KREEEK, KREEEK.. Suara Pintu Gerbang dibuka lalu ditutup kembali.
Wahyu segera mengintip dari pagar pembatas. Terlihat Hendrik yang membuka pintu gerbang itu.
"Cong, Hendrik udah dateng tuh?" Ucap Wahyu sambil merunduk di Pagar Pembatas.
"Ya udah cong cepetan, lo langsung ambil posisi, tungguin dia dibalik besi tangga?" Ucap Azam sambil menunjuk kearah besi tangga dengan posisinya yang sedang berdiri di depan kamarnya.
Wahyu segera berjalan menuju ke pagar tangga. Wahyu menunggu Hendrik di pagar tangga tersebut.
"Lo tetep duduk ya Jeng? Duduk yang Macho!" Ucap Azam kepada Mas Adam.
Mas Adam langsung duduk tegak, kedua sikut tangannya ditempatkan diatas dengkulnya di tekuk.
"Gw masuk ke kamar dulu ya? Nanti kalo ditanya mau kemana? Lo panggil gw ya Jeng?" Ucap Azam kepada Mas Adam.
"Paling bisa kamu ya?" Ucap mas Adam.
Azam masuk kedalam kamarnya.
Hendrik sudah masuk dan menaruh motornya disebelah motonya Mas Adam.
"Kayaknya gw kenal nih sama ini Motor?" Ucap Hendrik yang melihat motornya Mas Adam berada di lantai bawah.
Hendrik menaiki tangga menuju keatas. Wahyu telah siap menunggu Hendrik. Hendrik sudah berada di tangga atas.
"Duaarrrrr!!!" Wahyu mengagetkan Hendrik sambil memajukan kedua tangannya.
"Auuuuuu." Hendrik teriak melambai, tubuhnya ngejedak ke tembok sambil mengangkat satu kakinya.
"Hahaha, kaget lo ya?" Ucap Wahyu.
"Tae loh!! Gak lucu tau!!!" Ucap Hendrik ngegas.
Hendrik menatap kearah Mas Adam yang sedang duduk di Kursi besi.
"Eh, ada mas Adam?" Hendrik Hendrik berjalan mendekati Mas Adam.
Wahyu mengikuti Hendrik dari belakang. Hendrik duduk disebelah kiri Mas Adam. Wahyu duduk di sebelah Hendrik.
"Sudah lama mas?" Ucap Hendrik sambil memegang tangannya Mas Adam.
"Ya, belum lama juga sih aku disini." Ucap Mas Adam dengan logat jawanya sambil menatap ke kamarnya Azam.
"Mau kemana mas?" Ucap Hendrik sambil kepalanya menyender di bahu sebelah kirinya mas Adam.
"Gak tau tuh, si Cong mau ngajakin aku kemana?" Ucap Mas Adam dengan tatapan yang masih menatap ke kamarnya Azam.
"Cong-cong? Kamu mau ngajakin kita berdua kemana ya?" Teriak Mas Adam kepada Azam.
"Iya Jeeeng. Tadi katanya kita mau karokean kaan? Bentar ya Jeng, gw lagi ganti baju dulu?" Teriak Azam dari dalam kamarnya sambil berpura-pura tidak tahu kalau ada Hendrik disitu.
"Cepetan cong, udah malem ini?" Pinta Mas Adam.
Azam membuka pintu kamarnya. Hendrik langsung duduk tegak kembali tidak menyender ke bahunya Mas Adam dan terlihat kaku.
Sambil menutup pintu kamar dan pandangannya kearah mereka bertiga duduk, Azam berkata "Iya-iya ini gw kel.."
"Ini gw udah siiap. Pake kolor aja kali ya Jeng, gw? Biar adem." Ucap Azam sambil memegang engsel pintu kamarnya.
"Terserah kamu saja deh." Ucap Mas Adam.
"Eeh enggak enggak ĺEnggak!! Gak mau ah gw, kalo dia pake kolor doank. Malu-maluin aja!" Ucap Wahyu sambil menggoyangkan kelima jari tangannya.
"Hadeuh, ribet deh lo ah bencong! Udah kayak mau ke kondangan aja. Lagian kan udah malem juga?" Ucap Azam masih sembari memegang engsel pintu kamarnya.
"Kalo gak mau, ya tetep gak mau! Cepetan ganti!" Ucap Wahyu dengan bibirnya yang suka banget di miring-miringkan.
Hendrik tetap duduk tegak dan diam tanpa kata. Terlihat sangat kaku.
"Iye-iye, nanti gw ganti!" Ucap Azam.
"Blay, lo mau ikut nggak?" Ucap Azam kepada Hendrik.
Seketika Wajahnya Hendrik langsung sumringa terlihat senang.
"Mau. Tapi gw sama mas Adam ya Blay?" Ucap Hendrik agak gerogi untuk menjawab ajakannya Azam.
"Dasar Waria gatel!" Celetuk Wahyu kepada Hendrik.
"Apa'an loh!!!" Ucap Hendrik ngegas sambil menatap tajam ke wajah Wahyu.
"Udah-udah, kalian ini. Gak sama Azam, gak sama Wahyu? Selalu ribut. Heran Aku!" Ucap Mas Adam sambil kedua tangannya menjauhkan mereka berdua yang sedang saling bertatapan.
Wahyu langsung memalingkan wajahnya ke belakang.
"Tau tuh!" Ucap Hendrik sambil menatap ke arah wahyu.
"Udah, cepetan kalo mau ikut! Ganti baju lo!" Ucap Azam dengan nada cepat kepada Hendri.
"Awas lo ya?" Ucap Hendrik kepada Wahyu sambil berdiri dan menunjuk ke wajahnya wahyu.
Hendrik berjalan masuk kedalam kamarnya. Azam kembali masuk ke dalam kamar mengganti pakaiannya. Azam lebih cepat mengganti pakaiannya.
"Blay cepetaan! Kita udah garing ini!" Ucap Wahyu kepada Hendrik sambil bibirnya di miring-miringkan.
"Iye-iye bentar? Ini gw udah kelar." Ucap Hendrik sambil menutup pintu kamarnya.
"Blay beneran lo mau sama Mas Adam? Nanti yang bawa motor lo siapa?" Ucap Azam sambil berdiri didepan pintu kamarnya sendiri.
"Lo lah!" Ucap Hendrik.
"Yakin gw yang bawa motor lo? Nanti kalo motor lo lecet gimana?" Ucap Azam.
Hendrik terdiam, terlihat sendu, seakan sedih tidak bisa bersama dengan Mas Adam.
"Eeeh, enggak! enggak! enggak! Gw nggak mau kalo Azam yang nyetir!" Celetuk Wahyu.
"Ya udah iya, gw yang bawa motor sendiri." Ucap Hendrik dengan raut wajahnya yang cemberut.
Mereka berempat segera berjalan menuruni tangga lalu berangkat ke salah satu tempat karoke familly.
***Usai bernyanyi dikocok-kocok, Buaya Buntung, dll***
Didepan tempat karoke, mereka berempat berdiri sambil mengobrol.
"Cong, perut Aku laper?" Ucap Mas Adam.
"Sama Mas, aku juga laper." Ucap Hendrik sambil satu tangannya memeluk badan Mas Adam.
"Woy! Ada gue niih! Please deh nggak usah kayak gitu Waria gatel!" Ucap Wahyu menegur Hendrik.
"Terus kita mau makan dimana ini?" Ucap Azam.
"Makan Nasi Uduk yang biasa kita makan aja Blay." Ucap Hendrik.
"Ya udah ayok." Ucap mas Adam.
"Hayo cepetan! Udah laperr gw! Lepas tuh pelukan lo dari mas Adam?" Ucap Wahyu sambil menunjuk ke tangannya Hendrik yang sedang memeluk Mas Adam.
"Iye-iye, sirik aja loh!" Ucap Hendrik sambil melepaskan pelukannya.
Mereka berempat berangkat ke tukang Nasi Uduk yang selalu buka sampai subuh. Selama diperjalanan menaiki motor menuju ke Nasduk, Azam bersama dengan Mas Adam sambil mengobrol. Sementara Hendrik dan Wahyu saling kata-kataan.
"Paling bisa kamu ya cong? Seolah dia tidak punya salah sama kamu?" Ucap Mas Adam kepada Azam sambil menyetir motor.
"Padahal jeng, tempo hari yang lalu itu gw ngajakin dia loh? Koq bisa-bisanya dia ngomong ke Wahyu kalo gw nggak ngajakin dia? Aneh!" Ucap Azam.
"Tapi ya sudahlah, namanya juga temen." Ucap Azam kembali.
"Makasih ya Jeung, udah bantuin gw buat baikan lagi sama dia?" Sambung ucapan Azam.
"Iya, sama-sama cong." Ucap Mas Adam.
"Jeng, kenapa sih lo nggak jadian aja sama dia? Kan cocok tuh? Dia Agresif, lo Pendiem? Dia juga selera lo kan?" Ucap Azam.
"Ah kamu conk.." Ucap Mas Adam yang tidak meneruskan pembicaraannya.
"Dasar bancet lo! Dasar waria lo!" Celotehan kata-kataan si Wahyu bersama dengan Hendrik di sepanjang perjalanan menaiki Motor.
Semenjak malam itu, hubungan pertemanan Azam bersama dengan Hendrik kembali baik. Mereka berempat juga lebih sering jalan bareng.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 60 Episodes
Comments
Alfia Amira
ini maksudnya gimanaaaaa
2022-09-10
1