Sekarang, hari telah berganti malam. Waktu menunjukkan jam 18.47.
Drt! Drt! Drt!
Azam segera melihat pesan yang masuk ke ponselnya.
["PINK!!!"] Whatsapp Hendrik.
["Iya Blay."] Whatsapp Azam.
["Dimana lo?"] Whatsapp Hendrik.
["Ada di kosan."] Whatsapp Azam.
["Ya udah gw kesitu."] Whatsapp Hendrik.
["Ok."] Whatsapp Azam.
Tak berapa lama kemudian, Hendrik pun telah sampai didepan Pintu Gerbang Kosan Omah.
Tiiiit.. tiiiit..
"Blaay, blaaay!!" Teriak Hendrik memanggil Azam dari depan pintu gerbang kosan Omah.
Azam berdiri, berjalan keluar dari kamar lalu melihatnya dari pagar pembatas.
"Langsung masuk aja Blay? Buka aja pintu gerbangnya? Belum di gembok koq." Ucap Azam sambil berdiri di pagar pembatas.
"Ok." Ucap Hendrik.
Hendrik membuka pintu gerbang, menutup kembali pintu gerbang, memasukkan motornya dilorong kosan lantai bawah. Hendrik berjalan menaiki tangga lalu duduk di kursi besi bersebelahan dengan Azam.
"Udah pulang kerja lo? Bukannya hari ini lo masuk siang?" Ucap Hendrik.
"Gak blay. Gw gak masuk kerja hari ini. Tadi pagi badan gw sedikit pegel-pegel dan demam." Ucap Azam sambil merokok dengan posisi duduk bersila diatas kursi besi.
"Bukannya semalam itu lo gak kenapa-napa ya blay?" Tanya Hendrik keheranan.
"Iya gak kenapa-napa. Gw demam dan menggigil pas setelah kita makan itu blaay? Mungkin masuk angin biasa aja kali gw. Jadi pada kaku dan pegel semua badan gw." Ucap Azam.
"Lo kebanyakan merokok tuh? Makanya gak usah banyakin merokok lo!" Ucap Hendrik ngegas.
"Ah kayak lo gak tau aja? Tanpa asap rokok? Hidup gw serasa hampa dan hambar blaay." Ucap Azam.
"Oh iya, gw udah nyampein ke Omah bahwa satu mingguan lagi, lo akan masuk kesini. Lo jadi kan blaay kos disininya?" Ucap Azam.
"Jadi lah, sebagian barang-barang gw udah di packing. Jadi pas hari H mau pindahan, gw gak kerepotan. Nanti lo bantuin gw pindahan kesininya ya blay?" Pinta Hendrik.
"Ok." Ucap Azam.
"Eh Blay, tadi pas gw naik ke atas? Bulu kuduk gw merinding loh. Kayak ada orang yang sedang berdiri dan melihat gw dari kamar kos yang sebelum naik ke tangga itu? Apa kamar itu ada yang ngisi blay?" Tanya Hendrik dengan nada suara pelan sambil menatap ke arah tangga.
"Ah lo blay. Tidak ada yang ngisi kamar itu. Palingan juga itumah hanya halusinasi lo doang." Ucap Azam.
Hendrik menatap ke arah Azam.
"Sekarang lo udah makan?" Tanya Hendrik.
"Belum. Duit gw sisa 5 ribu blay." Ucap Azam sembari merokok.
"Hadeeeuh, lo mentingin beli rokok ketimbang beli makanan. Jablaay-jablaay!" Ucap Hendrik.
"Ya udah gw pinjemin dulu, tapi jangan lupa? Bayarnya ada bunganya 3%!" Tawaran Hendrik.
"Iya-iya terserah lo deh. Selagi gw mampu untuk membayarnya? Nanti gw bayar. Sekalian tuh sama bunganya. Dasar jablay rentenir!" Ucap Azam.
"Ya udah ayok kita langsung cabut aja. Kali ini gw bayar sendiri, lo gak perlu bayarin gw." Ajak Hendrik sambil mendirikan badannya dari kursi besi.
"Ya udah ayok! Nanti sekalian mampir ke dokter untuk membeli surat keterangan sakit ya blay?" Ucap Azam.
"Iye!" Jawab Hendrik.
Lantas mereka berdua langsung meluncur membeli makanan di pasar malam seperti biasanya. Sehabis itu, mereka berdua lanjut ke klinik dokter sekedar untuk membeli surat keterangan sakitnya saja.
"Blay, lo gak sekalian periksa aja?" Tanya Hendrik dengan posisi duduk dimotornya.
"Gak lah, Lo tau sendirikan dari dulu gw gak suka minum obat?" Ucap Azam sambil berdiri didepannya Hendrik.
"Sekarang ini badan gw udah agak sedikit mendingan koq. Palingan nanti gw banyakin minum air putih sama minum susu beruang aja. Biasanya juga sembuh sendiri gw." Ucap Azam kembali.
"Iya sih, lo dari dulu emang gak suka minum obat. Lupa gw." Ucap Hendrik.
"Ya udah sono lo daftar langsung. Gw tunggu disini." Hendrik menunggunya didepan Klinik bersama dengan motornya.
Azam segera berjalan masuk kedalam klinik lalu mendaftar, antriannya pun lumayan cukup banyak dan banyak juga yang sepertinya, yang sekedar untuk membeli surat keterangan sakitnya saja.
"Udah lo?" Tanya Hendrik ketika Azam sudah keluar dari klinik.
"Udah, ini suratnya." Azam menunjukkan surat dokter ditangannya.
"Terus mau kemana lagi sekarang?" Tanya Hendrik.
"Main ke kosan lo dulu aja blay, lemes gw, mau rebahan dulu. Kosan lo kan deket dari sini." Pinta Azam.
"Ya udah, sekalian juga gw mau ngecas hape gw." Ucap Hendrik.
Sesampainya dikosannya Hendrik, Azam langsung merebahkan badannya diatas kasurnya Hendrik.
"Eeeh, duduk lo! Itu kasur udah gw beresin dan udah gw bersihin! Dilantai aja lo tidurnya!" Ucap Hendrik dengan nada ngegas.
"Ah lo blay, badan gw masih lemes." Ucap Azam sambil mendudukkan kembali badannya.
Azam segera membuka susu beruang lalu meminumnya.
"Aaaah, segerrr." Ucap Azam setelah meneguk susu beruang.
"Blay, sebenarnya lo itu sakit apaan sih? Lihat noh wajah lo? Pucet banget. Tadi dijalan juga lo mual-mual mulu? HIV lo ya? Hehehe." Tanya Hendrik sambil bercanda ketika mengucapkan "HIV lo ya?!" dan menutup bibir dengan tangannya sambil cengengesan.
"Meskipun gw suka kasar sama lo? Kalo lo sakit, gw merasa khawatir sama lo." Ucap Hendrik kembali.
"Yang jelas? Bukan HIV Blay! Hahaha." Ucap Azam dengan nada sedikit ngegas sambil berpura-pura menahan rasa lemes dibadannya.
"Masih aja lo ya ditanya serius, malah dijawab bercanda!" Ucap Hendrik bersama dengan nada ngegasnya.
"Ya sakit biasa aja. Mungkin masuk angin biasa aja blay. Gak usah khawatir gitu laah. Masih mending, lo urusin tuh orang-orang yang lo pinjemin uang lo itu?" Ucap Azam.
"Sory-sory bukan maksud gw untuk menyindir. Gw cuma bercanda blay." Ucap Azam.
"Lo inget gak sih? Dulu gw pernah meriang kayak gini karena kenapa?" Ucap Azam mencoba menggali ingatannya Hendrik.
"Bentar-bentar?" Pinta Hendrik sambil mikir.
"Ok, ok sekarang gw inget. Lo pernah sakit begini, bahkan lo pernah berdiri hingga terjatuh kembali ke lantai? Dan lo bilang waktu itu, lo habis pulang nongkrong dari salah satu tempat, lalu tidak sengaja lo melihat sosok hantu di salah satu pohon yang berada disana. Itu bukan?" Tanya Hendrik.
"Cerdasss!" Ucap Azam.
"Terus sekarang juga sama? Dimana lo ngeliatnya?" Tanya Hendrik dengan rasa penasarannya.
"Ada laah.. Gw nggak mau lo nanti kebawa suges dan merasa takut? Biar gw aja yang ngerasain." Ucap Azam.
"Udahlaah nggak usah difikirin? Nanti juga gw sembuh sendiri, kayak waktu dulu kan gw sembuh sendiri. Mendingan sekarang ini, lo anterin gw pulang kekosan? Karena sebentar lagi portal kosan gw akan ditutup." Ucap Azam sambil melihat waktu di Ponsel.
"Ya udah ayok." Ucap Hendrik.
Lantas mereka berdua segera kembali ke Kosan Omah.
"Ya udah blay gw balik langsung? Kalo ada apa-apa jangan lupa kabarin gw?" Pesan Hendrik.
"Ok blaay, Thank you." Ucap Azam sambil berdiri di depan pintu gerbang kosan Omah.
"Oke." Ucap Hendrik sembari menancapkan gas motornya kembali.
Azam langsung masuk kedalam kosan, menaiki tangga, masuk ke dalam kamar lalu langsung tertidur.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 60 Episodes
Comments