Meminta Tolong

Hari ini Tinka shift seharian dari jam 08.00 pagi -10.00 malam untuk besok dia off sehari, Dia sangat malas untuk bekerja tapi siapa lagi yang akan membantunya hidup selama di perantauan, pikirnya. Belum lagi dia tidak sarapan, dari tadi malam hingga pagi ini Adrien tidak mengabari nya, menelepon, atau mengirim pesan, bahkan tidak menyiapkan makanan pagi untuk nya.

"Kalau seperti ini, ingin pulang rasanya, ketemu mami dan baby jane, makan enak, tapi pasti di cemooh sama papi dan keluarga besar belum lagi, keluarga Kevin pasti masih marah anaknya di tinggal pergi, istri anaknya kabur, istri gak bener, ibu gak bener..arghhhhh!!!, sampai kapan begini?, tapi kalau aku pulang aku juga memikirkan Adrien, tapi kenapa sih dia malah dekat lagi sama Lauren, aku benci semuanya.." gerutu Tinka yang duduk di tempat tidur karena malas bangun.

Aku harus siap dan lebih baik untuk saat ini aku memikirkan diriku sendiri. Batin Tinka, lalu bangkit dan bersiap.

Tinka pun berangkat kerja, seperti biasa dia menaiki taxi.

Sesampainya di hotel dia melihat Robert yang sudah menunggu nya di meja resepsionis bersama Claris.

Ada apa Robert diam di mejaku?, apa karna aku kesiangan? tapi di jam tangan ku masih ada waktu 10 menit aku belum terlambat, pikir Tinka panik.

"Tinkaaa...good morning !" Robert menyapa Tinka.

"Iya, good morning " senyum Tinka panik.

"Aku tadi nunggu kamu mau ajak makan pagi, ada cafe Italy enak dekat sini, kalau kamu mau?" ajak Robert padanya.

Tinka melirik temannya Claris yang sedari tadi tersenyum lebar dan menyuruhnya pergi dengan Robert.

"Aku sudah makan" jawab Tinka, Tinka malas pergi dengan Robert, jadi dia berbohong sudah makan.

"Temani aku saja ya, please.., ada yang ingin aku bicarakan " Robert memohon.

"Ehmmm..baiklah" ucap Tinka terpaksa.

Tinka pun pergi dengan Robert, dan Claris melambaikan tangannya girang.

Sesampainya di sebuah cafe yang tidak asing bagi Tinka, yaitu cafe Adrien, RISE CAFE.

Tunggu dulu kenapa ke sini?, oh iya dia menyebutkan cafe Italy sudah pasti hanya di sini, bodohnya aku, pikir Tinka.

"Ayo..aku jarang ke sini, biasanya supirku take away pesan di sini, karena aku ingin bawa kamu jadi special aku makan di tempat" ucap Robert mengajak Tinka turun dari mobil.

Tinka gugup dan panik, dia datang ke cafe Adrien bersama Robert, bagaimana ini? tapi Adrien pun kemarin berdua dengan Lauren, aku tak perduli, gerutu Tinka sembari turun dari mobil Robert.

Tinka dan Robert memasuki cafe, tak lama Abel dan Ricky melihat mereka terkejut dan menyapa mereka terpaksa.

Tinka salah tingkah, karena pasti Abel dan Ricky berpikiran buruk tentangnya, dia pun hanya terdiam mengikuti Robert.

" Halo ka Robert dan ka Tinka..mau pesan apa?" tanya Abel kepada Robert dan Tinka.

"Hi Abel, Aku pesan Espresso macchiato dan panino, kamu pesan apa Tinka?" tanya Robert.

"Aku...cappuccino latte saja" ucap Tinka tak bersemangat.

"Baik" ucap Abel dan berlalu.

"Kau sudah lama mengenal Dila dan Abel?, oh iya ada yang mau aku bicarakan, siang ini aku mau ke Jakarta, mau lihat perkembangan hotel ku di sana, aku ingin ajak kamu, kalau boleh kita bisa habiskan beberapa hari berdua di sana" ajak Robert pada Tinka.

"Aku tidak bisa Robert maaf..aku tidak enak dengan Claris, dia menjaga resepsionis sendiri, selain itu aku sedang tidak enak badan, maaf sekali lagi.." jawab Tinka lesu.

"ehmmm baiklah..kau tak tertarik padaku?, karena banyak wanita di luar sana tergila- gila padaku " Robert menggoda Tinka.

Tinka hanya tersenyum melihat Robert.

Abel datang membawa makanan yang mereka pesan.

30 menit berlalu mereka duduk berdua sambil menikmati makanan nya tapi Tinka merasa tidak nyaman, dia tahu pasti Adrien melihat nya di pantry, batin Tinka.

Tiba-tiba Lauren muncul ke meja mereka.

"Halo Tinka..apa kabar?, sudah lama tidak bertemu, Hi Robert..I'm glad to see you at our cafe" ucap Lauren menyapa mereka.

"You know her Tinka?" tanya Robert.

"Off course she knows me, Dia bekerja di cafe ini sebelumnya " Lauren memotong.

"Oh ya?, wow banyak yang aku tidak tahu tentangmu Tinka" ucap Robert terkejut.

"Ehmmm...aku ingin ke hotel Robert, mungkin Claris membutuhkan bantuanku" ucap Tinka sambil berdiri dari kursi nya.

"Baiklah..thanks for the food" Robert pergi dan meninggalkan beberapa dolar di mejanya.

Tinka melewati Pantry, tapi dia tak melihat Adrien, kemana dia?, Pikir Tinka.

Sesampainya di hotel, Robert berpamitan pada Tinka harus bersiap pergi ke bandara.

"Kamu yakin tidak mau ikut?" tanya Robert lagi.

"Maaf Robert aku tidak bisa mungkin lain kali" ucap Tinka tersenyum melambaikan tangannya ke arah mobil Robert dan dia berlalu.

"Tinka...bikin iri deh kamu di ajak breakfast sama Mr. Robert, oh my God, ceritain.." Claris penasaran.

Tinka pun berbincang dengan temannya dan sibuk dengan pekerjaannya, tak terasa sebentar lagi mereka jam pulang kerja jam 10.00 malam.

"Tinka..aku di jemput pacarku naik motor, kamu pulang dengan siapa ini sudah larut?" tanya Claris.

"Mungkin naik taxi" jawab Tinka sambil mengganti pakaiannya di ruang ganti mengobrol dengan Claris.

"Taxi agak susah malam-malam begini, kamu hati-hati, security bisa bantu kamu carikan taxi, tapi hati-hati ya, jam segini banyak orang mabuk di jalan, besok kita bisa beristirahat, besok kita off" ucap Claris mengkhawatirkan temannya.

Tinka mengangguk.

Claris sudah di jemput pacarnya, sudah 30 menit Tinka mencari taxi dengan security.

"Mba Tinka, jalan kedepan sedikit biasanya dekat jalan raya banyak Taxi" ucap security padanya.

Tinka tersenyum berterima kasih pada security itu, sambil berjalan meninggalkan hotel dan dia melihat handphone nya, tidak ada pesan.

Apa aku minta jemput Adrien?, pikirnya sambil menulis pesan yang belum terkirim, tapi aku masih kesal padanya. Aku berjalan saja ke depan mungkin aku bisa dapat taxi atau aku berjalan sampai apartment ku, pikir Tinka.

Tinka pun berjalan sambil bermain handphone, benar yang di khawatir kan Claris banyak yang sedang mabuk di pinggir jalan menggoda Tinka yang cantik.

"Hallo cantik, Halo cewek cantik, jalan sendiri saja" ucap para pemuda itu.

Tinka mengirim pesan pada Adrien minta jemput.

Tapi para pemuda itu sudah menghadang Tinka ada sekitar 4 orang, mereka mendekat pada Tinka, dan ada yang memegang tangan Tinka, ada yang mendekatkan mukanya pada Tinka.

"Apa yang kalian mau, pergi!!" Tinka memukul-mukul tasnya ke arah para pemuda itu.

Aku takut Adrien tolong aku, apa kau akan datang?, mungkin kau kesal juga melihatku dengan Robert, Adrien tolong!, batin Tinka menjerit.

4 pemuda itu menyudutkan Tinka, dan Tinka menutup mukanya dengan tangannya sambil menangis, mereka semakin mendekati tubuh Tinka.

Tiba-tiba terdengar suara motor, dan beberapa pemuda di tarik dan di pukul, pemuda lain menoleh. Tinka membuka tangannya melihat sesosok pria menggunakan jaket hitam dan helm menarik pemuda itu satu persatu dan memukuli para pemuda mabuk itu.

"Ayo Tinka " pria itu membuka kaca helm nya dan mengambil tas tinka yang terjatuh di tanah.

Ternyata Adrien, Tinka mengenali motor dan wajahnya saat membuka helm.

Syukurlah kau datang Adrien, aku takut sekali, batin Tinka sambil memeluk pinggang Adrien dan pulang menuju apartmentnya.

Sesampainya di basement apartment, Adrien memakirkan motornya, dan menoleh ke arah Tinka yang sedari tadi tidak melepaskan pelukannya pada Adrien.

"Kau tak apa-apa?, aku menerima pesanmu langsung menjemput mu, aku khawatir padamu" ucap Adrien pada Tinka yang masih di atas motor berdua.

Tinka menangis ketakutan di punggung Adrien.

Adrien memalingkan badannya, dan memeluk Tinka.

"Aku takut Adrien " ucap Tinka lirih.

"Sekarang ada aku, kita bisa ke apartment mu dan menenangkanmu dulu ya" ucap Adrien menenangkan Tinka. Dan mereka berdua berjalan bergandengan berdua ke arah lift.

Sesampainya di apartment Tinka, Adrien mengambilkan kunci di tas Tinka karena Tinka sedari tadi diam dan Adrien menyuruh Tinka masuk.

"Beristirahat ya, besok aku buatkan makanan favorit mu" ucap Adrien lembut sambil mengusap rambut Tinka.

"Aku ingin kamu di sini, please..temani aku" ucap Tinka memohon.

"Hmm..baiklah" Adrien masuk dan melepaskan jaketnya.

"Aku tunggu kamu di sini, kamu beristirahat ya" ucap Adrien sambil duduk di sofa Tinka.

Tinka menghampiri Adrien di sofa dan tertidur di pangkuannya.

"Aku tak ingin menjauh darimu Adrien" ucap Tinka.

"Apa kau masih takut atau trauma?, badanmu ada yang sakit?" tanya Adrien mengkhawatirkan Tinka dan Tinka menggelengkan kepalanya.

"Maafkan sikapku waktu itu buruk padamu, aku melihat mu berjalan berdua dengan Lauren dan membuatku kesal" ucap Tinka di hadapan Adrien.

Adrien menunduk melihat kekasihnya itu, lalu mencium kening Tinka.

"Aku dan Lauren hanya berteman Tinka, hmmm...sepertinya ada yang sedang dekat dengan boss barunya, aku melihatmu bergandengan tangan dengan Robert di Aula olahraga saat Dila bertanding dan tadi pagi kalian makan di cafe berdua, itupun membuatku.." ucap Adrien kesal.

"Aku minta maaf Adrien, dia yang mengajakku, aku akan menolak saat dia mengajakku pergi lagi, ku mohon maafkan aku" ucap Tinka memohon.

"Aku percaya padamu Tinka, tapi melihat kau dekat dengan orang lain aku tak rela, aku sangat menyayangimu " ucap Adrien mencium Tinka.

"Adrien besok aku off, aku ingin seharian bersamamu, apa kamu mau?" tanya Tinka.

"Baiklah Tinka, with my pleasure " Jawab Adrien.

Tinka mendongakkan kepalanya dan mereka berdua berciuman.

Tinka dan Adrien menghabiskan malam mereka dengan melepas rindu satu sama lain, tak ada yang bisa mengganggu mereka menikmati malam itu.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!