Usai praktek di laboratorium, Ziah dan teman-temannya berjalan menuju kelas, sepanjang jalan mereka saling dorong, bahkan lari-larian di koridor sekolah tanpa melihat sekitar, hingga tubuh Ziah menabrak seseorang dan membuatnya tersungkur di lantai dengan lutut memerah.
"Auwwww," rintih Ziah mengelus lututnya yang sedikit tergores dan mengeluarkan darah segar.
"Ziah, lutut lo luka!" heboh Sinta membantu Ziah untuk bangun, tetapi lutut gadis itu terlalu sakit untuk sekedar berdiri. Lututnya terbentur terlalu keras.
"Maaf ... gue nggak sengaja," ujar cowok yang tak lain adalah Rian ketua osisnya.
"Nggak papa, santai aja," jawab Ziah.
Saat Rian hendak mengendong tubuh Ziah, Panji datang dan menyingkirkan tangan besar itu di bawah lutut mulus Ziah, lalu mengendong gadis itu ke UKS.
"Kalau jalan hati-hati, liat kanan kiri jangan sibuk gibah!" omel Panji sembari berjalan ke UKS.
"Khawatir banget perasaan," canda Ziah.
"Tentu saja, lo itu kesayangan gue," jawab Panji.
"Iya deh kesayangan,"
Panji menurunkan Ziah perlahan-lahan di brangkar, meminta kotak P3K pada petugas UKS, lalu berlutut di depan Ziah.
"Pelan-pelan napa, Ji," tegur Ziah, padahal Panji sudah melakukannya sepelan mungkin, emang dasarnya goresan itu sedikit lebar kerena batu kecil.
"Panji!"
"Hm." Sibuk mengperban luka Ziah.
"Nggak bisa jalanin misi dong hari ini, padahal udah janji bakal ketemu di taman sama Virgo."
Panji mendongak dengan tatapan tidak biasa. "Lo luka aja masih mikirin misi, mikirin diri sendiri dulu napa." Panji kembali mengomeli gadis dengan senyuman manis itu, padahal Ziah tidak melakukan apa-apa, Panjinya yang terlalu sensitif entah karena apa.
"Lo datang bulan? Sensitif banget hari ini sumpah."
"Hm."
Ziah menghembuskan nafas kasar, tidak biasanya Panji secuek ini.
"Ji, gue serius nanya, lo kenapa?" Meneliti wajah Panji dengan seksama, hingga fokusnya terhenti pada sudut bibir laki-laki itu yang sedikit membiru. "Lo habis berantem?"
"Kejepit pintu tadi," jawab Panji bangkit dari duduk, "Coba lo berdiri, bisa nggak? Atau kita ke dokter aja?"
Ziah berdiri sesuai permintaan Panji, sedikit meringis saat rasa sakit kembali datang jika ia meluruskan kakinya. Melihat itu, Panji kembali mendorong Ziah duduk di brangkar.
"Naik!" perintahnya setelah berjongkok di depan Ziah, dengan penuh senyuman gadis itu mengalungkan tangannya di leher Panji.
"Panji lo belum jawab pertanyaan gue, kenapa bibir lo luka," ujar Ziah menumpu dagunya di pundak Panji.
Beberapa pasang mata memerhatikan keduanya saat berjalan dikoridor menuju parkiran, tetapi mereka tetap acuh akan lingkungan sekitar. Itulah cara mereka beradaptasi, melakukan sesuai keinginan maing-masing asal tidak merugikan orang lain.
"Ke jedot pintu."
"Tadi kejepit, sekarang kejedot" protes Ziah.
"Seandainya lo tau Zi, gua baru aja berantem sama teman sekelas gue karena lo. Mereka mengambil foto lo diam-diam dan menjadikannya pembicaraan tak pantas di dengar."
Panji hanya bisa menjawab dalam hati, tak ingin Ziah mengetahuinya, atau gadis itu akan bersedih. Panji menurunkan Ziah dari gendongannya setelah berada di samping mobil, membukakan pintu dan membantu gadis itu masuk. Padahal Ziah sudah mengatakan bisa dan kakinya tidak terlalu sakit.
***
Malam hari di dalam mansion mewah itu, dihuni hanya sepasang remaja juga beberapa pelayan yang bekerja sesuai tugas masing-masing, sedangkan om Alan lagi-lagi tidak ada di rumah karena urusan perkerjaan.
Hanya luka lutut sedikit, tetapi ia merasa di perlakukan layaknya habis patah tulang, sepulang sekolah tiga pelayan selalu standbay di kamarnya, padahal ia butuh privasi. Setiap ia menyuruh mereka pergi, jawabannya tetap sama.
"Kami tidak bisa meninggalkan nona muda seorang diri."
"Kak aku nggak papa percayalah," ujar Ziah risih diperlakukan berlebihan. "Aku sudah minum obat, makan juga udah, jadi aku nggak butuh apapun lagi, buku pelajaran juga sudah ada di sini." Menujuk beberapa buku juga pulpen berserakan di atas tempat tidurnya.
Tak kunjung pergi, Akhir Ziah pasrah dan belajar dengan di perhatikan oleh tiga pelayan, padahal ia tidak bisa fokus jika belajar sambil di perhatikan. Jam 10 malam, akhirnya tugasnya sudah selesai juga ia selesai belajar, dengan sigap ia mengambil ponselnya di atas nakas yang sengaja ia matikan saat jam delapan malam hingga jam sepuluh, karena itu waktunya belajar.
"Kenapa? Kangen banget ya sampai baru selesai belajar langsung nelpon gue?" canda Panji di seberang telpon.
Sontak Ziah lansung menoleh kearah pintu dan memutuskan sambungan telponnya, saat mendengar suara Panji sangat dekat.
Hanya sekali anggukan dari Panji ketiga pelayan itu keluar dari kamar Ziah, membuat gadis itu bernapas lega. "Kenapa nggak dari tadi coba? Gue ngerasa jadi buronan di awasi mulu," gerutunya.
"Ngapa nyalahin gue? Noh salahin Om Alan, orang yang beri perintah Om Alan."
"Nyenyenye."
"Dih udah pintar ngeledek ya sekarang." Menyentil bibir Ziah yang manyun.
"Itu karena lo ngadunya berlebihan sama Om Alan, orang cuma kegores doang."
"Udah ngomelnya, lo mau nonton drama pembulian yang seru nggak? Gue baru dapat nih dari Om Wira," ujar Panji naik ketempat tidur, lalu memasang flashdisk di laptop Ziah.
...****************...
Ada yang tau mereka mau nonton Drama apa?🤭
Jangan lupa meninggalkan jejak😊
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 78 Episodes
Comments
Eny Sapphire Msi Candibinangun
drama pembulian kika dl
2022-03-03
1
Yanti
Selina mungkin yang di buli 🤔🤔🤔😁😁😁
2022-03-02
4
Aliya Rihanatul zanah
nextttt
2022-03-02
0