Bab 4

Setelah 15 Menit Kemudian, kegiatan merokoknya pun telah selesai. Azam masih merasa lelah, wajahnya terasa lumayan lengket

Azam bangkit berdiri, Ia berjalan enam langkah kearah samping kiri, masuk ke dalam kamar mandi dan tidak menutup pintu kamar mandinya.

Sesampainya di dalam kamar mandi, Azam pun langsung membungkukkan punggung setengah badan, mendekatkan wajahnya ke dekat kran air yang menempel ke tembok itu.

"Krucuuuuuukk,," Gemercik air kran yang dibuka olehnya.

Ia mulai membasuh kedua tangannya, lalu bagian kaki dan yang terakhir adalah bagian wajahnya. Dikala Ia yang sedang fokus membasuh bagian wajahnya tersebut, tiba-tiba.

“Hussssss..” Sebuah angin kecil melipir ke lehernya.

Seketika bulu kuduknya pun langsung meremang merinding. Ia terdiam tangan kanannya langsung memegang leher.

Perasaannya merasa kurang nyaman, suasana di lantai atas itupun mendadak hening, sepi, senyap serta mencekam. Ditambah dengan keberadaannya di lantai atas itu hanyalah seorang diri. Dalam diamnya itu, secara perlahan Ia menggerakkan kedua bola matanya kearah luar kamar mandi.

"hrrrrrrrrrrrrrrrrrr....."

Seketika bulu kuduk disekujur tubuhnya itu semakin merinding tiada henti. Nampak terlihat jelas, sosok kuntilanak tengah berdiri menatap kearahnya dipagar pembatas, tepat satu meter dari kursi besi yang barusan Ia duduki saat merokok.

Rambutnya terurai panjang menutupi sebagian wajahnya, jubahnya berwarna putih lusuh, Ia berdiri melayang. Rupa wajahnya tidak terlalu nampak jelas, karena tertutup jaring-jaring yang dipasang disekitar pagar pembatas.

Ia terdiam lalu secara perlahan, Ia menggerakkan kedua bola matanya kearah kran kembali. Ia berusaha untuk bersikap tenang dan berpura-pura tidak melihatnya. Akan tetapi tidak dapat kupungkiri, jikalau dalam hatinya itu memiliki praduga akan kehadiran sosok Kuntilanak itu.

"Apakah kuntilanak ini yang tadi dilihat oleh anak perempuan pemilik kosan lamaku? Apakah sebenarnya kuntilanak ini sudah berdiri sejak tadi, disaat aku sedang merokok? Berarti selama ini? Aku ditemani dia donk." Praduganya.

Mengingat akan kehadiran sosok kuntilanak tersebut hadir dengan membawa aura yang membuat bulu-bulu disekujur tubuhnya merinding, Ia pun meniatkan diri untuk meneruskan membasuh wajahnya menjadi pengambilan air wudhu. Sehingga lumayan lama Ia berada didalam kamar mandi.

Setelah wudhunya selesai, Ia mencoba memberanikan diri untuk melihat dan menatap kearah sosok kuntilanak tersebut berada. Secara perlahan Ia menggerakkan tubuhnya kearah sosok kuntilanak itu, dan diwaktu yang bersamaan kuntilanak itu menghilang entah kemana.

Ia segera melangkahkan kedua kakinya keluar dari kamar mandi menuju kearah pagar pembatas yang barusan disinggahi oleh sosok kuntilanak tadi. Sesampainya dipagar pembatas, Ia pun berucap "Hadeeeeuh.."

Ia segera mengambil barang-barangnya itu, Ia berjalan kepintu kamar dengan tatapan wajahnya yang menatap kearah pagar pembatas tersebut.

Sesampainya didepan pintu kamarnya itu, Ia pun kembali berucap dengan nada pelan "Kalau ingin berkenalan ya silahkan? Kalau ingin membawa rezeki ya silahkan? Tapi janganlah mengganggu, apalagi menakut-nakuti!"

Ketika Ia hendak membuka kunci pintu kamar pun, Ia kembali berucap "Lo! Lo! gw! gw!".

Selepas daripada itu, Ia segera memasukkan barang-barang pindahannya itu kedalam kamar, Ia masuk ke dalam kamar lalu duduk diatas kasur dan menyetel musik di Ponselnya.

Ia membakar rokoknya kembali, agar suasana tidak terasa tegang. Baru saja beberapa kali Ia menghisap rokoknya itu, tiba-tiba terdengar suara pijakan kaki yang sedang melangkah dari arah tangga.

"Plaaaaak,, Plaaaaak,, Plaaaaak" Suara jejak langkah kaki tanpa menggunakkan sendal.

Seketika bulu kuduknya yang telah stabil pun, kembali merinding. Ia terdiam menempelkan telinga di tembok, menunggu jejak langkah kaki itu berhenti, hingga tidak terdengar kembali olehnya. Jejak langkah itu berhenti hanya sampai diatas tangga saja.

Ia pun membangkitkan badan, Ia membuka pintu kamar, lalu berdiri didepan pintu kamar sambil menatap kearah tangga. Nampak tidak ada siapapun disitu.

Seharusnya jikalau ada orang yang menaiki tangga, pastinya akan terlihat olehnya. Karena posisi tangga tersebut berada lurus dengan kamarnya. Ia pun menunggunya beberapa menit, akan tetapi tak kunjung jua ada orang yang menaiki tangga.

Di dalam hatinya pun menjadi semakin penasaran. Ia melangkahkan kakinya menuju kearah tangga. Ia melihat-lihat disekitar tangga, berjalan ke tangga, lalu melihat-lihat ke lantai bawah dari tangga itu. Nampak tidak terlihat ada siapapun disitu.

Spontan seluruh bulu kuduk disekujur tubuhnya itu, semakin merinding tiada henti. Namun ia mencoba untuk tenang.

"Bangkai-bangkai, bodo amat lah." Ucapnya sambil membalikkan tubuhnya.

Ia segera berjalan kembali menaiki tangga lalu masuk kedalam kamarnya. Ia menutup pintu kamar, duduk bersantai kembali di atas kasurnya. Tak berapa lama Ia bersantai, pijakan langkah kaki tersebut kembali muncul.

“Plaaaak, plaaak, plaaak.”

“Hmmm..” Ia mengabaikannya sambil terus merokok.

Tak berapa lama kemudian.

"Tok, tok," Terdengar suara ketukan pintu kamarnya, terdengar sangat pelan. Suara ketukan pintu kamarnya itu, hanya dua kali saja.

Bulu kuduknya itu pun seketika langsung meremang merinding tiada henti. Ia pun langsung terdiam menyenderkan punggung di tembok.

Ia sangat pantang untuk membuka pintu di malam hari, jikalau tidak dibarengi dengan suara yang memanggil. Ia pun menunggunya beberapa menit, akan tetapi suara ketukan itu cukup dua kali saja.

Tak berapa lama setelah itu, terdengar suara ketukan yang mengetuk pintu kamarnya itu kembali muncul.

Tok! Tok! Tok!

"Dek, dek.."

"Oh si Omah, bentar Omaaah." Seru Azam.

"Iya." Jawab Omah.

Azam langsung bangkit berdiri dang langsung membuka pintu kamarnya.

"Ini Omah, saya lunasi?" Azam memberikan uang kosan dengan tatapan kedua matanya menatap ke arah tangga.

Di dalam hatinya ini, ingin sekali menanyakan hal yang barusan kepada Omah, namun Ia ragu.

"Terima kasih. Ini aku mau kasih sprei dan hordeng." Omah memberikan sprei dan hordeng kepadanya.

"Makasih Omah? Kirain saya nggak bakalan dapet sprei dan hordeng Omah.." Ucapnya sambil sesekali menatap ke arah tangga.

"Ya tidaklah, siapa pun yang kos disini, pasti Omah kasih sprei dan hordeng. Ini baru banget aku cuci, jadi kamu bisa langsung pakai."

"Ok Omah. Sekali lagi makasih ya Omaah?"

"Iya sama-sama."

"Ya sudah, aku turun lagi ya?"

"Iya Omaah, hati-hati."

Omah segera berjalan ke arah tangga lalu pulang ke rumahnya. Sementara Azam, langsung masuk ke dalam kamar, Ia mengunci pintu kamar lalu tidur.

Terpopuler

Comments

Yuli Eka Puji R

Yuli Eka Puji R

bangkai bangkai apaan sih thor selalu berucap kaya begitu azam

2023-06-08

0

Syhr Syhr

Syhr Syhr

Azzam di sini sangat sopan.

Gak seperti milikku.

2022-08-31

1

Nona Kecil

Nona Kecil

seharusnya dan

2022-08-13

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!