Bab 21

Sekarang, Azam bersama ketiga temannya itu sedang berada di dalam Toilet.

"Anjir perut gw sakit banget?" Ucap Azam sambil memegang perutnya.

"Kenapa kamu Zam?" Tanya mas Adam.

"Kebanyakan merokok tuh die? Tadi juga dia nggak makan." Ucap Hendrik sambil bercermin ditoilet.

"Gimana kalo kita jangan pulang dulu Mas Adam? Perut gw juga udah laper lagi? Gara-gara setan didalam rumah Hantu tadi." Ucap Wahyu.

"Tapi makan dimana ya Mas?" Tanya Wahyu ke Mas Adam.

"Di Upnormal aja lah. Kan ada Jengkol tuh disana. Makanan favorit kamukan itu?" Jawab Mas Adam dan berbalik tanya pada Wahyu.

"Maaf ya Mas Adaam? Cowok seganteng gw mana mungkin suka yang bau-bau kayak gitu? Ada juga itumah kesukaannya si Azam. Tapi gak apa-apa deh, disana kan ada telor, makanan kesukaan gw." Ucap Wahyu sambil menggerak-gerakkan matanya kekanan dan kekiri.

"Terus? Gw harus boncengin lo kesana dengan celana lo yang bau pesing itu gitu?" Celetuk Hendrik kepada Wahyu.

"Ya enggaklah Jablaaay! Kita ke rumah gw dulu buat ganti celana gw ini? Habis ituu kita langsung berangkat kembali. Gimana?" Ucap Wahyu.

"Cantik lohh!" Ucap Hendrik dengan nada suara ngegasnya.

"Please deh? Gak usah memperjelas gitu ngomongnya? Cukup blay aja Wahyuuu? Ini ditempat umum!" Azam greget kepada Wahyu.

"Ups, Keceplosan." Ucap Wahyu sambil menutup bibir dengan tangan kanannya.

"Ya udah ayok kita ke rumahnya Wahyu dulu, habis itu kita langsung ke Waroeng Upnormal." Ucap Mas Adam.

Sejenak mereka berempat berjalan menuju ke Motornya. Lalu berangkat ke rumahnya Wahyu. Setelah Wahyu selesai mengganti pakaiannya, mereka berempat berangkat kembali menuju ke UpNormal.

**********Di Warung UpNormal**********

"Gw bisa bebas kan berkoar disini?" Ucap Wahyu.

"Iye, terserah lo bencong! Tapi gak usah terlalu ngondek juga kalee! Ngondeknya ngondek elegan aja." Ucap Azam.

"Iye-iye ratuu. Kebanyakan ngatur dej lo!" Ucap Wahyu.

..."Selamat malam mas-mas yang tampan..?" Ucap Waitress....

"Bisa aja mas nya menghina. Kita kan jadi maalu??" Ucap Wahyu dengan posisi tangan kanannya menyangga wajahnya dimeja, kedua matanya berkedip-kedip kepada Waitress.

"Perawan kayak gitu elegannya?" Ucap Hendrik.

"Dasar kamu ya? Giliran ngeliat yang bening-bening aja langsung gatel." Mas Adam menangkis tangannya Wahyu yang sedang menyangga wajahnya.

"Apa'an siih Mas Adam? Diem ah!" Ucap Wahyu.

"Mas, Nasi sama Jengkol semua ya? Minumnya Air Mineral aja Mas? Terima kasih." Ucap Azam.

"Tuh kaaan bener? Yang bau-bau itu emang kesukaannya die?? Bohong mas? Saya Naslor aja mas? Terus minumnya Jus Lemon and Kentang Gorengnya satu ya mas? Makasih." Ucap Wahyu.

"Gimana-gimana? Gw tadi ngomongnya elegan dan macho enggak?" Ucap Wahyu kepada mereka bertiga.

"Iya Macho, Macho bingiiiiitz. Tapi pas ngomong makasihnya doang!" Jawab Hendrik.

Sedangkan waitress tetap berdiri kokoh sambil senyum-senyum melihat tingkah mereka berempat.

"Udah mas itu saja. Yang lainnya samain saja dengan pesanannya dia." Ucap Mas Adam kepada Waitress sambil menunjuk ke Wahyu.

..."Ok, Mas-mas tampan. Berrati pesanannya Nasi Jengkol satu, Air Mineral satu, Tiga Naslor, Tiga Kentang Goreng dan tiga Jus lemon ya Mas?" Ucap Waittress....

"Yupz, Gak Pake Lama ya mas? Perutku udah laper." Ucap Wahyu.

...*Jeda makan dan lain-lain*...

"Jeng, Ini kan sudah malem banget? Apa gak sebaiknya, lo nginep aja ditempat kita? Lumayan jauh loh dari sini ke kosan lo? Denger-denger juga, di Jembatan yang biasa lo lewati itu, katanya suka ada penampakan?" Ucap Azam kepada Mas Adam dengan nada suara pelan.

"Iya sih, aku juga belum pernah pulang kekosan semalem ini." Jawab Mas Adam.

"Kalo lu cong gimana?" Ucap Azam kepada Wahyu.

"Ya kalo jam segini sih, Emak gw juga udah tidur cong." Ucap Wahyu.

"Ya udah, fix ya kita tidur dikosan kita?" Ucap Azam.

"Mas Adam tidur bareng gw ya blay?" Ucap Hendrik kepada Azam.

"Terserah lo Jablaay? Tinggal tanya aja noh ke orangnya? Mau apa enggak?" Ucap Azam.

"Enggak, enggak, enggak! Kita tidur berempat aja. Sekalian tuh biar kayak pindang! Pokoknye gak ada cerita buat berdua-dua'an! Enak aja!" Ucap Wahyu.

"Sirik aja lohh!" Ucap Hendrik.

"Ya udah kita pulang yuk?" Ajak Mas Adam.

Setelah beberapa menit mereka menunggangi motornya, mereka berempat pun telah sampai di depan potal gang perumahan kosan Omah.

"Baru pulang Bang?" Tanya Hansip.

"Iya Pak." Jawab Hendrik.

"Oh iya, ini KTP teman-teman saya Pak? Mereka berdua ingin menginap dikosan kita malam ini?" Ucap Hendrik sambil memberikan KTP Mas Adam dan Wahyu kepada Hansip.

"Siap Bang." Jawab Hansip sambil menerima KTP.

Bapak Hansip segera membukakan Portal Gang Perumahan.

"Makasih ya Pak?" Ucap Hendrik.

"Sama-sama Bang." Ucap Hansip.

Lantas mereka menyetir motor saling beriringan dan pelan, mereka takut mengganggu warga yang sedang tidur. Ketika mereka berempat berada didepan kebun kosong, tiba-tiba..

"Husssssss." Angin berhembus ke leher mereka berempat secara bersamaan.

"Stop!" Azam memberhentikan motor sambil memegang lehernya.

Mas Adam dan Hendrik langsung memberhentikan motornya.

Hendrik menggelitik merinding dimotor. Mas Adam sesekali mengangkat pundaknya.

"Bentar-bentar?" Azam sambil memegang leher dan menengok kearah kebun kosong, kesamping dan kebelakang.

"Cong, koq tiba-tiba bulu-bulu gw jadi berdiri semua ya? Lihat deh?" Ucap Wahyu sambil membonceng dimotornya Hendrik dan juga sambil menunjukkan lengannya.

"Ada apa'an Cong?" Tanya Mas Adam.

"Gak apa-apa Jeung, lanjut lagi aja." Ucap Azam.

"Ihihiiiiihiiiiiiihiiiiiiiiiiiiiiiii" Suara kuntilanak menyeru dari kebun kosong tersebut.

"Aaaaau, cepetan banciiiii cepetaaaaan!!!" Wahyu teriak dan menyuruh Hendrik untuk cepat-cepat ngegas motornya kembali.

"Jablaaaay." Hendrik teriak sambil ngegas motornya.

Mas Adam langsung sigap menancap gas motornya dibelakang motornya Hendrik.

"Gak apa-apa koq Jeng, dia udah biasa ngikutin." Ucap Azam.

"Tapi roman-romannya leher belakang gw terasa berat." Ucap Azam kembali.

Sesampainya Di Depan Pintu Gerbang Kosan Omah.

"Cepetan banci buka pintunya!" Ucap Wahyu sembari clingak-clinguk ke lorong gang kosan Omah.

"Kalian Berani-beraninya sih ngekos ditempat beginian cooonk?" Ucap Wahyu kembali.

"Berisik lu ah! Ini gw lagi ngebuka kuncinya banci!." Jawab Hendrik.

Mas Adam tengah menatap kearah Pohon Mangga yang berada di depan halaman rumahnya Omah. Terlihat serius dan memperhatikan sesuatu yang ada di Pohon mangga tersebut.

Azam sendiri melihat-lihat kearah atas, lorong dan kamar kosong yang berada di paling depan. Usai melihat-lihat sekitar kosan, Azam menatap kearah Mas Adam yang sedang terbengong.

"Woy! Jangan ngelamun jeng!!" Azam mengagetkan Mas Adam sambil menggebrak badannya.

"Eh!!" Mas Adam pun tersadar sambil menengokkan wajahnya kearah Azam.

"Gak usah terlalu dilihatin kayak gitu jeng? Nanti dia jadi padet loh." Ucap Azam.

"Ayok cepetan masuk!" Ucap Hendrik.

Mereka berempat pun segera masuk, menaruh motor, lalu menaiki tangga. Sesampainya dilantai atas, mereka semua langsung masuk lalu mengunci pintu kamarnya Azam.

"Gila deh, kayaknya yang tadi tuh? Yang ada di Rumah Hantu tadi." Ucap Hendrik.

"Udah deh mendingan kita tidur. sekarang udah jam 2 lewat. Gak usah ngebahas yang tadi. Kalo mau ngebahas dia besok aja." Ucap Azam.

"Eh-eh." Ucap Wahyu.

"Stop! Mendingan kita tidur." Ucap Mas Adam.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!