Waktu menunjukkan jam 22.37.
Nampak terkihat Hendrik yang baru sampai di depan pintu gerbang kosan Omah. Ia memberhentikan motor di depan pintu gerbang, membuka pintu gerbang lalu mengunci pintu gerbang kembali. Ia mendorong motornya masuk ke dalam lorong kosan lantai bawah, menaruh motor di depan pintu kamarnya sendiri.
Hendrik berdiri di samping motornya.
"Blaaaay, blaay." Hendrik teriak.
Azam tidak menjawab panggilannya Hendrik. Azam tidak mendengar teriakkannya Hendrik karena sedang mendengarkan musik menggunakan Headset dikupingnya.
"Kemana tuh si Jablay? Tumben amat gak nyaut panggilan gw?" Hendrik berucap sambil menatap kearah atap lantai bawah.
"Bodo amat lah, mendingan gw bersih-bersih dulu terus berwudhu." Ucap Hendrik.
Sejenak Hendrik masuk kedalam kamarnya, Hendrik menaruh tas ransel kerjanya didalam kamar. Setelah itu Ia kekamar mandi yang berada didepan kamarnya (diluar kosan).
Setelah bersih-bersih dan wudhunya selesai, Hendrik pun masuk kembali ke dalam kamarnya. Ia menjalankan Shallat Isya.
"Assallamu'allaikum warrah matullah, Assallamu'allaikum wr.wb." Ucap salam terakhir Hendrik yang menandakan dirinya telah selesai Shallat Isya.
SEG!!! Terasa sangat busuk menyengat di hidungnya.
"Gila! Bau apaan ini???" Ucap Hendrik sambil duduk bersila diatas sajadah dengan tatapannya yang menengok-nengok kesekeliling kamarnya mencari sumber aroma busuk tersebut.
"Gila! Busuk banget baunya!!! Owekk, owkk, Oowkk!!" Aroma bau busuknya semakin menyengat membuat Hendrik mual-mual dan ingin muntah.
Hendrik menutup hidungnya. Hendrik mendirikan badannya dari atas sajadah. Hendrik mencari sumber aroma busuk dari penjuru ke penjuru, lemari, termasuk juga mencium sepatu pantopel dan kaos kaki yang telah dipakainya dihari itu.
Hingga pada akhirnya Hendrik menatap kearah lubang pentilasi udara kamarnya. Seketika Hendrik terdiam dan terus menatap kearah pentilasi udara kamarnya tersebut.
"Aaaaaaaaaaaaaaaau." Hendrik terkejut kaget dan teriak histeris sangat kencang. Hendrik teriak bersama dengan jatidirinya yang melambai.
"Jablaaaaay, jablaaaay.." Hendrik teriak-teriak memanggil Azam sambil terus menatap kearah pentilasi tersebut.
Azam mendengar teriakkannya. Azam segera membuka headset dari kupingnya. Azam mengira Hendrik sedang bercanda.
"Dih, Apaan sih si Jablay? Malem-malem gini teriak kayak gitu. Hadeeeeuh." Ucap Azam.
Azam berdiri, Ia berjalan cepat menuruni tangga menuju kekamarnya Hendrik. Sambil berjalan dari tangga menuju kedepan kamarnya Hendrik, Azam pun berkata. "Ada apa sih blaay? sampe teriak-teriak kayak gituuu?"
Hendrik tidak menjawabnya. Hendrik masih tetap menatap kearah pentilasi udara. Karena tidak dijawab Azam pun berjalan ingin masuk kedalam kedalam kamarnya. Azam melangkah tiga langkah masuk ke kamarnya Hendrik.
"Idiiih bau banget." Ucap Azam didalam hatinya. Seketika Azam langsung berbalik kembali lalu menyender dipojok pintu kamarnya Hendrik.
Bulu kuduk disekujur tubuhnya Azam seketika merinding. Azam terdiam melihat ekspresi wajah Hendrik yang terlihat sangat pucat dan sangat ketakutan.
"Kenapa blaay?" Ucap Azam dengan posisi menyender di pojokan pintu kamarnya Hendrik.
"Coba deh lo cium, ini bau apaan?" Pinta Hendrik sambil terus menatap kearah lubang pentilasi kamarnya.
"Heh! Gw disini! Ngapain lu ngelihatin kearah situ mulu?" Azam berkata cepat dan ngegas tujuannya agar Hendrik tidak melamun dan menatap kearah pentilasi tersebut.
Hendrik tetap menatap ke arah lubang pentilasi udara kamarnya.
"Tadi gw ngeliat sesuatu disitu?" Ucap Hendrik sambil menunjuk kearah pentilasi udara kamarnya.
Azam segera berjalan keluar. Azam melihat dibalik pentilasi kamar yang ditunjuk oleh Hendrik. Azam memeriksa dibagian luar, termasuk didalam kamar mandi, namun tidak ada apa-apa dan tidak tercium aroma busuk tersebut.
Aroma bau bangkai busuk tersebut hanya berada disekitar kamarnya Hendrik saja. Azam hanya merasa gerah saat memeriksa di area luar tersebut. Usai memeriksa SiKon diluar, Azam kembali lagi kekamarnya Hendrik.
"Disitu gak ada apa koq blay?" Ucap Azam.
"Lo udah nyium ini bau apaan?" Pinta Hendrik.
"Iya gw udah menciumnya." Ucap Azam.
"Udah lah mendingan lu keluar. Malem ini lu tidur dikamar gw aja." Ucap Azam.
"Iya blay." Ucap Hendrik nada suara sangat pelan.
Sejenak Hendrik mengunci pintu kamarnya. Mereka berdua segera berjalan menaiki tangga lalu sejenak duduk di Kursi Besi. Azam segera mengambil air mineral botol di dalam kamarnya.
"Minum dulu blay." Ucap Azam sambil memberikan air mineral.
"Coba deh lu tenangin diri dulu?" Ucap Azam.
"Udah-udah, gw udah tenang." Suara Hendrik terdengar seperti orang yang habis berlari ribuan kilo.
"Coba lu cerita blay? Sebenernya tadi itu li ngeliat apa'an? Soalnya pas gw liat keluar itu gak ada apa-apa blay? Hanya ada daun mangga yang menggantung dibatang pohonnya." Ucap Azam.
"Gw.. Gw.. Gw tadi ngeliat muka gosong yang sedang mengintip ke arah gw dari pentilasi udara itu blay! Sumpah gw gak bohong!" Ucap Hendrik dengan wajahnya yang terlihat sangat pucat.
"Muka serem itu muncul, setelah bau yang tadi muncul. Lo taukan tadi bau apaan?" Tanya Hendrik.
"Tau! Yang gw cium tadi dikamar lu? Adalah bau bangkai busuk, sangat busuk, seperti bau bangkai campur kotoran manusia." Ucap Azam.
"Tapi sebaiknya, kita bahas besok aja blay? Gak baik kalo dibahas sekarang. Nanti dianya kesenengan. Mendingan lu sekarang istrihat aja?" Ucap Azam.
Hendrik menganggukkan kepalanya. Mereka berdua masuk ke dalam kamarnya Azam. Hendrik langsung meringkukkan badannya diatas kasurnya Azam. Badan Hendrik terlihat menggigil dan bergetar serta bibirnya menggigit-gigit bibirnya sendiri, Hendrik benar-benar merasa sangat ketakutan.
Azam segera menutup jendela, menutup hordeng dan mengunci pintu kamarnya. Azam terus menjaga Hendrik sambil duduk menyender di tembok kamarnya karena Ia merasa sangat khawatir kepada sahatnya. Setelah jam satuan malam lebih, Azam baru tertidur sambil terduduk menyender ketembok kamarnya.
Esok Harinya.
Terlihat Azam sudah terbangun dari tidurnya. Azam segera mandi lalu kembali ke dalam kamarnya.
"Udah segeran lu?" Ucap Azam dengan posisi handuk yang menempel di kepalanya karena habis mandi dikamar mandi.
"Udah. Gw mau mandi dan berangkat kerja." Ucap Hendrik dengan posisi duduk diatas kasurnya.
"Yakin lu mau masuk kerja?" Ucap Azam.
"Iya, soalnya gw lagi kejar target." Ucap Hendrik.
"Ya udah kalo gitu, hati-hati lu." Ucap Azam.
"Iya." Ucap Hendrik.
Hendrik membangkitkan badannya. Hendrik keluar dari kamarnya Azam lalu berjalan turun masuk ke dalam kamarnya. Hendrik langsung mandi, setelah itu langsung berangkat kerja.
Azam yang sedang mendapatkan jadwal kerja pagi pun sama, langsung berangkat ke kerjaanya.
Selama Azam berada dikerjaannya tersebut, Hendrik mengirimkan whatsapp kepadanya. Hendrik menyampaikan kepada Azam bahwa ingin berpindah kamar yang berada dilantai atas. Kamar yang berada di sebelah kanan.
Lantas sepulang dari kerjaannya, Azam pun langsung menemui Omah. Azam menyampaikan pesannya Hendrik kepada Omah.
Omah pun memahami dan mengerti. Tanpa bertele-tele Omah juga mengijinkannya. Omah langsung memberikam kunci kamar baru Hendrik kepada Azam.
Setelah Hendrik pulang dari kerjaannya, Azam pun segera membantu Hendrik pindahan ke lantai atas.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 60 Episodes
Comments