Usia kandungan Tinka sudah menginjak 9 bulan, sudah waktunya HPL, dia sudah susah sekali untuk berjalan, bahkan untuk tiduran pun dia sudah terasa pengap.
Untuk check up dokter dan keperluan lainnya Tinka mempunyai supir yang mengantarnya ke mana saja, karena suaminya yang sibuk dan tak ada waktu buatnya.
"Cihh!, suami macam apa dia?, selalu pergi alasan bisnis dan tak memperhatikan istrinya yang sedang mengandung" ucap Tinka yang sedang mengobrol dengan Desy di sebuah mall.
"Jangan buruk sangka dulu, mungkin emang sibuk, kata orang, orang yang sedang hamil tidak boleh banyak pikiran" ucap Desy kepada temannya menasehati.
"Fakta!!!, masa pergi pagi pulang malam istri lagi hamil, belum lagi setiap weekend di rumah dia cuma sebentar, paling yang di lakukan nya di rumah mengomentari istrinya, jangan malas dong tuh liat ibuku ibu yang baik, arghhhhh bosan" ucap Tinka lemas
"Ko gitu?, kamu ga cerita ke orang lain lagi kan selain ke aku?, keadaan kamu kayak gini" tanya Desy
"Ga lah, gila!!, aku pernah coba cerita ke mama ku, dia bilang apa, jangan manja Tinka berumah tangga itu harus saling memahami" ucap Tinka marah.
"Eh, bulan ini kamu HPL kan?, masih jalan-jalan aja, kamu ga takut tar mbrojol lho!" ucap Desy keheranan
"Bosen aku di rumah Des, lagian dokter bilang HPL ku 2 minggu lagi, jadi santai aja" ucap Desy santai
"Tinka, ada cowok bule dia nge chat aku ngajakin serius dari jerman, aku kenalan lewat applikasi jodoh gitu, menurutmu gimana?" Desy curhat.
"Ambil aja daripada tar lu jadi perawan tua, hahaha " ucap Tinka meledek sambil tertawa terbahak-bahak
"Aduh ko tiba perutku melilit ya?, ini aku ngompol ga berhenti-berhenti!!?" ucan Tinka langsung berdiri dari kursi.
'"Haduh Tinka !!!, kamu jangan-jangan, Tolong waitress, cepet!" ucap Desy panik sambil memanggil-manggil orang
"Telepon pak Tarno dari hpku des, dia supirku cepet" Tinka menyuruh Desy sembari memberikan handphone nya.
"Halo pa tarno, cepet ke cafe sakura coffee ini Tinka mau lahiran, cepeeet!!" ucap Desy panik.
Tidak lama supir dan beberapa security mall datang membawa Tinka masuk mobil, langsung dia antarkan ke Rumah Sakit tak lupa Desy ikut menemani temennya itu.
2 jam kemudian lahir putri pertama Tinka dan Kevin , kedua keluarga hadir di Rumah Sakit itu karena Desy mengabarkan kepada orang tua Tinka.
Tapi Kevin tidak kunjung datang, sudah di telpon ibunya mengabarkan kalau istrinya melahirkan, tapi Kevin tidak mengangkat telepon.
40 menit kemudian Kevin datang ke Rumah Sakit diapun berlari masih menggunakan jas kantor, memaksa masuk ke kamar vvip istrinya, di lihatnya sudah berkumpul semua keluarga.
Kevin melihat Tinka menggendong bayi yang sangat cantik.
"Ini putrimu Kevin" ucap ibu Kevin yang membuyarkan lamunannya.
Kevin berjalan pelan mendekati istrinya yang sedang menggendong putrinya itu, lalu memeluk keduanya.
☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Sudah berumur 1 bulan putri Kevin dan Tinka, mereka memberikan nama Jane.
"mbo minah!!, ini baby jane pup, tolong bii" ucap Tinka panik setiap bayinya pup.
Setiap hari selalu ramai teriakan Tinka memanggil pembantunya minta tolong padahal Tinka sudah punya suster bernama Nina tapi yang selalu di percayainya hanya mbo minah. Belum lagi setiap malam harus bergadang membuat Tinka lelah.
Kadang Tinka merasa cuek suster Nina yang mengurus bayinya dia asik main handphone tapi lagi-lagi suaminya selalu berkomentar agar Tinka menjadi ibu yang baik.
"mbo, aku lelah, aku pengen kembali jadi Tinka yang dulu, jalan-jalan bareng temen, huh" keluh Tinka curhat pada mbo minah.
"Jangan gitu dong Nyonya, baby jane lucu dan cantik lho, sabar nyonya gak kerasa pasti baby jane sudah besar dan nyona Tinka bisa bebas lagi"
"Iya mbo, emang dia lucu kalau lagi bobo anteng tapi kalau dah nangis, hadehhh" ucap Tinka sambil menatap anaknya yang sedang bobo pulas.
Kadang ibu Kevin datang menengok ataupun ibunya Tinka datang mereka menemui cucu pertama mereka.
Tapi Tinka dan Kevin semakin menjauh satu sama lain, mereka jarang sekali bertemu, Kevin yang sibuk pulang malam sedangkan Tinka yang sering tertidur di kamar baby Jane, apabila weekend pun Kevin kadang pergi meninggalkannya di rumah.
Suatu hari baby Jane dari pagi nangis terus, ASI yang masuk dia muntahkan, gelisah, rewel dan kolik, semua orang di rumah panik, Tinka telepon Kevin tapi tidak di angkat, akhirnya Tinka pergi ke Rumah Sakit di antarkan supir dan di temani mbo minah dan suster nina.
"Bu, bayi ibu terkena asam lambung atau GERD, biasakan setelah menyusu biarkan bayi ibu bersendawa, itu kondisi wajar bayi sampai umur 3 bulan masih sering seperti ini, tapi apabila sudah berlebihan itu berbahaya, ini ada obat tetes pereda asam lambung, biarkan bayi ibu nyaman saat menyusu dan biasakan bersendawa setelah menyusu " ucap dokter itu kepada Tinka. Tinka pun bersiap pulang dari Rumah Sakit.
Tinka yang panik sedari tadi, merasa marah sekali kepada suaminya Kevin, sungguh suami macam apa di telepon istrinya karena anaknya sakit dia sibuk banget, Tinka pun penasaran apa yang dilakukan Kevin di kantor nya sampai dia tidak mengangkat teleponnya, batin Tinka.
Di dalam mobil menuju pulang ke rumah Tinka terdiam sambil memperhatikan anaknya terlelap tidur di pangkuan baby sister nya. Di dalam hati Tinka yang penuh amarah, dia berpikir harus memberitahukan suaminya tentang keadaan putrinya langsung ke kantor suaminya, Tinka menatap marah dan kesal.
"Mbo dan suster, bawa baby jane pulang ke rumah ya kita antarkan dulu, saya ada keperluan setelah ini dengan pak Tarno " ucap Tinka kepada dua asistennya.
Sesampainya di rumah Tinka mengantarkan bayinya ke kamar, lalu dia bersiap masuk ke dalam mobil yang sedari tadi pak Tarno sudah menunggu.
"Pak, antarkan saya ke kantor suami saya!, saya ingin tahu dia sibuk sekali" ucap Tinka kepada supirnya penuh amarah.
"Tapi nyonya.." sanggah pak Tarno seperti tahu sesuatu.
" Saya hanya ingin tahu suami saya pekerjaan seperti apa, dia sibuk sekali anaknya sakit pun tak di perdulikannya" ucap Tinka kesal.
"Ehmmm..baik nyonya" ucap pak Tarno
Mobil itu pun beranjak pergi ke arah kantor Kevin, pada saat di perjalanan tiba-tiba handphone Tinka berbunyi telepon dari suaminya.
"Halo sayang ada apa?, aku sedang ada meeting di luar kantor dengan client" Suara Kevin di telepon.
"Kamu di mana?, sibuk sekali" ucap Tinka
"Iya ada meeting dengan client nanti ku telepon lagi" ucap Kevin terburu-buru menutup handphone nya.
"Nyonya, apa kita tetap harus ke kantor Tuan?, sepertinya Tuan sedang sibuk" tiba-tiba pak Tarno bertanya pada Tinka.
"Kita ke sana aja pak, saya mau tunggu di kantornya " ucap Tinka
"Baik nyonya" jawab pak Tarno.
Sesampainya di kantor Kevin, Tinka menyuruh pak Tarno parkir di basement.
Saat pak Tarno parkir Tinka melihat Kevin masuk ke mobil nya dan pergi.
"Pak ikutin mobil Kevin" ucap Tinka sambil menyuruh pak Tarno mengikuti mobil Kevin.
Sampailah Kevin di sebuah gedung apartment, lalu memarkirkan mobil dan masuk ke lobby apartment itu. Tinka mengikuti di belakang, saat di lobby Tinka di berhentikan security.
"Maaf nyonya anda mau ke mana?" ucap security itu pada Tinka.
"ehh..pak maaf saya buru-buru saya bawahannya pak Kevin mau mengantarkan berkas ini, dia naik ke mana ya?" ucap Tinka beralasan kepada security apartment itu.
"Ohh...Pak Kevin biasa ke tempat Nona Luna, no apartment nya 139 lantai 2" ucap security
"Terimakasih pak, saya hanya sebentar ko" ucap Tinka kepada security sambil tersenyum.
Luna, nama seorang wanita, security sampai tahu Kevin, berarti Kevin sering ke sini. Batin Tinka dalam hati.
Sesampainya Tinka di apartment nomor 139, dia merasa gugup dan gelisah.
Knok!! Knok!!!!
Seorang wanita cantik berambut hitam lebat sebahu dan kulit sawo matang membuka pintu.
"Iya ada apa ya mbak?" ucap wanita itu. Lalu Tinka mendorong pintu apartment itu dan mendorong wanita yang badannya lebih kecil dari Tinka itu dan melihat Kevin sudah tiduran di sofa panjang tanpa kemejanya.
"OH ini kesibukanmu, seharian ku telpon, kamu tahu baby jane sedang sakit!!!" ucap Tinka penuh amarah.
Kevin buru-buru berdiri sambil merapihkan kemejanya.
"Tinka...tunggu!!, aku dan wanita itu.." Kevin mulai berbicara
"Cukup Kevin, aku gak mau denger penjelasanmu, kita sudah menikah dan sudah mempunyai seorang putri tapi kau selalu sibuk dengan wanita lain, aku berharap orang tuamu tahu hal ini" Tinka marah sembari menunjuk muka Kevin dan berpaling pergi. Tiba-tiba tangan Tinka di tarik oleh Kevin.
"Tinka..sebelumnya aku minta maaf aku ingin menjelaskan sesuatu padamu, aku dan Luna sudah lama bersama, bahkan sebelum kita menikah, aku sudah berpacaran dengannya, dia mantan sekretaris Ayahku, Aku menikah denganmu karena ibu selalu membicarakan perjanjian antar ibu-ibu kita dan Ayahku Ayahmu punya kerja sama yang baik, dan aku pernah bilang bahwa aku mencintai Luna tapi keluargaku tidak menyukai Luna, bahkan Luna di keluarkan dari pekerjaannya dan Luna tak punya keluarga selain aku..aku sering datang ke apartment nya hanya untuk bisa bersamanya..tolong maafkan aku, kalau itu memang mau mu membuka perselingkuhan ku dengan Luna, maka aku harus siap-siap takkan menemui Luna lagi dan mungkin Ayah dan Ibu mencoretku dari ahli waris perusahaan nya, dan adik-adikku masih kecil hanya akulah yang bekerja keras buat perusahaan..tolong mengerti Tinka " Kevin memohon ke padaku, tiba-tiba perempuan bernama Luna menghampiriku.
"Mba...maaf sebelumnya, kalau saya sudah merusak rumah tangga mba dengan mas Kevin, tapi tolong jangan beritahukan ke keluarga nya mba, kami sudah berkali-kali di pisahkan, saya yang akan mundur saja, saya akan menjauhi mas Kevin, saya tidak akan kembali" perempuan bernama Luna ini memohon terisak.
"Luna, aku tak mau..." ucap Kevin menatap Luna. Mereka berdua memohon kepada Tinka.
"Kalian saling mencintai?" ucap Tinka lirih dan mereka berdua mengangguk.
Lalu Tinka pergi meninggalkan mereka berdua. Kevin lari mengejar Tinka.
"Tinka..tunggu!!!" Teriak Kevin.
"Pak Tarno..ayo pulang" ucap Tinka yang masuk ke mobil sembari terisak di dalam mobil.
Ternyata Kevin tidak mencintai ku, dia menikahiku karena paksaan orangtua nya, aku harus bagaimana?, tak mungkin aku bersama dengan pria yang mencintai wanita lain. Batin Tinka sambil mengusap air matanya.
Sesampainya di rumah, Tinka masuk ke kamarnya dan bingung sedari tadi memikirkan langkah apa yang akan di ambil. Tiba-tiba Kevin masuk ke kamar dan berlari.
"Tinka....tunggu, beri aku waktu, aku akan bicara pada orangtua ku, dan aku akan meninggalkan Luna perlahan" Kevin memohon sambil terisak.
"Tapi kau mencintai nya Kevin, tak mungkin kau meninggalkan nya, jadi aku ingin kamu pergi sekarang juga, aku mau sendiri, please.." ucap Tinka menangis.
"Pergi sekarang!!!" ucap Tinka teriak mendorong suaminya keluar pintu dan menguncinya.
Aku benci Kevin, aku benci semua orang, aku harus bagaimana?, baby jane bagaimana? Batin Tinka menangis tersedu.
Tinka mengambil handphone nya dan menelepon temannya Desy, dan menceritakan semuanya.
"Des, aku mau pergi dari sini, aku gak kuat, semua tuntuttan ini, menjadi ibu, menjadi istri dan di selingkuhi suami, belum lagi keluarga kami menuntut kami sempurna, aku gak kuat" ucap Tinka kepada temannya.
"Tinka..pikirkan baby jane, kamu mau ngapain?" jawab Desy di dalam handphone.
"Entahlah Des, cuma kamu yang tahu yang aku alamin, aku gak berani cerita ke keluarga ku, aku juga mikirin Kevin gimana kalau ku ceritain ke keluarga kita" ucap Tinka bingung.
"Jangan ngelakuin hal-hal aneh ya, Tinka " ucap Desy panik
"Aku ke sana ya Tinka!!" ucap Desy lagi.
"Hal aneh apa?, bunuh diri, gak lah, kamu gak usah ke sini, aku tahu cara nyelesain semuanya" ucap Tinka sambil menutup handphone nya.
Aku harus pergi dari sini, dengan begitu Keluarga Kevin dan keluargaku menganggap ku istri yang buruk dan Kevin aman dari berita perselingkuhannya, dan untuk baby jane aku akan titipkan ke ibuku, setidaknya aku akan terhindar dari semua masalah untuk sesaat, tapi apa aku harus lari...aku menyelamatkan Kevin, bagaimana denganku?, dengan baby jane?...arghhhhh!!!..aku harus cepat mengambil keputusan, sebelum semuanya ketahuan.
Tinka mengirim pesan kepada Kevin.
"Rahasia mu aman padaku dan kau masih pewaris utama keluarga mu, aku takkan membongkar perselingkuhan mu" Pesan Tinka kepada Kevin.
Tinka keluar kamar dan memberitahukan mbo minah dan suster nina untuk bersiap dan mempersiapkan baby jane, untuk di antarkan ke Rumah ibunya.
"Trus nyonya ga ikut?" ucap mbo minah penasaran.
"Aku ingin mbo minah dan suster nina jagain baby jane ya, aku ada keperluan sebentar, ada mami juga nanti yang bantu" ucap Tinka kepada asisten rumah tangganya itu.
Tinka menulis pesan kepada ibunya melalui surat yang di titipkan ke mbo minah.
Isi pesan Tinka untuk ibunya :
"MI.. aku titip baby Jane, aku tidak bisa jadi ibu yang baik, aku sudah tidak tahan lagi, aku ibu yang buruk, aku ingin bercerai dengan Kevin karena aku bukan istri yang baik, aku ingin menenangkan diriku dahulu, jadi tolong jangan cari aku ya mii, aku ingin belajar mandiri dan suatu saat siap jadi ibunya jane yang dewasa, suatu saat Tinka pasti kembali...terimakasih buat mami n papi...Tinka sayang kalian" ucap Tinka di dalam surat untuk ibunya.
Tinka menatap dalam putrinya yang sedang tertidur sambil terisak.
"Aku akan menjemput mu suatu hari nanti, my baby jane " ucap Tinka menangis.
"Nyonya apa gak apa-apa?" ucap mbo minah.
"Pergi mbo biar pak Tarno yang antar ke rumah mami ku ya" ucap Tinka sembari melihat mereka semua berlalu.
Sesaat Tinka mempersiapkan baju di dalam kopernya dan membawa semua tabungan serta perhiasannya, Tinka pergi menggunakan taxi.
Aku tidak tahu harus ke mana, tapi aku ingin memulai hidup baru ku, aku akan menjadi Tinka baru yang lebih dewasa dan melupakan semua ini, saat sudah siap aku akan menjemput baby jane. Batin Tinka beranjak pergi dari rumahnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 44 Episodes
Comments