Di pagi hari yang masih terasa sejuk dan terasa sangat segar udaranya. Terlihat Azam bersama Hendrik telah terbangun. Mereka berdua menggunakan baju training dan sedang duduk di kursi menunggu kedua teman yang lainnya.
"Tiiiiit,, tiiiit,,"
"Iya bentar Mas?" Ucap Hendrik dari pagar pembatas.
"Ayo Blay?" Ucap Hendrik mengajak Azam turun kebawah.
Mereka berdua segera berjalan turun ke bawah lalu membuka pintu gerbang kosan Omah.
“Masukin dulu Mas Adam motornya kedalem?” Ucap Hendrik kepada Mas Adam sambil memegang pintu gerbang kosan Omah.
“Iya.” Ucap Mas Adam.
Sejenak Mas Adam memasukkan motornya dilorong kosan lantai bawah. Setelah itu Mas Adam keluar kembali.
Mereka berempat segera mengambil posisi.
"Satu.. Dua.. Tiga.." Suara gerakkan mereka berempat yang sedang berlari santai.
Mereka berempat berlari saling beriringan menuju GOR Danau. Suasana jalanan gang maupun jalan raya sangatlah ramai, banyak yang berlari dipagi hari.
"Jangan pingsan loh Jeng?" Azam menyindir Mas Adam yang memiliki perut agak buncit.
"Ngeledek kamu ya?" Ucap Mas Adam.
"Hahaha.." Azam tertawa.
"Blay, masih jauh gak sih?" Ucap Hendrik.
"Lumayan Blay.." Ucap Wahyu.
"Eh enaknya kita lomba lari aja yuk? Siapa yang paling belakang? Dia yang harus bayarin beli minuman. Gimana?" Ucap Azam.
"Boleh." Ucap Mas Adam dan Hendrik secara bersamaan.
"Siapa takut." Ucap Wahyu.
Sejenak mereka berempat berhenti berjalan. Mereka berempat berdiri saling beriringan.
"Ok, aturan mainnya bebas melalui jalan manapun, mau melalui jalan alternatif pun silahkan. Yang penting, kita bertemu di secure parking pintu utama GOR. Dalam hitungan ketiga? Kita mulai ya?" Ucap Azam.
"Ok." Ucap mereka bertiga.
"Satuuu.. Duuuua.. Tigaaa...."
Mereka berempat mulai berlari. Terlihat Azam bersama dengan Wahyu berlari berada didepan karena mereka berdua memiliki beban yang sangat ramping. Sementara Mas Adam bersama dengan Hendrik berada di belakang mereka berdua, karena mereka berdua memiliki beban berat badan yang lumayan.
Setelah beberapa menit mereka berlari, Terlihat Azam bersama dengan Wahyu sudah berada pinggir Jalan Raya yang berada di area Danau terlebih dahulu.
"Blay, mereka berdua kemana?" Ucap Wahyu.
"Gak tau gw." Ucap Azam.
"Kita tunggu mereka dulu deh blay?" Ucap Wahyu.
"Ok." Ucap Azam.
Lantas mereka berdua menunggu Mas Adam dan Hendrik dibawah pohon yang berada dipinggir Jalan Raya bunderan Danau tersebut.
"Itu dia Blay." Ucap Wahyu yang melihat Hendrik bersama dengan Mas Adam baru muncul.
Mas Adam dan Hendrik bukannya berlari, malah jalan santai.
"Haduuh beneran capek aku. Hahhh! hahhh!" Ucap Mas Adam sambil ngos ngosan.
"Serasa mau copot dengkul gw." Ucap Hendrik sambil memegang dengkulnya.
"Baru segitu saja udah ngeluh? Tetep kan perawan yang nomer satu?" Ucap Wahyu sambil mengedip-ngedipkan matanya.
"Yah, kumat deh blay?" Ucap Azam kepada Hendrik.
"Wahyu!!!" Ucap Hendrik sambil melotot.
"Ini tempat umum, ni tempat umum." Ucap Mas Adam sambil mencubit pelan Wahyu.
"Auuu, Iiih Mas Adam? Jadi biru kaaan kulit gw?" Ucap Wahyu sambil mengusap bekas cubitan pelan Mas Adam di lengannya.
"Kita ke Alfa dulu yuk? Cari Mineral." Ajak Mas Adam.
"Ok."
Sehenak mereka berempat ke Alfa untuk mencari air Mineral. Setelah itu mereka berempat masuk ke GOR.
...Di Halaman GOR...
"Udah pada sehat lagi kaaan? Masih mau kan Jeng, Ndrik, tubuh kalian seseksi kita berdua?" Ucap Azam.
"Pasti gak bakal kuat deh blay? Gw jamin itu?" Ucap Wahyu.
"Siapa bilang?" Ucap Hendrik.
"Terus aja ngeledek." Ucap Mas Adam.
"Ok, gini aja blay? Biar Mas Adam dan Hendrik saja yang menentukan permainannya." Ucap Azam kepada Wahyu.
"Noh, si Ratu udah angkat bicara. Gimana?" Ucap Wahyu kepada Mas Adam dan Hendrik.
"Satu kali putaran sajalah." Ucap Mas Adam.
"Mana keluar keringet gw, kalo satu putaran doang Mas Adam?" Ucap Wahyu.
"Satu kali dulu blaaay. Kalo gw sama Mas Adam kuat? Kita lanjut." Ucap Hendrik.
"Ok." Ucap Azam.
Mereka berempat mengambil posisi Start.
"Satu, duuaa, tiiiigaaaa.." Ucap Wahyu.
Mereka berempat ssgera berlari memutari Aula Gor. Mereka berempat berlari saling beriringan.
"Ssttt.. ssst.." Ucap Wahyu kepada seorang Pria berbadan bidang yang sedang berlari didepan mereka.
"Hmm..hmmm.." Ucap Mas Adam.
"Kasih dia kebebesan Jeng? Barangkali saja perawan disini dapet jodoh." Ucap Azam.
"Coba kita kesitu yuk?" Ucap Hendrik menunjuk ke tempat Fitness Gratis yang ada di Halaman GOR.
"Cuuuus.. Banyak pemandangan indah.." Ucap Wahyu dengan nada pelan.
Mereka berempat segera berjalan ke Fitnes Gratis lalu menikmati fasilitas fitness gratis tersebut. Usai menikmati fasilitas fitness gratis, mereka berempat kembali berlari keluar GOR lalu kembali ke Kosan.
...*Di Kosan*...
"Enaknya badanku.." Ucap Mas Adam sambil mendaratkan bokongnya di kursi besi dan juga sambil mengelap keringat dengan Handuk Sportnya.
Hendrik pun mengelap-elap keringet dengan Handuk Sportnya, Hendrik duduk disebelah kanannya Mas Adam. Wahyu berada di sebelah kirinya Mas Adam. Azam langsung membakar rokok dikursi makan.
"Coba Mas Adam liat berapa kalori yang sudah terbakar?” Ucap Wahyu.
"Mantap." Ucap Mas Adam yang melihat jumlah kalori yang terbakar di Aplikasi Ponselnya.
"Kira-kira bisa gak ya perutku ini kayak kalian berdua?" Ucap Mas Adam kepada Azam dan juga kepada Wahyu.
"Bisa aja Jeng. Asalkan rutin." Ucap Azam.
"Susah deh Cong kayaknya. Soalnya Mas Adam itu? Terlahir memang harus seperti itu. Hahaha." Ucap Wahyu.
"Iye-iye perawan. Aku gak bakalan bisa kayak kamu?" Ucap Mas Adam.
"Bisa kali bencong! Liat nih perut gw udah kempes, tapi dikit." Ucap Hendrik yang hampir sama perutnya dengan Mas Adam.
"Hahaha.." Aza dan Wahyu tertawa.
"Kasihan amat sih cuma dikit? Liat donk body gw?" Wahyu menggoyang-goyangkan pinggulnya didepan Mas Adam.
PLAK!! Bokongnya Wahyu ditepak sama Hendrik.
"Auuuu." Wahyu teriak melambai.
"Mampus lu? Udah tau ada si Nenek." Ucap Azam.
"Siriiiik kaaan?" Ucap Wahyu kepada Hendrik.
"Aduh!" Mas Adam menepak dahi sambil menggelengkan kepalanya.
"Ngapain gw sirik sama yang kurus!!!" Ucap Hendrik ngegas.
"Siap-siap perang dunia keempat." Ucap Azam sambil menghembuskan asap rokok.
"Perawan!” Mas Adam greget sambil mencubit paha Wahyu.
"Auuu. Plakk!" Teriak Wahyu sambil menepak tangan Mas Adam.
"Biru lagi deh tubuh gw yang indah ini." Ucap Wahyu sambil mengusap-usap bekas cubitan Mas Adam.
"Ting.. Ting.. Buuuur.."
Wahyu segera berdiri melihat sumber suara tersebut dari pagar pembatas.
"Mang bubur mang?" Ucap Wahyu.
"Berapa Bang?" Ucap si tukang bubur.
"Empat Mang? Tolong bawa keatas ya Mang?" Ucap Wahyu.
"Ok Bang.." Ucap si tukang bubur.
Wahyu menatap ke arah ketiga temannya.
"Cusss pada cuci muka dulu biar seger, terus makan bubur kita." Ucap Wahyu kepada mereka bertiga.
Sejenak mereka berempat saling bergantian mencuci muka dikamar mandi. Lalu duduk kembali.
"Dimana Bang?" Ucap Tukang Bubur sambil membawa bubur-buburnya.
"Taro di Meja aja Mang." Ucap Hendrik.
"Ini ya Mang?" Mas Adam mentraktir.
...Usai Makan Buryam...
"Oough.." Wahyu bersendawa.
"Kenyangnya perut gw." Ucap Wahyu sambil mengelus-elus perutnya.
"Ya udah yuk kita pulang dulu Perawan?" Ucap Mas Adam kepada Wahyu.
"Ya udah ayok?" Ucap Wahyu.
"Cong, kite pulang dulu ye? Jangan kangen ye?" Ucap Wahyu.
"Ngapain gw kangen sama lo?" Ucap Hendrik ngegas.
"Aku pulang dulu ya?" Ucap Mas Adam.
"Iya Mas Adam, hati-hati." Ucap Hendrik.
"Hati-hati lo pada?" Ucap Azam.
"Iyee." Ucap Wahyu sambil berjalan menuruni tangga.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 60 Episodes
Comments
Panji Zean
kok ngantuk bacanya yak
2022-10-13
1
zayln khair
thorr ini yang laki sama cewe siapa ajaaa 😭😭😭
2022-09-15
0