Aku terbangun karena tangisan rania. Mungkin ia haus dan setelah ku beri ASI, ku ajak putriku untuk mandi . Setelah rutinitas mandi selesai, aku keluar kamar mengendong Rania . Sementara itu, ku lihat ibu sedang menyapu dan kubiarkan saja apa yang di lakukan nya,siapa suruh tinggal disini .
" Enak ya , menantu pemalas bukannya bantu beres-beres malah asik tidur." Hardik ibu menatap ku tajam . Aku tidak memperdulikan ibu yang sedang menyapu lalu ku ajak Rania bermain di sambil menonton tv.
"Lho, ibu kan yang mau nyapu sendiri bukan aku yang suruh." Mertua menatapku dengan sinis sambil mengembalikan sapu ke dapur.
💕💕💕
Hari semakin siang, ku lihat ibu masih asik dengan gawainya Seperti ibu - ibu sosialita saja. Aku menghampiri ibu sambil mengendong Rania.
"Udah siang lho, Bu. Ibu gak masak nanti mas Rahman pulang melihat belum ada makanan ,ia bisa mengamuk." Ucap ku memperingatkan mertua ku yang tak ada duanya ini.
"Tenang saja, sudah ibu pesankan makanan restoran sebentar lagi juga datang." Ucap ibu dengan santainya.
" Dari mana , ibu dapat uang membeli makanan restoran. Makanan restoran kan mahal Bu." Tanya ku penuh selidik, jika ibu dapat dari mas Rahman takkan ku tinggal diam lagi.
" Tadi pagi di kasih sama Rahman 200 ribu. Jadi ibu pesankan saja makanan dari pada capek masak." Aku terperangah mendengar ucapan ibu.
Bisa-bisanya mas Rahman memberikan uang pada ibu dengan loyalnya sedangkan jika aku meminta uang buat Pampers putri nya , aku harus mendengar ia mengomel 7 hari 7 malam .
Benar-benar keterlaluan. Tak akan ku biarkan lagi Ia memperlakukan ku sesuka hatinya. Pembantu saja di gaji full sementara aku istrinya hanya di kasih uang 20 ribu sehari.
Ting tong...
Suara bel berbunyi, ibu lekas bangun dari sofa menuju pintu. Pasti itu pesanan ibu yang dia pesan tadi.
" Ratih....tolong kamu bawa kan makanan ini ke dapur dan hidang kan di atas meja sebentar lagi Rahman akan pulang" perintah ibu pada ku dengan hati yang dongkol ku langkahkan kaki menghampirinya.
Ku ambil makanan tadi di tangan ibu menuju dapur. Terbesit dalam hati untuk mengerjai mereka sedikit agar sakit hati ini berkurang.
Ku buka laci bawah dapur dan ku ambil obat pencahar lalu ku taburkan dalam makanan pesanan ibu pesan tadi biar mereka tahu rasa kalau perang baru saj di mulai.
"Makanan enak ni, Sekali- kali begini kan enak." Ucap mas Rahman menarik kursi untuk segera makan mungkin dia lapar.
" Iyalah enak, Masakan restoran di pesan sama ibu, tadi kan mas kasih uang masa ibu 200 ribu." Ucapku penuh penekanan.
Mas Rahman sedikit kaget karena aku tahu perihal uang yang dia kasih ke ibu.
" Kenapa, mas .kaget aku tahu kamu kasih buat ibu . Kalau aku minta , pelit mu itu ketulungan." Ucap ku kesal dengan air mata yang sudah mengembun.
"Ratih... Dia itu ibuku sedangkan kamu cuma istri yang yang ku berikan makan .sampai kapan pun bisa ku tendang dari sini kapan saja." Teriak mas Rahman.
Dada ku bergemuruh hebat. Apa katanya, istri yang di berikan. Rasa sakit dan kecewa semakin menjalar dalam hati ini. Ku hapus air mata yang jatuh. Ke kepal tangan ku erat-erat agar kuat membalas rasa sakit hati ini.
" Kalau begitu ceraikan aku dan ingat ,ini rumah ku mas." Ucap ku lantang,mengingat kan kalau kami tinggal di rumah pemberian orang tua ku.
" Ratih.. jangan kurang ajar kamu sama suami. Suami capek pulang kerja bukan kasih minum, ini malah aja berantem. Sana , kamu pergi urusi putri mu." Bentak ibu mengusir ku mungkin takut aku ikut makan bersama mereka. Tanpa ku pedulikan lagi Omelan ibu, aku masuk ke kamar . Menangis tersedu-sedu atas perlakuan suami ku, rasa sakit yang tak dapat ku tahan lagi. Ku usap kepala putri ku yang sedang terlelap tidur.
Dialah penyebab ku masih bertahan dalam pernikahan yang tak sehat ini. Putriku lah penyebab ku masih bertahan dengan sejuta rasa sakit bahkan sudah terlalu sakit.
Akan tetapi, aku tak boleh rapuh dan aku harus kuat, kuat untuk ke depan nya .
Aku membuka lemari , mengambil berkas untuk mencari lowongan pekerjaan. Aku tak bisa tinggal diam seperti ini, mengharap uang yang hanya 20 ribu itu.
Dulu sebelum menikah dengan mas Rahman, aku bekerja di sebuah perusahaan tapi setelah menikah aku resign bekerja karena permintaan nya .
Setelah berhenti bekerja, ia memperlakukan ku bagaikan pembantu yang hanya di gaji 20 ribu. Aku mengambil beberapa berkas di dalam untuk melamar pekerjaan besok pagi. selesai mempersiapkan nya aku keluar mencari makan ke warung yang tak jauh dari rumah.
Ku lihat ibu selonjoran di sofa sambil memegang perutnya.
" Ibu kenapa, kok lemes gitu." Tanya ku pura-pura gak tahu.
" Ibu sakit perut tih gara-gara makanan tadi." Ucap ibu lemes berdiri hendak menuju ke WC.
Preeettt ..
Suara kentut , ibu bergegas ke WC lalu aku hanya tersenyum sembari ke depan untuk membeli makanan.sampai di depan warung aku hanya membeli nasi dan lauk nya hanya tempe goreng dan ikan asin. Biarkan , untuk saat ini, aku makan seadanya untuk menghemat uang yang tak seberapa ini.
" Berapa, Bu !" Tanyaku pada pemilik warung.
" Sepuluh ribu aja, neng ."
Aku membayar nasi bungkus tadi,saat hendak pulang seseorang memanggil ku. Ku paling kan wajah ku ingin melihat siapa yang memanggil ku.
" Ratih...ya ampun ? Bagaimana keadaan kamu sekarang." Tanya perempuan semampai yang ada di depan ku.
" Alhamdulillah baik, sin . Bagaimana keadaan kamu, kamu udah semakin sukses aja ya." Tanya ku pada Sinta teman sekantor ku dulu, aku masih menenteng nasi bungkus di tanganku.
" Alhamdulillah, tih." Ujar Sinta lagi.
" Sin, di kantor kita dulu ada lowongan pekerjaan gak soalnya aku mau kerja lagi." Ucap ku.
" Ada , tih. Tapi jadi sekretaris pak Anggara dan besok kamu langsung ke sana, ya sudah aku pergi dulu ya sin." Ucap Sinta lekas pergi sedangkan aku pulang kerumah karena sudah terlalu lama meninggalkan putriku tidur.
Sesampai dirumah, aku langsung ke dapur untuk makan dan ku lihat ibu sudah tidak ada lagi di sofa, mungkin sudah ke kamarnya.selesai makan, aku kembali ke kamar dan melihat putri kecilku bangun, ku gendong untuk menyusuinya.
Selesai menyusui putri ku, ku lihat di samping tempat tidur mas Rahman sudah terlelap dan dompet yang terletak di samping ranjang.
Ku ambil dompet nya pelan- pelan , lalu ku buka ada uang cash 2 juta di dompetnya dan ambil semua uangnya , kapan lagi akan mendapatkan uang darinya kalau bukan seperti ini.
" Maaf, mas uangnya aku ambil." Bisik ku di telinganya, setelah itu aku menaruh nya di bawah baju ku agar mas Rahman tidak tahu.
Ku baringkan tubuh ini yang sudah lelah untuk masuk ke dalam mimpi indah ini.
**** **** *****
Pagi-pagi sekali, aku sudah bersiap memakai baju untuk pergi ke kantor lama ku.walaupun, sudah sedikit usang tapi masih rapi. Aku melihat mas Rahman yang keluar dari kamar mandi.
" Mau kemana ? Udah rapi aja." Tanya mas Rahman sambil membuka lemari baju.
"Mau cari kerja ,mas." Ujar ku memakai bedak tipis di wajahku.
" Kerja,kalau kamu kerja siapa yang yang jagain Rania." Tanya mas Rahman menghentikan aktivitas nya yang sedang memakai baju.
" Aku titip di rumah temanku , mas. Lagian, aku kerja buat kebutuhan ku kok." Aku mengambil tas hendak keluar.
" Bagus lah kalau kamu kerja, jadi gak minta lagi uang sama aku." Ucap mas Rahman ketus, aku berlalu keluar kamar sambil mengendong Rania. Pergi ke dapur untuk memberikan Rania makan. Ku lihat ibu masih berkutat dengan alat dapur.
" Ratih, udah rapi aja bukannya bantuin ibu masak." Ucap mertuaku sambil meletakkan telur kedalam piring.
" Kan , ibu sendiri yang mau masak ? Katanya aku gak bisa belanja dengan uang 20 ribu yang di jatah setiap hari sama mas Rahman." Ucap ku sambil mengambil nasi untuk Rania.
" Huh alasan saja kamu, ibu itu capek kalau tiap hari masak." Omel ibu sambil meletakkan telur balado di atas meja makan .
" Apa sih, Bu. Pagi-pagi kok ribut ." Tanya mas Rahman yang tiba-tiba datang lalu duduk di depanku.
" Istrimu ini bukan nya bantu ibu masak malah udah rapi aja ! Memangnya, mau kemana ." Ucap ibu ikut duduk di samping ku .
" Aku mau cari kerja Bu, aku gak bisa diam terus dirumah. " Timpal ku uang sedang menyuapi Rania.
" Kalau kamu kerja ,lalu dirumah siapa yang bersih-bersih." Tanya ibu menatap ku .
" Ya ibu lah, terus ibu ngapain disini kalau bukan bantuin beres-beres rumah." Ucapku sambil nyengir.ibu menatap ku tajam seakan-akan ingin menerkam ku.
" Ratih, kamu itu jangan kurang ajar pada ibuku. Aku bawa ibu kesini bukan untuk di jadikan pembantu." Bentak mas Rahman membanting sendok makan, Rania menangis mungkin kaget mendengar teriakkan mas Rahman .
" Kalau begitu kamu cari pembantu di rumah ini untuk beres-beres karena aku tak akan lagi mau menjadi pembantu kalian." Ucapku bergegas mengambil tas lalu mengendong Rania dalam pangkuanku. Ku berjalan keluar untuk menunggu taxi online Yang sudah ku pesan terdahulu.
Ku dengar mas Rahman , memanggil nama ku tapi aku tak perduli. Sudah saatnya , aku melawan perbuatan mereka. Demi Rania, aku harus kuat untuk melalu ini semua.
Beberapa menit kemudian, taxi pun sampai dan aku langsung masuk kedalam .sebelum ke kantor lama ku, aku akan menitip Rania di rumah temanku. Satu jam di jalan, akhirnya aku sampai di depan kantor lamaku di perusahaan Anggara group.
Ku langkahkan kaki ini kedalam kantor dengan hati yang tak karuan. Tiba-tiba, seseorang memanggil namaku dari belakang.
" Ratih..," Aku menoleh tubuh ini kearah suara, Ya, itu Sinta teman satu kantor ku .
" Eh, Sinta Kamu ikut aku sekarang? Sudah di tunggu sama pak Anggara sebagai sekretaris nya." Ucap Sinta menarik tangan ku, aku hanya bengong memikirkan sesuatu yang tak mungkin terjadi. Bagaimana, aku bisa langsung menjadi sekretaris bosnya kalau aku saja sudah lama tak bekerja.
" Kami tidak perlu bengong, aku yang rekomendasikan kamu pada pak Anggara dan dia menerima kamu Karena kinerja kamu bagus disini waktu kamu bekerja disini dulu ". Ucap Sinta masih berjalan sedangkan aku hanya mengikuti dari belakang.
Aku hanya diam, mungkin kaget juga syok mendengar semua ini. Sesampai , di depan ruang direktur aku berhenti lalu Sinta menyuruh ku masuk untuk bertemu dengan pak Anggara.
" Tok..... Tok..... Tok....."
Tiga kali ketukan pintu, ku dengar seseorang dari dalam mempersilahkan ku masuk.
Ku dorong pintu lalu masuk kedalam untuk bertemu dengan bos ku .
" Kamu...."
***. ****. ****
Hallo Mak. kira-kira, siapa yang di temui Ratih di dalam sebagai bosnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 145 Episodes
Comments
Rahmawaty❣️
Pdhl di dlm dompetnya duitnya banyak tp pelitt bnget sma istri
2023-04-13
0
Rheny Een
ayo Ratih tinggalkan aja suami mu yg super pelit itu
2022-08-14
0
Ganuwa Gunawan
alhamdulilah suami ga kya suami nya ratih..
semua gaji nya a dia berikan sm aku...
2022-06-22
0