Tingnung!..Tingnung!
Tinka bergegas berlari melihat dari door viewer, ternyata Adrien yang siap menjemput kekasihnya untuk bekerja di cafe dan langsung membukakan pintu.
"Masih 5.45 Adrien, kau semangat sekali" ucap Tinka yang sedang mempersiapkan tas kecilnya dan merapihkan seragam cafenya berwarna maroon itu.
"Adrien, aku masih pakai baju Lauren seragam cafe, apa aku harus ganti baju ya?" lanjut Tinka.
"Tidak usah, kamu cantik hari ini" ucap Adrien tersenyum sambil mencium kening kekasihnya.
"Ayo kita berangkat, tapi pelan saja jalannya, ingin menikmati bersamamu " lanjutnya.
"Ok!" jawab Tinka menggandeng tangan Adrien.
Mereka pun berjalan menuju lift apartment dan memencet tombol L, semua orang menyapa kami, aku sudah cukup lama di sini hampir 5 bulan dan mulai mengenal sedikit orang.
"Tinka, apapun yang terjadi di cafe hari ini kamu tidak usah khawatir ada aku, ok!" ucap Adrien sambil menggandeng tangan Tinka.
"Apa yang akan terjadi?, aku takut ketemu Lauren, serem.." ucap Tinka meringis membuat Adrien terkekeh.
"You are so cute😘" timpal Adrien.
"Lauren lancar juga ya berbahasa Indonesia?" tanya Tinka.
"sudah 2 tahun dia di sini waktu itu, lagian bosen ngomongin Lauren terus, kita bicara yang lain saja" ucap Adrien dan Tinka mengangguk.
"Kamu mau makan dulu?, aku bawa makanan" ucap Adrien sambil membuka tas makanan nya yang berisi beberapa onigiri dan Tinka mengambilnya, dia memakannya sambil berjalan.
Sesampainya mereka di cafe sudah ada Abel dan Ricky.
"Pagi-pagi sudah berduaan bikin iri nih" ucap Abel menggoda pasangan yang lagi kasmaran itu.
"Ricky kenalin ini ka Tinka, kemarin yang gantiin kamu 2 bulan, sudah ketemu kan di pernikahan mu dan dia pacar ka Adrien lho.." ucap Abel sambel mengenalkan Ricky pada Tinka.
"Hi..aku Tinka" jawab Tinka sembari tersenyum.
"Halo ka Tinka saya Ricky, senang bertemu dengan ka Tinka" ucap Ricky tersenyum.
"Pengantin baru sudah mulai kerja" Adrien menggoda Ricky sambil membuka pintu cafe.
Setelah mereka semua masuk ke dalam cafe dan mulai merapihkan semuanya, mereka pun mengadakan meeting terlebih dahulu.
"Abel dan Ricky di depan ya antar dan catat pesanan, aku dan Tinka di dapur, biar Tinka bantu aku memasak" ucap Adrien kepada staff nya.
"Baik!" mereka serentak menjawabnya.
Tiba-tiba pintu cafe terbuka.
"Sorry I'm late " ucap sosok perempuan yang baru datang yaitu Lauren.
"Wow sudah ada Tinka di sini, apakah kau bisa memasak Tinka?, karena aku dan Adrien chef di sini" ucap Lauren sinis memperhatikan Tinka.
"Dia bersamaku Lauren " ucap Adrien menarik tangan Tinka masuk ke pantry.
"Ok, kita mulai bekerja, jangan diam saja sebentar lagi pelanggan datang!!" ucap Lauren penuh amarah pada Abel dan Ricky membuat suasana menjadi tegang di cafe itu, Lalu Lauren berjalan ke arah pantry.
"Well..pantas aku tak menemukan seragam ku ternyata ada yang mengambilnya, cih" ucap Lauren sinis pada Tinka yang sedang merapihkan piring.
"Maaf, akan aku loundry nanti, besok kau bisa memakai nya" jawab Tinka.
"Ayo fokus pelanggan sudah ramai" ucap Adrien kepada dua wanita yang bersitegang itu.
Mereka pun sibuk hingga tak terasa waktu sudah hampir closing cafe. Walaupun Lauren masih mencari-cari masalah dengan Tinka, dia menghadapi Lauren dengan sabar.
"Adrien, aku ingin nanti malam kau ke apartment ku, sudah lama aku ingin melihat perkembangan cafe" ucap Lauren dengan nada tinggi.
"Cafe ini sudah ku tinggalkan beberapa bulan hampir satu tahun, aku tertinggal jauh" ucap Lauren pada Adrien yang sedang merapihkan bahan makanan, sedangkan Tinka sedang mengelap dapur.
"Kau sendiri yang meninggalkan nya, dan setiap tiga bulan sekali aku mengirim sebagian profits cafe ini, sesuai perjanjian kita, apa lagi yang ingin kau ketahui?!" ucap Adrien kesal. Karena sedari tadi Lauren selalu membuat masalah.
"Aku berhak mengetahuinya!, tak ada alasan, kalau kau tak ke apartment ku, aku yang akan datang menghampirimu!!!" ucap Lauren sambil berlalu keluar pantry melepas apron dan topinya.
"Dasar gila!!" ucap Adrien kesal.
Tinka hanya mematung melihat mereka berdua bertengkar.
Sungguh aneh aku masih berdiri di sini, seharusnya aku tidak ada di sini, mereka berdua lah yang berhak atas cafe ini, mulai besok aku akan mencari pekerjaan baru, batin Tinka.
"Adrien..aku ingin bicara.." ucap Tinka terbata-bata.
"Not now Tinka, please..." ucap Adrien yang menunduk sambil memukul sink.
"Ok!" Tinka pun pergi keluar.
"Ka Tinka!...ini nomor Dila, siapa tahu ka Tinka butuh bantuannya, dia tahu daerah sini dia orang asli sini, mungkin ka Tinka bisa menghubungi nya" ucap Abel mengejar Tinka.
"Terimakasih Abel untuk semua bantuanmu" ucap Tinka berlari pulang ke apartment nya.
Sesampainya di apartment, Tinka langsung menghubungi Dila.
"Halo Dila..ini Tinka " ucap Tinka dari handphone nya menggunakan nomor nya yang baru.
"Ka Tinkaaa...ada apa?, ka Tinka aku seneng banget ka Tinka telepon aku" ucap Dila di dalam telepon.
"Tadi Abel memberi nomor mu, aku mau minta tolong, ehm...apa kau tahu ada lowongan pekerjaan di mana aku bekerja, bahasa inggris ku lancar" ucap Tinka lemas.
"Ada ka...di hotel sebagai resepsionis, kemarin Abel sudah bilang, ka Lauren bakal balik lagi ke cafe, pasti ka Tinka gak nyaman jadi aku di suruhnya mencarikan pekerjaan buat ka Tinka membantu ka Tinka " ucap Dila bersemangat.
"Benarkah?!, kamu dan Abel sudah baik sekali padaku" ucap Tinka terasa sesak dadanya karena dia memang sedang membutuhkan teman.
"Ka Tinka dan ka Adrien itu seperti kakak kami sendiri..pokoknya kakak tenang aja, besok siang setelah makan siang aku antarkan ke hotel itu, kebetulan pelatih Muay thai ku orang USA dia owner hotel itu, aku sudah dekat, hotelnya tidak besar tapi jadi tujuan para tourists domestic dan mancanegara karena enak banget, kebetulan dia sedang mencari resepsionis yang pintar bahasa asing terutama inggris " ucap Dila menjelaskan panjang lebar.
Tingnung!..Tingnung!..
Tiba-tiba bel apartment Tinka berbunyi.
"Sudah dulu ya Dila sepertinya ada orang di depan, terimakasih banyak sudah membantuku" ucap Tinka sambil menutup telepon dan beranjak ke pintu apartment nya, dan Adrien sudah berdiri di sana.
Tinka pun membuka pintu apartmentnya dan Adrien langsung memeluk Tinka.
"I'm sorry tadi aku mengacuhkanmu, my Princess " Adrien memeluk Tinka sambil menciuminya.
"Tak apa Adrien, aku tahu kamu sedang kebingungan, aku tak mau menjadi bebanmu lagi" ucap Tinka.
"Maksudnya beban?, kau bukan bebanku Tinka kau tanggung jawab ku" ucap Adrien memeluk Tinka.
"Adrien, aku akan pindah kerja ke tempat lain, tadi aku menghubungi Dila, ada hotel yang butuh resepsionis mungkin aku bisa ke sana besok, lagian aku gak mau kau dan Lauren bertengkar karena ada aku di situ, bagaimana nasib cafe mu?, aku tak mau jadi duri dalam daging" ucap Tinka.
"Kamu jadi resepsionis di hotel?, jangan bilang hotelnya Robert orang USA yang jadi pelatih Dila?" tanya Adrien.
"Iya kayaknya dia bilang pelatih Muay thai nya, tapi aku gak tahu siapa Robert?" tanya Tinka.
"Kamu harus hati-hati Robert itu bule genit sama cewek-cewek Asia, dia terkenal di antara expatriat (orang asing yang bekerja di Indonesia) di Bali, aku tidak ijinkan kamu bekerja di sana, aku telepon Abel, agar Dila tak membawamu " ucap Adrien mengambil handphone nya.
"Adrien...aku takkan tergoda, lagian aku sudah punya kamu, bule terbaik yang aku punya, aku janji tidak akan berpaling darimu, kasihan Dila dan Abel sudah membantuku, Lagian daripada aku masih di cafe mu dan melihat Lauren selalu mencari masalah denganku, aku lebih takut padanya, aku bisa menjaganya aku takkan tergoda, Dila bilang hotelnya dekat kita masih bisa sering bertemu, dan juga apartment kita kan masih sama" ucap Tinka meyakinkan Adrien.
"Kamu janji!?" tanya Adrien menatap Tinka dalam.
"Iya sayang, aku janji, aku hanya bekerja" ucap Tinka mencium kekasihnya hangat.
Adrien di apartment Tinka selama dua jam lebih, tiba-tiba handphone Adrien berbunyi. Adrien melihat nya dan dari Lauren dia mematikan handphone nya.
"Siapa Lauren?" tanya Tinka. Dan Adrien mengangguk.
"Mungkin dia ingin berbicara padamu, angkat saja" ucap Tinka.
"Ehmmm...baiklah " Adrien malas.
"Hi Lauren ada apa?, apa!, kau sudah di depan apartment ku, iya ok!" jawab Adrien di handphone kesal.
"Lauren di depan apartment ku dan mengancam membuat keributan kalau aku tak menemuinya, aku pergi dulu ya sayang nanti malam aku kembali lagi" ucap Adrien bergegas.
Tinka di tinggalkan Adrien di apartment nya, dan berfikir positif mungkin Lauren hanya ingin membicarakan cafe mereka.
Tinka menunggu Adrien datang tapi tak kunjung datang, Adrien bilang malam akan datang lagi.
Jam dinding sudah menunjukan pukul 10 malam dan Adrien tak menunjukan batang hidungnya, Tinka tertidur, lalu tiba-tiba bunyi bel pintu apartmentnya berbunyi.
Tinka melihatnya itu Adrien lalu membuka pintu apartmentnya.
"Kau lama sekali berbincang dengan Lauren, aku menunggumu " ucap Tinka lemas sambil menguap mengantuk.
"Maafkan aku sayang, besok pagi aku akan berikan breakfast yang enak buatmu, aku hanya mau ucapkan selamat malam, istirahat besok kau akan kerja di tempat baru" ucap Adrien mencium Tinka dan melambaikan tangannya pergi memasuki lift.
Apa itu tadi?, hanya sebentar saja cuma mengucapkan selamat malam, kenapa dia lama sekali berbincang dengan Lauren?, apa yang mereka bicarakan berdua di apartment Adrien?, dan kenapa dia berbeda sekali soal pekerjaan baruku tadinya dia melarang tapi tadi dia menyemangati ku, apa dia sudah tak perduli padaku setelah bertemu Lauren?, arghhhhh..Tinka apa yang kau pikirkan?, Adrien takkan seperti itu, batin Tinka khawatir.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 44 Episodes
Comments