Satu bulan kemudian, semuanya berjalan seperti hari-hari biasa. Chezy bekerja di toko bunga dan Dallas sibuk di kantor. Tidak ada hari-hari spesial di antara keduanya selain adegan panas di tempat tidur.
Meskipun hubungan keduanya tampak biasa saja dan hampir tak ada pembicaraan lain dia setiap pertemuan, Dallas masih menempati janjinya sesuai dengan kontrak disepakati. Keduanya tidak ikut campur dalam urusan masing-masing.
Hingga suatu hari, Chezy mendapatkan pesan dari Nyonya Alston untuk bertemu di sebuah kafe terdekat.
Saat ini, Chezy sedang bersama dengan Marine dan Hadwin di apartemen, membahas kelanjutan dari investigasi mereka tentang pembunuh berantai.
"Kapan kamu akan mengambil inisiatif untuk mendekati Gaines?" tanya Marine.
"Cepat atau lambat pria itu akan datang padaku lebih dulu. Dia bermusuhan dengan Dallas. Orang yang pertama diincarnya pasti adalah aku dulu," jelas Chezy.
"Ini benar. Apakah dia belum datang padamu selama sebulan terakhir ini?"
"Belum."
"Dia sering datang ke beberapa hotel berbeda pada siang atau malam hari. Terkadang membawa wanita juga. Sepertinya dia sengaja menyamarkan gerak-geriknya dengan membawa wanita cantik untuk membuka kamar." Marine memiliki kecurigaan besar.
Jika ketahuan, mereka bisa mengubah rencana yang selama ini disusun baik-baik. Atau mungkin semuanya menjadi tidak terkendali.
"Mungkin dia pergi ke kamar yang sama dengan kelompoknya." Hadwin berkomentar.
"Apakah ada korban akhir-akhir ini?" Chezy bertanya.
"Ada beberapa orang yang hilang. Di antaranya ditemukan tak bernyawa dengan cara mengenaskan. Aku tidak tahu apakah ini ada hubungannya atau tidak dengan mereka namun semua waktu kematian mereka tidak sama." Marine menggelengkan kepala.
"Apakah semuanya memiliki kedudukan penting di lembaga tertentu?"
"Ya. Sebagian lagi berasal dunia hiburan."
Ketiganya pun terdiam, memikirkan apa yang direncanakan kelompok pembunuh berantai di Negara A kali ini.
"Sepertinya hanya bisa mencari tahu dari Gaines," ucap Chezy. Dia bersiap untuk pergi menemui Nyonya Alston di kafe yang telah disepakati.
"Kenapa wanita tua itu mengundangmu?" Marine tersenyum masam.
"Mungkin membahas tentang kehidupan ku dengan Dallas selama sebulan terakhir." Chezy memutar bola matanya, kesal.
"Dallas dan Sonya itu belum resmi memutuskan hubungan pertunangan?"
"Belum. Nyonya Alston bahkan memaksa Dallas berkencan dengan Sonya."
"Ibu mertuamu gila!"
Chezy memelototi Marine. Bukankah semua ini ulahmu? Pikirnya.
Marine hanya tersenyum dan menghindari tatapan Chezy dengan perasaan bersalah. Baiklah, ini memang salahnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Chezy pergi ke tempat di mana Nyonya Alston berada saat ini. Ada sebuah kafe mewah di pusat perbelanjaan. Nyonya Alston sudah menunggunya selama lima menit dan kini ekspresi wajahnya tidak baik. Dia tidak menyangka jika Chezy akan terlambat.
"Maaf, Bu, ada sedikit masalah di jalan," kata Chezy sedikit tersenyum canggung.
"Huh, kamu hanya sengaja membuatku menunggu bukan? Jangan memanggilku ibu, aku tidak punya menanti sepertimu!" Nyonya Alston berkata sinis.
Chezy duduk di seberang Nyonya Alston yang kini memiliki sikap bangsawan. Lalu dia menyesap kopinya sedikit.
"Apa yang ingin dibicarakan?" tanya Chezy tidak terlalu sopan.
Melihat sikap Chezy yang sedikit berubah tidak peduli, Nyonya Alston mengerutkan kening. "Sepertinya kamu sengaja mendekati anakku untuk menikmati kehidupan orang kaya."
"Nyonya ini lucu." Chezy tersenyum agak lucu. Dia masih memegang gagang cangkir kopi seperti sudah terbiasa melakukannya.
"Kamu!" Nyonya Alston tidak bisa membantah, menatap Chezy dan mencibir, "benar saja, orang yang tidak pernah melihat banyak uang mana tahu etika!"
Chezy malah terkekeh, terkesan meremehkan. "Terima kasih pujiannya."
Nyonya Alston tahu jika wanita di depannya ini licik. Tidak seperti Sonya yang lembut dan berasal dari keluarga yang baik dan terpelajar.
Lihatlah pakaiannya yang sederhana dan sama sekali tidak mencerminkan kehidupan status keluarga bangsawan. Bagaimana bisa Dallas betah tinggal bersama wanita ini di rumah?
Akhir-akhir ini Dallas pergi ke luar negeri untuk mengurus beberapa cabang perusahaan Alston Group. Wanita ini ditinggal sendirian, betapa malangnya.
Chezy di mata Nyonya Alston hanyalah seorang pelayan toko bunga. Meski toko bunga tempatnya bekerja memang terkenal, namun pelayan tetaplah pelayan.
Sebelumnya Nyonya Alston datang ke toko itu untuk bertemu dengan atasannya. Siapa yang tahu setelah berdiskusi, dia tidak mendapatkan hasil yang baik.
"Aku tidak ingin menghabiskan waktu denganmu di sini. Orang-orang akan memandangku aneh jika satu meja dengan wanita rendah sepertimu."
Nyonya Alston mengeluarkan sebuah amplop berisi beberapa cek. Dia menyodorkan ke arah Chezy dan meminta wanita itu mengeceknya.
Saat Chezy membuka isinya, dia mengerutkan kening. Sedikit tidak suka.
"Apa maksudnya ini?" Chezy bisa menebak.
"Kamu harusnya pintar. Aku ingin kamu tinggalkan Dallas dan kembalilah ke negaramu sendiri. Jangan pernah menghubungi Dallas lagi. Uang itu cukup untuk menghidupi dirimu sendiri di negara K yang keras." jelas Nyonya Alston malas. Dia percaya diri dengan uang. Baginya uang bukan masalah.
Sonya menyarankan dirinya untuk memberi Chezy uang. Mungkin menikah dengan Dallas karena butuh uang. Selama sebulan terakhir, Sonya banyak menangis dan datang ke rumah Alston untuk bertemu Nyonya Alston.
Nyonya Alston semakin tidak tega dan menyalahkan wanita di depannya ini karena menghancurkan hubungan pertunangan putranya.
"Nyonya menyuapku untuk meninggalkan Dallas?" Chezy menghitung jumlah cek.
Masing-masing cek setidaknya seratus ribu dollar. Apakah keluarga Alston begitu miskin? Pikirnya.
"Apakah tidak cukup? Aku akan mengirim sisanya jika kamu berhasil kembali ke negara K dan tidak berhubungan lagi dengan Dallas."
"Ini cukup." Chezy tersenyum.
Semua cek di dalam amplop segera dikeluarkan total ada sepuluh cek. Berarti setidaknya satu juta dollar yang dikeluarkan Nyonya Alston untuk memintanya memintanya meninggalkan Dallas. Ini bukan uang yang sedikit.
Nyonya Alston tersenyum penuh kemenangan. Chezy pasti akan menerimanya. Uang ini cukup untuk menghidupi wanita ini dan menikahi pria lain. Siapapun itu, asal bukan putranya.
Chezy sebenarnya tertarik dengan uang-uang ini. Sayangnya, dia sudah bosan melihat uang dalam bentuk cek.
"Sebenarnya ini lebih dari cukup Nyonya," kata Chezy.
"Jadi, apakah kamu setuju atau tidak? Jika kamu setuju, aku akan memesankan tiket pesawat untuk mu."
Chezy menggelengkan kepala dan tertawa sedikit saat mendengarnya.
Ekspresi Nyonya Alston berubah tidak senang. "Kenapa kamu tertawa?"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 119 Episodes
Comments
Sandisalbiah
ternyata otak nyonya Alston tdk setajam lidahnya... dia hanya pintar menilai sesuatu dr kulitnya saja..
2024-02-29
0
Risti Dani
Uang adalah segalanya
2022-10-22
0
Elly Watty
suka deh part ini, biasanya si mertua yg ngerjain n nginjek2 menantu tp ini sebaliknya
2022-10-07
0