Ziah menarik tangannya dari genggam Virgo, kembali fokus pada senja yang sebentar lagi akan tenggelam, memancarkan keindahan lewat pantulan lautan yang luas. Semilir angin kian menerpa kulit putihnya.
"Gue ngasih lo dua pilihan. Terima dan buat dia bucin agar lo bisa manfaatin dia untuk balas dendam ke yang lain, atau tolak dengan alasan yang sama di poin pertama,"
Baiklah, ia akan menuruti perkataan Panji barusan dan akan memilih salah satunya.
"Ziah gue ...."
"Maaf gue nggak bisa, bukan nggak suka sama lo tapi gue takut," lirih Ziah.
"Takut? Tapi kenapa? Gue janji nggak bakal mainin perasaan lo apa lagi ninggalin," jawab Virgo berusaha meyakinkan Ziah.
Mungkin ia sudah gila karena terlalu mudah jatuh cinta pada Ziah. Padahal saat bersama Selina hampir setengah tahun mereka pendekatan. Namun, jika dibandingkan dari sisi manapun, Ziah menang banyak jauh di depan Selina.
"Bukan itu yang gue takutkan." Ziah menjeda sembari menunduk seakan-akan tak enak pada Virgo. "Gue percaya sama lo yang nggak bakal permainin perasaan gue."
"Lalu?" Bingung Virgo.
"Gue nggak mau di labrak lagi sama teman sekolah lo saat tau kita pacaran. Beberapa hari yang lalu teman sekolah lo yang namanya Celin nyamperin gue dan ngatain gue cewek gatel karena dekat sama lo." Ziah mengusap sudut matanya padahal tak ada air mata disana.
"Susah banget sih ngeluarin air mata di depan orang," gerutunya dalam hati.
Ingin rasanya Ziah berteriak saat Virgo langsung memeluk tubuhnya.
"Gue bakal pastikan Celin nggak bakal ganggu lo," jawab Virgo menikmati kehangatan dalam pelukan Ziah.
"Siapapun tolong gue, Panji lo dimana? Selamatin gue!" batin Ziah terus menjerit saat Virgo tak kunjung melerai pelukannya.
"Tenanglah, Zi. Dia nggak bakal macem-macem sama lo, kalaupun iya, gue bakal maju paling depan."
Panji memang menyuruh Ziah untuk tenang, tapi dirinya mulai gelisah melihat Virgo memeluk Ziah.
Dengan cepat Ziah melerai pelukan Virgo. "Gue suka sama lo, tapi gue nggak bisa nerima lo sebagai pacar, sebelum lo benar-benar memastikan kejadian kemarin saat Celin nyamperin gue nggak terulang lagi. Gue pengen hidup tenang, bukan mencari musuh."
"Udah malam, gue pulang dulu," pamit Ziah.
"Gue antar." Virgo menarik tangan Ziah.
"Gue bisa naik taksi."
***
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih setengah jam naik taksi seorang diri dengan Panji yang mengikuti dari belakang, akhirnya mereka berdua sampai di mansion. Tubuh Ziah sedikit terpental karena rangkulan Panji yang tiba-tiba di pundaknya.
"Selamat malam Drama Queen," sambut Panji dengan cengiran khasnya. "Makin hari akting lo makin bagus, sumpah," pujinya, berjalan memasuki mansion masih dengan posisi yang sama.
"Saat lo bilang suka itu juga drama kan?" tanya Panji memastikan, jujur saja ia merasa janggal dengan pengakuan Ziah tadi.
"Tentu saja,"
"Sudah gue duga," girang Panji mengecup pipi Ziah lalu berlari.
"Panji! Kembaliin kesucian pipi gue!"
Aksi kejar-kejaran di dalam mansion akhirnya terjadi layaknya Tom and Jarry bahkan saat om Alan berdiri di ambang pintu pun mereka hiraukan.
"Om, tolongin Panji." Panji bersembunyi tepat di belakang Om Alan.
"Om bantuin Ziah nangkap Panji," pinta Ziah.
Om Alan hanya menanggapi dengan tawa tak tahu harus membela siapa, mareka berdua sama-sama jahil.
"Sudah-sudah berantemnya! Kalian dari mana kenapa belum ganti baju?"
Kini mereka bertiga berjalan ke ruang tamu setelah Panji dan Ziah mencium tangan om Alan.
"Habis jalanin misi om, dan berhasil lagi, drama Ziah benar-benar bagus. Kalau ada misi penyamaran atau ada yang nyari aktris, noh panggil Ziah aja," puji Panji sekaligus meledek.
Om Alan hanya manarik nafas panjang, tak tahu lagi harus berkata apa dengan dua anak di sampingnya. Sikap Panji dan Ziah sangat beda saat berada di kantor. Sikap Ziah yang Angun dan sikap Panji yang berwibawa dan sedikit kalem saat di kantor akan hilang ketika berada di rumah. Persis seperti dirinya, padahal mereka tidak punya ikatan darah sedikitpun.
"Misi kalian tuh sebenarnya susah dan beresiko tapi terlihat mudah," ujar om Alan mulai memberi patuah sesuai pengalaman.
"Kenapa Om?" kepo Ziah.
"Membalaskan dendam dengan melibatkan perasaan, besar kemungkinan kalian akan terjebak di dalamnya, entah seperti apa akhirnya, tapi itu akan terjadi, semoga kalian bisa melewatinya tanpa ada konflik di antara kalian."
"Kalian percaya kalau persahabatan antara perempuan dan laki-laki tanpa melibatkan perasaan salah satu di antara mareka, itu mustahil?" tanya om Alan menatap Panji dan Ziah bergantian.
"Nggak."
"Ya."
Alis om Alan terangkat mendengar jawaban yang berbeda dari anak-anaknya.
"Kok, ya?" protes Ziah.
"Terus alasan lo jawab nggak kenapa?" tantang Panji.
"Alasan gue ya kita. Gue dan lo sahabatan tanpa melibatkan perasaan, jadi persahabatan dengan lawan jenis itu nggak mustahil," jawab Ziah sesuai apa yang ia rasakan.
...****************...
Jangan lupa meninggalkan jejak😊
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 78 Episodes
Comments
R yuyun Saribanon
ceritanya bikin greget dung... biar ga bisan
2024-02-04
0
SIFA Official
Lanjut lagi kak
2022-03-02
1
Dhevy yuliana
mampir juga ya di karya-karyaku berjudur.
Suami Dingin Itu Adalah Guruku Story Of Yulianika Dan Antara Cinta Dan Sahabat.
matur suwun
2022-03-02
2