Butuh Bantuan

Tinka terbangun dari tidurnya, memikirkan nasibnya.

Aku mungkin bisa meminta bantuan Abel untuk mencari pekerjaan karena mungkin dia tahu persis daerah sini, agar tabunganku tidak habis terkuras untuk kehidupan ku sehari-hari. Batin Tinka, karena Tinka sudah lumayan dekat dengan Abel pelayan RISE cafe, tapi Tinka tidak memberitahukan jati dirinya sebenernya, Tinka merahasiakan tentang dirinya.

Pagi itu Tinka bersiap pergi untuk makan pagi di RISE cafe dan bertemu dengan Abel teman barunya pelayan cafe itu.

"Hallo Abel, selamat pagi" sapa Tinka ramah.

"Sepertinya kamu sibuk, banyak pelanggan hari ini" lanjut Tinka.

"Hallo ka Tinka!, iya ini lagi banyak pelanggan temanku Ricky sudah pulang ke kotanya mau menikah, jadi aku pelayan satu-satunya" ucap Abel semangat di pagi hari. Mendengar itu Tinka merasa ini kesempatan untuknya membantu Abel.

"Mau aku bantu?" ucap Tinka menawarkan diri.

"Wah, beneran ka Tinka, apa tidak apa-apa?" ucap Abel senang.

"Iya gak apa-apa " ucap Tinka tersenyum.

"Ka Tinka ke pantry ambil semua pesanan biar aku antar ke meja pelanggan ya, karena aku ingat pesanan mereka semua" ucap Abel

"Baik!" sergap Tinka, walaupun dia agak ragu karena tidak pernah ke pantry biasanya dia ke cafe ini hanya duduk dan makan saja.

"Ehmm..permisi" seru Tinka sambil membuka pintu pantry, dia melihat sosok pria orang asing (bule), berbadan ideal dan berambut pirang memakai baju dan topi koki yang sedang sibuk memasak dan menyiapkan makanan buat pelanggan.

"Pelanggan di larang ke pantry!" ucap pria itu.

"Maaf saya cuma mau bantu Abel, mengantarkan makanan, dia sibuk sekali " ucap Tinka gugup melihat pria tinggi itu tidak ramah.

"Kalau begitu jangan diam saja!, ambil makanan yang sudah ready lalu antar ke depan menggunakan tray" ucap pria itu memerintah.

"Bbbaik!" ucap Tinka langsung bergerak.

Dua jam berlalu pelanggan sudah mulai sepi, cafe itu ramai setiap breakfast dan lunch.

"Haduhh, bersyukur dah mulai berkurang pelanggan, cafe ini memang ramai saat makan pagi dan siang, oh iya terimakasih ka Tinka sudah membantu!" ucap Abel berterima kasih.

"Iya gak apa-apa, aku bisa bantu di sini, maksudnya bekerja di sini selama teman kamu belum pulang, kalau boleh?!" ucap Tinka.

"Wah, benarkah ka Tinka, ka Tinka kayaknya bukan dari orang biasa, karena pakaian, handphone yang di pakai ka Tinka branded semua, trus ka Tinka tinggal di LUXURY apartments, apa benar ka Tinka butuh pekerjaan?" ucap Abel penasaran.

"Ehmmm...aku suntuk aja di apartment sendirian" senyum Tinka beralasan.

"Tinka sudah ketemu ka Adrien?, koki sekaligus owner cafe ini?, nanti pas closing cafe jam 3 sore aku bantu bicara dengannya ya" kata Abel

"Iya baiklah!, trimakasih Abel!" ucap Tinka bersemangat.

Tinka seharian itu membantu Abel dan Adrien dengan mencuci piring, mengantarkan makanan dari pantry ke tangan Abel, dia berharap bisa bekerja di cafe itu untuk sementara, walaupun Tinka kaku dan diam saat bertemu Adrien, dia berharap Adrien mau bekerja sama dengannya.

"Akhirnya closing juga, ka Tinka bisa bantu ka Adrien di Pantry biasanya closing dia meminta bantuan merapihkan bahan makanan, biar aku yang lap-lap di sini" ucap Abel

"Baik" Tinka langsung ke pantry.

"Apa yang bisa ku bantu?" ucap Tinka gugup.

"Kamu sudah mencuci piring?" tanya Adrien

"Sudah, tadi Abel menyuruh ku ke sini untuk membantumu" ucap Tinka gugup.

"Baiklah, aku ingin kamu masukan cheese and meat ke refrigerator, dan pasta mentah tolong di rapihkan, semua sayuran masukan cooler" ucap Adrien terlalu cepat membuat Tinka bingung, apalagi Tinka yang tidak pernah ke dapur untuk memasak.

"Ehmmm..cheese di masukkan ke mana?" tanya nya lagi.

"Masukan ke sini princess!, dan ini ke sini terus sayuran ke sini" ucap Adrien sambil mengajari dan memperlihatkannya pada Tinka.

"Maaf, aku terlalu banyak bertanya" ucap Tinka menunduk sambil merapihkan sayuran dan piring.

Adrien tersenyum ke arah Tinka.

"Maaf ya, aku agak menggertak tadi, tapi terimakasih sudah membantu kami hari ini" ucap Adrien menepuk pundak Tinka, membuat Tinka terhentak.

"Ka Adrien, ka Tinka boleh membantu kita selama Ricky mempersiapkan pernikahannya di kotanya, mungkin kita butuh tenaga lebih" ucap Abel yang tiba-tiba masuk ke pantry.

"Apa dia mau?, siapa tadi namanya Tinka ya, Abel selalu cerita soal kamu, katanya ada cewek cantik suka duduk di cafe ini memesan cappuccino latte" ucap Adrien sambil meledek Abel.

"Ka Adrien juga suka ngintip-ngintip dari Pantry kan?, pura-pura cool" gantian Abel meledek Adrien dan Tinka hanya diam tersipu malu.

"Apa kamu mau bekerja di sini Tinka untuk sementara waktu?, tapi mungkin bayarannya tidak seberapa bagi kamu, kamu kan seperti princess " ucap Adrien melirik Tinka.

Tinka mengangguk dan tersenyum girang sekali.

Mereka bertiga berbincang sampai sore lalu berpamitan untuk pulang ke tempat masing-masing.

"Ka Tinka dan ka Adrien aku pulang ya, kalian kan sama-sama di luxury, bisa pulang barengan dong, ya udah ya bye" ucap Abel meledek Tinka dan Adrien sembari melenggang pergi ke arah lain.

"Tinka..kamu di luxury apartment?, aku tinggal di luxury juga, kita bisa pulang sama-sama " ucap Adrien mengajak Tinka pulang bersama.

"Ka Adrien di luxury?" tanya Tinka.

"Iya, aku di lantai 5, mungkin kita jarang ketemu karena jam 06.00 pagi aku berangkat ke cafe mungkin kamu masih tidur, buat persiapan sarapan, oh iya besok apa kamu bisa berangkat jam 06.00 pagi?, karena sarapan pasti selalu ramai di cafe" tanya Adrien ke Tinka.

"Besok pagi ya?, baik aku usahakan!" sergap Tinka semangat.

"Kamu tidak lelah?, pokoknya cafe buka jam 07.00 pagi tutup jam 03.00 sore, dan rapihkan cafe selesai jam 04.00 sore, apakah kamu bisa?" Adrien memastikan.

"Aku coba ka!" ucap Tinka.

"Jangan panggil ka, kita sepertinya seumuran, panggil Adrien saja" ucap Adrien.

Tinka mengangguk.

Sesampainya di LUXURY apartment, semua orang menyapa Adrien.

Sepertinya dia sudah lama di sini, semua orang mengenalnya, security dan para penghuni apartment ini menyapanya, dan Abel bilang apartment ini bukan untuk orang biasa berarti Adrien pun bukan orang biasa, batin Tinka.

"Kamu lantai berapa Tinka?" tiba-tiba Adrien membuyarkan lamunan Tinka.

"Lantai 2" jawab Tinka.

Sesampainya di lantai 2, pintu lift terbuka.

"ok bye Tinka, sampai ketemu besok pagi" ucap Adrien melambaikan tangannya.

"Baik" jawab Tinka sembari tersenyum.

Sampailah di kamar Tinka, dia merasa kelelahan, tapi Tinka harus menghemat tabungannya dan mulai mencari uang untuk kehidupan nya sehari-hari.

"Aku harus bersiap mandi dan beristirahat besok aku harus berangkat pagi, oh iya alarm aku nyalakan jam 05.30 pagi untuk persiapan, ayo Tinka kamu bisa, kamu bukan anak manja lagi, kamu seorang ibu!!" ucap Tinka menyemangati dirinya sendiri sembari beranjak ke kamar mandi.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!