika istriku tak lagi meminta uang 93
94
Ketika istriku tak lagi meminta uang 94
95
Ketika istriku tak lagi meminta uang 95
96
Ketika istriku tak lagi meminta uang 96
97
Ketika istriku tak lagi meminta uang 97
98
Ketika istriku tak lagi meminta uang 98
99
Ketika istriku tak lagi meminta uang 99
100
Ketika istriku tak lagi meminta uang 100
101
Ketika istriku tak lagi meminta uang 101
102
Ketika istriku tak lagi meminta uang 102
103
Ketika istriku tak lagi meminta uang 103
104
Ketika istriku tak lagi meminta uang 104
105
Ketika istriku tak lagi meminta uang 105
106
Ketika istriku tak lagi meminta uang 106
107
Ketika istriku tak lagi meminta uang 107
108
Ketika istriku tak lagi meminta uang 108
109
ketika istriku tak lagi meminta uang 109
110
Ketika istriku tak lagi meminta uang 110
111
Ketika istriku tak lagi meminta uang 111
112
Ketika istriku tak lagi meminta 112
113
ketika istriku tak lagi meminta uang 113
114
Ketika istriku tak lagi meminta uang 114
115
Ketika istriku tak lagi meminta uang 115
116
ketika istriku tak lagi meminta uang 116
117
Ketika istriku tak lagi meminta uang 117
118
Ketika istriku tak lagi meminta uang 118
119
Ketika istriku tak lagi meminta uang 119
120
ketika istriku tak lagi meminta uang 120
121
Ketika istriku tak lagi meminta 121
122
ketika istriku tak lagi meminta uang 122
123
Ketika istriku tak lagi meminta uang 123
124
Ketika istriku tak lagi meminta uang 124
125
Ketika istriku tak lagi meminta 125
126
Ketika istriku tak lagi meminta uang 126
127
Ketika istriku tak lagi meminta 127
128
Ketika istriku tak lagi meminta uang 128
129
istriku tak lagi meminta uang 129
130
ketika istriku tak lagi meminta uang 130
131
Terkuaknya Rahasia
132
Ketika istriku tak lagi meminta uang 132
133
Ketika istriku tak lagi meminta uang 133
134
bab 134
135
Bu Sekar di tangkap
136
Bab 136
137
bab 137
138
Memadu kasih
139
Ada polisi
140
Innalilahi
141
bab 141
142
Kepulangan Aira
143
Rindu teman masa kecil
144
Jadi nyamuk
145
Dilon

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!