Hari pertama sekolah di sekolah baru membuat Ziah sangat gugup. Sejak turun dari mobil hingga berjalan di koridor sekolah menuju ruang guru, ia terus mengenggam erat tangan Panji sembari menundukkan kepalanya.
Jujur saja ia takut kejadian di masa lalu terulang lagi padanya, di mana pertama masuk sekolah dirinya sudah di buli habis-habisan.
"Angkat kepala lo Zi, seorang putri nggak seharusnya menunduk, nanti mahkotanya jatuh," gurau Panji menarik dagu Ziah agar menatap lurus kedepan.
"Bisa aja lo, ngembaliin mood gue, makasih udah nemenin gue untuk berubah," lirih Ziah menatap Panji yang kini tersenyum manis kepadanya.
"Terimakasihnya nanti aja pas gue butuh," sahut Panji menyeringai, mendorong Ziah masuk keruang guru. "Semangat, jangan pernah menundukkan kepala apa lagi takut pada siapapun, jadi diri sendiri, awas aja gue dengar lo di buli!" ancam Panji sebelum meninggalkan Ziah, berjalan dengan gaya tengilnya dengan tas hitam di punggung kiri.
Ziah hanya bisa tersenyum, sangat terhibur dengan tingkah Panji yang sangat random, di rumah ataupun di sekolah sama saja, Panji benar-benar menjadi diri sendiri.
"Semangat Ziah, lo pasti bisa seperti Panji, percaya diri dan tidak insekyur pada orang lain," gumam Ziah mengepalkan tangannya.
Ia membuang nafas panjang sebelum melangkah masuk keruang guru, berusaha tidak gugup apa lagi takut. Ia melempar senyum pada guru yang ada di ruangan itu.
Usai di tanya-tanya, wali kelas XII Ipa 1 mengantarnya kekelas.
"Selamat pagi anak-anak, seperti yang ibu katakan kemarin bahwa kita akan kedatangan teman baru. Nak, silahkan perkenalkan dirimu!" pinta Ibu Ria wali kelasnya.
Ziah mengangguk, melempar senyum pada teman-temannya.
"Hay nama gue Ziah putri Maulana, kalian bisa manggil gue Ziah, senang bertemu kalian. Gue berharap kalian bisa menerima keberadaan gue," riang Ziah memperkenalkan dirinya dan di sambut heboh pada teman sekelasnya, berbeda dengan teman-temen sekolahnya yang dulu.
"Hay Ziah salam kenal!"
"Selamat datang Ziah."
"Semoga betah di sekolah ini."
Sambutan-sambutan antusias mulai besahut-sahutan di dalam kelas Ipa 1 membuat Ziah sangat bahagia. Ternyata benar, uang adalah segalanya, semua dapat berubah karena uang, bahkan dengan uang, kita bisa membeli apapun termasuk teman.
Siapa yang tak ingin berteman dengan Ziah dengan marga Maulana di belakangnya, orang yang sangat berpengaruh di sekolah ini juga dermawan pada orang lain, tak pernah memandang siswa dengan derajat, menyamaratakan semuanya.
Lagi pula paras Ziah membuat siapa saja ingin mengenal gadis itu, rambut yang indah dengan senyuman yang sangat manis. Jangan lupakan wajah cantiknya hanya di polesi sedikit makeup. Kacamata yang dulu melekat di wajahnya tak ada lagi, kini ia memakai soflen walau masih belum terbiasa, make up pun ia masih di bantu oleh beberapa pelayan sebelum ke sekolah.
Memang dasarnya wajah Ziah sangat cantik hanya saja tak pernah di rawat.
"Duduklah Nak, di kursi yang kosong!"
"Baik, Bu." Menunduk lalu berjalan menuju teman-temannya, banyak yang nenawarkan diri untuk duduk dengannya tapi ia lebih memilih duduk di dekat gadis yang tidak terlalu berlebihan menyambutnya.
Usai pelajaran, beberapa teman sekelasnya mulai mengerumuninya hanya untuk berkenalan, ah ia seperti artis yang baru saja debut, di gilai penggemarnya, apa lagi bagi kaum adam.
"Lo benarana anaknya pak Alan?"
"Nama gue, Sinta." Salah satu siswa mengulurkan tangan dan di sambut hangat oleh Ziah.
"Lo tinggal bareng Panji ya?"
"Wah daebak, gue bisa dong minta kontak Panji."
Ziah hanya senyum kikuk menanggapi semua pertanyaan teman sekelasnya. Ia tidak tahu harus menjawab apa.
"Ziah ke kantin bareng gue yuk!" Ajak salah satu cowok lumayan tampan di kelas itu, namanya Geri.
"Gue ... uhuk!" Ziah langsung terbatuk saat seorang cowok mengalungkan lengan di lehernya, siapa lagi pelakunya jika bukan Panji.
"Sorry, gue culik teman kalian dulu," ujar Panji setelah itu menarik Ziah keluar dari kelas masih dengan posisi yang sama, membuat gadis itu terus memukul lengan Panji agar terlepas.
"Omaygood itu tadi Panji yang ngomong kan? Beruntung banget gue bisa dengar suaranya di luar kegiatan," ujar Sinta memegangi dadanya, mereka hampir tidak pernah mendengar suara laki-laki itu selain berpidato atau ada presentasi antar kelas. Karena Panji di kenal jarang bicara.
"Panji, lo mau bunuh gue!" kesal Ziah dengan wajah memerah karena sesak nafas.
Bukannya meminta maaf, Panji malah tertawa dan mencubit kedua pipi Ziah yang memerah "Gemes banget tau nggak, kalau marah gini."
"Panji!" Melepas tangan Panji di pipinya. "Gimana kalau siswa lain ngira kalau kita pacaran?" lirihnya.
"Ya bagus dong, gue nggak perlu repot-repot ngumumin lagi," jawab Panji santai. "Oh iya, gimana hari pertama lo?"
"Menyenangkan," jawab Ziah mengikuti langkah Panji yang kini mengenggam tangannya ke arah kantin.
...****************...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 78 Episodes
Comments
Humanoid
Semangat lanjut terus Thor..
2022-10-30
1
Sandisalbiah
Aiisss... si Panji... tar cinta ke Ziah...
2022-05-13
1
Ramadhani Kania
👍👍👍
2022-02-26
2