Bab 10

Seminggu telah berlalu, Azam tinggal di Kosan Omah. Ditengah kesibukannya ditempat kerja, Hendrik sahabatnya mengirimkan pesan whatsapp kepadanya.

"PINK!!!." Whatsapp Hendrik.

"Blay masih di kerjaan lo?" Whatsapp Hendrik.

"Masih blay." Whatsapp Azam.

"Hari ini gw libur dan rencananya mau pindah ke kosan lo!" Whatsapp Hendrik.

"Ya udah. Tunggu gw balik. Gw balik sekitar jam 16.00. Nanti dari sini gw langsung meluncur ke tempat lo." Whatsapp Azam.

"Ok." Whatsapp Hendrik.

Setelah delapan jam berlalu Azam di tempat kerjanya, jam kerjanya pun telah habis. Ia langsung meluncur ke kosannya Hendrik. Sesampainya di kosan Hendrik, Ia langsung ke kamarnya Hendrik.

"Mana aja blay yang mau dibawa?" Ucap Azam sambil berdiri di depan pintu kamarnya Hendrik.

"Itu-itu dan ini." Ucap Hendrik sambil menunjuk-nunjukkan barang-barang miliknya yang akan dibawa untuk pindahan.

"Ya udah parkirin dulu motor lu keluar? Biar gw yang bawain barang-barangnya kebawah." Ucap Azam.

"Ok Blay." Ucap Hendrik.

Hendrik segera berjalan turun kebawah, Hendrik mengeluarkan motornya ke teras kosannya. Sementara Azam mengeluarkan dan membawa barang-barang lain milik Hendrik ke lantai bawah.

"Blay, kayaknya kita gak bisa bawa sekaligus barang-barang lu deh? Kita harus balik lagi ini?." Ucap Azam.

"Iya, bener blay." Ucap Hendrik.

"Mendingan lu bilang dulu aja ke tetangga lu yang itu blay? Bilang nitip dulu barang lu disini sebentar?" Ucap Azam sambil menatap ke arah kamar tetangganya yang berada di lantai bawah.

"Iya sebentar ye." Hendrik segera meminta ijin ke tetangga kosannya.

Usai Hendrik meminta tolong kepada tetangga kosannya, mereka berdua langsung meluncur pindahan kekosan Omah.

Sesampainya dikosan Omah, Azam segera menaruh barang-barangnya Hendrik di depan pintu kamarnya. Setelah itu mereka berdua berangkat kembali untuk mengambil sisa barang-barang pindahannya Hendrik.

Setelah semua barang-barangnya Hendrik telah terangkut semua, mereka berdua duduk beristirahat di kursi besi lantai atas seperti biasanya.

"Omah mana ya?" Ucap Azam sambil melihat-lihat kehalaman rumahnya Omah sambil berdiri dari pagar pembatas.

"Blay, tungguin dulu ya? Gw mau kebawah dulu nemuin Omah?" Ucap Azam sambil berjalan menuju ketangga.

"Iya." Jawab Hendrik.

"Ting nong." Suara bel Rumah Omah di tekan Azam.

"Omah-omah.." Azam teriak memanggil Omah dari depan pintu rumahnya.

Tak berapa lama Ia memanggil, Omah pun baru mendengarnya. Omah membuka pintu rumahnya.

"Ada apa dek?" Tanya Omah sambil berdiri memegang engsel pintu rumahnya.

"Ini Omah, teman saya mau masuk hari ini." Ucap Azam.

"Hehe, sebentar kalo gitu. Aku ambilkan dulu kuncinya." Omah langsung masuk kedalam rumahnya mengambil kunci.

"Iya Omaah." Ucap Azam.

Seperti biasa Omah selalu terburu-buru dan terlihat sangat senang, kalau ada orang yang ingin kos dirumah kosannya. Seperti biasa juga, Omah langsung membuka dan memperlihatkan satu per satu kamar-kamar kosan yang kosong kepada Hendrik.

Sementara Azam langsung naik lalu menunggu mereka berdua dikursi besi lantai atas sambil menikmati sebatang rokok.

Setelah mereka berdua selesai melihat-lihat kamar, Omah bersama Hendrik menghampiri Azam, mereka bertiga duduk di kursi besi saling beriringan.

"Jadi gimana blay? Lu mau dikamar yang mana?" Ucap Azam.

"Gw milih kamar yang bawah blay. Lebih dekat dengan pintu gerbang, supaya gw bisa mantau motor." Jawab Hendrik.

Spontan Azam pun langsung terdiam dan bergumam "Waduh, di bawahkan bahaya!!!"

"Yakin lu mau ambil dikamar bawah aja? Nggak mau ngambil kamar yang diatas aja, biar deket sama gw?". Ucap Azam.

"Yakin blay. Kayaknya kamarnya juga enak dan adem." Jawab Hendrik.

"Ya udah kalo gitu." Ucap Azam.

Sementara Omah, hanya memperhatikan mereka berdua berbicara sambil cengar-cengir sendiri. Meskipun Omah berada disebelah mereka berdua, Omah tidak mendengar apa-apa.

Lantas Azam pun langsung menyampaikan keinginannya Hendrik kepada Omah. Seperti biasa, Ia bertatap muka kalau sedang mengobrol bersama dengan Omah. Omah pun memahaminya.

"He,he, mau dikamar yang bawah ya? Ya udah ini kuncinya." Ucap Omah sambil memberikan kunci kamar kepada Hendrik.

"Kalau gitu, Omah ambilkan dulu seprei sama bantalnya dirumah Omah dulu ya?" Ucap Omah sambil mendirikan badannya.

"Iya Omaah.." Ucap Azam.

Selepas Omah pergi, Azam pun kembali bergumam "Gak kebayang gw kalo nanti Hendrik akan di apa-apain sama si nyai!"

Kamar yang di ambil Hendrik ini tidak memiliki jendela kamar, hanya mengandalkan pentilasi udara yang dibuat 15cm saja. Selain udaranya yang kurang bagus, tempatnya juga lembab. Selain itu juga, kamar dibawah ini dekat dengan kamar kosong sebelum tangga.

"Ya udah blay kita kebawah, sekalian bawa barang-barang lu ini kebawah? Kasihan nanti kalo Omah harus naik turun tangga." Ucap Azam.

"Ok blay." Ucap Hendrik.

Mereka berdua pun segera turun ke bawah, menuju ke pintu kamar utama lantai bawah yang sebelah kiri.

Omah datang kembali sambil membawa barang-barang yang telah disebutkannya tadi. Omah datang menemui mereka berdua yang sedang berdiri didepan kamar yang Hendrik pilih.

"Ini?" Omah memberikan bantal dan sprei.

"Makasih ya Omah?" Ucap Hendrik sambil menerimanya.

"Ini Uang kosannya Omah?" Hendrik memberikan uang kosan kepada Omah.

"Iya sama-sama dek Hendrik." Ucap Omah sambil menerima uang kosan.

"Ya sudah, Omah balik lagi ya?" Ucap Omah.

"Iya Omah.." Ucap Mereka berdua.

Omah pun berjalan keluar dari kosan lalu pulang ke rumahnya.

"Coba blay buka?" Ucap Azam.

KREEEK! Hendrik pun langsung membukanya.

"Idiiiiiih." Reflek Azam berucap didalam hatinya.

Kamar barunya Hendrik ini terlihat penuh dengan debu-debu dan sawang-sawang yang telah bersarang didalamnya. Padahal seminggu yang lalu, sewaktu Omah menunjukkan kamar tersebut kepada Azam, kamarnya masih dalam keadaan yang lumayan bersih. Selepas daripada itu, mereka berdua pun langsung membersihkan kamar tersebut.

***Sekitar 2 Jam Kemudian setelah membersihkan kamarnya Hendrik*****

"Blay, gw naik dulu ya? Kalo lu masih pengen ngobrol? Naik aja keatas." Ucap Azam.

"Kayaknya gw mau shallat terus langsung tidur. Badan gw lumayan capek." Ucap Hendrik.

"Ok deh kalo gitu. Bye!" Ucap Azam sambil berlari ke arah tangga.

Sesampainya di lantai atas, Azam langsung membersihkan badannya dari debu-debu dan sawang-sawang yang telah menempel dibadannya. Selepas daripada itu, Ia berwudhu lalu menjalankan Shallat Isya. Karena merasa lelah dan letih, setelah menjalankan shallat Isya tersebut, Ia langsung tertidur dengan nyenyak. Sampai-sampai Ia lupa untuk mengunci pintu kamarnya.

...**Sekitar jam setengah satu malam, dikala Azam yang sedang tertidur**...

"Krekeeeeeeek....",

"Brugggg!!!",

"Braggggg!!!",

"Kreeeek..",

"Astaghfirrullah." Azam menjringkrak terkejut kaget.

Suara hentakannya sangat keras, suara hentakan tarikan dan dorongan pintu kamarnya seolah ada yang mendorong lalu menariknya kembali dengan sangat keras.

Ia segera berdiri lalu memeriksa situasi dan kondisi diluar kamarnya. Ia melihat-lihat kekanan dak kekiri memperhatikan sekeliling lorong kosan lantai atas. Namun tidak terlihat ada siapapun disitu. Terlihat benar-benar sangat sepi.

"Ah, palingan juga angin." Fikirnya.

Setelah memeriksa SiKon diluar, Ia kembali masuk kedalam kamar lalu mengunci pintu serta menutup hordeng kamarnya. Setelah itu Ia kembali melanjutkan tidurnya.

Terpopuler

Comments

Love You

Love You

Akan ada di akhir cerita dek. Ini belum ada Rudi, Via, Memey, Eko dan Nina.

2022-03-09

2

Out of MT

Out of MT

👍 bagus kak, boleh gak kasih saran....pindah aja kak dari situ, yang baca sampai merinding. 😨

2022-03-09

5

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!