Hari begitu cepat berlalu, tak terasa sudah sebulan lamanya Ziah bersekolah di sekolah baru, hari-hari ia lalui dengan kebahagian bersama teman-temannya. SMA Nusantara akan mengadakan pertandingan Basket, dengan mereka yang menjadi tuan rumah.
Ziah sebagai anggota osis ikut sibuk menyiapkan segala kebutuhan untuk pertandingan nanti, banyak sekolah yang akan datang bertanding.
"Ziah!" Ziah mendongak saat ada orang yang memanggilnya, orang itu tak lain ketua osis. Ia yang sedang istirahat setelah mengurus bagian lapangan, segera berdiri.
"Ada apa?" tanyanya.
"Persiapan di bagian lapangan udah aman kan?"
"Udah," jawabnya penuh semangat.
Rian ketua osis itu melirik arloji di pegelangan tangannya. "Bentar lagi magrib, sebaiknya lo pulang, yang lain juga udah pada pulang!" perintah Rian padanya.
"Baik kak, sampai jumpa besok," Ziah melambaikan tangannya, setelah kepergian Rian, ia membereskan semua peralatanya lalu menelfon Panji untuk menjemputnya.
Lama ia menunggu di halte hingga mobil berwarna putih berhenti di depannya, ia tersenyum saat Panji turun dan membukakan pintu.
"Gimana, lelah?" tanya Panji setelah Ziah berada di dalam mobil.
"Banget, Ji," jawabnya, menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi. Beraktivitas seharian mengurus segala sesuatunya bersama yang lain demi kesempurnaan sekolah membuatnya kelelahan, tapi itu sangat menyenangkan. "Tapi gue suka," lanjutnya.
"Mau makan dulu sebelum pulang?"
"Dirumah aja deh, gerah, kayaknya gue juga mulai bau." Ziah mencium kedua lengannya.
"Akhirnya lo nyadar juga," ledek Panji mengulum senyum, sangat senang jika menjahili Ziah.
"Dih, nggak usah sok deh, baukan juga elo, apa lagi bangun tidur, dih ilernya kemana-maan. Mana pede banget nyium orang," gerutu Ziah, mencepol rambutnya agar sedikit meredekan rasa gerah.
Panji tertawa, benar apa yang di katakan Ziah, ia hanya terlihat keren dan bersih jika di luar rumah saja, di dalam rumah ia sangat jorok. Bangun tidur bukannya mandi, ia malah masuk kemar Ziah untuk menjahili gadis itu.
Keseruan yang sering mereka lakukan salah satunya berlomba bangun pagi, siapa yang lebih dulu bangun mereka berkesempatan mengerjai satu sama lain.
"Tapi gue tetap cantik, kan. Ji?" tanya Ziah mengedip-edipkan matanya sembari berpose.
"Banget, jadi pengen gigit."
"Dih enak aja."
Sepanjang jalan mereka terus bersenda gurau hingga tak terasa sampai di rumah. Rumah masih sepi pertanda om Alan belum pulang padahal sudah jam tujuh malam.
"Om Alana belum pulang?"
"Nggak pulang, om Alan lagi keluar kota untuk beberapa hari," jawab Panji.
Ia dan Panji seperti anak kembar yang saling melengkapi satu sama lain, orang tidak akan ada yang percaya bahwa mereka berdua tak punya ikatan darah melihat kedekatan keduanya.
Berpisah di depan pintu, Ziah menutup pintu kamarnya lalu menghempaskan tubuhnya ke ranjang tanpa membersihkan tubuh terlebih dahulu. Sakin lelahnya ia tertidur dengan kaki menjuntai.
***
Di dalam kamar bernuansa hitam abu-abu yang tak lain kamar Panji, laki-laki itu sibuk dengan buku juga laptopnya, mengerjakan tugasnya secepat mungkin, setelah itu akan makam malam.
Saat akan kedapur, ia menyempatkan diri membuka pintu kamar Ziah dan mendapati gadis itu tidur.
"Jorok banget langsung tidur," gumam Panji melanjutkan langkahnya, menuruni satu persatu anak tangga.
Makan malam seorang diri, karena Ziah sedang tidur. Usai makan malam, Panji tak langsung ke kamarnya tapi ia mampir ke kamar Ziah untuk membangunkan gadis itu, untuk makan malam juga.
"Gempa bumi ... gempa bumi ...!" teriak Panji melompat-lompat diatas kasur membuat tubuh Ziah ikut bergoyang seakan sedang gempa bumi.
Dengan nyawa yang belum terkumpul sepenuhnya, Ziah bangun dari tidurnya hendak berlari mengira gempa bumi, tetapi mendengar suara tawa Panji kepanikannya berubah menjadi kekesalan, ia melempar laki-laki itu dengan bantal guling.
"Jahil banget sih lo, Ji. Lama-lama gue sakit jantung," gerutunya.
"Nggak kena ... nggak kena ... wlee," ledek Panji menghindari setiap serangan Ziah, hingga tubuhnya terjatuh dan terjerambah di atas kasur dengan Ziah di atas tubuhnya
Tatapan mereka bertemu, lama saling tatap hingga jantung Panji berdetak tak beraturan.
"Mandi sana, bau banget sumpah!" mendorong Ziah agar menjauh dari tubuhnya.
Sepeninggalan Ziah ke kamar mandi, Panji memegangi jantungnya yang masih berdetak tak karuan. "Gila nih jantung, berasa habis lari maraton," gumamnya.
Ia menunggu Ziah di sofa, ia lupa tujuannya mengunjungi kamar gadis itu selain menjahilinya. Ia ingin memberitahukan kabar ter hot seperti saat melihat mantan masih hidup padahal saat pacaran mengatakan, 'Aku tidak bisa hidup tanpamu.'
"Ziah!" panggilnya "lo tahu, dari banyaknya sekolah yang ikut, SMA Nuri salah satunya?"
Uhuk
Makanan di mulut Ziah menyembur seketika mengenai wajah Panji.
"Nahkan kebiasaan, jorok banget," gerutu Panji melap wajahnya dengan tisu basah.
...****************...
Jangan lupa meninggalkan jejak kakak tersayangnya dedek.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 78 Episodes
Comments
Gabusbdhd Pen nangisss
Jangan typo ya kak😭😭
2024-02-15
0
Ramadhani Kania
pntu balas dendam terbuka...😂😂
2022-02-26
8
Rahayu Prasetyo
ketemu virgo🤔
semangat ziah
2022-02-26
0