Malam semakin larut, tetapi kedua manusia berbeda jenis masih fokus mentap layar laptop sembari duduk sila di tempat tidur. Sesekali Ziah menggigit kuku tangannya merasa ngeri juga kasian melihat aksi penyiksaan yang di lakukan orang di dalam layar itu, sementara Panji menyeringai sangat puas melihatnya.
"Ji, kayaknya kita keterlaluan deh, kasian Celin padahal dia nggak salah apa-apa." Ziah menatap Panji dengan wajah sedih, "Gue jadi takut dekat sama Virgo, dia suka main tangan sama siapa aja tanpa cari tahu. Foto dan Video yang kita kirimkan cuma editan tapi dia percaya. Kasian banget istrinya nanti." Ziah terus berbicara, melanglang buana dengan pikiran tak tentu arah dan mulai tidak jelas.
Panji menutul laptop Ziah, kini ia menghadap gadis yang masih memperlihatkan wajah sedih. Hati Ziah terlalu lembut dan baik untuk membalaskan dendam pada orang lain. Panji menangkup kedua pipi Ziah hingga tatapan mereka beradu.
"Mereka pantas mendapatkan itu semua, Zi. Lo lupa gimana mereka nyiksa lo selama hampir setahun? Jika orang bermental lemah mungkin sekarang udah depresi, tapi lo kuat dan bisa bertahan hingga sekarang. Balas dendam lo udah selesai dengan yang lain, sekarang sisa Virgo, lo mau lanjut atau berhenti?" tanya Panji sangat lembut.
"Panji!"
"Hm."
"Kalau gue minta lanjut dan menginginkan Virgo hancur, gue terlihat kejam dan jahat ya?" tanya Ziah menyentuh tangan besar Panji yang masih menangkup pipinya.
"Nggak, lo berhak untuk membalas, lo punya hak untuk itu. Jika kejahatan nggak bisa di balas dengan hukum, makan jalan satu-satunya adalah membalasnya dengan kejahatan. Itu kata Om Alan."
Senyum Ziah mengembang, Panji selalu bisa membuatnya tenang di tengah rasa takut yang ia rasakan. Tanpa memikirkan apapun ia memeluk tubuh kekar di depannya.
"Gue sayang sama lo, Ji. Sangat," ujar Ziah dalam pelukan Panji.
"Gue juga sayang sama lo," jawab Panji.
"Bukan sekedar sayang Zi, gue suka sama lo. Sangat suka, tapi gue nggak mau lo menjaga jarak saat tau perasaan gue."
"Panji!"
"Hm."
"Jantung lo kenapa? Gila cepat banget, sampai kerasa detakannya," ujar Ziah meletakkan tangannya di dada Panji, tanpa menyadari telinga Panji yang mulai memerah. Refleks laki-laki itu menutup telinganya.
"Gue ... gue ngantuk Zi. Dah, selamat tidur semoga mimpiin gue!" teriak Panji berlari keluar dari kamar Ziah, bahkan ia lupa menutupnya.
"Aneh, biasanya juga tidur di sini," gumam Ziah menatap pintu yang masih terbuka lebar. Ia berjalan perlahan sembari meringis untuk menutup pintu.
Di belahan bumi lainnya, tepat di dalam kamar bernuansa hitam abu-abu itu, seorang laki-laki tengah meninju bantal layaknya samsak karena gemas juga salah tingkah.
"Ziah kenapa lo polos banget sih jadi cewek?" gemes panji mengigit bantal gulingnya. "Ngapa malah nanyain jantung gue sia*lan!" Panji menendang bantal ke lantai, entah apalagi yang harus ia lakukan agar tidak salah tingkah di dalam kamar yang sangat luas itu.
"Akting pura-pura suka sama orang jago banget, giliran perasaan .... Dahlah." Panji menenggelamkan tubuhnya dengan selimut lembut.
***
Seperti biasa sebelum berangkat sekolah, mereka akan sarapan di rumah bersama. Ziah dan Panji duduk berhadapan, mereka sarapan berdua saja karena Om Alan belum pulang dari luar kota.
Ziah mengambil beberapa roti. "Panji, lo juga mau? Mau sekalian gue olesin selai nggak?" tanyanya sembari mengolesi roti dengan selain kacang khusus untuknya.
"Boleh," jawab Panji sibuk menandai beberapa kata di buku paketnya, karena sebentar akan ada uji praktek di laboratorium.
"Selai?"
"Samain aja," jawab Panji.
Dengan telaten, Ziah kembali mengolesi Roti dengan selai kacang, lalu melipat dan memberikannya pada Panji, tetapi laki-laki itu tak kunjung mangambilnya, karena fokus pada buku.
"Buku mulut lo!" perintah Ziah.
Panji langsung menoleh, dan membuka mulutnya, menerima suapan Ziah dengan senang hati, sisa sepotong, ia mengambilnya dari tangan Ziah.
"Vibesnya kayak pengantin baru ya," celetuk Panji mengulum senyum.
"Emang iya?" tanya Ziah polos.
"Hm, Suaminya sibuk kerja nggak punya waktu sarapan, jadi istri tercinta yang nyuapin," jawab Panji semakin menghalu.
"Kebanyakan nonton film kamu, Ji."
"Daripada hidup lo belajar mulu, ponsel di pakai cuma buat nelpon aja, laptol bukanya di pakai nonton malah buat belajar, hebat!"
"Gue emang hebat, Ji."
"Terserah dah,"
"Ji!"
"Hm."
"Lo kalau serius kaya tadi ganteng banget loh, auranya tuh keluar," puji Ziah.
Uhuk
Panji seketika keselek dengan air liurnya sendiri, Ziah selalu bisa membuat orang jantungan tiba-tiba, gadis itu tak pernah menyimpan apa yang dia rasakan, semuanya akan di keluarkan begitu saja tanpa memikirkan lawan bicara, asal itu bukan sebuah hinaan atau sesuatu yang menyinggung.
...****************...
Jangan lupa meninggalkan jejak😘
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 78 Episodes
Comments
Sandisalbiah
Ziah terlalu polos.. ngak tau kok si Panji udah baper tingkat dewa.. 🤭🤭 lanjut thor..
2022-05-13
1
Ramadhani Kania
ziah ternyata pnter nggombal juga...🤭
2022-03-03
3
Rahayu Prasetyo
💪thorrrr,,,lanjut☺️
2022-03-03
1