Akhirnya apa yang di impikan Ziah terwujud, bisa sekolah dengan tenang tanpa harus takut dengan pembulian dari teman-temannya, belajar sebagai mana mestinya seperti siswa-siswi yang lain.
Baru beberapa hari sekolah ia sudah mendapat banyak teman, mengajak ke kantin atau sekedar menemaninya di dalam kelas. Seperti saat ini, ia belajar bersama teman barunya di perpustakaan. Ya, walau banyak teman dan mempunyai segalanya, Ziah tidak boleh lupa tentang tugasnya.
Bisa lulus dengan nilai memuaskan agar bisa masuk di universitas ternama di bidang Ilmu Teknologi adalah tujuannya bersama Panji.
"Ziah!" panggil seorang cowok yang tak lain adalah Geri, membuat Ziah yang serius belajar mendongak bersama teman-teman lainnya.
"Geri, ada apa?" tanya Ziah.
"Bisa gue pinjam waktu lo sebentar aja? Ikut gue ketaman belakang sekolah!" pinta Geri dengan mimik wajah serius.
"Tapi gue masih ada tugas yang belum selesai," jawab Ziah.
"Kalau gitu pulang sekolah, gue tunggu lo di taman belakang sekolah." Setelah mengatakan itu, Geri keluar dari perpustakaan dengan perasaan senang, siswa baru yang ia incar akhirnya mau bertemu berdua saja.
"Cie-cie yang bentar lagi ada yang melepas masa jomblo," gurau Sinta.
"Huh?" Bingung Ziah.
"Paling si Geri mau nembak lo, kalau lo suka terima aja, dia cowok rajin juga baik kok," nasehat Sinta.
Bel pulang sekolah berbunyi 5 menit yang lalu, semua siswa barhamburan keluar dari kelas untuk pulang kerumah masing-masing, kini hanya Ziah seorang diri di dalam kelas membereskan buku-bukunya.
"Dor ...." Panji menepuk punda Ziah.
"Panji! kebiasaan lo ya ngagetin gue," gerutu Ziah.
"Ah ela, gitu aja kaget," ujar Panji tanpa rasa bersalah.
Mereka berdua berjalan beriringan menyusuri koridor menuju parkiran motor, karena Panji hari ini membawa motor ke sekolah.
Ziah menepuk keningnya, hampir lupa dengan janjinya dengan Geri.
"Panji, lo pulang duluan aja, nanti gue nyusul, masih ada urusan solanya, nggak papa kan?"
Panji mengernyit, selama dua minggu sekolah, baru kali ini Ziah izin tidak pulang bersamanya. "Kenapa?"
"Gue ada janji sama Geri, katanya di mau ngomong sesuatu gitu sama gue. Janji deh nggak bakal macem-macem, kalaupun ada yang ganggu gue. Gue bisa bela diri kok," jelas Ziah panjang lebar.
"Tau jalan pulang kerumah kan? Atau kalau nggak telpon gue, biar gue jemput nanti. Selamat menjelajah." Megacak-acak rambut Ziah setelah itu meninggalkan gadis itu di pagar sekolah.
Bukan haknya untuk melarang Ziah melakukan apapun, ia hanya ingin menjadi abang yang selalu melindungi adiknya dari bahaya.
Sepeninggalan Panji, Ziah menemui Geri di taman belakang sekolah. Ia memperlihatkan senyuman sangat manis saat melihat Geri tengah duduk di bangku taman.
"Maaf, gue telat," ujar Ziah ikut duduk di bangku taman.
"Ah nggak juga, gue juga baru datang," jawab Geri.
Jujur saja jantung Geri berpacu sangat cepat, keringat mulai membasahi pelipisnya, ini pertama kalinya ia akan mengungkapkan perasaanya pada seorang perempuan. Sejak pertama kali melihat Ziah, Geri jatuh cinta pada pandangan pertama. Di tolak atau tidak, ia harus mengungkapkan perasaanya agar tidak menyesal.
"Ada apa lo ngajak gue kesini? Tentang tugas?"
"Gue suka sama Lo Ziah," ucap Geri sangat cepat.
"Huh?" Otak Ziah seketika berhenti berfikir mendengar pengakuan Geri. Sama dengan Geri ini pertama kali dalam hidupnya ada yang menggungkapkan cinta padanya.
"Gue suka sama lo sejak pertama kali liat lo dua minggu yang lalu. Mungkin bagi lo ini terlalu cepat untuk mengatakan perasaan gue, tapi ini yang sedang gue rasakan sekarang Ziah. Saat melihat lo, jatung gua berpacu sangat hebat, beberapa hari yang lalu saat kita mendapat tugas kelompok bersama, jujur gue sangat bahagia." Geri mengungkapkan semua apa yang ia rasakan, dengan berani menyentuh tangan Ziah yang kini sedang mengenggam buku paket di tangannya.
"Tapi gue ...,"
"Gue nggak makso lo buat nerima gue. Gue hanya ungkapin apa yang gua rasakan Ziah, kalau pun iya lo mau balas perasan gue, maka gua sangat bahagia. Dan jika nggak, juga nggak papa. Gue hargai semua keputusan lo, tapi boleh kita berteman?" Geri dengan cepat memotong perkataan Ziah saat melihat keraguan di mata gadis itu.
"Kalau lo juga suka sama gue, balas gengaman tangan gue. Tapi kalau lo nggak ada perasaan sama gue, lo boleh pergi!" lanjut Geri tak memberi kesempatan untuk Ziah mengatakan apapun.
Ziah berdiri, lalu melepas gengaman tangan Geri di tangannya. "Maaf gue nggak bisa," ujar Ziah setelah itu pergi tanpa menoleh lagi kebelakang.
Bukan bermaksud jual mahal pada laki-laki, tapi ia sekolah bukan untuk pacaran. Namun, untuk belajar. Lagi pula ia tidak punya perasaan apapun pada Geri.
Munafik jika ia mengatakan tidak bahagia saat ada orang yang suka padanya, tapi cinta tidak bisa di paksakan bukan?
...****************...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 78 Episodes
Comments
Andi Fitri
bagus ziah jgn gampang jatuh cinta belajar yg rajin..maunya sich ziah jodoh sm panji sama-sama anak sebatang kara..
2023-06-10
2
NadyaKim
semangat ziah
2022-02-28
1
Ramadhani Kania
hrs tegas ziah
2022-02-26
1