Malam harinya, Panji kembali berkunjung kerumah Kika, menjemput gadis itu pindah ke Mansion tempatnya tinggal bersama Om Alan. Panji menggunakan motor besar berwarna putih, memarkirkannya di depan rumah Kika.
"Selamat malam calon penghuni surga." Kalimat pertama yang keluar dari mulut Panji setelah berada di depan pintu.
Kika yang baru saja mandi, buru-buru memakai baju lalu membuka pintu untuk Panji.
"Bukannya jam delapan?" protes Kika.
"Yaudah deh gue balik dulu, lima menit lagi gue kesini,"
"Dih ngambek," cibir Kika. "Tunggu ya, gue beres-beres dulu."
"Nggak usah bawa apa-apa semua udah di sediain sama Om Alan!" cegah Panji.
Akhirnya Kika ikut bersama Panji tanpa membawa apapun, hanya mengunci rumah peninggalan orang tuanya. Dirinya dibuat mengangga melihat betapa besarnya rumah Om Alan, menurutnya ini bukan rumah, melainkan sebuah istana kerajaan.
"Ji, ini beneran rumah Om Alan, kan? Selama ini lo tinggal di sini?"
"Seperti itulah," jawab Panji menarik tangan Kika memasuki mansion mewah itu, mereka di sambut oleh beberapa pelayan seperti yang biasa pelayan itu lakukan pada Panji atau Om Alan saat baru sampai di rumah.
"Selamat datang Nona muda, Tuan muda," sambut mereka bersamaan sembari menundukkan kepala.
Kika hanya melempar senyum, walau sedikit aneh di perlakukan berlebihan seperti ini.
"Kok gue merinding ya, Ji?" bisik Kika setelah mereka berjalan menaiki satu persatu anak tangga.
Panji hanya tertawa mendengar bisikan Kika, ia jadi mengingat saat pertama kali menginjakkan kaki di rumah ini.
"Gue dulu sampai pingsan, Ka."
"Benarkah?"
"Hm."
"Om Alan mana?"
"Paling masih di markas, jam sepuluan lah baru pulang, lo langsung istirahat aja, besok pagi kita akan melakukan banyak hal." Usai mengatakan itu, Panji meninggalkan Kika di kamar bernuansa pink ala anak gadis pada umumnya, kamarnya berada tepat di samping kamar Kika.
Bukannya istirahat Kika malah mengelilingi kamar luas itu, kamar yang ia tempati sekarang tiga kali lipat dengan rumahnya dahulu, ia tak bisa membayangkan seberapa banyak uang Om Alan.
***
Semuanya seperti mimpi bagi Kika, terbangun di pagi hari dan mendapati kamar yang sangat luas. Ia berjalan keluar kamar menuruni satu persatu anak tangga. Beberapa pelayanan menyapanya juga menawarkan sesuatu yang ia butuhkan.
"Anda membutuhkan sesuatu Nona?"
"Ah tidak, terimakasih kak," sopan Kika menundukkan kepalanya karena wanita yang bertanya padanya lebih tua.
Ia melanjutkan langkahnya keluar rumah dan mendapati dua orang laki-laki berbeda generasi tengah berolahraga.
"Udah bangun ternyata,"
"Om," sapa Kika berjalan mendekat lalu menyalimi tangan pria paruh baya itu.
"Gue juga." Panji mengulurkan tangannya. "Gue lebih tua beberapa bulan dari Lo."
"Kalau gue nggak mau gimana?"
"Udah-udah, saatnya sarapan, Om mau ke sekolah kamu dulu untuk mengurus kepindahan, juga mengubah semua indentitas kamu agar tidak ada yang mengenali dan membuli kamu lagi."
Kika hanya mengangguk mengerti, menuruti semua perkataan Om Alan. Mereka makan dengan khusuk dengan di dampingi pelayan masing-masing di belakang mereka.
Usai sarapan, Om Alan pergi terlebih dahulu setelah menitipkan black card pada Panji. Hari ini Panji akan menemani Kika berbelanja banyak hal, sesuai kebutuhan gadis itu, juga ke salon untuk merawat wajah juga tubuh Kika. Ah Panji seperti Pacar idaman yang rela membuang waktunya hanya untuk menemani Kika belanja.
Sebenarnya om Alan bisa saja mengundang beberapa jasa perawatan ke rumah, tetapi Panji menyarankan untuk pergi keluar saja sekalian jalan-jalan, agar Kika merasakan bagaimana indahnya berbelanja, kerena selama satu tahun mengawasi gadis itu, Panji di buat bosan sendiri. Aktivitas Kika setiap harinya tak pernah berubah, sekolah, kerja dan tidur.
"Memangnya kita mau kemana sih, Ji?" tanya Kika saat panji terus memaksanya agar segera bersiap-siap.
"Ta-da!" girang Panji memperlihatkan black card milik om Alan pada Kika.
"Itu apa, bisa di makan?" tanya Kika dengan polosnya.
"Ini tuh kartu kredit yang jumlahnya nggak terbatas Kika, kita bisa mendapatkan apa saja dengan kartu ini," jelas Panji gemas akan kepolosan Kika.
"Termasuk mobil?"
"Hm."
"Daebak!"
Akhirnya setelah sekian lama menunggu, Panji dan Kika menuju pusat perbelanjaan menggunakan mobil. Sepanjang mereka belanja di Mall, Panji di buat sakit perut karena keseringan tertawa melihat tingkah Kika, gadis itu bertanya banyak hal yang sangat lucu bagi Panji.
"Panji! Kenapa setiap kali gue nanya sesuatu lo selalu tertawa?" kesal Kika.
"Ka, lo nggak pernah di ajak belanja sama ... maaf, orang tua lo dulu?"
"Sering, tapi ke pasar," jawab Kika
Selesai berbelanja kini mereka menuju salon yang telah di pesan Panji beberapa jam yang lalu, dan sesi inilah akan menghabiskan banyak waktu, yang mungkin akan membuat Panji mati karena bosan.
...****************...
Jangan lupa like, komen dan vote.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 78 Episodes
Comments
Sandisalbiah
sebenarnya pengenya si Kika tuh gak pindah dekolah thor jd si virgo and Selina bisa ngelihat langsung setiap proses perubahan si Kika bermetamorfosis jd cewek cantik... but what ever lah.. semangat thor..
2022-05-13
1
uups
ayo balas dendam Kikan ke Temen yg suka buli dy
2022-04-27
2
Ramadhani Kania
upik abu jd cinderella....😂😂
2022-02-26
2