"Bu Ratih..!"
Seseorang memanggil aku dari belakang, aku merasa takut kalau di belakangku adalah pak Yanto. Dengan tubuh sedikit gemetar, aku memutarkan badan untuk melihat siapa gerangan yang memanggil ku. Benarkah itu pak Yanto atau orang lain.
"Pak Anggara, kok ada disini?" tanya ku setelah melihat siapa yang berada di belakang ku ternyata pak Anggara, hati ku sedikit lega ternyata bukan pak Yanto.
"Aku mau ke rumah pak Yanto, kamu buat apa kesini?" tanya Pak Anggara balik padaku.
Waduh, aku harus jawab apa? Apa aku harus jawab kalau aku mengikuti pak Yanto. Tapi untuk apa Anggara kesini, bukannya pak Anggara sudah menyuruh anak buahnya untuk menyelidiki pak Yanto.
"A..ku hanya ingin kerumah teman, tapi tahunya ia sudah pindah," ucapku berbohong.
Pak Anggara hanya tersenyum, bahkan senyuman tipis itu tak terlihat jelas. Entah apa yang di pikirannya sekarang.
"Ayo, kita masuk,"
"Masuk, kemana pak?" tanyaku.
Aduh, jangan sampai deh aku masuk ke dalam. Bisa-bisa pak Yanto curiga padaku tapi kalau tidak masuk pak Anggara yang akan curiga padaku. Bagaimana ini, apa yang harus aku lakukan sekarang.
"Sudah, gak usah panik gitu. Aku tidak akan bilang pada pak Yanto kalau kamu ngikutin dia dari tadi,"
Hah, kenapa dia tahu kalau aku ngikutin pak Yanto. Apa di sini ada mata-mata dari pak Anggara, aku melihat ke segala arah dan mataku tertuju pada dua orang yang memakai baju hitam yang berdiri tidak jauh dari rumah pak Yanto.
"Baik, Pak," kata ku berjalan mengikuti langkah kaki Pak Anggara yang memasuki halaman rumah pak Yanto, Kami berdiri tepat di depan pintu rumah minimalis ini.
"Pak Yanto ternyata sudah datang, Ayo masuk dulu," kata pak Yanto sudah membuka pintu. Kami berjalan masuk dan duduk di ruang tamu, tapi tak terlihat ibu tadi. Kemana dia? Aku meminta izin untuk ke kamar mandi karena kebelet pipis, saat melewati satu kamar tak sengaja aku mendengar suara seseorang. Karena penasaran, aku mencoba untuk menguping.
"Sebentar lagi balas dendam kita akan tercapai, Bu. Aku akan membuat pak Sanjaya bersujud di kaki ibu,"
Hah, balas dendam! Pak Sanjaya, ada hubungan apa mereka dengan pak Sanjaya. Jiwa penasaran mulai keluar tapi aku tidak bisa terus di sini. Kalau pak Yanto tahu aku bisa bahaya, sebaiknya aku ke toilet saja dan setelah pulang dari sini aku akan bicara pada Anggara.
Aku berjalan ke kamar mandi yang dekat dengan dapur, entah apa yang di bicarakan oleh pak Yanto. Aku tidak tahu, biarlah nanti ku tanyakan pada pak Anggara. Selesai di kamar mandi aku kembali berjalan ke luar dan melihat pintu kamar tadi sudah di tutup.
Disana sudah terlihat lelaki yang berusia 28 tahun duduk di samping pak Yanto, matanya menatap tajam ke arahku. Aku sedikit takut kalau ia tahu kalau aku sudah mengetahui rahasianya, aku duduk di samping pak Yanto.
"Jadi bagaimana, Pak?" tanya Pak Yanto.
"Besok keponakan pak Yanto sudah boleh masuk ke kantor,"
"Apa....!!"
Aku refleks berteriak kala mendengar Pak Anggara ingin memasukkan keponakan pak Yanto ke perusahaannya, aku menatap ke arah pak Anggara memberi Kode agar tidak membiarkan keponakan pak Yanto masuk tapi bagaimana caranya, kalau aku kasih tahu sekarang pasti aku akan celaka, aduh bagaimana ini.
"Kenapa kok teriak, Bu?" tanya pak Yanto.
Aku jadi gelagapan, sementara keponakan pak Yanto menatap ku tajam bahkan matanya tak terlepas dari mataku.
"Ahh, tidak apa-apa, Pak! cuma kaget saja," kata ku.
Ku lihat pak Anggara hanya mengangguk, sementara aku hanya diam. Biarlah nanti di dalam mobil aku mengatakan padanya, lagian ada apa sebenarnya, kenapa banyak sekali rahasia yang belum terungkap.
Ahh, kenapa aku khawatir padanya. Bukankah kami bukan siapa-siapa, gara-gara memikirkan pak Yanto dan keponakannya, aku jadi lupa untuk menghubungi Dewi untuk mencarikan pengacara padaku.
[ Wi, ada teman kamu gak yang memiliki pengacara handal ] aku mengirim pesan di sela-sela pak Yanto berbicara.
[Kenapa,Tih? Ada kok]
[ Siapa ] aku kembali mengirim pesan pada Dewi.
[ Anggara 🤣🤣😊😊 ] lagi-lagi Dewi mengirimkan pesan , kali ini tidak lupa dengan emot ngakak dan tersenyum.
Entah apa yang lucu sehingga ia tertawa setiap kali ia mengatakan Anggara, apa mereka berdua memiliki hubungan. Entahlah aku tidak ingin memikirkannya.
[Memangnya ada apa, Ra. Kok pakai cari pengacara segala]
[ Aku mau menggugat cerai Mas Rahman ] aku masih saja meladeni pesan Dewi.
[ Wah, lampu hijau ni ]
Dewi lagi-lagi mengirim pesan padaku, kali ini membuat mata ku mendelik. Lampu hijau, maksudnya apa? Apa sebenarnya tujuan Dewk mengatakan itu.
Tak ingin semakin panjang, aku berhenti meladeni pesan Dewi dan aku mematikan ponsel agar tidak terganggu dengan pesan Dewi. Setelah semua selesai, kamu berdua berjalan keluar dan pulang ke rumah, Fix kalau Riko keponakan pak Yanto ikut bekerja di kantor tapi belum di tentukan sebagai apa.
Sepanjang perjalanan, aku hanya diam bahkan tak ingin berbicara dengan pak Anggara. kali ini ia mengantarkan aku pulang walaupun aku sudah menolaknya berulang kali, tidak apalah sekali-kali kan naik mobil mewah milik pak Anggara, Ahh matrenya kau Ratih.
"Kok diam, kenapa?" Aku menoleh ke samping lalu sekilas pandangan kami beradu dan cepat-cepat aku mengalihkan pandangan ke jendela mobil.
"Ahh, tidak apa-apa?" kataku.
"Pak, apa bapak tidak curiga dengan keponakan pak Yanto," tanya ku hati-hati, aku tidak mungkin memendam rahasia ini terlalu lama. karena semua itu menyangkut keluarga pak Sanjaya. Apalagi aku kenal baik dengan keluarganya selama ini, tidak mungkin pak Sanjaya berkhianat pada keluarganya sendiri.
"Kenapa, apa kamu mencurigai mereka,"
"Tadi aku tidak sengaja mendengar pembicaraan mereka, kalau mereka hanya...."
"Hanya apa?"
"Hanya....!"
Drrtttt.....
Deru suara ponsel mengagetkan ku, aku membuka pesan dan membacanya.
[ jangan coba-coba mengatakan apapun pada Anggara, kalau kami ingin anak mu masih tetap hidup ] lagi-lagi pesan ancaman yang di kirimkan.
Kenapa mereka mengintai aku, apa mungkin mereka takut aku mengetahui rencana mereka.
Drrt...Drrtt
Belum lagi selesai melepaskan rasa sesak di dada, kini aku kembali di kejutkan oleh Mpok Marni tetangga ku yang ku titipkan putriku. takut terjadi apa-apa, aku langsung mengangkatnya.
"Ada apa, Mpok?" terdengar suara mbok Nah yang susah payah berbicara, aku pun ikut merasakan sudah. Apa putriku dalam bahaya.
"itu... Anakku kamu di ambil sama Ra...!!"
Belum selesai Mpok Marni berbicara, aku langsung mematikan ponsel. pasti Rania dalam bahaya, aku menyuruh Pak Anggara untuk menyetir dengan kecepatan tinggi agar cepat sampai tapi bagiku mobil ini sedikit lambat berjalan.
Sampai di depan rumah, aku langsung turun dan berlari ke rumah mpok Marni. Sementara mpok Marni sudah menangis.
"Dimana anakku, Mpok?"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 145 Episodes
Comments
Weprina Rorah
like
2022-07-16
0
Audira Pradita
kasuan
2022-05-20
0
Devinta ApriL
kasihan banget sih
2022-04-27
1