Azam terus melangkahkan kakinya mencari kosan, keluar masuk gang dan bertanya-tanya lalu melihat kosan kembali.
Hingga pada akhirnya Ia pun bertemu dengan salah satu warga yang menunjukkan sebuah gedung kosan bertingkat berwarna putih tanpa plang nama kosan kepadanya.
Setelah mengucapkan terima kasih, Ia langsung berjalan mendekati gedung kosan berwarna putih itu. Sesampainya di depan pintu gerbang kosan, Ia berdiri di depan pintu gerbang kosan itu.
Sambil berdiri di depan pintu gerbang itu, kedua matanya menatap kearah dalam gedung kosan. Akan tetapi tidak telihat adanya orang yang ada di dalam gedung kosan.
"Ah coba deh nanya saja kepada Ibu warung itu?" Ucapnya lalu berjalan menuju ke salah satu warung kecil yang tidak jauh dari gedung kosan ini berada.
"Maaf Bu, numpang bertanya?" Ucapnya sembari berdiri di depan warung.
"Iya Mas, mau bertanya apa?" Ucap Pemilik warung sambil duduk di dalam warungnya.
"Kalau pemilik kosan itu, tinggalnya dimana ya Bu?" Ucapnya sambil menunjuk dengan jari jempol tangannya ke arah gedung kosan itu.
"Pemilik kosan itu tinggal di rumahnya yang ada di sebelahnya itu Mas. Biasanya sih selalu ada di rumahnya koq. Coba saja kamu ketuk pintu gerbangnya dengan keras? Karena mohon maaf, pemiliknya sudah sedikit tuli."
"Baik Bu. Makasih ya Bu?"
"Sama-sama."
Setelah itu, Azam pun segera berjalan kembali lalu berhenti di depan pintu gerbang gedung kosan itu.
Dor! Dor!
"Buuu.." Seru Azam sembari menggedor pintu gerbang kosan lumayan keras.
Beberapa kali Azam menggedor pintu gerbang kosan, akan tetapi, tidak ada orang yang menjawabnya.
Azam pun mengingat pesan dari Ibu warung yang tadi, kalau rumah tempat tinggalnya itu masihlah berada di samping gedung besar kosan itu.
Lantas Azam pun melangkahkan kakinya berkeliling mengelilingi pagar tinggi rumah itu. Ia berjalan berputar di pertigaan jalan lalu belok ke kiri.
Terlihat pintu gerbang rumah yang menghadap kearah utara. Azam langsung berjalan mendekati pintu gerbang rumah itu.
Azam melihat ada seorang Nenek-nenek berusia 73 Tahun, sudah sedikit membungkuk, rambutnya berwarna putih dan di gelung. Nenek itu sedang menyapu di halaman rumahnya dengan sapu lidi.
"Bu-bu.." Seru Azam memanggilnya sambil berdiri di depan pintu gerbang rumah si Nenek.
Nenek itu tidaklah menoleh maupun menjawabnya. Nenek itu sangat asyik menyapu halaman rumahnya. Mungkin dia memang tidak mendengar teriakannya Azam sama sekali.
"Bu-bu.." Beberapa kali Azam memanggilnya kembali dengan nada suara lumayan keras, akan tetapi si Nenek tetap asyik menyapu halaman rumahnya.
"Mas?" Seru seorang Bapak-Bapak memanggil Azam dari arah belakang.
Azam langsung membalikkan badan, menatap kearah belakang. Terlihat Bapak-Bapak tetangga rumahnya si Nenek sedang berdiri menatapnya di balik pagar rumahnya. Dengan segera Azam berjalan mendekatinya, lalu berhenti di depan pagar rumahnya.
"Iya pak."
"Kamu ada perlu apa dengan Nenek itu?" Tanya si Bapak sambil menatap ke arah Nenek itu.
"Saya sedang mencari kosan Pak, dan ingin menanyakan kosan itu?" Jawab Azam sambil menunjuk ke arah gedung kosan itu.
"Sebentar ya Mas?"
"Baik Pak."
Si Bapak langsung berjalan keluar dari rumahnya, Ia berjalan lalu berjenti di depan pintu gerbang rumahnya si Nenek sambil membawa lonceng di tangan kanannya.
..."Krincing.. Krincing.." Suara lonceng yang di bunyikan oleh si Bapak....
Nenek itu mendengarnya, Ia menengok kearah bunyi lonceng itu. Nenek itu langsung berjalan kearah pintu gerbang.
"Makasih ya Pak?" Ucap Azam.
"Sama-sama Mas." Si Bapak langsung berjalan masuk kedalam rumahnya kembali.
"Ada apa?" Tanya si Nenek sambil berdiri memegang sapu lidi dibalik pintu gerbang rumahnya.
"Saya sedang mencari kosan Bu."
"Oh lagi cari kosan ya? Sebentar, aku bukain dulu pintunya." Wajah si Nenek terlihat sangat senang, Ia membuka pintu gerbang rumahnya pun sangat terburu-buru.
"Mari?" Nenek mengajaknya masuk.
Azam pun langsung melangkahkan kaki masuk ke halaman rumahnya. Si Nenek langsung menutup pintu gerbang, lalu berjalan menuju ke pintu rumahnya. Azam mengikuti si Nenek berjalan di belakangnya.
"Duduk disini dulu ya? Aku ambilkan dulu kunci-kunci kamar kosannya didalam?" Si Nenek menyuruhnya duduk dikursi besi yang berada di depan rumahnya.
"Baik Bu." Ucap Azam lalu duduk di kursi besi itu.
Si Nenek segera membuka pintu rumahnya, Ia berjalan masuk ke dalam rumah, mengambil kunci, Ia berjalan kembali keluar dari rumahnya sambil membawa kunci-kunci kamar kosan.
"Mari, kamu lihat kamarnya?" Ajak si Nenek.
"Baik Bu." Ucap Azam lalu bangkit berdiri.
Si Nenek langsung melangkahkan kakinya lumayan terburu-buru menuju ke gedung kosan. Wajahnya si Nenek itu terlihat sangat bahagia, seperti sangat senang ada orang yang menanyakan kosannya. Sementara Azam, mengikuti si Nenek itu berjalan di belakangnya.
Mereka berdua berjalan masuk ke dalam gedung kosan.
Satu per satu si Nenek langsung membuka dan memperlihatkan seluruh kamar-kamar kosan yang kosong kepada Azam. Baik kamar kosan yang berada dilantai bawah maupun yang berada dilantai atas, si Nenek menunjukkannya.
Setelah melihat-lihat kamar, mereka berdua duduk di kursi besi yang berada dilorong lantai atas.
"Jadi kamu mau kamar yang mana? Terus kapan mau menempatinya?" Ucap Si Nenek.
"Saya pilih kamar yang itu Bu." Azam menunjuk kamar yang paling depan yang berada disebelah kiri dilantai atas dekat kamar mandi dan lurusan tangga.
"Rencananya saya akan masuk dan menempatinya hari ini Bu, tapi nanti malam." Sambung ucapan Azam.
"Panggil saja Omah, aku pemilik kosan ini." Ucap Si Nenek memperkenalkan dirinya.
"Salam kenal ya Omah? Nama saya Azam. Kalau begitu, untuk sekarang ini saya DP in dulu saja ya Omah? Sisanya, nanti akan saya lunasi setelah saya sudah masuk kesini?"
"Iya, tidak apa apa."
Sejenak Azam mengeluarkan dompet dari saku celana panjang, mengambil beberapa lembar rupiah, sekedar untuk DP saja.
"Ini Omah?" Azam memberikan Deposit kamar kepada Omah.
"Terima kasih, tunggu sebentar?" Ucap Omah menerima uang darinya lalu mencari-cari kunci kamar yang di pilihnya dan juga mencari kunci duplikat pintu gerbang kosan.
"Ini kuncinya?" Omah memberikan kunci kamar dan juga kunci duplikat pintu gerbang kosan kepadanya.
"Terima kasih Omah." Azam menerima kunci itu.
"Sama-sama."
"Kalau begitu, saya langsung pamit saja ya Omah? Saya mau mengemas barang-barang dulu, agar nanti malam saya bisa langsung masuk kesini."
"Iya, silahkan."
Dengan segera Azam bangkit berdiri dari kursi besi, melangkahkan kaki kearah tangga, menuruni tangga, berjalan melewati lorong kamar lantai bawah, membuka lalu menutup pintu gerbang.
Azam berjalan menelusuri gang komplek perumahan menuju kearah jalan raya. Sesampainya di pinggir jalan raya, Azam menaiki angkutan umum menuju pulang ke kosan lamanya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 60 Episodes
Comments
Yuli Eka Puji R
oma lebih tepatnya kan untuk panggilan nenek
2023-06-08
0
Zhree
mampir lagi thor
2022-08-27
0
Nona Kecil
seharusnya kakinya b
2022-08-13
0