Sekitar jam 23.37, Azam baru sampai didepan portal gang komplek perumahan kosannya.
"Baru pulang bang?" Tanya Hansip penjaga portal.
"Iya Pak." Ucap Azam.
"Mau dibukain tidak bang?" Hansip menawarkan membuka portal.
"Tidak usah Pak." Azam menjawabnya sambil menerobos kebawah portal seperti biasanya.
"Nih pak, saya ada rokok sisa dari kerjaan." Azam memberikan rokok beberapa batang kepada Hansip.
"Terima kasih bang." Ucap Hansip.
"Sama-sama Pak. Saya duluan ya Pak?" Ucap Azam.
"Iya bang." Ucap Hansip.
Azam melanjutkan berjalan kaki kembali menuju ke kosan Omah. Suasana gang dari portal menuju kosan Omah, sama seperti biasanya, sangat sepi, hening, gelap dan mencekam. Sambil berjalan membawa Papperbag yang berisi barang-barang pekerjaannya, Ia berjalan kaki dengan santai sambil mendengarkan musik menggunakan Headsfree di kupingnya.
"Owkk,owkk,owkk." Mendadak Azam mual-mual. Ia pun memberhentikan jalannya.
"Tumben amat gw, mual-mual tapi gak berasa pusing? Badan gw juga terasa fit koq." Ia berucap sendiri.
Azam kembali berjalan.
"Owkkk,Owkkk,Owkk." Azam kembali mual-mual.
"Idiih, kenapa gw?" Tanyanya didalam hati sambil menghentikan jalan dan melirikkan kedua matanya kekanan dan kekiri.
Azam mulai berjalan kembali.
"Sekk, kresekk." Terdengar suara jejak seperti orang yang yang sedang berjalan mengikutinya. suara jejak tersebut seperti kantong kresek.
Azam langsung memberhentikan jalannya.
"Anjir, seperti ada orang ngikutin gw?" Ucap Azam didalam hatinya sambil melihat kekanan, kekiri dan kebelakang.
"Tidak ada siapa-siapa?" Tidak ada siapapun yang berada di sekelilingnya. Bulu kuduknya seketika naik merinding.
Ia kembali berjalan dengan tetap santai.
"Srekkkk, kresekkkk." Suara jejak plastik kresek tersebut mengikutinya kembali.
Dengan sigapnya Ia langsung memberhentikan langkah kakinya. Ia melirikkan kedua matanya kesebelah bahu kanannya.
"Idiiih sosok Apa'an itu?" Terlihat sosok bayangan hitam menyerupai seorang lelaki, tengah menempel di tembok gedung sekolahan. Jaraknya 2 meter dari Ia memberhentikan langkahnya.
Seketika itu bulu kuduknya semakin merinding. Ia pun langsung melangkah sambil berlari.
"Sresekkk!Sresekk!Sresekk!! Jejak bayangan bersuara kresek tersebut seperti tetap mengiringinya.
Selama Ia berlari, suara jejaknya tetap mengikutinya. Selama berlari, Ia pun tidak menengokkan wajahnya ke belakang. Ia terus berjalan sambil berlari, hingga sekitar 3 meter dari kosan omah, Ia baru memelankan langkahnya
.
Ia membuka kunci pintu gerbang sambil terus melihat-lihat sikon kesekeliling. Ditengah dirinya yang sedang membuka gembok pintu gerbang, sosok Kuntilanak yang pernah Ia lihat, mewujud, menjelma, terlihat jelas berada didalam kamar kosan kosong yang berada paling depan, kamar kosan yang menghadap ke Gang.
Dia menjelmakan dirinya, dan menatap kearahnya dari dalam kamar tersebut. Sosok perempuan itu berdiri dibalik Jendela, setengah badan, menatap kedepan, menggunakan baju berwarna putih, dan rambutnya menutupi seluruh wajahnya.
Bulu kuduknya Azam semakin merinding fantastis.
"Bangkai, bangkai!" Ucapnya didalam hati sambil fokus membuka gembok. Mungkin karena Ia sudah mulai terbiasa, Ia pun menyikapinya masa bodo dan mengabaikannya.
Hanya saja Ia merasa khawatir dengan sahabatnya yang bernama Hendrik, yang sedari tadi pagi sifatnya berubah. Sifatnya seperti yang sedang marah kepadanya. Setelah mengunci kembali pintu gerbang, Ia segera berlari masuk kedalam kosan Omah.
"Lah, si Jablay kemana?" Azam tidak melihat motornya Hendrik dilorong kosan bawah.
Azam segera menaiki tangga lalu duduk di kursi besi sambil merokok.
Melihat sifat Hendrik yang berubah seperti itu, Ia pun tidak berani untuk mengirimkan pesan whatsap kepadanya. Sekitar setengah jam'an Ia duduk sambil merokok, suara motornya Hendrik pun terdengar. Lantas Ia segera melihatnya sambil berdiri di pagar pembatas.
"Itu dia si Jablay." Ucapnya didalam hati sambil melihat Hendrik dari pagar pembatas.
Azam duduk kembali di kursi besi.
"Habis jalan dari mana blay?" Ucap Azam kepada Hendrik ketika Hendrik sedang berjalan kearah pintu kamarnya.
Hendrik tidak menjawabnya dan langsung masuk kedalam kamarnya. Azam pun tidak meneruskan pertanyaannya.
Sejenak Azam masuk kedalam kamrnya menaruh tas kerjanya. Ia keluar membersihkan badannya di kamar mandi lalu masuk kembali kedalam kamarnya.
"Aneh amat si Jablay? Gw ajak ngobrol, malah diem bae. Salah apa gw? Sampe gw didiemin kayak begini?" Ucap Azam sambil merokok didalam kamarnya.
Semenjak dihari itu, Hendrik tidak pernah mengajak Azam mengobrol maupun jalan bareng bersama dengannya. Kurang lebih sekitar semingguan lebih, Hendrik mendadak menjadi orang yang pendiam dan sangat cuek kepada Azam.
Beberapa kali Azam pun tetap berusaha mengajak Hendrik untuk mengobrol dengannnya. Namun setiap kali Ia menyapanya, Hendrik tetap tidak menjawab. Hendrik terlihat sangat acuh tak acuh.
Hih. Heh, lalu masuk kedalam kamarnya..Itulah jawaban Hendrik selama Azam mencoba untuk mengajak Hendrik untuk mengobrol.
Sebenarnya hal itu pun sudah pernah terjadi kepada mereka berdua. Pertengkaran antar teman itu sudah biasa. Hanya saja, kalau masalah yang dulu itu jelas alasannya. Masalah yang dulu, alasannya karena Azam dekat dengan kekasihnya Hendrik, sehingga membuat Hendrik marah dan cemburu.
Kejadian yang dulu pun, yang meminta maaf adalah Hendrik duluan, karena telah salah faham kepada Azam. Kalau yang sekarang ini, Ia tidak memahami apa masalahnya. Membuatnya menjadi bertanya-tanya sendiri dan merasa kebingungan sendiri.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 60 Episodes
Comments